Mencari Ideologi Ruang Orang Bugis dan Makassar (2)
Maret 5, 2018
Tiga Petani Soppeng Dibebaskan
Maret 22, 2018

Mesin Waktu ToD: Melacak Sejarah Memperkaya Budaya

Seni Tradisi di Masa Kekinian

Rahaya Supanggah, guru besar Institut Seni Indonesia (ISI) Solo yang juga adalah seorang komponis ternama dalam Forum Bukan Musik Biasa edisi ke-40 yang digelar di Taman Budaya Surakarta tahun 2014 lalu membeberkan bahwa ia pernah merasa sakit ketika mendengar Rendra mengatakan bahwa “seni tradisi” serupa “kasur tua” yang mesti dibuang. Ia mengakui, pernyataan itu sepenuhnya tidak dibantahnya. Sebaliknya, ia menjawabnya dengan karya. Sang komponis lalu membawa Jawa menjadi Indonesia, membawa Jawa di panggung dunia melalui karya-karyanya.

Pernyataan Rendra bisa jadi benar saat itu. Toh kita pernah menjumpai masa di mana seni tradisi, aktor dan segala yang melingkupinya ada dalam kerangkeng eksklusivitas. Seniman berkutat di kandang kulturalnya. Kasarnya, jika bukan dari kelompok tertentu itu berarti bukan seni. Menurut Suka Harjana, masih di forum yang sama, tidak ada yang salah dengan mencintai lokalitas, apalagi setiap kultur kita di Indonesia memiliki kelebihan masing-masing. Namun kelebihan tersebut, berubah menjadi bumerang saat seniman hanya berkutat di kandang kulturalnya karena melampaui semua itu ada hal yang jauh lebih hebat yaitu manusia dengan etosnya, manusia dengan spirit dan intelegensinya.

Bagi penikmat seni, gagasan seni tradisi pun kontemporer, saya pikir bukanlah dua hal yang mesti dikotak-kotakkan apalagi di era sekarang ini. Saat akses berkarya tidak lagi semonoton dulu, saat para pelaku kesenian mulai rajin duduk bersama dan saling berembuk, era di mana kolaborasi lintas seni bahkan lintas ilmu menjadi gagasan ideal untuk berkarya. Era di mana panggung-panggung besar dan kecil memunculkan bebunyian-bebunyian yang melebarkan pembicaraan-pembicaraan tentang kesenian yang akhirnya memperkaya khasanahnya, Memperbesar ruang dengar dan dinikmati banyak kalangan tanpa harus terjebak dengan labelitas seniman tradisi atau kontemporer.

Saya fikir atmosfir ini juga sedang membesar di tengah-tengah kita di Makassar. Berjamurnya aktivitas-aktivitas kesenian di tengah anak muda adalah kabar baik bagi cita-cita pemajuan kebudayaan. Melalui medium musik misalnya, 5 tahun terakhir kita digempur pendatang-pendatang baru dengan karya-karya segarnya yang berjalan beriring dengan gelaran-gelaran diskusi, pertemuan, seminar, pelatihan, workshop, kelas-kelas yang berkait dengan proses karya, produksi, sampai distribusinya.

Pembicaraan kesenian akhirnya mulai bergeser dari ranah kultural atau narasi lokal tapi sama sekali tidak mengalihkan perhatian masyarakat dari praktik kesenian tradisi. Sekali lagi, iklim berkesenian yang terbangun hari ini menurut saya sedang mengupayakan jalan lain agar semua elemen kesenian menjadi sub-sub yang membangun masyarakat, bukan justru menegasikan satu untuk yang lain, kontemporer untuk tradisi atau sebaliknya.

Justru ruang-ruang yang semakin masif dikerjakan di Makassar ini membuka kesempatan besar bagi anak-anak muda untuk menemukan gairah baru. Menceritakan ranah sejarah, tradisi, lokalitas dengan kemasan masa kini. Ada Sesse Lawing yang menutur ulang lagu-lagu daerah dengan sangat pop, Melismatis di beberapa karyanya yang mendaras ulang kisah Lagaligo, ada Urban Eggs yang membenturkan bunyi-bunyi pop dan bunyi-bunyi tradisi bahkan klasik dalam karyanya. Dan Theory of Discoustic yang menginterpretasi lagu “Indo Logo” dalam tajuk Bias Bukit Harapan.

Dan di Makassar sendiri, membicarakan seni tradisi di era kekinian saya kira tidak lagi tentang kasur tua yang mesti dibuang. Karena dalam perjalanannya, pelaku-pelaku seni kontemporer yang mengintegrasi nilai-nilai kultural dalam karyanya melahirkan gairah baru, khususnya untuk anak-anak muda. Untuk itu, hal ini menjadi penting dituliskan, dan memilih Teory of Discoustic saya kira adalah pilihan yang tepat.

 

Kisah yang Dilagukan

Saya berjumpa ToD dalam format akustik di helatan KBjamming Volume 7 tahun 2013. Dan saya langsung jatuh cinta. Pertemuan dengan ToD saat itu membawa saya jauh ke masa kecil lalu menjumpai banyak kenangan di sana. Bunyi yang sampai di telinga saya adalah bebunyian yang datang dari masa lalu.

Saya tumbuh dengan lantunan lagu Bugis yang kebanyakan saya dengar dari Nenek Cingke, tetangga yang sudah kami anggap seperti keluarga yang membantu ibu menjaga saya, dan kedua adik saya saat ibu pergi ke sekolah. Lagu Ininnawa Sabbara’ki, Dendangnge, Alamaseasea, Mate Colli, Ana’mali’e adalah beberapa lagu yang melekat hingga kini dan menjadi pengantar tidur untuk kedua anak saya.

Saat melantunkan lagu, Nenek Cingke tidak semata-mata bernyanyi, ia bertutur dalam lagunya. Dia selalu menceritakan kisah di balik lagu-lagu yang ia nyanyikan. Kalau pun tidak, ia akan menjelaskan isi lagu itu berulang-ulang dalam bahasa Bugis keseharian yang akhirnya bisa saya pahami. Dan begitulah akhirnya saya mendefinisikan musik sejak kecil hingga sekarang. Ia adalah kisah yang dilagukan.

Memasuki masa SMP, MTV yang sedang gencar-gencarnya diminati teman-teman kemudian menjadi referensi utama dalam pemilihan lagu. Meski demikian, saya lebih memilih lagu-lagu Iwan Fals untuk didengarkan setiap hari. Alasannya, bukan hanya karena kakak laki-laki saya pencinta karya-karya Iwan Fals dan hampir setiap hari memperdengarkannya kepada kami di rumah. Juga bukan karena musiknya, tapi saya senang jika kakak saya sedikit bercerita pasal lagu-lagu yang ia putar. Karena penasaran, beberapa cerita dari lagu-lagu tersebut akhirnya saya cari sendiri. Melalui lagu Iwan Fals, saya akhirnya bisa tahu kisah tenggelamnya kapal Tampomas, cerita guru yang kesejahteraannya tidak terurus melalui sosok Umar Bakrie, atau banyaknya anak-anak kecil yang harus bekerja di usia sekolah, salah satunya si Budi dalam Sore Tugu Pancoran.

Setelah itu, playlist saya diisi lagu-lagu dengan lirik, pemilihan kata, dan cerita yang harus saya mengerti. Tapi pertemuan dengan ToD, menjadi metode baru bagi saya untuk menyukai sebuah karya. Dan saya sadari hal tersebut membantu saya akhirnya menemukan kecintaan baru, bukan hanya pada lirik tapi pada bunyi yang saya dengar kali pertama, dan hal ini akhirnya cukup membantu saya. Terutama dalam mengidentifikasi berbagai karya baru yang datang hampir setiap minggu di ruang jajakan record store Kedai Buku Jenny. Saya tidak lagi harus menghabiskan waktu untuk mengulik lirik mereka terlebih dahulu seperti kebiasaan lama. Dan betul juga, keluar dari zona nyaman tersebut, mempertemukan saya dengan karya musik yang akhirnya saya sukai tanpa harus mengulik liriknya lebih dulu. Tersebutlah Nada Fiksi, Melancholic Bitch, Rumah Sakit, dan Angsa dan Serigala.

Akhirnya fakta yang kemudian saya temukan, sangat menarik, mungkin cenderung sangat subjektif yaitu kecemerlangan aransemen atau komposisi bunyi musisi yang saya sukai selalu berbanding lurus dengan kekuatan gagasan yang mereka sajikan. Begitupun dengan ToD. Hampir tiga tahun bertahan tanpa mengulik lirik mereka. Saya biarkan diri saya jatuh lebih jauh pada aransemen dan komposisi bebunyian yang mereka ciptakan. Saya hanya jatuh cinta. Analogi sederhananya, saya seperti orang yang sedang mencintai sembunyi-sembunyi, dari jauh, dalam hati, dan tetap menjaga itu utuh.

Setelah mendapatkan EP nya 2015 lalu, yang pun terjual laris manis di lapakan KBJ, Alkisah mereka adalah sarapan yang tak bosan kami sajikan berulang-ulang. Berisi 4 nomor lagu dengan nuansa magis yang kental, Satu Haluan, Negeri Sedarah, Lengkara, dan Alkisah. Magis, karena bebunyian yang mereka hadirkan mampu membawa saya ke negeri entah berantah. Yang imajinatif, namun seolah lekat karena khasanah lokal yang dimunculkan. Sayangnya mini album pertama mereka bertajuk Dialog Ujung Suar hanya dirilis dalam bentuk digital, mendengarnya tidak sesering Alkisah tentunya.

Akhirnya, saya sampai di satu malam melalui perbincangan yang tidak terlalu serius, di awal Februari kemarin, saya memutuskan mengulik ToD. Sebelum janji temu, akhirnya untuk kali pertama saya membaca lirik-liriknya yang sederhana bahkan nyaris minim. Saya membacanya sembari mendengarnya. Dan boleh saya utarakan, jujur. Kisah yang mereka lagukan bukanlah kisah biasa.

Pertemanan yang Membatu dan Proses Karya yang Sungguh

Niat menemui ToD, disambut teman-teman ToD nyaris tanpa penolakan. Sore itu, Minggu di Awal Februari 2018, empat personil ToD sudah menunggu di Café Dialektika, yang hanya sepelemparan batu dari rumah. Reza Enem (Echa), Fadli FM (Fadli), Nugraha Pramayudi (Udi) dan Dian Mega Safitri (Dian), walau dua personil lainnya yaitu Adriady Setia Dhrama (Ade) dan Hamzahrullah (Anca) berhalangan hadir, perbincangannya langsung kami mulai. Walau sudah beberapa kali bertemu mereka secara personal, tapi saya tetap saja kikuk. Diberikan kesempatan mengulik karya sesorang, bagi saya adalah hal besar, dan saya harus akui sore itu saya kebingungan harus memulai dari mana.

Teman adalah kekuatan, tagline tersebut pernah Kedai Buku Jenny jadikan sebagai tema dalam KBJamming. Helatan itu, membicarakan bagaimana hubungan pertemanan di lingkaran-lingkaran musisi dan anak muda Makassar menjadi sebuah iklim yang membangun baik dalam perjalanan maupun dalam penciptaan karya mereka. hampir semua band-band Makassar, tumbuh dari relasi ini.

ToD pun demikian. Echa mengakui jauh sebelum membentuk ToD di Februari 2010, dia bersama Udi dan Fadli sudah memulai cerita bermusik mereka bersama. Satu sekolah, sekelas bahkan sederetan bangku dan sama-sama punya kesenangan terhadap musik. Kala itu, punk mereka pilih sebagai warna musik yang mereka mainkan. Walau menurut guyonan lepas Udi, band punk SMU mereka hanya gaya-gayaan saja, saya kira harus tetap diakui bahwa skena punk adalah salah satu skena yang tidak pernah mati dalam ekosistem musik independen Makassar. Punk, metal, rock adalah pilihan yang memungkinkan dan familiar di masa tersebut.

Kegemaran mereka bermusik tidak berhenti setelah lulus SMA sampai Echa bertemu Dian di Universitas Fajar. Momentum bertemunya Dian dan Echa menjadi jalan dibentuknya Theory of Discoustic bersama Udi. Diakui Echa dan teman-teman sore itu, kemunculan mereka dengan formasi 3 personil saja di awal terbentuknya, sebenarnya tetap tidak bisa dipisahkan dari keterlibatan Fadli yang saat itu bermigrasi ke Pulau Borneo. Materi-materi musik mereka bahkan sedkit banyaknya melibatkan Fadli nan jauh di sana. ToD mengikis jarak dan menjaga pertemanan yang telah membatu sejak di bangku sekolah.

Nama Theory of Discoustic menurut teman-teman diambil dari paduan jenis musik disko dan akustik. Perihal pemberian nama ini, sebaiknya tidak perlu ditanyakan lagi pada mereka, setiap ada sesi bincang-bincang bersama mereka, pertanyaan ini diharapkan tidak pernah ada. Jika mendengar musik ToD di kali pertama, jelas sekali bahwa platform musik yang dipresentasikan adalah folk. Mereka percaya musik folk adalah musik rakyat, easy listening, bisa dimainkan siapa saja, dan ada di mana saja.

Namun, walau komponen, ketukan, tempo, pukulan dalam komposisi folk tergolong mudah, proses penggarapan karya ToD melaui rentetan alur yang lumayan panjang. Diakui Dian dan kawan-kawan jauh sebelum nomor–nomor lagu tercipta, mereka melewati tahapan demi tahapan. Mulai dari penentuan ide. Tahapan ini menyangkut perembukan tema apa yang akan mereka angkat dalam karya mereka.

Setelah fase tersebut selesai yang dibicarakan justru bukan tentang komposisi musiknya, namun bagaimana membangun rasa yang selanjutnya akan mempengaruhi bebunyian yang mereka garap, baru setelah itu mereka menetapkan tempo, dan terakhir menyesuaikan range vokal, dalam hal ini Dian dan Eca.

Yang paling ujung adalah penentuan lirik. Dalam melewati proses ini, mereka berkali melakukan penyesuaian-peyesuaian yang dilakukan bersama-sama, dan mereka bebas menentukan ekspresi musik mereka. “Echa maunya begini, Yudi maunya temponya begitu, atau Ade merasa ini yang paling enak, atau Anca nyamannya begitu”, proses ini memberikan mereka ruang kerja yang sangat dialogis, sekaligus mencegah dominasi dari satu dua orang dalam tubuh ToD. Dan itu, di luar bayangan saya tentunya. Mereka melalui proses yang sungguh-sungguh.

Proses ini menjadi bentuk yang baku dalam semua karya ToD, tepatnya setelah menemukan bentuk utuh Bias Bukit Harapan yang dirilis dalam EP pertama Dialog Ujung Suar. ToD menyepakati Bias Bukit Harapan telah dijadikan sebagai prototipe karya ToD selanjutnya. Yang menarik, ini bukan hanya tentang proses penciptaan karyanya, namun juga gagasan di balik musik mereka yang diamini pendengarnya, termasuk saya, bahwa ToD mengangkat narasi kebudayaan dalam musiknya, khususnya Bugis Makassar


Geliat Literasi Budaya dalam Tubuh Lamarupe

Di hampir semua panggungya, di banyak pertemuan, pun di sore itu, ToD tidak pernah secara eksplisit menyatakan bahwa mereka mengusung misi kebudayaan. Suara-suara itu justru muncul dari penikmat musik mereka, bisa dibilang itu adalah interpretasi yang berkembang yang kalau ditelisik kembali, sebenarnya tidak salah. Lagu Bias Bukit Harapan yang diceritakan ulang berdasarkan lagu Indo Logo, sebuah lagu Bugis yang sangat popular membawa ToD pada titik itu, dan proses yang dilewati TOD membuat mereka tidak sepenuhnya menyangkal labelitas tersebut. Fadli, misalnya yang menulis lirik lagu tersebut mengakui bahwa dia tidak meng-ada-adakan lirik tersebut tapi melalui proses riset kecil dengan orang-orang di sekitarnya, sesama musisi, atau teman-teman yang menggeluti seni tradisi.

Praktik serupa juga dikembangkan ToD dalam mengerjakan La Marupe, project album terbaru yang akan dirilis April tahun ini. Dalam press release-nya, La Marupe’ disebut sebagai istilah di Bugis Makassar yang merujuk pada sesuatu, kondisi yang tidak terjangkau oleh panca indra manusia namun diyakini keberadaannya. Album ini berisi delapan kisah yang kesemuanya berdasarkan mitos, cerita, khasanah lokal yang ada di daerah Sulawesi Selatan. La Marupe’ menjalani proses yang panjang selama 2 tahun dan akhirnya mewujud dalam sebuah album.

Konsistensi ToD dengan gagasan ini menurut pengakuan mereka akhirnya mempertemukan mereka dengan ragam spektrum kebudayaan di cerita panjang sejarah Sulawesi tentang budaya tutur, tentang ritual, tentang pertemuan-pertemuan. Walau tidak spesifik melakukan riset lapangan, namun teman-teman di ToD mengerjakan tahapan penguatan referensi, mencari sumber, berdiskusi, melakukan wawancara-wawancara kecil dengan orang-orang yang terkait dengan hal tersebut. Riset sederhana mereka lakukan pada orang-orang yang mereka temui, upaya ini mereka sadari agar tidak gegabah menyadur sejarah karena mereka paham betul bahwa banyak orang yang lebih mampu menuturkannya dengan lebih jelas.

Namun dari situ ToD berhasil melacak kisah-kisah baru yang tidak pernah didengar kebanyakan orang. Tentang keberanian pelaut saat berada di tengah pertempuaran Laut Aru di timur Indonesia di dekade 60-an misalnya, atau tentang kontrak sosial politik oleh To Manurung dengan penduduk setempat. Dan keberhasilan ini patut diapresiasi. Hal yang menarik berikutnya, ToD dalam proses berkaryanya menemukan betapa kayanya ritme, bunyi, dalam budaya Sulawesi Selatan. Hal ini diakui Dian, di penggarapan album La Marupe untuk vokal saja ia menemukan banyak sekali ragam suara selama proses berlangsung, yang menurutnya tidak jauh pada era-era kejayaan Elya Kadam lalu Elvi Sukaesih. Persinggungan pola menyanyi ala dangdut dan Melayu juga ia temukan dalam khasanah budaya Sulawesi Selatan. Dan betul saja, jika mendengar single “Badik” yang baru saja dirilis, vocal Dian dan Fadli jauh dari metode bernyanyi pop.

Mendengar penuturan mereka tentang proses yang mereka geluti, membuat saya berani menyimpulkan bahwa ToD telah mewujudkan proses literasi dalam tubuh La Marupe. Dan hal ini signifikan, kisah-kisah yang mereka lagukan akan sampai ke banyak telinga, tidak akan terpenjara di ranah Sulawesi saja, dan pastinya akan ada pertanyaan lanjutan, akan ada pertentangan, akan ada narasi baru yang muncul, namun begitulah seyogyanya karya. Dan ToD menyadari hal itu sepenuhnya, karena berkali mereka menekankan bahwa kisah yang mereka sebar ini bukanlah kisah yang mereka ada-adakan. Kisah ini mereka temui di buku, di lingkungan mereka, di cerita teman-teman mereka, lalu kemudian diceritakan ulang dengan musik sebagai mediumnya.

Saya percaya dengan anekdot lama “jika sesuatu melewati prosesnya dengan benar maka hasilnya tidak akan berkhianat”. TOD di ujung perbincangan mengakui kesenangan mereka pada musik akhirnya secara individu mempertemukan mereka dengan kisah-kisah sejarah dalam khasanah budaya di Sulawesi yang dulu tidak begitu menarik bagi mereka. Dan pengakuan itu, pun mungkin akan dirasakan oleh pendengar ToD, karena saya sepakat saaat Echa bilang, karya mereka serupa mesin waktu, “akan mengantar pendengarnya dengan senang ke masa lalu”.

Terima kasih untuk kesungguhan dalam karya kalian, sampai berjumpa La Marupe’.

:: Harnita Rahman, Direktur Kedai Buku Jenny (KBJ).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *