Berburu Pisang Ijo dan Nasu Palekko di Belanda
November 28, 2016
Menggandakan Kenyataan “Merawat Hujan”
November 30, 2016

Merawat Hujan: Sepohon Mati Akarnya Rindang

Sebab ada penambahan luas bangunan di bagian rumahnya, pohon rambutan tertua di desanya yang hanya ada di pekarangan rumah orangtuanya itu lantas ditebang. Pohon dengan batang selebar pelukan orang dewasa ini mengering selama dua tahun dan menyisakan serabutan akar seukuran betis hingga pergelangan tangan kanak-kanak. Baru tahun lalu bagian rumahnya itu dibangun. Hanya menyisakan satu pohon rambutan lagi. Tidak sebesar sepohon yang sudah ditebang itu.

Akar pohon yang mengering selama itu lalu menarik perhatian Ilham. Kulit kering yang masih tersisa di batang pohon itu dikupasnya. Ia hanya memperhatikan betul serat-serat dan tekstur kayu bagian akar-akarnya. Hal ini membawa lelaki kelahiran Desa Manalling, Gowa ini untuk mengolahnya menjadi sesuatu yang mungkin bisa dimanfaatkan.

Setahun kemudian Ilham membawa sepohon akar rambutan itu dengan bentuk yang lain. Delapan jenis seni kriya kaligrafi terpajang di sebuah ruang pameran berukuran sekira 10 x 20 meter ialah ide yang telah ia rencanakan selama itu.

Untuk tetap mempertahankan kekagumannya terhadap bentuk tekstur dan serat-serat akar pohon ini, mahasiswa angkatan kelima Program Studi Pendidikan Seni Rupa FKIP UNISMUH ini hanya beberapa bagian. Ia oleskan cat kayu vernis, dudukan kayu jati merah berbentuk kotak kecil, ditambah beberapa paku penyangga sebagai penopang agar karya tetap berdiri layaknya pohon yang kokoh. Kesan daun-daun yang rindang ia sematkan juga dalam bentukkan kaligrafi yang juga dari jati merah yang dicetak dengan mesin potong di mebel terdekat dari rumahnya. Dibanding jati putih, kayu jati merah sengaja dipilihnya sebab corak dua warna yang tampak di permukaan kayu ini menurutnya mengesankan.

(Foto: Anwar Jimpe Rachman)

(Foto: Anwar Jimpe Rachman)

Ketika memasuki ruang pamer ini, saya dan bahkan beberapa pengunjung lainnya sepertinya setelah beranjak dari meja buku tamu, perhatian pertama akan tertuju langsung bahkan cenderung mengarah pada karya di kiri ruangan. Setting ruang dan letak partisi berukuran 2 x 4 meter yang membelah dua ruangan bagian depan, sebelah kirinya adalah pintu masuk. Seni Kriya karya Ilham terpajang di titik itu.

Terngiang tanya di kepala saya tentang tema gelaran ini dengan keterkaitan karya-karya yang disuguhkan. Pertanyaan ini saya bawa ke beberapa karya yang yang terpajang. Karena belum begitu mengerti pertaliannya, segera saya mendekati penjelasan singkat tema yang dipajang di atas meja registrasi. Saya membaca cepat, mencari kata kuncinya. Ternyata gelaran ini mengangkat isu mengenai lingkungan. Sedikit mulai saya pahami ialah setelah menemukan kata ‘pohon’. Di pikiran saya tertuju kepada karya kriya yang awalnya saya pikir bahannya dari ranting pohon.

Pada catatan kuratorial Anwar Jimpe Rachman yang saya baca lewat katalog pameran, Indonesia pernah tercatat dalam buku World Guinness Book of Records dengan laju kerusakan hutan tercepat. Negara kita adalah negara dengan hutan terbesar kedua setelah Brazil. Namun 34 persen keanekaragaman hayati dan hutan kita rusak bahkan hilang akibat perluasan indutri kayu dan sebab lain.

Jimpe menerangkan bahwa keadaan ini patut menjadi perhatian kita. Hal ini kian menegaskan bahwa anugerah justru terlalu sering menjelma bencana bagi negeri ini. Hutanlah yang menjaga siklus air yang menghidupkan seluruh makhluk di muka bumi. Hutan adalah elemen utama yang melahirkan dan merawat hujan. Pudarnya hutan berakibat tipisnya persediaan air. Hancurnya rimba berefek banjir yang menggulung manusia dan tempat tinggalnya.

Merawat hujan berarti merawat pohon. Itu jawaban yang diberikan Ilham setelah saya menyodorkan tanya dan meminta waktu berbincang-bincang perihal karya-karyanya. Tema yang mereka junjung melalui delapan buah karyanya adalah upaya kecil menyalurkan pesan dan masukan untuk pemanfaatan limbah lingkungan terdekat kita.

Begitu pula 58 karya dari lima perupa lainnya, yang masing-masing jenis karyanya bertalian makna. Zukarnain WB, Baharuddin, dan Andi Takdir Firman, karya mereka bertalian memberikan pengandaian atau kesan dunia mimpi daripada kehidupan sehari-hari kita melalui sosok anak-anak dengan karya fotografi. Begitu pula kita temui wajah dan emosi manusia dalam karya ilustrasi Irwan dan representasi kebebasan jiwa kanak-kanak dalam seni lukis kaligrafi dengan corak warna-warni yang disuguhkan Mahruf. Pameran ini digelar sejak 28-30 November di Cafe Mart, Jalan Sultan Alauddin No. 146 Makassar.

Sebagaimana dari barisan penutup catatan kuratorialnya, Jimpe menyebut seluruh karya yang tersaji merupakan wujud rangkaian daya dukung: hutan, hujan, mimpi, dan anak-anak. Hanya dengan merawat hutan dan hujanlah, manusia bisa bertahan.[]

:: Ade Awaluddin Firman, pustakawan di Kampung Buku.

Baca juga: http://makassarnolkm.com/menggandakan-ken…an-merawat-hujan/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *