Perihal Kentang yang Kita Makan
September 4, 2017
Foto oleh Rafsanjani, Tim Peneliti Bom Benang 2017
Kehidupan Sekitar Sungai Sinre’jala
Oktober 18, 2017

Sungai Hitam di Tengah Kota

Membayangkan sebatang sungai mengalir di tengah kota dengan bening airnya, anak-anak ceria bermain di pinggirannya. Satu dua perahu melintas. Pemandangan seperti ini menjadi harapan warga yang bermukim di bantaran Sungai Sinre’jala.

April, gadis kecil sembilan tahun yang kini duduk di kelas III Sekolah Dasar mengaku belum pernah sekalipun berenang di sungai yang mengalir di depan rumahnya. Sungai Sinre’jala yang ia sebut sebagai kanal besar menjadi tempat saban hari ia membuang sampah bekas ikan Ibunya.

“Dilarang ki buang bekas ikan di pembuangan sampah di sini. Karena satu kali seminggu ji tukang sampahnya jemput sampah. Jadi kalau bekas ikan disuruh ka sama mama kubuang di sungai. Karena kalau disimpan di depan rumah dikerubungi ji lalat atau nabongkar kucing,” terang April yang bermukim di kawasan Sukamana.

Selain sampah, Sungai Sinre’jala juga menjadi saluran drainase pembuangan warga. Air limbah dialirkan ke sungai melalui pipa-pipa yang telah ditanam di bibir sungai. Saat air pasang semestinya sungai melarutkan dan membawa aliran air buangan ini. Tapi sampah yang mengapung membuat aliran sungai menjadi tersendat. Tercemarnya Sungai Sinre’jala membuat beberapa daerah alirannya juga ditumbuhi tanaman eceng gondok. Penguapan yang disebabkan oleh daun eceng gondok membuat volume air di sungai ini menjadi semakin surut.

Akibatnya, air sungai menjadi gelap dan berbau. Di saat turun hujan, air meluap dan menyebabkan banjir di area bantaran sungai, hingga merembes ke tempat permukiman warga.

Mengenai air Sungai Sinre’jala yang semakin hari semakin gelap warna airnya, menurut Walikota Makassar Danny Pomanto, merupakan tanggung jawab dari Balai Besar Sungai Jeneberang Pompengan Kementerian Pekerjaan Umum. “Tapi catat, kekuatan kami tidak penuh ke kanal. Toh kanal ini dibawah naungan Kementrian. Tapi kita siap bantu, jika mereka meminta,” katanya seperti yang diberitakan dalam portal online Tribun Timur edisi 30 April 2017.

Ketua RW 3 Sukamaju Kelurahan Tamamaung, Mansur Latif mengaku telah berkali-kali menegur warganya yang membuang sampah ke Sungai Sinre’jala. “Perdanya sudah ada, tapi sanksinya belum tegas. Kalau mau tegur ya cuma dihimbau saja ke warga,” keluhnya.

Di Sukamaju, terdapat drainase besar yang menjadi tempat pembuangan air cuci kakus warga. Mereka menyebut sebagai kanal kecil. Aliran dari kanal kecil ini kemudian bermuara ke Sungai Sinre’jala yang mereka sebut sebagai kanal besar.

Di pertemuan antara kanal kecil dan besar ini, bisa dilihat perubahan air yang disebabkan oleh aliran air yang dibawa oleh kanal kecil. Aliran Sungai Sinre’jala dari selatan yang masih terang, seketika berubah gelap setelah bertemu dengan aliran air dari kanal kecil.

Warga mengeluh tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Salah satunya Jusri, warga Sukamana yang setiap hari bekerja sebagai buruh bangunan. “Air buangan rumah tangga kalau tidak dibuang ke kanal kecil mau dialirkan ke mana lagi?”

Sementara permukiman sangat padat, sulit membuat aliran rumah tangga agar diserap kembali ke tanah. Ada sekira 1300 Kepala Keluarga yang mendiami Kelurahan Tamamaung ini.

Tapi warga Tamamung mengaku bersyukur, kanal kecil dan besar di tempat mereka berada di bawah pengawasan Tentara Nasional Indonesia (TNI). Setiap tiga bulan sekali TNI akan melakukan kerja bakti membersihkan kanal. Beberapa bulan lalu, TNI bahkan melakukan pengerukan di sekitar kanal besar. Untuk membersihkan Sungai Sinre’jala dari sampah ataupun eceng gondok yang membusuk di dasar sungai.

Hartiningsih, warga Sukaria mengaku maklum saja bila warga membuang sampah di pinggiran sungai. “Sudah jadi rahasia umum. Biasa tengah malam orang nabuang sampahnya ke sungai,” akunya.

Dia pun mengaku pernah membuang sampahnya ke sungai. Meski sekarang katanya sudah jarang. Sebab ada pengumpul sampah yang kini datang menjemput sampah di kawasan tersebut. Meski sering membuang sampah ke sungai dan mengalirkan aliran buangan rumah tangga ke sungai Sinre’jala masih tetap disakralkan oleh beberapa warga termasuk Hartiningsih sendiri.

Setiap sanak saudaranya akan menggelar acara pernikahan, mereka akan melarungkan sesajian, berupa pisang atau telur ke sungai. Warga memberi sebutan ritual ini sebagai appanaung. Ini merupakan bagian upacara untuk memperoleh berkah dari leluhur.

Apalagi keluarga Hartiningsih percaya bahwa ada sanak saudara mereka menjadi bagian dari Sungai Sinre’jala. “Ada saudaranya nenek dulu yang melahirkan buaya. Saudaranya ibu saya itu dulu pernah lahirkan buaya. Lahir kembar, ada buaya, ada manusia,” ujar ibu rumah tangga berusia 42 tahun ini. Ritual ini masih dijalankan oleh keluarganya hingga sekarang.

Tidak hanya keluarga Hartiningsih, ritual ini memang masih dijalankan oleh beberapa warga. Mereka percaya bahwa yang mereka larungkan merupakan persembahan yang diberikan kepada leluhur mereka, Karaeng Sinre’jala yang dipercaya sebagai jelmaan dari buaya putih yang mendiami sungai tersebut.

Tetapi bukan hanya satu atau dua buaya yang dipercaya mendiami aliran Sungai Sinre’jala. “Ada banyak buaya. Dulu sering muncul itu,” kata Daeng Jappa, warga Pampang. Karena itu anak-anak dan cucunya tidak dia perbolehkan sekalipun untuk bermain di pinggiran sungai.

Lain halnya dengan Kadir dan teman-temannya yang juga tinggal di daerah bantaran Sungai Sinre’jala. Dia mengaku sangat akrab dengan sungai. Meski belum pernah sekalipun berenang di sungai tersebut, tapi pinggirannya jadi tempatnya bermain sejak kanak-kanak.

Kadir yang kini duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama ini mengaku santai saja setiap melihat buaya. “Biasa ji itu ada di pinggir sungai di sana. Di atas rumput berjemur,” ceritanya yang juga diaminkan oleh kawan-kawannya.

Salah satu warga bantaran sungai yang karib disapa Bunda juga menceritakan bahwa dulu, perahu masih sering hilir mudik di Sinre’jala. Sebelum eceng gondok dan sampah menghiasi aliran sungai.

Hal ini pula yang diamini Daeng Jappa yang mengaku saat muda dulu sering menghabiskan waktu di sekitaran bantaran Sungai Sinre’jala. Sungai ini digunakan warga untuk mencari ikan ataupun hilir mudik menggunakan katinting, perahu bermotor ukuran kecil. Sekarang sudah tidak mungkin mendapatkan ikan di Sinre’jala. “Ndak bisa mi ikan hidup kalau sungainya kotor. Sekarang kalau mau dapat ikan jauh ki keluar, sampai Tanjungka,” katanya.

Melihat sungai yang semakin tercemar, Bunda dan tetangganya ingin menimbun saja sungai yang menjadi halaman rumah mereka, kemudian dijadikan sebagai permukiman. Supaya tidak banjir lagi katanya atau tidak ada sampah eceng gondok.[]

:: Andi Ilmi Utami Irwan, anggota tim peneliti Bom Benang 2017, giat di Makassar Berkebun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *