Corak Bugis di Kubu Raya
Desember 12, 2016
Bom Benang 2016, Seni Merajut Komunitas
Desember 26, 2016

Pebisnis Tuna Loin dari Biak

Gerimis baru saja berlalu di Kampung Fandoi, Kota Biak, Papua, (19/10). Dua ekor babi lalu lalang di ruas jalan kampung, persis di lintasan sepasang anak muda yang menjunjung ember plastik hitam berisi tongkol. Dekat dengan itu, di atas meja kayu milik Haji Razak tergeletak tuna seberat 53 kilogram. Tuna siap di-loin, pisau di tangan sang Haji siap beraksi.

FANDOI adalah kampung nelayan di Biak. Biak diskenariokan Pemerintah Pusat sebagai sentra bisnis kelautan dan perikanan terpadu (SKPT) di tahun 2016 ini. Di Fandoi, bermukim ribuan nelayan dari Buton, Bugis, Makassar hingga Mandar. “Saya ingin suatu ketika ikan-ikan dari Biak dapat diekspor ke negara-negara Pasifik bahkan Amerika,” kata Menteri Susi pada beberapa kesempatan.

Di tepian Fandoi, rumah-rumah panggung khas pesisir Sulawesi Selatan berjejer. Rumah bertiang kayu dan kolong rumah sebagai bilik-bilik. Untuk sampai di rumah Razak, pengunjung harus melewati lorong kecil dari jalan utama Jalan Jenderal Sudirman, Kota Biak.

Perkenalan dengan Razak bermula dari pertemuan saya dengan Andiu Roni, pria kelahiran Tana Toraja yang bekerja sebagai pegawai Karantina Ikan Biak, (18/10). Dari Andiu terbetik informasi geliat aktivitas perikanan, pengolahan, dan distribusi ikan ke luar Biak dengan metode ‘tuna loin”.

Tuna loin adalah produk olahan hasil perikanan dengan bahan baku tuna segar yang mengalami beragam perlakuan. Di antaranya, penerimaan ikan tuna, penimbangan, penyiangan, pencucian tahap satu, penyimpanan sementara atau pendinginan, pencucian tahap dua, pemotongan kepala, pembuatan loin, pembuangan daging hitam, pembuangan kulit, perapihan, pengemasan, pengiriman hingga penyimpanan di cold storage hingga masuk pasar.

“Di Fandoi, Haji Razak ini merupakan salah satu pengusaha tuna loin yang dapat dijadikan mitra oleh Pemerintah,” tegas Andiu yang berkantor di sekitar Pangkalan Pendaratan Ikan Fandoi, atau di seberang kantor Dinas Kelautan dan Perikanan Biak Numfor.

 

SELAIN Razak, dari Andiu, saya terhubung pula dengan Haji Yusuf. Yusuf adalah pedagang berpengalaman dan telah bertahun-tahun tinggal di Kota Biak. Seperti Razak, Yusuf adalah pengusaha berdarah Bugis. Dia menantu Haji Sunu, orang Bugis yang lebih dulu berbisnis jual beli hasil perikanan di Biak. Jarak rumah sekaligus tempat usaha Razak dan Yusuf sekira 100 meter. Mereka mengelola usaha yang sama, tuna loin.

Di kolong rumah Yusuf, terdapat meja operasi tuna, coldbox dan plastik untuk pengepakan ikan. Saya datang bersama Roni, Laode Hardiani (fasilitator LSM-DFW), Megareta Tobing (manajer lapangan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan) serta Ibu Like dari kantor karantina ikan Biak. Dari pintu belakang rumah Yusuf terkuak pemandangan pantai dan perahu-perahu yang sedang sandar.

“Yang ini, beratnya 57 kilogram,” jawab Haji Yusuf saat ditanya bobot ikan yang sedang dikerjakan oleh karyawan bernama Amiruddin sore itu. Karyawan yang mengaku belajar melakukan loin di Makassar.

Yusuf membeli ikan dari nelayan anggotanya yang beroperasi di Perairan Biak Barat. Di tangan karyawannya ikan diolah, dipotong siripnya, dipotong kepalanya hingga diiris, dikepak, dibungkus, dan didinginkan. Modal usahanya adalah hasil tabungan dan pemupukan laba dari usaha perikanan yang dirintisnya bertahun-tahun.

“Hitungannya Rp 20 ribu per kilo jadi kalau ikan seberat 57 kilogram dihargai kurang lebih satu juta,” ungkap Yusuf yang merupakan pengusaha ikan asal Bantimutung Maros, Sulawesi Selatan. Yusuf bisa mengirim ikan tuna antara 2 kali hingga 4 kali sebulan, tergantung suplai dari nelayan pemancing. Sebagai perbandingan, harga tuna perkilo di pasar internasional berkisar antara 8-10 dollar per kg.

Yusuf datang pertama kali ke Biak tahun 1980. Dia mengaku ada dua puluhan anggota nelayannya, termasuk nelayan asli Papua yang selama ini menjadi sumber ikannya. Dia membeli ikan hasil tangkapan nelayan setempat. Di belakang rumahnya yang tak lebih 5 x 10 meter tersebut terparkir belasan perahu. Ikan loin Yusuf dikirim lewat bandara Kaisiepo-Biak ke Bandara Sultan Hasanuddin. Di Makassar sudah ada yang tunggu.

Yusuf mengatakan, selain perairan Biak, lokasi-lokasi yang menjadi sumber ikan tuna sesuai pengalamannya, adalah Mamuju di Sulawesi Barat, Laut Banda, hingga Tual di Maluku Tenggara. Yusuf tahu bahwa ikan-ikan olahannya akan dites kelayakannya di Makassar.

“Banyak ikan di perairan Biak, hanya saja, sejak pelarangan rumpon, ikan-ikan akan semakin susah ditangkap. Apalagi nelayan setempat masih menggunakan perahu kecil dan tak berani melaut jauh,” kata Yusuf.

Sebagai bisnis yang memanfaatkan jasa layanan udara, sertifikasi ikan yang ditempuh Razak dan Yusuf adalah dengan taat mengirimkan sampel ikan ke kantor Balai Karantina Biak kemudian diproses dan diberi label.

Perjalanan bisnis ikan Yusuf hingga Biak ini bermula dari Timor Timur. Yusuf hengkang karena Timor Timur pisah dengan Indonesia. Di Bumi Lorosae, Yusuf memulai usaha perikanannya. Dia memanfaatkan jalur perdagangan Denpasar, Jakarta, dan Surabaya.

“Selama di Timor-Timur, ikan yang dipasarkan antara 1 hingga 2 ton per bulan namun selama di Biak target ini belum tercapai,” katanya. Menurut Yusuf, selama di Timor-Timur dia mendapat kemudahan dari Dinas Perikanan, diberi lahan gudang.

Jika Yusuf menggeluti usahanya sejak di Timor Timur, Razak memulainya di Kota Jayapura dan Kupang serta beberapa titik di Indonesia bagian timur. Razak mengirim lobster ke Jawa, Bali, dan Makassar. Di dua lokasi tersebut, dia mempunyai gudang juga pabrik es. Lokasi operasi nelayan Razak adalah di sekitar Saumlaki, Alor, sampai di Timor-Timur.

“Harus ikut prosedur ini, sebab ini juga jaminan bahwa ikan-ikan kita memang layak diperualbelikan atau dikonsumsi,” kata Razak saat ditemui di kantor karantina Biak, (20/10).

“Hari ini saya kirim ikan tuna loin ke Makassar via Biak. Ada 3 kodi, masing-masing berukuran 35 kilo, 38 kilo dan 40 kilo,” ungkap Razak.

 

APA yang dijalankan oleh Razak dan Yusuf tersebut merupakan manisfestasi pilihan bertahan hidup khas perantau Bugis sekaligus implisit tanggung jawab sosial dan ke lingkungan. Mereka menggairahkan ekonomi di pesisir dan pulau-pulau. Mereka akrab dan membangun kedekatan dengan nelayan-nelayan Papua yang secara perlahan mulai masuk ke sistem dagang khas pesisir, ada nelayan, ada pedagang, penyuplai bahan bakar, hingga pedagang antar pulau. Jika dulu dengan menggunakan kapal laut, sekarang gilirannya pesawat udaranya.

“Saya ke sini saat masih kelas 2 SD. Saya ikut sama orang tua. Saya menyusul sebab orang tua saya lebih dulu ke sini,” kenang Yusuf.

Yusuf berbisnis ikan sejak tahun 1996. Dia belajar tuna loin dari Daeng Ngewa, pengusaha perikanan lainnya pada tahun 2012. Menurut Yusuf, usaha tuna loin ini terhubung dengan aktivitas pengirim ikan di kawasan KIMA Makassar. Di kawasan ini, hingga Batangase, Maros terdapat banyak penampung ikan. Mereka menerima ikan dari Mamuju, Tual hingga Saumlaki.

“Pengecekan kualitas ikan loin dilaksanakan di Makassar, meski demikian kami selalu ingatkan pak Haji untuk membenahi usahanya, sterilnya, pemaketannya hingga prosedur perizinannya, termasuk ‘hazard test’,” imbuh Andiu Roni.

Jika Yusuf mengaku dari Maros, maka Razak mengaku datang dari Bajoe, Bone. “Terus terang, potensi perikanan sangat besar di sini (Biak), rasanya mau bikin tempat usaha yang lebih lengkap tapi masih khawatir soal status lahan,” kata Razak.

“Dulu saya lama di Jayapura, mengirim lobster. Mengelola pabrik es dan gudang di Kupang. Sudah puluhan tahun urus beginian, semua saya kerja, lobster, ikan hidup. Gudangku ada dua petak, saya kerja loin juga,” kata Razak.

Razak mengaku mengenal lekuk bisnis perikanan di Indonesia Timur, dia punya pengalaman berusaha di Ambon sampai Saumlaki. Dari Timor Timur, Alor hingga Atafufu.

“Ilmu tuna loin ini saya peroleh dari Denpasar, waktu itu saya hanya mulai dari ceker-ceker usus,” aku Razak. Ceker usus maksudnya, dia mulai usaha dan ilmu tuna loin dengan mengumpulkan usus jeroan tuna.

 

APA yang dilakukan oleh Razak dan Yusuf setidaknya menunjukkan beberapa hal yang harus pasti, yaitu harus jelas pasarnya, jaminan suplai ikan, penanganan produk serta kemampuan permodalan. Modal merupakan hal yang paling sering dikeluhkan oleh pengusaha. Namun bagi keduanya, itu bukanlah soal utama. Bagi mereka, volume usaha bisa bertahap dan berkembang secara perlahan.

“Kami juga membeli ikan dari nelayan setempat, dari Padaido, Numfor, Kampung Samber hingga Maraw. Nelayan Papua juga jual ikan ke saya, kadang satu ekor, kadang dua ekor. Jadi kami hanya proses dan bawa ke Makassar,” beber Yusuf.

Keberadaan dua saudagar Bugis di pesisir Biak ini tak memutus kontak dagang dengan nelayan setempat. Mereka membeli ikan tangkapan nelayan Papua, dari lobster, kerapu, kakap hingga tuna. Keberadaan mereka juga berkontribusi positif pada menggeliatnya usaha perikanan. Mereka menerapkan setidaknya empat hal yang mereka sebut sebagai belajar dari pengalaman.

Dari Andiu Roni, diperoleh informasi bahwa terkait kebijakan PNBP (penerimaan negara bukan pajak) dari Kantor Karantina Perikanan Biak, targetnya telah melampaui target tahunan. Ada indikasi semakin menggeliatnnya usaha perikanan di Papua salah satunya karena berjalannya bisnis tuna loin yang dijalankan oleh Razak dan Yusuf.

“Target balai karantina tahun 2016 ini adalah sebesar Rp 60 juta dan untuk 1 tahun ini telah melampaui hingga 100 juta lebih setiap tahun, lokasinya meliputi Jayapura, Biak dan Mimika,” katanya. Di mata Roni, keberadaan pengusaha seperti Haji Razak dan Yusuf adalah rezeki bagi nelayan-nelayan di pesisir Biak Numfor.

“Kami selalu menjaga kemitraan dan komunikasi dengan pengusaha-pengusaha seperti mereka. Kami juga intens memberikan informasi tentang kebijakan dan peluang usaha perikanan yang efektif,” sebut Roni.

Sementara itu, bagi Yusuf dan Razak, jika ada kekhawatiran, itu adalah status lahan rumah mereka di Fandoi. Rumah yang ditempati saat ini memang dibangunnya sendiri namun lahan tinggal masih acap diklaim oleh warga setempat. Yusuf belum berani melebarkan usahanya semisal untuk membangun gudang atau sarana usaha.

“Takut dibongkar,” tutupnya.[]

:: Kamaruddin Azis, bekerja di COMMIT.

Corak Bugis di Kubu Raya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *