Aksi Pertama Bebaskan Yusniar
November 18, 2016
Perkembangan Menjelang Sidang Keempat Yusniar
November 22, 2016

Yang Tak Terbatas di Pojok Fotografi

Gedung Andi Pangerang Pettarani Universitas Hasanuddin yang biasanya diisi kegiatan akademik dan ilmiah, hari itu diisi kegiatan lain, yakni pameran fotografi bertajuk “Pojok Eyenfinite”, karya anggota Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Fotografi Universitas Hasanuddin, 14-18 November 2016.

Eyenfinite, gabungan kata eye yang berarti ‘melihat’ dan infinite bermakna ‘tak terbatas’. Demikianlah, topik dari tema pameran bahwa karya foto tunggal yang dipamerkan menampilkan hal-hal yang tak terbatas oleh pandangan mata normal.

Pameran ini merupakan pameran skala mini. Pameran berskala tahunan untuk para anggota muda dalam mempelajari manajemen pameran ini sebagai rangkaian besar kegiatan bernama pendidikan dasar (Diksar). Pemberian nama pameran pojok karena lokasi awal kegiatan ini terletak di sudut Bangunan Perpustakaan Utama kampus, yang berada di pelataran depan ruang kuliah Lecture Theatre (LT) 8. Meski kini lokasinya tak seperti waktu semula, esensi pameran tetap berjalan.

Kain-kain hitam membalut tiang-tiang kusam bekas tempelan-tempelan pamflet memberi batasan ke area pameran yang menyerupai huruf U. Panel-panel turut menghiasi rongga-rongga di dalam dinding-dinding kain itu.

Selamat datang. Foto-foto profil pameris bidang fotografi itu pun menyambut kedatanganku sebagai pengunjung. Aku berhadapan langsung dengan 35 fotografer muda dalam wajah ukuran pas foto berwarna yang berdampingan dengan mini karyanya. Dalam lembaran profil itu tersedia baris biodata diri mulai dari nama, alamat lahir serta tanggal, alamat instagram hingga kutipan sejenis moto hidup (quote). Quote yang cukup menarik untuk dibaca dan tentunya punya alasan tersendiri soal keberadaannya.

Beberapa langkah ke depan panitia memberikan secarik kertas kosong dengan daftar isian penilaian sebelum memasuki arena pameran. Yang menurut pengalamanku, masih jarang dijumpai pada pangelaran pameran di kota Makassar. Lembaran ini sebagai wujud apresiasi pengunjung pameran usai menikmati imagi dari rangkaian foto yang terpajang.

Selanjutnya, dari pintu masuk ke arah dalam ruang pameran penglihatan langsung seakan terbawa ke jejeran panel-panel hitam persegi panjang dengan kaki-kaki kayu penyangga. Permukaan hitam itu diisi dengan lembaran foto dengan lembaran lainnya yang punya kesamaan, dapat berupa subjek fotonya, kesesuaian tema, aktivitas yang terdapat di dalamnya. Pengelompokan yang tentunya telah diatur sedemikian rupa oleh kurator. Alasannya untuk memudahkan dalam mengenal jenis-jenis foto yang telah direkam fotografer dan merapikan penampilan foto.

pameran-foto_4-copy

(Foto: Esa Ramadana)

Kesan dari pameran foto-foto tunggal ini dapat digiring dengan baik oleh sang kurator. Hadirlah foto wajah close up manusia (portrait) dengan beragam judul foto dalam satu panel, anak-anak yang bergembira bermain (human interest). Foto pertunjukan penari maupun pemain band. Potret binatang, konsep benda, arsitektur bangunan, budaya lokal, dan pekerja kerajinan gerabah. Berikutnya, dalam pengelompokan lain yakni foto aneka jenis perahu dan kapal semisal Phinisi juga terkumpul dalam satu panel, potret di jalanan kota, potret pedagang di pasar dan lanskap alam. Kesemuanya terangkum dalam pameran pojok.

Selanjutnya, sebagai salah seorang penikmat atau pengunjung saya memilih salah satu foto. Kemudian, mendiskusikannya dengan seorang teman Hasrul Said, seorang pewarta foto di media lokal Makassar. Ia kemudian menunjukkan salah satu foto pilihannya. Kemudian, saya juga merasakan hal yang sama. Bahwa foto itu layak untuk menjadi pilihan. Judulnya Wait Me karya A Azwar K.

Pilihan itu menjadi tepat, foto segerombolan burung merpati di pantai. Fotografernya berhasil menangkap momentum yang berkaitan dengan judul foto. Empat burung merpati yang telah mendarat di pasir pantai, sementara seekor burung yang sedang berada di langit dengan kepakan sayap nan indah hendak mendarat. Dan itu tampak beku (diam).

Melihat lebih dalam foto ini mengingatkan saya tentang sebuah problematika kekinian pesisir pantai di Kota Makassar, seperti pada proyek reklamasi. Reklamasi yang tak hanya melulu bersoal tentang pembangunan. Akan tetapi juga berkaitan langsung dengan lingkungan dan makhluk hidup yang tinggal di sekitarnya. Reklamasi yang akan merusak tatanan kehidupan. Berikut manusia ataupun makhluk hidup lainnya yang menggantungkan hidupnya di sana.

Realitas yang direkam oleh A Azwar pun tampak kontras bila disandingkan dengan lumba-lumba yang terkapar mati di bibir pantai karya foto dari Ira Anugerah Abbas. Seakan mengingatkan bahwa inilah sebentuk kerakusan kita (manusia) terhadap alam.

Selain itu, foto binatang dan hewan memiliki porsi sedikit dibanding foto anak-anak dan lainnya. Perhatian saya ke sana. Begitu juga foto konsep; jumlahnya minim. Foto jenis ini dapat dikatakan tak mudah. Keduanya memberi nuansa yang beda dalam pameran ini.

Sebagai pengunjung sekaligus komentator saya melihat keseluruhan foto secara estetika dan teknis sudah mencapai standar. Ada refleksi, siluet, shadow dan lainnya. Begitu pula, dengan keterangan yang mendampingi foto. Ada judul dan nama pembuat karya. Akan tetapi untuk memaksimalkannya, pengunjung perlu dipandu dengan memberi keterangan tentang lokasi pembuatan foto. Jadi, untuk mengenali kenyataan yang hadir pada foto hanya dapat menerka-nerka lokasi. Pada foto Sky of City karya Yudistira misalnya, aku tidak tahu apakah itu terjadi di sekitar kita. Bagaimana hubungannya dengan masyarakat di kampus sebagai sasaran yang menikmati foto.

Meski terbilang mini, pameran ini dapat tampil dengan skala luas bila mampu menjangkau masyarakat di luar kampus. Oleh karena, geliat untuk fotografi sejenis pameran minim tersaji di ruang-ruang publik. Dengan begitu, ini akan memberi edukasi, hiburan ke masyarakat sekaligus sebagai tanggung jawab bagi pembuat karya. Dan, tentunya, menambah khazanah pengetahuan dan pengalaman dari para peserta.

Sebelum meninggalkan lokasi pameran, 102 foto yang dipamerkan itu patut diberi apresiasi. Oleh karena di dalamnya terdapat kerja-kerja kolektif dari panitia peserta pameran. Bahwa fotografi bukan hanya sekadar melihat atau mengabadikan, tapi juga dipamerkan sebagai wujud tanggung jawab. Selamat berkarya.

:: Esa Ramadana, mahasiswa Universitas Hasanuddin. Sekarang siswa di Galeri Foto Jurnalistik Antara Makassar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *