Kereta yang Berapi-api
November 2, 2016
Terapi Merajut untuk Korban Kekerasan
November 7, 2016

Perginya Tiara, Sang Tulang Punggung Kecil

TERIK matahari begitu menyengat. Seorang perempuan kecil berseragam sekolah merah putih menghampiri perempuan setengah baya yang menggendong anak laki-laki.

“Ada itu uang kusimpankan ki di bawah kasur. Jangki tanya bapak, mauka dulu pergi ma’parkir di dekat rumahnya nenek,” ujar anak perempuan hitam manis yang ditirukan Ani (30), ibunya. Ibu tiga anak ini tak henti-hentinya meneteskan airmata mengingat anaknya. Gadis itu pamit untuk menjaga parkiran, sambil berpesan agar uang yang disimpannya di bawah kasur jangan sampai ketahuan sang bapak.

Namanya Tiara Rudi (13), tinggal di sebuah rumah sisa kebakaran bertingkat dua dalam gang kecil Jalan Rappocini, Makassar. Di rumah tersebut ia tinggal bersama kedua orang tuanya dan 2 orang adiknya. Tiara merupakan anak pertama dari 3 orang bersaudara. Tak jauh dari rumah Tiara di Jalan Maricayya terdapat sebuah SD (Sekolah Dasar) Maricayya, tempat ia menimba ilmu hingga duduk di kelas V SD.

Dalam lingkungan rumahnya, gadis ini dikenal periang dan penurut. Bahkan seringkali ia diganggu oleh teman-teman sebayanya namun tidak melawan. “Baik ki ini cikalingku (sepupu), biar diganggui sama anak-anak di sini tapi dia tidak pernah ji mau membalas,” ujar Ariel, sahabat sekaligus sepupu Tiara.

Selain memiliki segudang prestasi baik di sekolah maupun di tempat mengajinya, Tiara juga memiliki tekuni pekerjaan serabutan. Sepulang sekolah, ia menuju Mall M’tos, Tamalanrea, Makassar. Di sana ia kumpulkan recehan mulai dari mengemis, juru parkir, sampai menawarkan jasa penyeberangan. Semua itu dilakoninya hingga larut malam untuk menghidupi keluarganya serta membiayai uang sekolahnya. Sudah hampir 5 tahun sejak ayahnya tak lagi bekerja, ia menjadi tulang punggung keluarga. Hal ini pula yang membuat ibunya sangat menyayangi Tiara.

Lokasi tempat biasa almarhum Tiara bekerja serabutan mulai dari mengemis calo penyebrangan sampai juru parkir di kawasan Mall Mtos Makassar, Sulsel, Kamis 09 Juli 2015. Setelah pulang sekolah Tiara (12) biasa bekerja di tempat ini untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. (Foto: Iqbal Lubis)

Lokasi tempat mendiang Tiara bekerja serabutan, mulai dari mengemis, calo penyeberangan, sampai juru parkir di kawasan Mall Mtos, Tamalanrea, Makassar, Kamis 09 Juli 2015. Setelah pulang sekolah Tiara (12) biasa bekerja di tempat ini untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. (Foto: Iqbal Lubis)

“Dia itu kodong anak kesayanganku, setiap hari kalau pulang kerja pasti na kasi maka uang 50 ribu bahkan sampai 150 dari hasil kerjanya,” ujar Ani sambil membasuh air matanya, mengenang anaknya yang sering menemaninya menjajakan kue di sekitaran Jalan Veteran.

Rabu, (8/7/2015), pukul 07.00 Wita, Ani hanya bisa memandangi tubuh Tiara yang terbujur kaku di Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo. Tiara yang menjadi pahlawan dalam keluarga akhirnya menghembuskan napas terakhir. Sebelumnya, tanggal 7 Juli 2015 malam, sehabis pulang dari membeli pallu basa (makanan khas Makassar berbahan daging) bersama adiknya, di depan pintu rumahnya ia disambut ayahnya dengan penuh emosi yang sedari tadi sudah menunggu.

Hanya karena persoalan kunci rumah yang dibawa Tiara, Rudi Haeruddin (36) kemudian memukul anaknya dengan sapu ijuk. Tak puas memukul anaknya dengan sapu, ia lantas mengambil patahan lemari kayu dan menghantam bagian belakang kepala anaknya. Emosi sesaat Rudi itu membuat Tika kritis dan tak sadarkan diri. Rudi sempat jadi buron selama dua pekan sebelum akhirnya ditangkap di Jalan Arief Rate, Makassar, Selasa, 21 Juli. Ia diciduk saat hendak bertemu istri, dan anak bungsunya, Hairil Hidayat (8). Kini ayah Tiara sedang menjalani proses hukuman di pengadilan akibat perbuatannya.

Mendiang Tiara (12). (Foto: Iqbal Lubis)

Mendiang Tiara (12). (Foto: Iqbal Lubis)

KEPERGIAN Tiara hanya satu dari 9 kasus kekerasan anak di Indonesia di tahun 2015 yang berujung kematian. Salah satu kasus yang paling heboh di tahun itu adalah kepergian Engeline Margriet Megawe. Jasad bocah 8 tahun itu ditemukan terkubur bersama bonekanya di halaman belakang dekat kandang ayam di rumah Margriet Jalan Sedap Malam, Denpasar, Bali, 10 Juni 2015. Keluarganya menyatakan anak adopsi itu hilang sejak pertengahan Mei 2015. Kasus tersebut tak hanya heboh di media massa, berbagai bentuk keprihatinan dan doa untuk almarhum Angelina juga datang dari media sosial.

­­­­Dua kasus kekerasan terhadap anak tersebut menambah panjang rentetan peristiwa di mana anak-anak mendapatkan kekerasan yang berdampak kepada kematian. Kekerasan umumnya ditujukan kepada kelompok yang dianggap lemah. Anak merupakan salah satu kelompok yang rentan mendapatkan perilaku kekerasan.

Manusia disebut sebagai anak dengan pengukuran atau batasan usia. Kondisi ini tecermin dari perbedaan batasan usia di setiap negara. Setiap negara diberikan peluang untuk menentukan berapa usia manusia yang dikategorikan sebagai anak. Di Amerika Serikat menentukan batas umur antara 8-18 tahun dikatakan anak, Taiwan menentukan batasan anak 14-18 tahun, Kamboja batas usia anak 15-18. Sedangkan di Indonesia, berdasarkan Undang-Undang Perlindungan Anak No 23 Tahun 2002, seseorang yang belum berusia 18 tahun termasuk anak yang masih dalam tanggungan orang tuanya masuk kategori anak.

Kadang orang tua beranggapan bahwa dengan mendidik anak dengan keras adalah merupakan bagian dari pembelajaran agar anak tumbuh menjadi sosok disiplin. Padahal kekerasan pada anak termasuk kekerasan dalam rumah tangga. Hal ini di ungkapkan ketua Pengamat Sosial dan Pengurus Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Sulawesi Selatan, M Ghufron H Kordi.

“Jadi untuk semua orang tua mestinya tahu cara mendidik anak dengan melakukan pendekatan yang lebih efektif,” ujarnya. Ia juga menambahkan, kasus Tiara seharusnya menjadi pelajaran penting bagi orang tua dan lingkungan sekitar kita. Terlepas dari itu, berbagai bentuk kekerasan terhadap anak juga terus terjadi. Tidak hanya yang mematikan, tetapi berbagai bentuk kekerasan terhadap anak yang tidak sampai menghabisi nyawa akan lebih berbahaya karena berdampak pada psikologis anak yang akan terganggu. Hal itu akan menimbulkan dendam pada anak, juga bisa membuat anak menjadi gila karena terus tertekan.

“Memang ada beberapa kasus yang kami tangani, kekerasan anak yang tidak sampai anak meninggal. Tapi sebenarnya itu lebih berbahaya karena anak akan terus mencoba melawan. Akibatnya anak itu sering mengkhayal atau bisa saja menyimpan dendam,” ujar Angga salah satu anggota LBH Makassar yang juga sering mendampingi laporan kasus kekerasan terhadap anak-anak .

Salah satu faktor penyebab utama kekerasan pada anak adalah faktor ekonomi. Meski begitu, tidak semua orang yang dianggap berekonomi rendah tega melakukan kekerasan fisik pada anaknya.

Salah satu contoh kekerasan terhadap anak secara tidak langsung adalah memaksakaan atau membiayarkan anak bekerja di bawah umur. Menurut data Kajian Singkat Unicef Indonesia tentang “Perlindungan Anak”. Indonesia memiliki sekitar empat juta anak yang terlibat sebagai pekerja anak, termasuk dua juta yang bekerja dalam kondisi berbahaya. Anak-anak yang bekerja berjumlah kira-kira tujuh persen dari kelompok usia 5-17 tahun pada tahun 2009. Hampir dua pertiga anak yang tidak bersekolah terlibat dalam beberapa kegiatan produktif. Seperempat anak yang tidak bersekolah dalam kelompok usia 10-14 tahun memiliki kurang dari empat tahun pendidikan.

Menurut UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak Pasal 1 ayat (2), perlindungan anak adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi anak dan hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi, secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.

Kemudian, apakah kita akan terus membiarkan perlakukan kekerasan terhadap anak terjadi? Ataukah kita hanya bisa menunggu proses hukuman untuk para pelaku kekerasan tehadap anak?

Dalam kasus Tiara sebagian tetangga cenderung menutup mulut saat melihat Rudi melakukan tindak kekerasan terhadap anaknya karena Rudi dikenal sebagai orang yang ringan tangan terhadap keluarganya. Pria ini dikenal sebagai pemabuk dan pengguna narkotik di lingkungan rumahnya. Mia salah satu tetangga yang tinggal tak jauh dari rumah Rudi mengatakan “Saya sering melihat Rudi memukuli anak-anak dan istrinya, tapi saya takut melarang karena Rudi itu orangnya sangat tertutup sejak menjadi pengangguran.”

 

SEMUA orang harusnya ikut andil dan bertanggung jawab dalam melindungi anak dari tindak kekerasan. Karena anak-anak merupakan salah satu bagian dari rantai penerus bangsa. Semua lapisan masyarkat harus beramai-ramai menjaga dan melindungi anak meski anak itu bukan bagian dari keluarga kita.

Contoh sederhana untuk melindungi anak bisa kita lihat dari sebuah video iklan layanan masyarakat berdurasi 1 menit. Dalam video tersebut seorang anak yang sedang bermain di taman didekati oleh seorang pria yang mengajak anak tersebut untuk naik ke atas mobil dan ingin berbuat jahat kepadanya. Tukang sapu taman, anak muda, dokter hingga tokoh agama dan berbagai orang di sekitar taman kemudian datang menghampiri orang tersebut dan mengaku sebagai orangtua si anak. Video yang dibuat Unicef Indonesia ini menyampaikan pesan bahwa semakin banyak orang yang ikut menjaga maka semakin jauh anak terhadap bentuk ancaman kekerasan.

Saat Ani membersihkan rumah seusai penguburan Tiara di pemakaman belakang RS Dadi Makassar, Ani menemukan 3 lembar uang 50 ribu di bawah kasur dengan bungkusan sisa kain, “Itumi kodong uang terakhir yang na simpankan ka anak kesayanganku,” kata Ani, sambil menggendong Khairil (8), anak bungsunya. Air mata Ani tak henti-hentinya mengalir mengenang Tiara. Anak kesayangan, si tulang punggung kecil keluarga yang telah pergi untuk selama-lamanya.

Semoga kasus Tiara menjadi yang terakhir dan tidak ada lagi Tiara-Tiara selanjutnya menjadi korban.

:: Iqbal Lubis, jurnalis foto.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *