Terapi Merajut untuk Korban Kekerasan
November 7, 2016
Reparasi Kunci, Usaha Membuka Pintu Rezeki
November 9, 2016

Menengok Pendidikan di Pulau Lae-Lae

Sejumlah remaja berpakaian seragam pramuka dan topi abu-abu tertawa-tawa di atas perahu yang membawa mereka dari pulau seberang. Perahu itu menghampiri dermaga, melepas satu per satu anak-anak SMA yang wajahnya segar dan terlihat baru saja memakai bedak. Mereka berusaha memanjat dermaga yang lebih tinggi dari orang dewasa jika diukur dari permukaan air laut.

Para remaja ini adalah penghuni Pulau Lae Lae yang berada tidak jauh dari kota Makassar. Jika dilihat dari dermaga Kayu Bangkoa, tempat keberangkatan menuju pulau ini, pasir putih pulau Lae-Lae masih bisa terlihat dari dermaga. Sejumlah pohon nyiur yang tegak di pulau ini bahkan tampak dengan jelas dari anjungan Pantai Losari.

Saat menunggu kapal untuk berangkat ke Pulau Lae-Lae, saya berbincang-bincang dengan beberapa anak SMA dan SMK. “Saya mau cari kerja dulu,” kata Hamziah, gadis berparas manis yang bersekolah di salah satu SMK Makassar. Ia salah satu penghuni Lae-Lae dan sekarang duduk di kelas tiga dan sisa menghitung bulan ia akan menghadapi ujian nasional. Sebentar lagi kehidupan sebenar-benarnya akan ia hadapi tetapi mimpi berkuliah sepertinya harus ia tangguhkan dulu. Mencari kerja setelah lulus SMK adalah tujuan utamanya. Saat saya tanya kenapa tidak langsung kuliah saja, ia menjawab dengan senyuman manis yang cukup membuat saya mengerti.

Meski berjarak hanya sekitaran 10 menit menggunakan perahu, kehidupan Lae-Lae jauh berbeda dengan hiruk pikuk Kota Makassar. Pulau ini dihuni oleh 346 kepala rumah tangga (data 2013) dengan pencaharian utama sebagai nelayan. Ukuran pulau yang bisa dikelilingi dalam waktu kurang lebih 20 menit, membuat Pulau Lae-Lae sebagai tempat yang juga bisa dijadikan alternatif melarikan diri dari rutinitas Kota Daeng. Pantai Bob yang terletak di sisi barat pulau ini juga sering menjadi destinasi wisata bagi penggemar pantai dan pasir putih.

lae-lae

(Foto: Rama Bizkid)

Pulau Lae-Lae mempunyai sekolah satu atap yang terdiri dari Taman Kanak-Kanak, Sekolah Dasar, dan Sekolah Menengah Pertama. Menurut penuturan Bapak Oddang Tadda, kepala sekolah Pulau Lae Lae, dua tahun lalu didirikan SMA di pulau ini agar anak-anak SMP tidak perlu menyeberang pulau demi melanjutkan pendidikan.

“Dulu ada SMA tapi tidak ada yang mau sekolah di sini,” kata-kata Hamziah masih saya ingat jelas.

Keputusan untuk bersekolah di kota tentunya mempunyai banyak konsekuensi. Seperti saat musim penghujan lalu. Tidak ada kapal yang berani menyeberang karena ombak yang tinggi disertai angin kencang. Anak SMA yang berasal dari Pulau Lae-Lae dan mengandalkan perahu sekolah akhirnya tidak bisa ke sekolah. Peristiwa seperti itu bisa berlangsung hingga beberapa hari dan menghambat aktivitas sekolah mereka.

Bukan hanya anak sekolah yang tidak menyeberang saat cuaca buruk. Guru-guru yang mengabdi di Sekolah Satu Atap Lae-Lae juga terkena imbas. Terdapat 27 guru yang mengajar di sekolah dasar dan sekolah menengah pertama di sekolah ini. Sebagian mereka dari Kota Makassar sering tertahan di dermaga kayu bangkoa, menunggu cuaca bersahabat. Jika tidak, maka tidak ada yang ke sekolah kecuali dua orang tenaga pendidik yang memang mendiami Pulau Lae-Lae.

Soal transportasi, guru di Lae Lae cukup beruntung. Atas kemurahan hati Coorporate Social Responsibility (CSR) salah satu perusahaan BUMN, guru-guru yang mengabdi di sana diberi cuma-cuma sebuah perahu. Pukul 07.30 biasanya mereka berkumpul di dermaga Kayu Bangkoa dan menyeberang bersama, termasuk kepala sekolah yang berdomisili di Makassar.

Kapal bantuan itu sangat membantu mobilitas guru-guru ke Lae Lae. Mereka tidak lagi membayar sewa kapal Rp 10.000 sekali jalan. Kata penduduk pulau, pengemudi kapal memasang tarif Rp 5.000 untuk penduduk pulau, Rp 2.000 rupiah untuk anak sekolah dan Rp.10.000 rupiah untuk wisatawan.

Menurut kepala sekolah, murid Sekolah Satu Atap Pulau Lae-Lae berjumlah lebih dari 300 siswa. Tidak semua mampu melanjutkan sekolah ke kota karena memilih melaut untuk membantu perekonomian keluarga. Ada juga yang bekerja di kota dan kembali ke pulau saat senja. Sayang sekali pihak sekolah tidak punya data murid pulau Lae Lae yang putus dan yang lanjut sekolah.

Selain di sekolah umum dan kejuruan, berdasarkan penuturan beberapa warga, beberapa anak muda Lae-Lae juga lanjut ke sekolah-sekolah pelayaran di Makassar. Harapannya, sekolah itu kelak mengantarkan mereka kelak berpindah-pindah negara dengan mengarungi laut dan samudra.

Memasuki Pulau Lae-Lae, membuat saya merasa sedang berada di tempat yang sangat jauh dari Makassar. Pemandangan pohon nyiur, pasir putih, serta kapal-kapal nelayan yang sedang bersandar tersaji persis di depan mata. Tidak hanya itu, ibu-ibu dan anak gadis yang sedang mencari kutu serta anak-anak kecil yang berlarian bermain pasir menambah suasana pulau tempat ini. Yang menarik adalah saat berbalik dan memandang ke arah lautan, deretan bangunan megah di sepanjang Jalan Penghibur, Makassar, terlihat sangat jelas.

Di Dermaga Pulau Lae-Lae, saat menunggu kapal kembali ke pangkuan Makassar, saya bertemu dua anak sekolah menengah pertama yang sedang duduk. Sial saya tidak mencatat nama mereka. Dari percakapan kami yang cukup panjang, saya tahu kalau mereka sering menyeberang ke Makassar untuk sekadar bermain game di warnet. Tempat yang menurut saya sudah hampir punah digerus oleh smartphone dan laptop yang semakin menjamur.

Percakapan dengan kepala sekolah masih terasa segar di ingatan saya. Tentang proses pembelajaran yang sering terhambat karena listrik yang sering padam, tentang rasa bahagia atas bantuan perahu guru, serta cerita guru-guru honorer yang bisa dengan mudah menjadi PNS jika mengabdi di pulau itu.

Di saat anak-anak sekolah di perkotaan berisik dengan gawai canggih terbaru dan gaya kekinian, anak-anak SMA dari Lae-Lae sedang berjuang meraih masa depan yang lebih baik untuk keluarga mereka. Setiap hari menyeberangi laut yang sama, tiba di dermaga yang sama dan masa depan yang entah akan bagaimana.[]

:: Andi Arifayani –aktif di berbagai komunitas dan kegiatan sosial. Blog pribadinya http://www.andiarifayani.com/

Baca juga: http://makassarnolkm.com/cerita-dari-lae-…n-di-balai-kecil/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *