Guru-guru yang Menyicil Laptop
Februari 7, 2017
Ingatan Baru tentang Hubungan Awal Indonesia-Australia
Februari 27, 2017

Pasar Sabtu dan Potret Kota Inklusif

Setiap Sabtu sore, sekelumit aktivitas telah bermunculan di daerah Jalan Riburane, Kota Makassar. Beragam lapakan dengan komoditas berbeda tergeletak di sekujur pinggiran jalan, mulai dari lapakan buku fiksi dan non-fiksi, zine, pakaian, makanan, aneka macam kerajinan tangan, hingga merchandise unik. Beberapa komunitas pun terlihat sibuk dengan kegiatan masing-masing, mulai dari orang-orang yang bermain dengan skateboard, berdiskusi, menonton film yang tengah diputar ataupun saling bertukar bahan bacaan baru dari buku-buku dengan beragam judul dan genre. Menjelang malam hari, ruas Jalan Riburane semakin ramai dikunjungi oleh orang-orang yang ingin membeli buku, membaca buku, berdiskusi ataupun sekadar melihat-lihat sekitar. Aktivitas-aktivitas tersebut merupakan rangkaian gambaran dari Pasar Sabtu.

Pasar Sabtu demikian orang-orang menyebutnya, kumpulan komunitas dan pelapak yang menghias ruas jalan di depan Taman Indosat samping Balaikota Makassar, yang beroperasi sejak pukul 5 sore hingga pukul 11 malam hari. Pasar ini terbentuk atas inisiasi pemuda-pemudi Makassar dengan cara yang partisipatif. Di hari-hari tertentu, sesekali berlangsung diskusi ataupun pemutaran film.

Sabtu itu, saya menyambangi wilayah Pasar Sabtu. Kondisi di sekitar belum ramai. Baru terlihat beberapa lapakan yang terbuka. Waktu menunjukkan pukul 6 sore. Saya menyusuri ruas jalan yang menjadi sentrum kegiatan Pasar Sabtu.

Pengunjung Pasar Sabtu ini juga terdiri dari beragam kalangan dan usia mulai dari anak kecil yang belajar berjalan hingga orang dewasa yang merokok. Sudut jalan parkiran dipenuhi dengan kendaraan-kendaraan yang tiap jamnya semakin ramai. Dua aparat kepolisian datang memantau kegiatan yang ada di Pasar Sabtu.

Lapakan-lapakan juga menjadi ruang yang sangat mudah dijangkau oleh pengunjung mengingat wilayahnya yang terbuka dan tepat berada di trotoar jalan. Saya pun berkeliling dari satu lapak ke lapakan lain, melihat dan membaca buku yang disediakan pelapak secara gratis. Situasi yang benar mencerminkan keadaan kota yang dimanfaatkan terbuka atau inklusif oleh warga.

Akhirnya, saya singgah di lapakan yang menyediakan zine. Zine merupakan kumpulan majalah variatif dengan isi yang beragam pula serta biasanya cetakannya diperbanyak dengan fotokopi. Puluhan judul zine terpajang di lapakan tersebut. Ada yang berjudul distraction, hipster, nobody, hingga aksioma dengan beragam konten pula dan tentu saja sangat menarik perhatian pengunjung, termasuk saya sendiri. Cukup lama saya menetap di lapakan zine kemudian membuat saya berinteraksi dengan pemilik lapakan bernama Gilang.

Gilang merupakan seorang lulusan akademi kesehatan di Makassar, yang kini aktif menjadi penggiat zine dan pelapak di Pasar Sabtu. Saat itu ia berada di tengah lapakannya ketika saya menyambangi dan mengajukan pertanyaan terkait Pasar Sabtu kepadanya.

Gilang menceritakan bahwa Pasar Sabtu telah ada sejak dua tahun terakhir, tepatnya November tahun 2014 silam. Beragam komunitas sering melapak ataupun berkegiatan di tempat ini. Namun beberapa waktu belakangan, petugas keamanan sempat bertindak. Hal tersebut terjadi sebab mereka menganggap Pasar Sabtu mengganggu wilayah publik. Pada akhirnya, pihak keamanan sempat berdebat panjang dengan orang-orang yang telah lama melapak atau mengenal Pasar Sabtu. Keberadaan Pasar Sabtu yang berada di tengah kota dikaitkan dengan kerumunan yang mengganggu keindahan kota ataupun tata kelola kota.

Beberapa tuduhan yang dialamatkan kepada para penggiat komunitas di Pasar Sabtu antara lain bahwa Pasar Sabtu merupakan kumpulan atau komunitas yang ada di sana dapat dikategorikan mengganggu kenyamanan dan penertiban tatanan kota. Tentu tidak diterima oleh penggiatnya. Sejak Pasar Sabtu ada dua tahun terakhir, belum pernah ada kejadian yang dapat dianggap meresahkan masyarakat. Ditambah lagi, bila diperhatikan, lokasi Pasar Sabtu ini merupakan jalanan yang pada siang harinya hanya dijadikan sebagai lahan parkir kendaraan bermotor. Selain itu, tempat lapakan Pasar Sabtu ini juga bukan merupakan jalan nasional.

Sepanjang berdirinya Pasar Sabtu ini, belum pernah ada kegiatan yang dianggap mengganggu keamanan perkotaan. Kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan senantiasa bernuansa kampanye kreatif, misalnya penyelenggaraan diskusi, pemutaran film maupun workshop mengenai bagaimana proses pembuatan zine. Waktu-waktu Pasar Sabtu juga tidak sampai pada dini hari, aktivitas pasar berhenti tiap pukul 11 malam hari. Apabila kegiatan berlanjut, paling tidak hanya diisi diskusi-diskusi oleh beberapa orang yang masih ingin menetap di lokasi tersebut, tetapi tidak lagi dalam cakupan aktivitas Pasar Sabtu.

Dalam pelaksanaannya, pengelolaan tata kota tetap mementingkan perlunya penerapan ketertiban, keamanan dan keindahan terhadap tata kota. Diatur dalam UU Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah yang kemudian membagi tata kelola pemerintah termasuk dalam penertiban kota. Tiap-tiap rencana program itu kemudian dilaksanakan dan dijabarkan dalam beberapa program kegiatan tata kota sendiri. Berdasarkan hal yang dipaparkan oleh pemerintah Provinsi, rancangan pembangunan jangka menengah dipayungi oleh program penguatan kerjasama pemerintah dan masyarakat dalam deteksi dini dan penanganan gangguan atau biasa disebut K3 (Ketertiban, Keamanan, dan Keindahan lingkungan) guna mencapai tujuan peningkatan ketertiban kota, keamanan masyarakat dan keindahan lingkungan kota Makassar.

Dalam hal ini, pembubaran paksa Pasar Sabtu saat itu karena dianggap mengganggu ketertiban dan keamanan nyatanya belum dapat dibuktikan kebenarannya. Hal ini masih berangkat dari asumsi pihak keamanan semata. Kegiatan yang dilaksanakan dalam Pasar Sabtu belum pernah mengganggu keamanan maupun ketertiban kota sejak berdirinya dua tahun terakhir. Dalam perkembangannya, tiap-tiap pengunjung ataupun pelapak Pasar Sabtu tidak pernah mengalami bentrok atau bertindak yang dikategorikan mengganggu ketertiban, keamanan, dan kenyamanan kota.

Pada awal tahun 2017, Pasar Sabtu harus ditiadakan. Keputusan tersebut kemudian muncul dari kesepakatan bersama para pelapak yang menjadi penggeraknya. Beragam respons atas keputusan ditutupnya Pasar Sabtu kemudian muncul, mulai dari kekecewaan orang-orang yang senang menghabiskan waktu untuk berdiskusi, hingga orang-orang yang berpendapat bahwa kehadiran Pasar Sabtu menjadi suatu alternatif hiburan tersendiri untuk mengisi waktu luang setelah penat dengan rutinitas harian. Dengan tutupnya Pasar Sabtu maka tertutup pula salah satu ruang untuk berinteraksi, berdialektika, dan berekspresi di Kota Makassar.

Penegakan keamanan dan ketertiban merupakan suatu refleksi dari tata kelola pemerintah terhadap kota, mengingat bahwa wilayah perkotaan merupakan pusat aktivitas penduduk dalam melakukan serangkaian kegiatan tiap hari, baik yang bersifat ekonomi maupun sosialiasi. Kota sebagai sentrum aktivitas masyarakat membuat kota tentu perlu untuk tetap menjaga stabilitas keamanan, ketertiban serta keindahannya.

Namun, kerap kali hal demikian tidak sejalan dengan pelaksanaannya. Setiap kota semestinya berkembang dengan karakternya sendiri. Yang lebih penting, menjadi wilayah yang nyaman dan dapat dinikmati oleh tiap lapisan masyarakat sebagai wujud dari kota yang inklusif. Oleh karena itu, sangat dibutuhkan penegakan penertiban kota yang benar berlandaskan pada kebutuhan dan keinginan elemen masyarakat guna menunjang situasi perkotaan yang inklusif dan berkelanjutan termasuk penggunaan kota untuk kegiatan-kegiatan yang dibutuhkan dan diinginkan masyarakat tanpa menganggu ketertiban ataupun kenyamanan beberapa pihak.

Kota inklusif dan berkelanjutan kemudian turut menjadi salah satu tujuan yang harus dicapai dalam skala nasional tertuang dalam indikator mewujudkan kota aman, nyaman serta layak huni. Ini menjadi tujuan bersama yang diterjemahkan ke dalam aturan-aturan berskala nasional, termasuk untuk tiap kota yang diharapkan mampu bergerak dan berkembang sesuai dengan karakteristik daerah masing-masing.

Tetapi ketika meniliknya ke dalam skala yang lebih kecil seperti kasus Pasar Sabtu, nyatanya penegakan kota yang terbuka sesuai karakteristik masyarakatnya belum dapat tercapai sesuai harapan. Hal-hal yang sebenarnya bisa diakses terbuka oleh masyarakat kemudian menjadi eksklusif dikarenakan masih dikaitkan dengan proses penertiban atau dalih keamanan kenyamanan yang ditentukan secara sepihak oleh kelompok-kelompok kepentingan semata.[]

:: A. Aulia Hardina Hakim, mahasiswa Hubungan Internasional Unhas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *