Masompe’ ke Makassar Biennale
Desember 2, 2017

Mengenal Sejarah Kota Makassar dengan Wisata Sejarah

Sesudah Perang Makassar abad ke-17, pusat pemerintahan Gowa-Tallo yang awalnya di Somba Opu semua dialihkan ke Benteng Rotterdam, yang sekarang sering menjadi ikon Kota Makassar,. Beralihnya pusat pemerintahan tersebut dikarenakan kekalahan Kerajaan Gowa-Tallo oleh VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) yang merupakan perusahan dagang. Dalam kekalahan tersebut VOC menginginkan semua benteng-benteng Kerajaan Gowa-Tallo dihancurkan kecuali Benteng Ujung Pandang.[1]

Di Fort Rotterdam-lah semua aktivitas dimulai dan dipegang langsung oleh VOC, semua perdagangan di pelabuhan dikontrol langsung. Benteng Rotterdam difungsikan sebagai kantor administrasi, meliter, gereja dan tempat tinggal.[2] Di benteng ini pula Pangeran Diponegoro bersama keluarganya dipenjara, lantaran di pengasingan sebelumnya, Manado, Diponegoro masih bebas dan bisa berkuda. Sementara di Makassar, Pangeran Diponegoro sulit beraktivitas karena dikurung dalam sebuah ruangan bersama keluarganya dan dijaga oleh tentara VOC.[3]

Hal yang penting pula pada abad ke-17 terdapat perkampungan yang dibentuk atau dibuat oleh pemerintahan VOC. Di bagian utara terdapat perkampungan (Vlaardingen), yang terdiri dari beberapa etnis seperti Tionghoa, Melayu, Arab, Buton, India, dan lainnya. Fungsi perkampungan ini sebagai sumber pendapatan pemerintah VOC, baik dari segi perekonomian dalam perdagangan, administrasi, dan lainnya. Di Kota Makassar masih terdapat beberapa perkampungan seperti Perkampungan Tionghoa, Perkampungan Beru (sekarang Bulo Gading), Perkampungan Maluku, Perkampungan Maccini, Perkampungan Pattunuang, Perkampungan Wajo, Perkampungan Toraja, dan masih banyak lagi.[4]

Selain perkampungan banyak pula bangunan-bangunan pemerintahan (Gemeente) pada masa Hindia Belanda Abad ke-19-20 yang masih bisa dikunjungi di Kota Makassar, seperti Gedung Pengadilan Negeri, Museum Kota Makassar, Kantor Walikota Makassar, Gedung Kantor Direktorat Jenderal Anggaran, dan lainnya. Terdapat pula fasilitas taman, ibadah dan sekolah.

Bangunan-bangunan inilah yang saya kunjungi selama tiga tahun (2015-2017) bersama teman-teman saya di Komunitas Lilin, komunitas yang dibentuk membangun kreativitas generasi muda, yang bertujuan merefleksikan pentingnya bangunan tertentu—tidak semata hanya fisik namun juga makna dan fungsinya.

Beberapa tempat yang kami kunjungi selama tiga tahun terakhir ini, antara lain:

Letak Rumah Leluhur Lie Siaw Tek

Depan Rumah Leluhur Kapiten Lie Siaw Tek bersama dengan teman-teman Arkeologi Unhas, tahun 2016 (Foto: Komunitas Lilin)

Rumah Leluhur Lie Siaw Tek berada di Jalan Sulawesi No. 32i, sejajar dengan Roti Holland, tidak jauh dari Klenteng Ibu Agung Bahari, RRI Makassar, dan Gedung Kesenian Makassar.

Rumah Leluhur Lie Siaw Tek ini terdapat dua patung naga di depannya terdapat dua pintu berwarna coklat satu di depan, satu sebelah kanan, terdapat empat jendela yang terukir dengan indah.

Di dalam rumah leluhur tersebut terdapat foto-foto Kapitein Lie Siaw Tek. Di dalamnya sangat luas, berbentuk segi empat, terdapat beberapa tiang besar. Tempat ini juga salah satu bagian gambar dalam komik Rampok Celebes karya Peter Van Dongen.

Rumah leluhur Lie Siaw Tek ini berstatus hukum pada 1886.[5] Kapiten Lie merupakan kapten yang mengurus perkampungan Tionghoa yang diberikan mandat oleh VOC. Fungsinya sampai sekarang masih menjadi rumah leluhur tempat keluarga Lie bersembahyang.

Rumah Mayor Thoeng

Depan rumah Mayor Thoeng (Foto: Komunitas Lilin).

Rumah Mayor Thoeng berada di Jalan Bacan, sejajar dengan Pasar Bacan yang masih kawasan daerah Pecinan, tidak jauh dari Jalan Sulawesi. Rumah ini berwarna coklat, bertingkat, dan memiliki beberapa jendela. Menurut Asmunandar, bangunan ini berarsitektur Eropa Klasik. Mayor Thoeng adalah salah seorang pemimpin Tionghoa yang mendapat sebutan kepangkatan militer. Bangunan ini diperkirakan telah ada sejak akhir abad ke-19. Fungsi sekarang bangunan ini sebagai penjualan alat musik.

Masjid Arab Assyaadi

Depan Masjid Arab bersama teman-teman MIWF 2017 (Foto: Komunitas Lilin)

Masjid ini dibangun pada tahun 1907. Pendirinya salah satu keluarga Melayu berketurunan Arab. Masjid bernama Arab Assyaadi ini terletak di Jalan Lombok, masih kawasan Pecinan, berdekatan dengan rumah makan Lombok, berdekatan dengan Jalan Lembeh, kelurahan Endeh. Masjid ini tampak dari luar berwarna hijau dan putih, pekarangannya sangat luas, terdapat beberapa pohon, di dalamnya terdapat beberapa tiang besar, beberapa jendela, dan karpet. Sampai sekarang bangunan ini berfungsi sebagai masjid.

Museum Kota

Depan Museum Kota bersama Ir. Arwan Tjahjadi, Bapak Effendi, Bapak Wowo dari Pelindo, dan teman-teman UPRI, UNM, UNHAS, SMA 15, DAN SMK DARUSSALAM Kota Makassar (Foto: Komunitas Lilin 2016)

Terletak di Jalan Balaikota berdekatan dengan Taman Macan dan Gedung Walikota Makassar Sekarang.   Didirikan pada tahun 1918 oleh Hindia Belanda. dan diresmikan oleh J.E. Dan Brink. difungsikan sebagai Kantor Walikota Makassar. lalu Kantor Bappeda, dan sekarang difungsikan sebagai Museum Kota Makassar. Bangunannya berciri arsitektur Neo Klasik, terdapat banyak jendela, dan terdapat pintu besar di depannya.[6]

Bangunan ini sementara dalam renovasi. Dalam Museum Kota Makassar terdapat baju-baju adat Mandar, Bugis, Makassar, dan Toraja, terdapat penjelasan tentang Makassar, baik dari Perjanjian Bongayya dan Kedatangan orang-orang Eropa. Di dalamnya pula terdapat pula foto-foto walikota Makassar dari pertama hingga sekarang, dan foto-foto mantan Walikota Makassar yang sampai kini menjadi buah bibir warga kota, Bapak HM. Patompo.

Gedung Pengadilan Negeri Makassar

Pengadilan Negeri Kota Makassar tampak dari depan (Foto: Komunitas Lilin 2016)

Gedung bergaya arsitektur Neo Klasik Eropa ini terletak di Jalan Kartini, berdekatan dengan Lapangan Kerebosi, sejajar dengan Rumah Sakit Khadijah, didirikan pada tahun 1915. Dulunya bernama Raad Van Justitia, berfungsi untuk proses pengadilan bagi orang-orang Eropa, Cina, dan kaum bangsawan.[7] Sekarang difungsikan sebagai Kantor Pengadilan Negeri Kota Makassar.

Gedung RRI

Depan RRI bersama teman-teman MIWF 2017 (Foto: Komunitas Lilin)

Dulunya gedung ini merupakan taman Prins Hendrik Plein terdapat Patung Ratu Juliana Park dilengkapi dengan gardu musik dan sebuah tugu peringatan merupakan taman yang dibangun oleh Hindia Belanda untuk penghijauan Kota Makassar, sekaligus dibuat pula taman kota khusus bangsa Eropa.[8]

Sekitar tahun 1950-an sampai 1970-an, pada masa Patompo, lokasi ini dibanguni Gedung RRI lantaran tanahnya yang luas, setelah gedung RRI di Jalan Rajawali terbakar. Sampai sekarang masih berfungsi sebagai Gedung RRI.

Benteng Rotterdam

Kanal yang masih ada dibuat oleh pemerintahan VOC (Foto: Komunitas Lilin)

Depan Fort Rotterdam (Foto: Komunitas Lilin)

Dulunya benteng ini bernama Benteng Ujung Pandang. Dinamai Benteng “Ujung Pandang” karena terletak di ujung dekat laut dan pohon pandan banyak tumbuh di sekitar benteng kala itu.

Benteng ini berdiri sejak tahun abad ke-16, tepatnya tahun 1545 oleh Raja Gowa Tumaparisi Kallonna. Sesudah Perang Makassar abad ke-17, sekitar tahun 1666-1669, ketika Kerajaan Gowa-Tallo kalah dan dimenangkan oleh VOC, benteng ini berubah nama menjadi Benteng Rotterdam, merujuk tempat kelahiran Cornelis Speelman salah satu daerah di Negara Belanda.

Pada masa VOC Benteng Rotterdam ini merupakan kantor administarsi, kantor para pejabat, dan tentara VOC, terdapat pula gereja. Pernah pula dijadikan tempat penahanan Pangeran Diponegoro ketika diasingkan ke Makassar bersama keluarganya. Sekarang berfungsi sebagai Kantor Cagar Budaya Makassar dan Museum Lagaligo. Kini tempat ini menjadi salah satu tempat yang banyak dikunjungi warga untuk bersantai.

Kampung Beru/Bulo Gading

Rumah tua dan sumur tua Kampung Beru, sekarang Bulo Gading (Foto: Komunitas Lilin 2017)

Kampung ini sudah ada sejak masa VOC. Secara fisik, perkampungan ini masih bisa dijumpai, terletak di Jalan Somba Opu dan Jalan Bulo Gading. Dulunya penduduk kampung ini adalah orang-orang Eropa, Tionghoa, Bugis, Makassar, dan Jawa.[9]

Rumah Tua di Jalan Sumba

Salah satu rumah tua yang di Perkampungan Tionghoa (Foto: Komunitas Lilin 2015)

Sebuah rumah tua berciri arsitektur Neo Eropa, terletak di Jalan Sumba paling ujung. Sangat jelas dari luar rumah yang dibangun sejak masa Hindia Belanda 1920-an itu. Rumah ini dibangun seorang Tionghoa bernama Tang Toe Lie, sampai sekarang masih bisa dikunjungi.[10] Sekarang rumah ini kosong dan tidak berfungsi lagi, dan tidak terawat.

Dari gambaran tersebut memberikan penjelasan pentingnya untuk memahami kembali proses awal terbentuknya Kota Makassar yang diawali dengan adanya pemerintahan VOC, Hindia Belanda, adanya beberapa fasilitas dan perkampungan di sekitar Benteng Rotterdam yang dihuni oleh berbagai etnis di dalamnya di antaranya Melayu, Tionghoa, Belanda, Bugis, Jawa dan lainnya. Selain itu menjadikan aset wisata dan pembelajaran sejarah untuk generasi bangsa Indonesia.[]

 

[1] Heather Sutherland, “Kontuinuitas dan Perubahan” dalam Sejarah Makasssar: Perdagangan dan Kota di Abad ke 18, Ombak, Yogyakarta, 2004.

[2] Asmunandar, Membangun Identitas Masyarakat melalui Kota Kuna Makassar, Tesis, Program Pascasarjana Universitas Gadja Mada, Yogyakarta, 2008.

[3] Peter Carey, Takdir Riwayat Pangeran Diponegoro 1785-1855, Kompas, Jakarta, 2014.

[4] Dr. Muchlis Paeni dkk, Sejarah Sosial Daerah Sulawesi Selatan Mobilitas Sosial Kota Makassar, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Proyek Inventaris dan Dokumentasi Sejarah Nasional, 1984/1985.

[5] Yerry Wirawan, Sejarah Masyarakat Tionghoa Makassar dari Abad ke-17 hingga ke-20, KPG, 2013.

[6] Asmunandar, Membangun Identitas Masyarakat melalui Kota Kuna Makassar, Tesis, Program Pascasarjana Universitas Gadja Mada, Yogyakarta, 2008.

[7] Asmunandar, Ibid.

[8] Asmunandar, Ibid.

[9] Dr. Muchlis Paeni & dkk, Sejarah Sosial Daerah Sulawesi Selatan Mobilitas Sosial Kota Makassar, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Proyek Inventaris dan Dokumentasi Sejarah Nasional 1984/1985.

[10] Asmunandar, Op.cit.

:: Anna Asriani, pegiat Komunitas Lilin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *