Persiapan Pernikahan Suku Makassar [2]

 

Rumah adat Makassar (sumber: majalah versi)

Rumah adat Makassar (sumber: majalah versi)

Minggu lalu kami sudah berbagi tentang proses lamaran dan persiapan pernikahan dalam suku Makassar. Minggu ini kami akan berbagi lanjutan proses persiapan hingga proses pernikahan.

Tujuh atau tiga hari sebelum hari pernikahan, keluarga pihak pria akan mengantarkan sirih besar atau yang disebut angngerang leko lompo.  Kalau uang belanja belum dibawa pada saat mengantar leko caddi, maka akan disertakan pada leko lompo.

Adapun benda-benda lain yang disertakan dalam leko lompo ini adalah:

  1. Sirih pinang lengkap, terdiri dari daun sirih beberapa ikat, pinang bertandang, tembakau, gambir dan kapur secukupnya.
  2. Gula merah beberapa biji, kelapa bertandang, pisang bertandan, beberapa nenas, nangka, jeruk dan buah-buahan lainnya menurut musim. Buah-buahan ini dibawa dalam lawasuji yaitu sebuah panca usungan berbentuk segi empat yang terbuat dari bambu.
  3. Beragam macam kue adat yang disimpan dalam bosarak.
  4. Perlengkapan pakaian wanita, alat rias dan perhiasan.

Segala macam hantaran ini dibawa oleh rombongan dari pihak calon mempelai pria. Jaman sekarang segala hantaran seperti yang ada di atas biasanya dibawa tepat pada saat akad nikah dilangsungkan.

Tiga malam sebelum upacara akad nikah yang disebut simorong naik kalenna, suasana di kedua belah pihak sudah meriah. Para keluarga dan handai taulan serta tetangga akan berkumpul mempersiapkan segala hal yang dibutuhkan dalam sebuah acara pernikahan.

Acara Akkorontigi

Malam sebelum acara akad nikah, kedua calon mempelai menggelar acara akkorontigi. Akkorontigi adalah acara membubuhi ramuan daun-daun pacar pada kuku baik untuk calon pengantin wanita ataupun calon pengantin pria.

Sebenarnya 3 hari sebelum acara akad nikah, kedua calon mempelai sebelumnya mengikuti sebuah upacara yang disebut abbarumbung atau mandi uap. Upacara ini dimaksudkan agar kedua calon mempelai bisa sehat bugar di hari pernikahan serta menguapkan semua bau tidak sedap dari tubuh mereka.

Pada malam akkorontigi, kedua calon mempelai akan mengenakan pakaian adat atau yang disebut sikko’ banri. Acara dimulai dengan pembacaan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW yang dilanjutkan dengan barzanji (abbarasanji). Setelah itu calon mempelai akan duduk di tempat khusus, satu persatu hadirin akan naik dan membubuhkan ramuan daun pacar di kuku calon pengantin.

Urutannya dimulai dari keluarga yang kedudukannya paling tinggi dan kemudian diikuti oleh keluarga lainnya. Dalam acara ini para keluarga dekat akan memberikan sumbangan atau disebut sebagai pannyiori. Ada yang menyerahkan sebidang tanah, perhiasan atau lain sebagainya.

Ketika hari pernikahan tiba

Setelah semua rangkaian upacara pernikahan selesai digelar, maka sekaranglah saatnya memasuki hari yang penting yaitu hari pernikahan atau disebut naik kalenna atau simorong.

Calon mempelai pria akan datang ke tempat pernikahan diiringi oleh keluarganya. Mempelai pria dari kalangan bangsawan akan diapit oleh empat orang yang berpakaian seperti pengantin juga. Pengantin pria akan diiringi oleh segala alat kehormatan menurut adat seperti payung tinggi, rombak pusaka dan dimeriahkan oleh bunyi-bunyian seperti genderang, gong dan pui-pui.

Mempelai pria juga diiringi oleh seorang yang membawa sunrang. Sunrang adalah kampu yang dibungkus kain putih. Isinya beras segenggam, kunyit setangkai sebagai simbol kesuburan, jahe, pala kenari dan kayu manis.

Rombongan ini akan disambut oleh rombongan dari pengantin wanita. Ketika tiba di gerbang atau di depan tangga maka wakil dari pengantin wanita akan memanggil pengantin pria dengan nyanyian yang disebut pakkiyo bunting (pemanggil pengantin).

Setelah nyanyian yang berisi 40 bait ini selesai, maka naiklah pengantin pria bersama pengiringnya ke tempat yang sudah disiapkan. Di sana sudah ada imam atau kadhi beserta wali dan saksi yang akan menikahkannya. Upacara pernikahan dilakukan dengan ijab kabul menurut hukum Islam.

Setelah selesai maka mempelai pria akan diantar ke kamar di mana telah menunggu sang mempelai wanita. Mempelai pria akan diantar oleh orang yang sudah ditunjuk oleh keluarga wanita, acara ini disebut appabattu nikka.

Di depan pintu kamar, pengantin pria tidak bisa langsung masuk. Dia harus membayar sejumlah uang kepada penjaga kamar yang biasanya adalah anrong bunting atau perias pengantin. Uang tebusan yang diberikan oleh pengantin pria disebut pannyungke pakkebbu (pembuka pintu).

Setelah pintu terbuka maka mempelai pria dipersilakan masuk dan bertemu dengan mempelai wanita. Setelah duduk berhadapan maka mempelai pria akan dituntun untuk menyentuh wanita yang sudah syah menjadi istrinya tersebut. Sentuhan dari mempelai pria mengandung banyak makna.

Mempelai pria dituntun untuk menyentuh buah dada istrinya sebagai simbol gunung supaya kelak rezekinya menggunung. Sentuhan lainnya dilakukan di ubun-ubun dan leher bagian belakang sebagai simbol kepemimpinan suami dalam rumah tangga. Ada juga yang melakukan rabaan pada bagian perut sebagai simbol kemakmuran dan agar terhindar dari rasa lapar karena perut selalu diisi. Ada yang menganggap bahwa berhasil tidaknya sebuah pernikahan tergantung pada sentuhan pertama suami terhadap istrinya.

Setelah acara ini selesai, maka kedua mempelai akan keluar ruangan menemui seluruh hadirin dan undangan. Sebelum duduk di pelaminan, kedua mempelai akan menyalami dua pasang orang tua mereka sebagai simbol memohon doa restu.

Setelah acara pernikahan selesai.

Setelah acara pernikahan selesai bukan berarti seluruh rangkaian acara juga diangap selesai. Dalam masa ini pula ada yang menganggap kalau orang tua dari mempelai wanita belum boleh berbicara atau bahkan menatap langsung sang mempelai pria karena masih ada rangkaian upacara yang belum selesai. Jika melanggar maka nasib sial akan melanda mereka.

Setelah rangkaian acara di rumah mempelai wanita selesai maka berikutnya adalah rangkaian acara yang disebut nilekka. Pada acara ini kedua mempelai akan diarak ke rumah mempelai pria untuk bertemu dengan keluarga mempelai pria terutama orang tuanya. Di depan tangga atau di gerbang, mempelai wanita akan disambut oleh ibu mertuanya dengan sambutan yang disebut pappaenteng.

Di rumah mempelai pria ini juga diadakan perjamuan seperti halnya yang diadakan di rumah mempelai wanita. Setelah acara selesai maka kedua mempelai akan memohon diri untuk kembali ke rumah mempelai wanita. Acara ini disebut nipak bajikang atau saling mendamaikan.

Nipak bajikang tidak perlu dilakukan besar-besaran, kedua mempelai hanya duduk bersama dengan keluarga besar dari mempelai wanita dalam sebuah acara perjamuan. Dalam jamuan ini disajikan nasi ketan yang dicampur dengan gula santan yang disebut songkolo na palopo sebagai simbol dan pengharapan agar rumah tangga mereka akan selalu manis.

Setelah acara makan bersama ini selesai maka berarti selesailah seluruh rangkaian pernikahan yang memakan waktu cukup panjang itu.

Rentetan upacara pernikahan yang cukup panjang ini sudah banyak yang ditinggalkan di jaman sekarang. Upacara seperti appanik leko caddi dan appanaik leko lompo sudah sering disatukan dalam acara assimorong demi efektifitas waktu dan biaya. Bagaimanapun, rentetan upacara pernikahan yang panjang dan memakan waktu ini adalah salah satu bukti kekayaan adat istiadat salah satu suku di Indonesia.

(tim Makassar Nol Kilometer; disarikan dari buku Pernikahan Masyarakat Makassar dan Tana Toraja; Drs. Nonci, Spd)

Bagikan Tulisan Ini:

Makassar Nol Kilometer (188 Posts)

Sebuah ruang termpat berkumpulnya warga kota Makassar mencatat dan bercerita tentang dinamika kota dari kaca mata warga. Kami membuka ruang seluas-luasnya bagi warga untuk berkontribusi di laman ini.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


eight × 5 =

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>