Orang-orang Muda yang Terasing
Agustus 18, 2017

Perihal Kentang yang Kita Makan

EMPAT TAHUN menjadi bagian dari pengorganisasi pedagang tidak sepenuhnya membuat saya yakin telah berdiri di posisi yang tepat. Apalagi setelah meyaksikan perdebatan panjang antara kawan saya, Ishak Salim dan Zainal Siko. Keduanya beradu argumen mengenai rantai panjang perdagangan komoditi yang menghubungkan petani dengan pedagang.

Malam itu, Ishak mengeluhkan rantai komoditi yang memiliki mata rantai yang tidak hanya banyak, tapi juga panjang. Masing-masing mata rantai kemudian mengambil nilai lebih dari barang sebelum sampai ke pembeli. Dari proses panjang perdagangan hasil pertanian mereka, petani sama sekali tidak mendapat keuntungan. Justru pengumpul, distributor, dan pedaganglah yang selama ini menikmati apa yang petani kerjakan. Petani tidak memiliki kuasa menentukan harga hasil produksi mereka. Bagi Ishak, mata rantai yang panjang inilah ‘dalang’ pemiskinan petani sehingga jumlahnya harus dikurangi.

Zainal kurang sependapat dengan gagasan mengurangi mata rantai. Baginya, mata rantai bukanlah penyebab, tapi bagian dari kemiskinan itu sendiri. Walaupun Zainal sebenarnya tidak sepenuhnya menyalahkan pendapat Ishak, baginya, tiap mata rantai merupakan satu kesatuan dari rantai komoditi dan tidak terpisah dari kemiskinan dan ketidakadilan itu sendiri. Mata rantai itu dinamis sehingga bisa berada di kondisi rentan atau sebaliknya—sama halnya petani sebagai salah satu mata rantainya.

Di tiap mata rantai komoditi ada keluarga yang hidup dan menggantungkan perekonomian domestik mereka dari proses transaksi yang berjalan di antara mata rantai. Jadi, ketika salah satu mata rantai dihilangkan, Zainal yakin tindakan tersebut justru akan memperparah masalah kemiskinan di masyarakat dan lebih luas. Apa sebenarnya yang terjadi dengan kerumitan diskusi ini? Saya pun coba mengurainya dalam refleksi ini.

Modal ‘Kepercayaan’ dan Kesuksesan

Di dalam catatan lapangannya, Sunardi (salah seorang peneliti AcSI) mengisahkan perjalanan karir Daeng Lala sebelum menjadi salah satu pemasok utama komoditi cabe dan tomat di Pasar Terong. Dalam catatan tersebut bahkan menyebutkan, hanya dalam waktu kurang dari dua minggu, Daeng Lala harus mengganti buku tabungannya yang sesak dengan transaksi ratusan ton cabe dan tomat. Dia tidak hanya melayani pasukan domestik di Pulau Sulawesi, tapi juga nasional hingga mancanegara. Dalam perjalanan karirnya, Daeng Lala memiliki ‘murid’ bernama Bobi, yang kemudian juga menjelma sebagai pedagang kelas kakap dan merajai komoditi jeruk nipis di pasar tersebut.

Merangkum kisah ini tampak seperti cerita dongeng yang dilebih-lebihkan. Tapi percaya atau tidak, transaksi jual beli yang selama ini kita lihat di Pasar Terong itu hanya sebagian kecil transaksi pedagang kecil ke pelanggan mereka dari kalangan ibu rumah tangga, atau juga warung makan. Restoran juga masuk di dalamnya, sebagian. Di balik kekumuhan, kesemrawutan, dan sampah-sampah sayur yang tergeletak tak terurus itu, ada ratusan, bahkan ribuan ton transaksi kasat mata, lintas pulau yang dimainkan hanya oleh beberapa pedagang saja.

Hal serupa juga terekam di buku catatan lapangan milik Rizky Amalia dan saya sendiri. Kisah mantan pedagang besar di Pasar Terong, jauh sebelum Daeng Lala menggantikannya. Dia bernama Daeng Marala yang dalam perjalanannya sempat membentuk kelompok pedagang eksklusif di wilayahnya. Sama halnya Daeng Lala, di masanya dia mengontrol dan menjalankan sebagian besar perdagangan komoditi cabai dan tomat dalam skala raksasa. Dari kesuksesannya, dia kemudian mewariskan usaha itu ke anak-anaknya—walaupun pada akhirnya tidak satu pun dari mereka yang mencapai kesuksesan seperti ayahnya.

Dari kedua cerita, ada kesamaan pola dari tahapan sebelum menjadi pedagang besar di Pasar Terong, yakni tahapan memulainya. Kedua pelaku memulai karir mereka hanya dengan bermodalkan kepercayaan. Sistem ini cukup populer di Pasar Terong, dan umum terjadi di pasar lainnya di Sulawesi Selatan. Dengan kepercayaan, keduanya bisa mulai berdagang. Cukup mendekati salah satu pedagang pemasok untuk mendapatkan barang, kemudian menyetorkan kembali uang hasil penjualan ke pemasok sesuai kesepakatan. Selisih harga sesudah transaksi, itulah keuntungan yang mereka ambil. Seiring waktu, kepercayaan yang tumbuh di kedua belah pihak memungkinkan pedagang untuk mengambil lebih banyak barang dari pemasok, berikut lebih banyak keuntungan yang dijanjikan tentunya. Demikian seterusnya hingga mereka tumbuh menjadi pedagang ‘sukses’, kemudian terus berkembang hingga akhirnya muncul sebagai salah satu pemasok besar di perdagangan komoditi pertanian.

Tapi penting menjadi catatan sementara, pelaku ini tidaak berhubungan langsung dengan petani di desa. Tapi, ada ‘pengumpul’ yang bertugas untuk memastikan pasokan tetap tersedia dari petani. Sampai di situ, saya kemudian tanpa direncanakan sebelumnya, melakukan percobaan. Bisa dikatakan percobaan paling konyol untuk memutus salah satu mata rantai komoditi ini, pengumpul.

Petani Tanpa Nilai Tawar

Di penghujung 2012, tidak lama setelah perdebatan Ishak dan Zainal mendapat telepon dari Daming, seorang petani di Sinjai. Dia menceritakan rencana penjualan kentangnya. Setelah menghitung ongkos produksi, dia menetapkan harga Rp 6.200 untuk tiap kilogram kentang. Dengan harga itu, dia mendapatkan keuntungan Rp 750/kilogram. Pak Daming yakin harga tersebut sudah sebanding dengan kualitas kentang yang dia tanam dan siap menjualnya ke Pasar Sentral Sinjai. Paling tidak dari penjualan ini dia bisa sedikit menutup utang-utangnya ke penjual pupuk dan membayar gaji pemuda desa yang dia pekerjakan ketika panen.

Selang seminggu, Daming meminta saya untuk datang. Dia sedih karena apa yang direncanakan tidak berjalan mulus. Tidak ada pedagang yang mau membeli kentangnya dengan harga yang dia tetapkan. Pedagang menawarkan harga yang jauh dari perhitungannya: Rp 5.500/kg. Nilai itu jelas mengantarkannya pada kerugian jika terpaksa menjual kentang-kentangnya. Sementara, kentang yang telah dipanen tidak akan bertahan lama di bawah kolong rumah.

Anak pertamanya yang sedang kuliah di Makassar sudah beberapa kali memintanya mengirim uang bulanan. Gaji istrinya yang mengajar di SD pun tidak akan cukup untuk kebutuhan rumah tangga, apalagi ketika istrinya memutuskan cuti setelah mereka memiliki bayi lagi.

Singkat cerita, Pak Daming meminta saya mencarikan pembeli di Pasar Terong. Sore itu saya bergegas untuk kembali ke Makassar.

Di pasar, saya menemui beberapa pedagang besar untuk menanyakan harga pasaran kentang. Jika ada harga yang pantas, kentang milik Daming akan saya sodorkan ke salah satunya. Setelah seharian mencari pembeli, hasilnya nihil. Pedagang siap membeli kentang milik Daming dengan harga Rp 4.000/kg dengan catatan barang pedagang terima di tempat—yang artinya biaya pengiriman barang menjadi tanggung jawab penjual. Dengan perasaan kesal saya pun pulang tanpa hasil.

Cerita kesuksesan Daeng Lala dan Daeng Marala tentunya berbanding terbalik dengan cerita Daming. Pada akhirnya Daming terpaksa menjual kentang-kentangnya tanpa keuntungan sama sekali.

Pak Daming bukan satu-satunya petani yang menjadi korban ketidakadilan pasar dalam rantai komoditas. Apa yang dia alami umumnya terjadi di petani lain. Sedikitnya informasi yang petani miliki menjadikan mereka tidak mendapatkan posisi tawar yang menguntungkan di model pasar yang nyaris tanpa aturan. Belum lagi mengingat 80 persen petani di Sulawesi Selatan merupakan petani subsinten yang tidak memiliki lahan. Mereka hanya mengadalkan bagi hasil dengan pemilik lahan untuk melanjutkan hidup dan berharap anak cucu mereka tidak melanjutkan pekerjaan mereka di masa mendatang.

Ketidakadilan Pasar dan Konsumen yang Tidak Peduli

Tulisan reflektif ini bukan sedang membela salah satu pihak, baik petani ataupun pedagang. Tujuan tulisan ini untuk melihat kembali posisi keberpihakan individu dan kelompok tertentu dalam upayanya mendorong perubahan sosial di masyarakat. Contoh kasus di atas hanya bermaksud mengantarkan pembaca ke gagasan-gagasan yang muncul dari perdebatan Ishak dan Zainal, jika memang itu pernah terjadi.

Baik Ishak maupun Zainal, keduanya memiliki alasan kuat di dalam argumen mereka tentang rantai panjang perdagangan. Dalam rantai komoditi a la neoliberal, sebagaimana yang David Harvey ceritakan, petani menjadi kelas paling bawah dan tidak memiliki posisi tawar yang kuat untuk menentukan nilai lebih dari proses produksi yang mereka kerjakan. Di sisi lain, ada mata rantai di distribusi barang yang mengambil keuntungan jauh lebih besar dari petani. Mereka melakukan itu karena memiliki akses infromasi yang lebih dibandingkan petani. Model ini bertahan karena tidak ditopang oleh regulasi yang adil. Kita mempercayakan sepenuhnya mekanisme pasar berjalan tanpa kontrol.

Pada kasus Daming, pedagang di Pasar Terong ketika menetapkan harga Rp 4.000/kg kentang bukannya tidak beralasan. Selang beberapa hari setelah saya menawarkan kentang milik Daming, masuk kentang asal Bangladesh dengan harga Rp 4.250/kg. Melihat ukuran dan kualitas, kentang impor ini jauh lebih besar dan mengkal dibanding kentang milik Daming. Pedagang tidak mau berisiko rugi ketika membeli kentang milik Daming karena pasti kalah bersaing dengan kentang impor yang harganya lebih murah dan berkualitas.

Kebijakan impor kentang ini merupakan bentuk absennya kebijakan untuk menjinakkan penghisapan dalam mekanisme pasar. Paling tidak, dari sini tampak di mana posisi reguasi berada dan cara pandang apa yang digunakan. Kemudian, di mana posisi konsumen berdiri saat ini?

Apa yang berjalan di Pasar Terong adalah hal biasa. Sudah seharusnya konsumen mendapatkan barang berkualitas dengan harga yang murah. Kemudahan akses dan proses transaksi menjadi nilai plus proses jual beli.

Tidak banyak konsumen yang ingin mengetahui siapa yang bekerja untuk menghasilkan barang dan bagaimana proses produksi itu berlangsung. Seperti apa distribusi barang di dalam rantai panjang komoditas hingga sampai ke tangan konsumen. Padahal, dari konsumsi yang kita lakukan sehari-hari, ada penghisapan terhadap petani dan buruh yang belum pernah terselesaikan. Ada kekecewaan dan ketidakpuasan petani dari kentang yang kita makan.[]

:: Agung Prabowo, afiliasi peneliti Insist Press.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *