Memimpikan Sulsel Yang Hijau
September 17, 2018
Dokumentasi Tanahindie
Membincangkan Ekonomi Kreatif Makassar
Oktober 3, 2018

Mie Anto: Cita Rasa Kuliner Tionghoa di Makassar

Tulisan ini merupakan lanjutan dari tulisan sebelumnya yakni Makassar Dalam Mie (Warung Mie Awa), yang berawal dari kelas menulis yang diadakan oleh Kampung Buku, dimuat di web ini dan dibukukan pada tahun 2014 dengan judul Makassar Nol Kilometer DotCom: Jurnalisme Plat Kuning (Tanahindie Press, 2014).

 

Etnisitas dan Cita Rasa Orang Tionghoa

Kehadiran orang-orang Tionghoa di Makassar dapat dilacak diawal abad ke 17. Dalam pada itu aktivitas perdagangan di Asia Tenggara menjadi salah satu sebab “proses” migrasi orang orang Tionghoa untuk datang ke Makassar. Proses migrasi itu berlangsung sekisar abad ke-17 sampai ke-19, dan gelombang terakhir orang Tionghoa ke Makassar awal abad ke-20. Awalnya, mereka datang hanya untuk berdagang karena kala itu Makassar yang terletak di kawasan timur tumbuh menjadi pelabuhan yang ramai dikunjungi pedagang dari luar. Orang Tionghoa menempati salah satu kawasan yang terletak di bagian utara dari Benteng Rotterdam, yang kemudian hari dikenal sebagai kawasan Pecinan (Chinatown).[1]

Kawasan Pecinan pun tumbuh menjadi kawasan perdagangan. Banyak warung-warung yang menjual makanan yang bercita rasa khas masyarakat Tionghoa. Beberapa warung itu masih bisa ditemui sampai hari ini.

Di kawasan Pecinan, tepatnya di Jalan Lombok yang tidak jauh dari Jalan Sulawesi, berdirilah sebuah warung makan yang sudah masuk kategori legendaris. Warung ini bernama Mie Anto. Lokasinya gampang ditemukan karena letaknya di sudut Jalan Lombok,  tidak jauh dari sebuah warung kopi, kantor notaris dan warung martabak milik anak presiden Joko Widodo.

Dari luar kita bisa langsung menandainya lewat sebuah papan nama bertuliskan “Mie Anto”. Jeruji besi berwarna abu-abu turut jadi penanda. Di tulisan papan nama itu juga tertulis satu kalimat: Tidak Buka Cabang di Tempat Lain.

Foto: Anna Asriani Muchlis

Mie Anto buka mulai pukul 17:00 dan tutup pukul 01:00 dini hari. Menurut sang pemilik, Ibu Willy, warungnya akan bertambah ramai seiring dengan malam yang semakin merambat. Sebagian besar pengunjungnya adalah pekerja kantoran yang baru pulang.

Di dalam warung itu ada 10 meja makan yang ditatap rapi lengkap dengan kursi dan alat makan berupa sendok/garpu dan tisu di atasnya. Di bagian depan, kita akan langsung berhadapan dengan dapur tempat sajian diolah. Secara umum, tampilan warung Mie Anto terlihat sangat sederhana. Alat-alat yang digunakan masih terhitung tradisional. Bahan bakarnya pun masih menggunakan arang. Arang dipercaya bisa menambah aroma masakan yang diolah, hal yang masih dipertahankan oleh Mie Anto.

Selain itu, wajan yang digunakan bahkan tergolong tua. Dalam buku Peranakan Tionghoa dalam Kuliner Nusantara dituliskan kalau wajan yang baru biasanya masih kurang enak digunakan, makanan kadang menempel dan gosong. Semakin lama wajan digunakan, maka rasanya semakin nyaman dipakai memasak.

Mie Anto hanya menyediakan satu menu saja, yaitu mie kering. Hidangan ini adalah gabungan antara mie kecil-kecil yang digoreng hingga kaku dan disajikan bersama kuah kental yang merupakan campuran antara sayur dan beragam daging. Mie kering memang paling pas disantap dalam keadaan panas karena rasa gurih yang timbul dari campuran mie kering dan kuahnya, tak lupa juga aroma dari rempah-rempah serta bawang putih yang sangat menggugah selera.

 

Peran Pak Hengky dan Angko Chao

Kesibukan Mie Anto sebenarnya berawal dari pagi hari ketika para karyawan sudah sibuk memotong ayam dan membersihkannya. Mienya sendiri baru akan digoreng saat siang datang. Pemilik warung, ibu Willy Tumewu akan mulai meracik kuah pukul 17:00.

Bukan hal mudah untuk menemui ibu Willy. Saya berkali-kali harus datang ke Mie Anto sampai akhirnya bisa bertemu. Wanita kelahiran Makassar tahun 1951 ini adalah saudara kandung dari Pak Awa, Ibu Titi, dan Pak Hengky, tiga orang yang juga punya warung mie kering terkenal di Makassar.

Ibu Willy berkisah tentang kota Makassar di tahun 1950-an. Menurutnya, di tahun itu kota Makassar sudah termasuk kota moderen yang ditandai dengan hadirnya bioskop, toko-toko kain milik keturunan India, warung kopi, dan banyak pembangunan fisik lainnya.

Ibu Willy adalah warga keturunan Tionghoa dari etnis Kanton. Orang Kanton di Makassar memang cukup menguasai perekonomian di berbagai sektor. Mereka banyak yang membuka usaha penggilingan padi, berjualan makanan, penjahit, warung kopi, tukang foto dan pedagang pakaian.[2]

Mie Anto dirintis Ibu Willy dan suaminya tahun 1989. Awalnya bertempat di Jalan Bali dengan hanya menggunakan terpal sebagai penutup. Ibu Willy menuturkan bahwa di awal berdirinya, suaminya, Pak Anto-lah yang menjaga kasir. Ketika itu warung sederhana mereka belum punya nama. Para pengunjung yang semakin ramai berdatangan kemudian mulai akrab dengan Pak Anto, hingga akhirnya warung itupun diberi nama “Warung Mie Anto”. Nama yang kemudian disepakati ibu Willy dan suaminya.

Warung Mie Anto memang terhitung hadir belakangan dibanding warung mie kering lain yang dikelola saudara Ibu Willy. Awalnya adalah Angko Chao (ayah Ibu Willy) yang memulai usaha makanan mi di Makassar. Usaha ini kemudian diteruskan dan dikembangkan oleh anak-anak mereka, termasuk Pak Hengky, kakak Ibu Willy.

Sebelum memutuskan membuka warung mi kering, Pak Anto adalah sales kecap ABC yang dikeluarkan oleh perusahaan Pelita di Jalan Terong Makassar. Pak Hengky yang menyarankan pasangan muda ini untuk membuka warung mi. Saran itu lalu dituruti Ibu Willy dan Pak Anto. Mereka yang saat itu mengontrak rumah di Jalan Bali tidak jauh dari rumahnya yang sekarang, lalu mulai merintis usaha mi kering. Pak Hengky banyak membantu mereka, termasuk dengan memberi meja berkaki besi dan beberapa kursi untuk pengunjung.

“Waktu itu bapak masih kerja jadi sales, nanti waktu kebutuhan sehari-hari sudah bisa terpenuhi barulah bapak fokus mengurus warung minya,” kata Ibu Willy.

Foto: Anna Asriani Muchlis

Selain Pak Hengky, satu lagi sosok yang sangat dikenang oleh pasangan tersebut adalah Angko Chao, mertua Pak Anto. Pak Anto tampak sangat terkesan pada bapak mertuanya itu. Dengan semangat dia menceritakan tentang Angko Chao yang menurutnya adalah sosok yang sederhana, ramah dan baik pada orang lain. Menurutnya, Angko Chao sangat pandai memasak mi. Salah satu rahasianya adalah dia tidak pernah memasak mi dalam porsi besar, melainkan memasak satu per satu untuk para pelanggannya sehingga cita rasanya terjaga. Selain itu, Angko Chao menurut pak Anto sangat memperhatikan mutu dan kualitas mi masakannya.

Ibu Willy pun mengaku sangat dekat dengan sang almarhum bapak. Di masa tuanya, Angko Chao lebih banyak menghabiskan waktu bersama Ibu Willy, menetap di rumahnya hingga mengembuskan nafas terakhir di sana.

Bila berbicara tentang kuliner bernama mi kering di Makassar, maka nama Angko Chao tentu tidak bisa dilepaskan. Beliau adalah bapak dari beberapa pemilik warung mi kering terkenal di Makassar. Nama-nama warung mi kering seperti Mie Awa, Mie Hengky, Mie Titi, Mie Anto, Mie Ceng, dan Mie Tedy adalah nama-nama warung mie kering legendaris di Makassar. Mereka semua adalah keturunan dari Angko Chao.

Menurut Ibu Willy, warung mi yang pertama buka itu adalah Mie Titi, menyusul kemudian Mie Hengky. Sementara Mie Awa sendiri adalah warung mi yang diwariskan langsung oleh Angko Chao.

Anak-anak Angko Chao ada tujuh orang, dan menurut ibu Willy hubungan kekerabatan mereka masih sangat erat. Mereka akan berkumpul setiap acara Imlek atau acara perkawinan. Meski begitu, ibu Willy mengaku paling dekat dengan Pak Hengky, pemilik Mie Hengky. Tentu ini tidak bisa dilepaskan dari jasanya membantu Ibu Willy merintis warung.

 

Warung Pilihan Para Pesohor

Ibu Willy dan Pak Anto menikah tahun 1987. Semua berawal dari pertemuan remaja yang saling lirik karena rumah mereka berdekatan di Jalan Bali. Sebelum menikah, Pak Anto banyak menghabiskan waktunya di klenteng Xian Ma, tempat bapaknya bekerja. Awalnya hanya saling lirik sampai mereka semakin dekat ketika Pak Anto bekerja di warung Angko Chao sebagai pelayan sejak tahun 1980. Benih-benih cinta itu semakin kuat hingga akhirnya mereka memutuskan menikah.

Setiap pagi, sekitar pukul 07:00, Pak Anto yang saat ini berusia 54 tahun akan mulai sibuk mengatur 10 pekerjanya, yang semuanya berasal dari Kota Makassar dan Tana Toraja. Pak Anto dengan sangat teliti menyiapkan bahan-bahan utama seperti ayam, sayur, telur, mi dan lain-lain. Bahan-bahan tersebut semua diambil dari pedagang di Makassar yang diantarkan langsung ke warung Mie Anto. Sayur dan ayam diambil dari Jalan Andalas, sedangkan mi diantar dari Jalan Bacan. Mereka sudah jadi mitra kerja selama bertahun-tahun.

Pak Anto yang lebih fasih berbahasa Makassar dibanding bahasa Mandarin ini benar-benar sudah merasa Makassar adalah tanah yang dicintainya. Meski lahir di Dobo, Maluku dan beribu orang Jawa Semarang, namun dia mengaku sangat mencintai Makassar dan bahkan berencana menghabiskan hidupnya di sini.

Ketika situasi Makassar memanas di tahun 1997 akibat kerusuhan rasial, Pak Anto sama sekali tidak berpikir untuk pergi. Dia tetap tinggal di rumah yang juga sekaligus adalah warungnya. Kedekatannya dengan para pegawainya juga yang membuat para pegawainya itu yang pasang badan dan melindunginya ketika suasana Makassar memanas.

Menurut Pak Anto, salah satu mantan pegawainya ada yang membuka warung mi yang sama di Kota Palopo, Sulawesi Selatan. Warung mi itu bahkan juga diberinya nama Mie Anto, sama seperti warung mi miliknya, meski jelas-jelas di warung mi itu tertera ”Tidak Membuka Cabang”. Meski begitu, Pak Anto mengaku tidak mau ambil pusing dengan kelakuan mantan pegawainya itu.

Meski masih bersibuk-sibuk memantau dan mengawasi warung Mie Anto, namun sesungguhnya warung itu sekarang pengelolaannya sudah diserahkan kepada anak-cucu pasangan Ibu Willy dan Pak Anto. Warung itu sekarang sudah dikelola oleh keturunan ketiga atau cucu mereka, sementara salah satu dari empat anak mereka yang bernama Siswanto kadang masih bertugas menjaga kasir, kadang pula bergantian dengan menantunya.

Tiga puluh tahun lebih sejak pertama kali dirintis, Mie Anto sudah menjadi salah satu warung mie legendaris di kota Makassar meski tampakannya tetap sederhana. Beberapa figur publik dan pesohor sudah pernah menyambangi warung Mie Anto, di antaranya ada mantan walikota Makassar Ilham Arief Siradjuddin, mantan gubernur Syahrul Yasin Limpo, bupati Gowa Adnan Ichsan Yasin Limpo dan beberapa artis terkenal seperti Desy Ratnasari, Dorce Gamalama dan Dewi Yul pun pernah menikmati hidangan Mie Anto.

Perjalanan panjang yang tidak mudah. Namun pada akhirnya semua itu menempatkan Mie Anto sebagai salah satu warung legendaris di Makassar. []

 

:: Anna Asriani Muchlis, Lulusan Ilmu Sejarah Unhas 2013 dan kini aktif di Komunitas Lilin.

 

[1] Lihat skripsi Heri Kusuma Tarupay, “Sejarah Sekolah Cina di Makassar 1908-1966”, Universitas Hasanuddin.

[2] Lihat Muslimin Ar Effendy, “Tionghoa – Makassar Dalam Pusaran Sejarah”, dalam Kontinuitas & Perubahan Dalam Sejarah Sulawesi Selatan.  

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *