Membincangkan “Kisah Para Penyintas”
Oktober 25, 2016
Penghargaan Individual atau Kerja Kolektif?
Oktober 27, 2016

Sukaria, Stigma Kriminal dan Denyut Ekonomi Makassar

Dokumentasi Tanahindie

JALAN SUKARIA terletak di Kecamatan Panakkukang, kawasan dengan atmosfer bisnis yang kuat. Hal ini dapat dilihat dari titik-titik perekonomian yang ada di seputarannya, seperti tabel di bawah ini.

(Olah data grafis: Kurniawan Adrianto)

(Olah data grafis: Kurniawan Adrianto)

Tapi juga media menaruh stigma bahwa daerah Sukaria adalah kawasan ‘X’, dipenuhi oleh hal-hal yang berbau kriminal. Pembegalan yang sering terjadi di daerah ini, ditambah dengan tertangkapnya beberapa remaja yang teridentifikasi sebagai begal, semakin menguatkan anggapan itu. Coba kita telusuri dengan menuliskan keyword “Tentang Sukaria Makassar”, maka muncul hanyalah berita-berita tentang kriminalitas di daerah tersebut.

(Olah data grafis: Kurniawan Adrianto)

(Olah data grafis: Kurniawan Adrianto)

Masih banyak berita yang memuat kriminalitas yang terjadi di Jalan Sukaria. Di bawah berita-berita tersebut, masih ada tumpukan kabar tentang curanmor, jambret, dan lain-lain dalam daftar pencarian Google.

Menurut Zainal Siko, warga Jalan Sukaria yang menetap di sana sejak 1995, kurangnya komunikasi antar warga, penghapusan fasilitas olahraga untuk remaja, hilangnya gotong royong, serta partisipasi warga. Namun masih ada beberapa kegiatan yang masih terjaga dengan baik dalam bingkai budaya. Seperti jika terjadi pernikahan, budaya saling panggil-memanggil yang masih kental terasa, bahu-membahu mengurus acara pernikahan, bahkan menyumbang untuk mempelai yang menikah.

Ada 400 kepala keluarga di Sukaria. Penduduk terbanyak berasal dari daerah Enrekang, Jeneponto, Pangkep, dan Maros yang mulai menghuninya sekitar tahun 1992. Kemudian, dengan budaya panggil-memanggil, daerah tersebut membentuk sektor kedaerahan yang sangat kental.

Lorong berukuran 1,5 meter di Sukaria memandu saya bertemu warganya. Beberapa dari mereka dengan aktivitas yang berbeda. Namun terlihat indikasi bahwa semua bergerak untuk membangun industri rumahan. Ada yang dilakukan individu, dan ada juga yang kolektif, mulai dari pappissi’ ladda, konveksi, penjual jalangkote’, pengumpul karton bekas, warung makan, tukang las, penjual sara’ba, dan kue-kue kering.

Di sana, Jalan Sukaria, terdapat 2 ‘markas’ komunitas yang ada di Makassar, yakni Komunitas ‘Ko Pigi Keliling’ di Jalan Sukaria 12 dan komunitas ‘One Scooter Makassar’ yang terletak di satu lorong di Jalan Sukaria 10.

Bila memasuki kawasan ini melalui Jalan Sukaria 13 B, RT H, RW 07, Anda akan mendapat masjid tepat di tikungan pertama sebelah kiri. Masjid Al-Ikhlas namanya, berdiri tahun 2007 dan menjadi salah satu tempat berkumpulnya warga jika ada sesuatu yang ingin dimusyawarahkan.

Anak-anak di Jalan Sukaria 13 B, RT H, RW 07, punya beberapa titik kumpul untuk bermain. Pertama, areal rumah kosong yang belum selesai dibangun. Memang ada beberapa rumah yang belum selesai dibangun di sana. Kedua, di pinggir sungai sepanjang jalan yang dilalui ketika memasuki kawasan Sukaria. Di sini mereka biasanya berkumpul untuk bermain sepatu roda. Ketiga, di Game Center 30 meter dari arah kiri Masjid Syuhada, yang memiliki 3 komputer untuk disewakan. Keempat, di depan Masjid Syuhada yang kebanyakan ditongkrongi oleh anak-anak berusia belasan. Sementara anak-anak yang masih berusia 5-10 tahun, kebanyakan bermain di sekitaran rumah mereka. Ada yang bermain sepeda, bermain masak-masakan, atau sekadar mengejar-ngejar sapi peliharaan warga Sukaria. Deny, 4 tahun, memiliki “busur” untuk menembak ikan.

Kawasan ini dipenuhi kos-kosan. Ada 34 kos-kosan. Selain kawasan yang dekat dengan pusat bisnis, Sukaria juga dekat dengan beberapa kampus yang ada di Makassar, seperti UMI (3 km), UNIBOS (3,2 km), Universitas Fajar (500 m), dan STMIK HANDAYANI (800 m). Keberadaan kampus di sana dimanfaatkan warga untuk membuka warung makan. Setidaknya 11 warung makan di Sukaria. Ada yang saling berdekatan.

Beberapa lokasi menjadi tempat pembuangan sampah di Sukaria di 15 meter di kiri Masjid Syuhada, di belakang rumah warga yang masih memiliki berawa, dan di sungai. Di depan rumah-rumah, warga menyediakan kantong-kantong sampah atau karung sebagai penggantinya. Bahkan diletakkan di luar pagar rumah.

Pengendara motor yang melintasi lorong-lorong Sukaria melambatkan laju motornya untuk membiarkan sapi-sapi melewati jalanan. Sapi-sapi itu biasa berkumpul di tempat sampah dekat Masjid Syuhada dan di sungai dekat lorong yang menjadi pintu masuk Sukaria 13 B, RT H, RW 07. Ada 14 ekor sapi di sana dan sudah ada sejak setahun lalu. Pemiliknya adalah beberapa warga Jalan Sukaria. Ternak itu rencananya akan disembelih ketika Idul Adha.

Pada satu sore, saya melewati beberapa ibu-ibu yang sedang duduk dan berbicara dengan perkumpulannya. Sambil mengucapkan ‘“permisi, Tante”, saya dan seorang kawan melangkah melewati lorong yang menuju ke sungai. Dengan nada yang diselipi dengan tawa, ia berucap “Masih mudah semua ji di sini. Masih abege!”

Saya pun berlalu dengan tawa dan bahagia melihat bagaimana mereka menghibur diri dan berusaha membuat kami nyaman.[]

:: Fauzan Al Ayyuby, mahasiswa STMIK AKBA Makassar

Lihat juga:

Pasar Sukaria, Pasar yang Dipicu ‘Pagandeng’

Beberapa Kisah dari Jalan Sukaria

Ibu Isa, Pappisi’lada di Jalan Sukaria

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *