Bertemu Passompe Wajo di Jambi
Desember 6, 2016
Mari Mengenal Pasar Sabtu Lebih Dekat!
Desember 8, 2016

Para Passompe di Timur Indonesia

Malam turun seperti biasa di Kota Waingapu, Sumba Timur, NTT. Mobil Suzuki APV yang kami kendarai memasuki kawasan pelabuhan lama Waingapu. Pelabuhan itu tak seberapa luas, hanya dibatasi sebuah gerbang batu bercat putih yang tinggi. Sebuah tanah lapang menghampar tepat di sisi luar, menghadap ke laut. Hanya ada beberapa kapal nelayan besar bersandar malas diombang-ambing gelombang. Kerlap-kerlip lampu kapal menghiasi kelam malam di lautan.

Di sisi yang berseberangan dengan kapal nelayan itu beberapa bangunan semi permanen berderet menghadap ke laut. Bangunan-bangunan itu bertiang bambu, bagian depannya hanya dibatasi dinding papan setinggi sekira semeter. Atapnya seng, dinding kanan-kirinya juga dari papan dan sebagian dari vinyl bekas spanduk atau baliho. Benar-benar seperti sebuah warung makan sederhana pada umumnya.

Di bagian depan warung-warung makan itu berderet pembakaran ikan dengan tinggi semeter, yang terbuat dari batang besi yang dirakit menyerupai meja. Marlin, wanita Sumba yang menjadi supir malam itu, memarkir mobil tak jauh dari mulut sebuah warung. Seorang wanita paruh baya berbadan gemuk langsung menyambut kami. Marlin rupanya sudah mengenal si wanita paruh baya itu, dia menyapanya “Tante”.

Melihat wanita tua itu, insting saya langsung yakin kalau dia pasti berasal dari Sulawesi Selatan. Sebuah penutup kepala dari benang wol bertengger di kepalanya, orang Sulsel menyebutnya cipo’-cipo’. Penutup kepala ini biasanya dipakai wanita yang sudah menunaikan rukun iman kelima di tanah suci.

“Dari Sulawesi ki?” tanya saya mencoba mengakrabkan diri.

“Iyye pak, dari Sinjai ka,” jawabnya dengan logat Bugis yang masih kental.

Nah kan? Betul dugaan saya. Cipo’-cipo’ rupanya masih tetap menjadi ciri khas orang Bugis-Makassar. Ciri yang bisa dengan segera membuat orang dapat mengenali asal penggunanya. Wanita itu tak menyebutkan namanya, saya pun lupa menanyakannya. Setelah memilih beberapa ekor ikan buat santapan kami malam itu, saya coba mengobrol dengannya.

“Lama ma di sini, ada mi kapang dua puluh tahun lebih,” kata dia. Dua puluh, bukan waktu yang singkat untuk menjejaki tanah harapan di perantauan.

Kami lalu tenggelam dalam obrolan ringan. Ibu Haji, demikian saya kemudian menyebutnya, mengaku sudah cukup lama tak menengok kampung halamannya di Sinjai. Tidak setiap tahun dia bisa pulang. Sebagian karena tak sempat, sebagian lagi mungkin karena memang tak ingin. Dia menyebut beberapa nama orang Sinjai ketika saya bilang saya berkali-kali ke kabupaten asalnya. Mungkin dikiranya saya mengenal nama itu. Saya hanya menggeleng karena benar-benar tak tahu.

“Di sini banyak orang Sulawesi juga?” tanya saya.

“Iye banyak. Di sekitar pelabuhan sama pasar.”

Dia lalu menunjuk ke sebuah kapal kayu yang bersandar di pelabuhan, lalu menyambung. “Itu kapal dari Jeneponto. Biasanya orang Jeneponto datang ke sini ambil sapi atau kambing. Mereka datang bawa beras atau bahan makanan lain, terus pulang bawa sapi atau kambing. Murah sapi sama kambing di sini.”

Saya tiba-tiba ingat, bertahun-tahun lalu memang saya pernah mendengar kalau orang Jeneponto yang salah satu kabupaten di Sulsel, banyak yang melaut sampai ke Nusa Tenggara. Mereka membawa beras dan bahan makanan lain untuk diperdagangkan, lalu pulang membawa sapi atau kambing. Sapi dan kambing di Nusa Tenggara memang relatif lebih murah dari sapi atau kambing di kampung mereka. Hewan berkaki empat itu diharapkan membawa keberuntungan ketika musim lebaran haji tiba.

Orang Bugis di Pulau Lombok tahun 1894. (Koleksi KITLV)

Perjalanan orang Bugis-Makassar ke tanah Nusa Tenggara memang sudah berjejak cukup panjang dalam sejarah Nusantara. Sejak dulu orang Bugis-Makassar memang terkenal sebagai bangsa pedagang yang tangguh. Mereka bisa menyeberang lautan jauh hingga ke berbagai pelosok Asia Tenggara bahkan sampai ke Australia dan Afrika untuk membuka jalur-jalur dagang.

Menurut Gene Ammarell dari Ohio University dalam sebuah tulisannya berjudul “Bugis Migration and Modes of Adaptation to Local Situations”, orang Bugis yang merantau awalnya cenderung tidak mudah berasimilasi dengan warga asli, bahkan kadang terkesan mengisolasi diri sendiri. Di pihak lain, sifat itu akhirnya malah membuat mereka mampu memengaruhi warga asli dari sisi budaya dan sosial.

Di Lamarela, Nusa Tenggara Timur, jejak orang Bugis sangat kental. Mereka bahkan percaya kalau nenek moyang mereka datang dari tanah Luwu. Di Lamarela ada sebuah syair bernama Lia Asa Usu yang menceritakan kisah kedatangan nenek moyang mereka dari tanah Luwu, berlayar ke arah timur ke daerah yang sekarang bernama Maluku, lalu turun ke selatan ke Nusa Tenggara, menyusuri pantai utara pulau Sumbawa, terus ke Flores sampai kemudian berdiam di Lamarela.

Jejak migrasi orang Bugis-Makassar membesar di era kejayaan kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan abad keenam belas. Kerajaan-kerajaan besar seperti Gowa, Wajo dan Luwu tumbuh sangat pesat dan sekaligus memperlebar pengaruh mereka ke berbagai daerah di Nusantara. Sebagian alasannya karena enokomi, tapi ada juga dengan alasan politik. Sampai tahun 1724, Flores bagian barat bahkan masih dikuasai oleh kerajaan Gowa.

Selain menguasai secara politik, kerajaan Gowa juga membangun aliansi yang sangat kuat dengan beberapa kerajaan di Lombok dan Sumbawa sekaligus membuka peluang sangat besar di sektor perdagangan. Sampai sekarang pengaruh Bugis-Makassar di dua pulau besar di Nusa Tenggara Barat itu masih sangat mudah ditemukan. Beberapa kata dalam bahasa daerah mereka benar-benar mirip dengan bahasa Bugis atau Makassar.

Migrasi besar-besaran orang Bugis-Makassar berlanjut setelah kerajaan Gowa jatuh ke tangan VOC tahun 1667. Banyak yang merasa tak betah di kampung sendiri, apalagi ketika VOC dan kemudian pemerintah Belanda semakin ketat menjalankan praktik monopoli. Di masa itu migrasi besar-besaran lebih terpusat ke bagian barat Sulawesi. Dari Kalimantan, Sumatera bahkan sampai ke Malaysia.[]

:: Ipul Daeng Gassing, pemilik daenggassing.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *