Melismatis dan Mimpi-mimpi yang Belum Usai
Maret 5, 2017
Idiom Budaya dan Penjara
Maret 21, 2017

Pemutaran Film Dokumenter “Yusniar”

Film dokumenter “Yusniar: Menyeka Air Mata, Menerka Kata-kata” tentang Yusniar, ibu rumah tangga di Makassar yang tersandung UU ITE beberapa waktu lalu, akan diputar di Baruga Paralegal, Jalan Beringin Timur 111, Kelurahan Kassi-Kassi, Makassar, Sabtu (18/3), pukul 18.00 Wita.

Pemutaran film berdurasi sekisar 12 menit yang disutradarai Sulaeman dan diproduseri Rany Sumbung ini rencananya akan dirangkai dengan bincang-bincang terkait kasus Yusniar yang akan dihadiri Alwy Rachman (akademisi dari Unhas), Fadly A.Nasif (akademisi UIN), dan Nurasiah (aktivis perempuan).

Menurut Rany, inisiatifnya bersama Sulaeman membutuhkan tujuh bulan, dari pra hingga pasca produksi. Ia ingat ketika pertama kali ke rumah Yusniar, keluarga ibu rumah tangga itu tidak percaya pada mereka. Mereka bahkan tidak mau bicara sama sekali tentang apa yang mereka rasakan ketika itu.

“Kami melakukan pendekatan persuasif, mencoba meyakinkan keluarga Yusniar tentang niat kami. Hingga beberapa jam kemudian akhirnya keluarga Yusniar mulai yakin dengan kedatangan kami. Setelah itu, kami memulai obrolan untuk membangun kedekatan emosional dan membuat mereka bisa nyaman berinteraksi dengan kami,” terang Rany, didampingi Sulaeman.

Sampai kemudian, mereka meminta izin untuk mengambil gambar dan melakukan wawancara. Setelah sesi wawancara pertama, Rany menyebut mereka dijamu setiap mereka datang hingga beberapa hari setelahnya.

Rany, mahasiswa Jurusan Kelautan Universitas Hasanuddin ini menyebut, keluarga Yusniar adalah keluarga sederhana yang hangat dan menyenangkan. “Kami juga ditawari untuk menginap tapi kami tolak sebab memang betul-betul tidak bisa karena beberapa hal yang harus kami selesaikan dan urusan pribadi lainnya.”

Tentu saja, kata Rany dan Sulaeman, kendala proses produksi pasti ada, seperti peralatan dan biaya produksi. “Proses persidangan yang lama mengharuskan kami mengawal setiap prosesnya. Kalau soal biaya, kami jelas minim. Alat sendiri kami meminjam peralatan Rumah Ide Makassar. Tapi itu juga beberapa kali kami keteteran karena di saat bersamaan Rumah Ide juga harus menggunakannya.”

Namun semua itu berhasil mereka lewati. Tiba pada tahap editing menuju penyelesaian (finishing), mereka perlu waktu sebulan untuk mengatur alur cerita, pembuatan story line, story board, hingga pemilihan gambar. Ini benar-benar jadi soal karena Rany dan Sulaeman masing-masing masih harus berkutat di soal kuliah dan kerja lainnya yang punya tenggat waktu.

Menurut Rany, sempat beberapa kali mereka berpikir untuk tidak melanjutkan film ini karena soal dana. Tapi ia yakin, orang yang berniat sungguh-sungguh mengerjakan sesuatu, pasti akan dimudahkan.

“Semoga juga kasus Ibu Yusniar bisa selesai cepat,” harap Rany dan Sulaeman.

:: Tim Redaksi Makassar Nol Kilometer

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *