Mengusir Hantu-hantu Kota
Maret 11, 2013
Rewind: Kembali ke Masa “Kaset Ini Aku Pinjam”
April 22, 2013

Secuil Cerita dari Pulau Badi

Cerita selayang pandang tentang salah satu pulau di Selat Makassar, yang merupakan nusa yang menjadi bagian dari Kabupaten Pangkajene Kepulauan.

Di Pulau Badi terdapat pohon mangga setinggi kurang lebih 25 meter yang terletak di belakang bangunan sebuah sekolah dasar. Bukan karena dikeramatkan oleh masyarakat setempat, namun menjadi magnet yang kuat bagi anak-anak hingga remaja. Setiap atap seng sekolah itu berbunyi karena tertimpa buah mangga, bergegaslah para anak-anak menyambut buah mangga tersebut. Saat saya berkunjung pada November 2012, musim berbuah pohon ini memasuki masa penghabisan.

Mendapatkan buah mangga di tengah perburuan bersama seperti menjadi sebuah prestasi yang membanggakan. Malam hari, sebagian dari mereka membekali diri dengan senter. Bahkan menurut keterangan salah seorang warga setempat  sepulang salat subuh dari masjid, beberapa orang tua menyempatkan mencari buah mangga jatuh. Pohon mangga berdiameter pelukan sekitar tiga orang dewasa ini pula yang menyatukan mereka. Terbersit harapan semoga pohon ini berumur panjang hingga beberapa generasi ke depan.

Itulah sedikit cerita keseharian para penghuni Pulau Badi, sebuah pulau yang menjadi bagian Desa Mattiro Deceng, Kecamatan Liukang Tupabiring, Kabupaten Pangkep. Pulau Badi juga merupakan salah satu bagian dari Kepulauan Spermonde. Berdasarkan situs resmi Pemerintah Kota Makassar, Spermonde (ada juga yang menyebutnya dangkalan Spermonde) berupa hamparan pulau karang. Wilayah ini terletak di barat jazirah Sulawesi Selatan dan membentang mulai dari Kabupaten Takalar sampai Kabupaten Pangkep. Terhitung ada sekitar 120 pulau, 12 di antaranya berada dalam wilayah Kota Makassar. Versi lain menyebut hanya 11 pulau.

Ketika mendengar kata Badi mungkin yang  terlintas di pikiran orang adalah Badik, senjata tajam khas masyarakat Sulawesi Selatan. Ada beberapa versi mengenai sejarah penamaannya. Berdasarkan informasi dari penduduk setempat, bahwa dahulu di Pulau Badi terdapat banyak badik. Ada pula yang mengatakan bahwa dahulu ada seorang sakti menyinggahi pulau ini. Saat meninggalkan Pulau Badi, senjata badiknya ketinggalan.

Jarak tempuh dari Pelabuhan Paotere (Makassar) kurang lebih satu setengah jam dengan menggunakan Jolloro’ atau kapal rakyat. Sarana transportasi ini dapat memuat 10-25 orang berikut barang bawaannya. Ada satu kisah pilu pada 28 Februari 2009. Pagi itu Jolloro’ akan meninggalkan Pulau Badi menuju ke Kota Makassar terbalik dan tenggelam. Akibatnya tiga dari sekitar 30-an penumpang dinyatakan tewas. Satu korban di antaranya belum ditemukan sampai saat ini.

Jika Anda melakukan perjalanan saat cuaca cerah maka tampak di kejauhan pulau-pulau tetangga semisal Barrang Lompo, Pajenekang, Lumu-Lumu dan Ballang Lompo. Cukup dengan membayar 10 ribu rupiah (via kapal regular) sekali menyeberang, anda sudah bisa sampai ke Pulau Badi dan menikmati pasir putihnya pulau ini. Maka tak heran, jika saat akhir pekan banyak keluarga dari luar pulau datang berekreasi di sini. Walau untuk sekadar berenang dan bermain pasir. Bagi para penyelam, banyak titik penyelaman menarik mata. Pemandangan ini juga dimungkinkan sejak tahun 2007 terdapat daerah perlindungan laut (DPL) di pulau ini. DPL ibarat daerah eksklusif nan aman bagi biota-biota laut. Layaknya hutan lindung yang ada di darat.

Bagi Anda yang hendak pelesiran ke Pulau Badi’, rumah penduduk bisa dijadikan tempat untuk menginap. Biaya penginapan dan makan dijadikan satu paket, berkisar antara 10-15 ribu rupiah per orang, tergantung dengan kesepakatan. Selain itu terdapat juga rumah bantuan COREMAP yang dapat disewa dengan harga 20-30 ribu rupiah per hari. Berdasarkan situs resminya, Coremap (Coral Reef Rehabilitation and Management Program), atau Program Rehabilitasi dan Pengelolaan Terumbu Karang, adalah program jangka panjang yang diprakarsai oleh Pemerintah Indonesia dengan tujuan untuk melindungi, merehabilitasi, dan mengelola pemanfaatan secara lestari terumbu karang serta ekosistem terkait di Indonesia, yang pada gilirannya akan menunjang kesejahteraan masyarakat pesisir.

Saat naik ke darat, para pengunjung akan disuguhi pemandangan desa yang ada di Sulsel pada umumnya. Deretan rumah kayu panggung yang mulai diselingi dengan rumah batu. Di dermaga, kita akan menyaksikan anak-anak memancing. Tak siang maupun malam, mereka tak pernah bosan mengayunkan tali pancing ke dalam air, terutama saat bulan purnama, saat cumi-cumi yang menjadi buruan utama giat mencari makan.

Ketika sore menjelang, datanglah ke lapangan bola yang ada di tengah Pulau. Lebih dari 50 anak-anak, mulai 5-15 tahun, tumpah ruah di sini. Mungkin di sinilah pusat keramaian pulau ini. Ada yang bermain bola, berebut mainan wayang atau sekadar bercengkrama sambil menunggu buah mangga yang jatuh. Bahkan tak jarang ada yang menangis karena bertengkar.

Berbicara tentang penunjang kehidupan, Pulau Badi telah memiliki fasilitas pendidikan yakni SDN 27 Tupabbiring & SMP. Sedangkan  masalah kesehatan, pulau ini juga ditopang dengan satu unit bangunan puskesmas pembantu. Beberapa MCK umum juga telah dibangun atas dasar swadaya maupun bantuan pemerintah. Namun jangan kaget saat melihat anak-anak hingga dewasa, laki maupun perempuan melaksanakan kegiatan buang hajat di laut maupun pantai secara langsung. Hal yang biasanya banyak dijumpai pada pagi hari.

Bagi yang kurang terbiasa mungkin akan merasa aneh, namun inilah potret kehidupan masyarakat pesisir, khususnya Pulau Badi. Menurut Pak Muhaji, warga setempat jarang mengeluhkan gangguan kesehatan akibat pola hidup seperti tadi. Kalau Anda berasumsi jorok akan hal itu, mungkin sebaiknya dipikirkan lagi. Karena kebiasaan yang mungkin lebih nyaman dari pada melakukan di WC.

Hal ini tampaknya berkaitan erat dengan ketersediaan air tawar di Pulau Badi. Beberapa sumur umum maupun pribadi memiliki kadar garam yang beragam. Mulai dari yang asin, payau hingga tawar. Namun tetap belum mencukupi untuk seluruh masyarakat, apalagi saat musim kemarau berlangsung. Selain masalah air tawar, aliran listrik yang menerangi rumah-rumah hanya pada pukul 6 sore-12 malam. Dahulu, kata Pak Muhaji, beberapa rumah memiliki fasilitas solar sel sebagai sumber listrik. Namun karena biaya perawatan yang mahal akhirnya satu per satu alat tersebut rusak. Sekarang orang-orang lebih mengandalkan generator yang berbayar tiap bulan. Bayangkan saja saat beberapa nelayan yang pulang melaut pada pukul 02.00 pagi mendapati rumah mereka gelap gulita.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *