Perginya Tiara, Sang Tulang Punggung Kecil
November 3, 2016
Menengok Pendidikan di Pulau Lae-Lae
November 8, 2016

Terapi Merajut untuk Korban Kekerasan

WANITA paruh baya itu bernama Maryam. Saya memanggilnya Ibu Maryam. Ia adalah janda satu anak. Sore itu, sembari merajut, ia bercerita banyak tentang pengalaman hidupnya. Salah satunya adalah trauma kekerasan yang dialaminya sekisar 30 tahun silam.

Ibu Maryam menikah muda, ketika ia baru saja duduk di bangku kelas 1 Sekolah Menengah Pertama. Dia perkirakan, umurnya waktu itu masih 16 tahun. “Tapi baru mengurus surat-surat waktu tahun 1971,” kenang perempuan kelahiran 1969 ini.

Karena menolak dinikahkan, Ibu Maryam sempat melarikan diri dari rumahnya. Tapi orang tuanya kembali membujuknya. Kata Ibu Maryam, orang tuanya bersikeras tidak mau mengembalikan uang panai’ yang sudah diserahkan oleh pihak laki-laki. Alasan lain yang ia didengar dari orang tuanya adalah “nanti masih bisa bersekolah meskipun sudah menikah”.

Pernikahannya hanya bertahan sekisar dua tahun. Ibu Maryam bercerai akibat sering mendapat perlakuan kasar dari suaminya. “Sering na larang ka pergi sekolah, kalau tidak ada ka di rumah, pergi na cari ka baru na pukul ka,” ungkap wanita 47 tahun itu. Sebenarnya pernah sekali mantan suami Ibu Maryam meminta rujuk, tetapi ia tolak.

Trauma itu ia bawa terus hingga saat ini. Daripada menikah lagi, ia memilih membesarkan buah hatinya seorang diri. Dia mengatakan sebenarnya tidak ingin menikah muda saat itu, karena ingin menyelesaikan sekolahnya terlebih dahulu, tetapi dia juga tidak bisa berbuat banyak akibat desakan dari orangtuanya.

Anak semata wayang Ibu Maryam menikah beberapa waktu lalu dan dikaruniai seorang anak, kemudian ia pindah dan tinggal bersama mertuanya. Kini Ibu Maryam tinggal di rumah orang tuanya bersama dengan dua saudaranya yang lain.

Semasa pernikahannya, suami Ibu Maryam kerap kali marah kepadanya. Kalau sudah begitu biasanya ia juga akan marah kepada semua orang, termasuk orang tua Ibu Maryam. Pernah sekali suaminya itu marah dan mengancam semua orang di rumahnya dengan sebilah parang.

Sebelum menikah, suaminya sebenarnya sudah tinggal bersama dengan orang tuanya, ia bekerja membantu usaha penjualan ikan orang tua Ibu Maryam. Beberapa lama kemudian sikap suaminya itu mulai berubah saat setelah menikah, suaminya kerap kali marah dan memukul hanya karena soal sepele. Ibu Maryam hanya bisa menangis dan menyimpan semuanya sendiri.

Maumi diapa, mau ka’ pergi tapi maluka, karena waktu itu setiap sudah na pukulka na carika lagi, jadi baik-baik tongma juga,” ungkapnya.

Pelatihan merajut SPK - Quiqui di Kelurahan Kapasa, Tamalanrea. (Foto: Alif Kurniawan)

IBU Maryam adalah warga Jalan Barukang III, Kecamatan Ujung Tanah, wilayah padat penduduk di pinggiran Tol Reformasi Makassar. Saat ini ia sering terlibat aktif dalam kegiatan yang diadakan Sekolah Pelopor Keadilan (SPK) “Baji’ Pa’mai” yang tak jauh dari rumahnya. SPK sendiri adalah sebuah wadah yang membantu memberikan konsultasi hukum, pendampingan dan pembelaan bagi perempuan pencari keadilan.

Hari itu Ibu Maryam mengikuti lokakarya merajut yang diselenggarakan oleh LBH APIK Makassar yang bekerjasama dengan Komunitas Quiqui. Kegiatannya itu dilaksanakan di halaman sebuah rumah dengan beberapa kursi plastik yang tersusun melingkar. Pada kesempatan itu saya terkesima sendiri, bagaimana merajut betul-betul bisa menjadi alat untuk terapi diri.

Beberapa peserta yang lain tampak dengan mudah mengikuti instruksi yang diberikan, dan ketika ditanyai soal merajut, rata-rata mereka sudah pernah melihat, mendengar, bahkan juga ada yang sudah mahir. Seperti Ibu Sahariah, baru saja ia diajarkan teknik dasar merajut dia langsung bisa.

“Sebenarnya pernah maka dulu belajar begini, tapi kulupa-lupa mi karena itu waktuku ji SMP,” kenangnya. Ia sangat bersemangat merajut, baru sekisar sejam ia sudah hampir menyelesaikan sebuah karya berupa tas kecil. “Kusuka saya kerja yang begini, ada bisaku kerja kalau lagi jaga warungka, ini mauka buatkan tas-tas rajutan kecil untuk anakku,” ujar ibu dua orang anak itu.

Tapi ada juga yang kesulitan seperti Ibu Nursia. Dia mengaku sangat kesulitan untuk mengerjakan hal yang seperti ini. “Pekerjaan perempuan seperti menjahit dan lainnya tidak bisaka saya. Kalau kerja jalan-jalan pergi mendata kasih maka, hahaha…” ujarnya, sembari menggulung benangnya kembali.

dsc_0160_2-copy

KEGIATAN yang diikuti Ibu Maryam sejak 24 sampai 28 Oktober 2016 ini memang bertemakan hubungan kekerasan rumah tangga dan hak-hak perempuan yang terampas dan rendahnya akses mereka untuk mendapat keadilan. Selang sehari dari kegiatan di tempat itu, ibu-ibu berkumpul kembali, dengan berbagai cerita tentang pengalaman merajutnya. Ada banyak pengalaman pahit yang mereka ceritakan di sana, tapi semua itu mengalir begitu saja bersama dengan rajutan.

Merajut hanya salah satu dari beberapa keterampilan yang menjadi materi ajaran bila para ibu anggota SPK ini berkumpul dua kali seminggu. Sebelum lokakarya ini mereka biasanya diajarkan beberapa keterampilan lain seperti menjahit, membuat kerajinan dari bahan bekas dan lain sebagainya. Dengan adanya lokakarya ini diharapkan dapat membantu mereka dalam menerapi diri dari tindak kekerasan yang dialaminya.

Kegiatan yang sama juga digelar di beberapa tempat. Lokakarya pertama di sekretariat SPK Maccaki di Jalan Biring Romang Lorong 6, Kecamatan Tamalanrea. Wilayah ini tak jauh dari Universitas Kristen Indonesia (UKI) Paulus. Lokakarya kedua di sekretariat SPK Baji’ Pa’mai di Jalan Barukang III, Kecamatan Ujung Tanah, yaitu wilayah padat penduduk di pinggiran Tol Reformasi Makassar. Lokakarya terakhir di SPK Sipakainge’, Jalan Manunggal 31, Kecamatan Tamalate, berada di sekitaran Danau Tanjung Bunga.

Dalam pandangan saya, kegiatan ini telah sukses menerapi para korban kekerasan itu dan juga membuat mereka memiliki keterampilan tambahan yang kelak dapat mereka gunakan dalam keseharian.[]

:: Alif Kurniawan, bekerja di Tanahindie.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *