Merawat Hujan: Sepohon Mati Akarnya Rindang
November 30, 2016
Apa Lagi Setelah Terumbu Karang Rusak?
Desember 2, 2016

Menggandakan Kenyataan “Merawat Hujan”

FOTOGRAFI adalah gambaran dari kenyataan. Saya menyukai gambar yang memuat kritik dan aktivitas manusia, pun fenomena. Pada pameran bertema “Merawat Hujan”, ada tiga karya yang menggunakan media fotografi sebagai alat untuk menggambarkan kenyataan. Setelah berjalan-jalan mengelilingi tempat pameran, beberapa adegan membuat saya menghentikan langkah untuk melihat lebih jauh apa yang ingin disampaikan oleh seniman. Memang bukan hanya fotografi yang ditampilkan dalam pameran ini. Ada juga seni kriya, ilustrasi, dan lukisan.

Ketika memasuki pintu ruang pameran, panel hitam di kiri ruangan memuat beberapa karya Zulkarnain WB yang bernuansa Ramadan. Ini mulai dari seorang lelaki tua yang memandangi Al-Quran dalam kaca, dua bocah cilik melakukan hal sama, hingga kondisi masjid yang bersih. Di sampingnya, berdiri kaligrafi kayu karya Ilham yang berbahan dasar akar pohon rambutan, mulai dari kaligrafi dengan tulisan Allah, Arrahmanirrohim Maaliki Yawmiddin, hingga Alhamdu Lillahi Rabbil Alamin. Kemudian ketika melangkah ke samping kanan, berhadapan langsung dengan pintu masuk, 15 karya Baharuddin menempel rapi di dinding.

Lalu tepat di dinding sebelah kanan, berhadapan dengan kriya kayu, berjejer lukisan kaligrafi karya mahruf. Ia melukis surah Al-Ikhlas dengan tulisan berwarna putih dan latar merah api, kemudian Bismillahirrahmanirrahim, hingga Laa Ilaaha Illallah Muhammad Rassulullah dengan 2 jenis konsep: abstraksionisme dan kubistis.

Di sebelahnya lagi, karya Andi Takdir Firman berjejer di dinding dengan rapi. Mulai dari masjid dan pohon, foto gapura, dua anak sekolah yang melintas di sebuah sungai sembari membawa bendera, hingga gedung dan pohon yang bayangannya termuat di dalam kanal. Lalu yang terakhir, tepat di depan foto penggandaan yang dipamerkan Takdir, ilustrasi Berwajah Indonesia karya Irwan. Lukisan tentang dua orang anak yang gembira saat bermain biola, seorang kakek yang tersenyum dengan menggendong seekor ayam, hingga seorang anak kecil yang sedang berpose.

Setelah mengelilingi ruang pamer, saya melihat sebuah foto hitam-putih karya Baharuddin. Foto seorang anak kecil memakai baju hijau berdiri di antara kerumunan orang dewasa yang melaksanakan salat Idul Adha. Ekspresi si anak kelihatan bingung di antara orang-orang dewasa yang tertunduk. Saya melihat karya ini sebagai kepolosan seorang anak yang tidak tahu-menahu tentang ritus keagamaan, namun diajak untuk melakukannya. Tentunya di usia seperti itu, dia hanya punya hasrat untuk bermain. Namun dengan diajak ke tempat itu, ada sebuah kondisi yang terkesan ‘dipaksa’ dan tidak sesuai dengan kadar akalnya menangkap fenomena–sulit beradaptasi.

Kemudian, mata saya beralih ke sebuah foto ‘penggandaan’ yang dipamerkan oleh Andi Takdir Firman, yang memperlihatkan gedung dan beberapa pohon yang berjejer di samping kanal. Judul dari foto itu adalah “Kesejukan Mata”. Saya melihat, dua variabel yang berbeda dalam satu kanal yang memuat bayangnya. Bayang-bayang dari objek pohon dan gedung yang terbalik jika dilihat dari air yang tenang di kanal, menegaskan pertarungan dari pohon dan gedung yang menancapkan akarnya ke tanah, apa yang lebih layak? Pohon? Atau gedung?

Karya Irwan tidak luput dari mata saya: dua orang anak kecil yang tertawa girang dengan telanjang dada sembari memainkan biola. Ada kebahagiaan yang ingin dimuat dalam karyanya, telanjang dada seperti kepolosan yang tidak ditutupi dengan kepalsuan. Celana merah yang dikenakan, simbol keberanian menampilkan apa yang ada pada dirinya, dan warna darah, pun salah satu warna bendera Indonesia yang menjadi tema karya Irwan: ‘Wajah Indonesia’. Dengan posisi menggesekkan biola untuk menghasilkan bunyi atau nada, saya menebak lagu yang dinyanyikan adalah lagu Indonesia Raya, lagu kemerdekaan yang menjadi simbol ekspresi dan Bangsa Indonesia. Namun gradasi warna latar lukisan, dari kuning ke hitam yang membentang dari atas ke bawah, seperti sebuah tanya, di mana mereka berada? Untuk merekakah lagu tersebut? Ada perpindahan kondisi yang diperlihatkan dalam karya Irwan berjudul “Bermain Biola” itu.

Dan yang terakhir, foto dua orang bocah yang memandangi Al-Quran dalam kaca. Ini adalah kebalikan dari foto Anak kecil yang berbaju hijau dalam nuansa Idul Adha, karya Baharuddin. Karya Zulkarnain ini seperti memperlihatkan dua bocah yang telah larut dalam ritus keagamaan. Menahan hasrat untuk bermain dengan mendatangi masjid untuk mengaji, bukankah bentuk dari menahan nafsu? Tapi apakah motif kedua anak ini memang betul-betul untuk mengaji? Apalagi nuansa di Ramadan begitu kental dengan berlimpahnya makanan yang disumbangkan ke masjid untuk berbuka puasa bersama. Entahlah. Namun dalam karya Zulkarnain, kita mampu melihat power dari agama.

 

PAMERAN ini berlangsung dan dibuka di Café Mart, Jalan Sultan Alaudin No. 146, pukul 19.55 Wita, 28 November 2016. Ini merupakan sesi terakhir yang harus dilewati para mahasiswa Jurusan Seni Rupa Universitas Muhammadiyah sebelum ujian terakhir. Bahkan berbobot 5 SKS. Pameran ini menampilkan karya enam mahasiswa angkatan 2010 dan 2011 Pendidikan Seni Rupa Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar: Andi Takdir Firman, Baharuddin, Ilham, Irwan, Mahruf, dan Zulkarnain WB.

Dalam sesi ini, pameris dibebaskan untuk menuangkan ide dalam menentukan apa yang akan dipamerkan dari karyanya, dosen pembimbing hanya akan mengarahkan agar terarah sesuai dengan bidang seni rupa yang menjadi fokus jurusannya.

Tampak pengunjung dengan antusias memasuki ruangan pameran. Mereka menatap lukisan dan kriya dengan teliti, seperti ingin mencari makna di balik karya yang disajikan. Ada yang menjadikan karya yang dipamerkan sebagai latar untuk berfoto, bahkan hampir semua pengunjung. Udara menjadi sesak, ruang untuk pameran tidak memiliki sirkulasi udara yang baik, tetapi terlepas dari itu, pengunjung yang masuk untuk menikmati karya seni yang ditampilkan, tetap antusias untuk berlama-lama di dalam ruangan.

Merawat Hujan adalah tema yang diangkat dalam pameran kali ini. Menurut kurator, Anwar Jimpe Rahman, merawat hujan diangkat karena fenomena hutan di Indonesia yang begitu cepat rusak bahkan hilang akibat perluasan industri kayu. Bahkan tercatat dalam buku World Guinness of Records sebagai yang tercepat dalam kerusakan hutan.

Dalam sambutannya, Anwar Jimpe Rahman selaku kurator dalam pameran ini menjelaskan mengapa tema ini dipilih dan proses dan pertemuan-pertemuan selama tiga minggu mempersiapkan pameran.

Sementara Ketua Jurusan Pendidikan Seni Rupa Unismuh, Andi Baetal Mukaddas mengharapkan adanya peningkatan dari segi kualitas pameran dan jumlah penonton yang hadir. Sebab seni menurutnya adalah dakwah yang harus mampu menjadi cara kerja. “Seni rupa adalah tontonan dan tuntunan,” tambahnya, mengartikan seni dalam sambutannya.

Dengan seni, manusia mempunyai nilai tambah, bukan tambahan. Ini bisa dilakukan dengan cara berbicara melalui karya. Seni sebagai dakwah menurutnya adalah alternatif yang baik, sebab jika tidak mampu berdakwah di atas mimbar, berdakwah bisa dilakukan dengan karya seni. Ketua Jurusan menambahkan jika 80% pemuda di Makassar, mencari sekolah yang berbasis seni.

 

SALAH seorang pengunjung bernama Aso, mahasiswa Sastra Unismuh, kegiatan pameran seperti ini seharusnya mampu menjadi pemantik untuk terus meningkatkan kualitas dari segi karya, pun mampu menghadirkan lebih banyak pengunjung. Ia mengapresiasi pameran ini dengan mengatakan bahwa para seniman yang menampilkan karya-karyanya adalah orang-orang yang kreatif.

Menurut Ikki, salah seorang panitia pameran, ia menjadi panitia karena keinginan sendiri, kemudian ia ingin mengetahui apa-apa saja yang dilakukan ketika pameran sebagai bekalnya nanti. Katanya, ini sudah jadi tradisi dari pertama kali pameran, tahun 2011 hingga sekarang, selain karena ingin belajar, dan tolong-menolong.

Akbar Mangkona, mahasiswa Unismuh yang baru saja menyelesaikan pamerannya di tahun ini, mengatakan jika seniman seni rupa cenderung hidup berkelompok, dalam artian yang lebih luas, bukan konflik, karya mereka mungkin akan lebih baik. Saling bahu-membahu ketika pameran adalah salah satu dampak yang dihasilkan (jika seniman seni rupa berjejaring antara kampus). Bukan hanya meramaikan pameran, namun turut membantu dalam prosesnya. Sebagai contoh, gedung dan partisi yang dipakai dalam pameran ‘merawat hujan’ pun dipinjamkan oleh mahasiswa Seni Rupa UNM.

Kemudian, ia menambahkan tentang kesulitan seniman untuk mengurai makna karyanya. Para seniman kadang tidak mampu menerjemahkan karyanya dalam bentuk narasi. Pameran seperti “Merawat Hujan” misalnya, karya terlepas dari pengetahuan objektifnya, karena tidak disertakan beberapa catatan tentang karya yang ditampilkan. Seni rupa memiliki makna, tapi kadang, beberapa seniman hanya menampilkan segi teknik daripada makna.

“Keuntungan seniman yang berbasis akademis, ia menguasai segi teori dan teknik, namun membutuhkan proses yang lama, jika hanya ingin menguasai teknik, dan ingin cepat, lebih baik belajar di sanggar,” jelasnya.

Pameran foto ‘merawat hujan’ digelar dari tanggal 28-30 November 2016. Pameran ini tentunya tidak bisa dilihat dari segi prosedur menyelesaikan kewajiban sebelum ujian akhir, namun sebagai karya seni yang memiliki makna dari apa yang telah dikonsep sejak awal.[]

:: Fauzan Al Ayyuby, mahasiswa STMIK AKBA Makassar dan belajar meneliti di Tanahindie.

Baca juga: http://makassarnolkm.com/merawat-hujan-se…-akarnya-rindang/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *