Mencari Ideologi Ruang Orang Bugis dan Makassar (1)
Maret 5, 2018
Mesin Waktu ToD: Melacak Sejarah Memperkaya Budaya
Maret 11, 2018

Mencari Ideologi Ruang Orang Bugis dan Makassar (2)

Keluhan Wawan perihal pengalamannya bersama LBH Makassar mengadvokasi rakyat miskin kota di Makassar dan perubahan-perubahan yang terkait tersingkirnya warga lokal—yang   berangsur pula menghilangkan kebudayaan lokal—menegaskan bagaimana halaman rumah bisa menjadi ranah bersiasat dalam mengambil peluang dari ‘pertarungan’ antara proses modernisasi dengan berebut ruang demi kepentingan manusia sebagai makhluk sosial.

Dalam Halaman Rumah/Yard disebutkan, halaman menjadi ranah penting bagi individu dan komunitas membuka kemungkinan-kemungkinan dalam menyikapi kehidupan sehari-hari. Di situlah pertemuan-pertemuan tatap-muka dapat berlangsung bagi warga kota yang hidupnya terpisah oleh dinding labirin di berbagai tempat, mulai rumah, kantor, mal, hingga tiba di rumah lagi.[1] Halaman rumah sebagai ruang bebas nilai yang memungkinkan berlangsungya kebebasan berekspresi, sebagai ruang berkumpul, bermain, bersenang-senang, menggagas wacana, sekaligus ruang untuk berkegiatan ilmiah.

Poin-poin ini ditegaskan ulang oleh Muhammad Cora (Arkom Makassar), Muhammad Ridha (Sosiologi, Universitas Islam Negeri Makassar), dan Zulhair Burhan (Hubungan Internasional, Universitas Bosowa Makassar) dalam dialog dan peluncuran seri I Halaman Rumah/Yard dalam rangkaian Makassar Biennale 2017 di Baruga Colliq Pujie, Fakultas Seni dan Desain, UNM Parangtambung, Tamalate, pada 28 November 2017 lalu.

Peluncuran dan Diskusi Buku “Halaman Rumah”di acara penutupan Makassar Biennale 2017.

Cora mengungkapkan, halaman rumah penting untuk dihadirkan pada lingkungan sosial, sebagai ruang untuk mewadahi dialog antar warga. Namun, lelaki yang menyelesaikan pendidikan master arsiteknya di Unhas ini menyayangkan, pada sisi lain, banyak arsitek yang kebingungan membuat sebuah desain rumah, sehingga hanya menghasilkan konsumtivisme ruang saja. Misalnya, banyak orang yang kemudian membuat ruang tanpa menyadari fungsi ruang itu sendiri.

“Keperluan menghadirkan halaman rumah baik secara makro maupun mikro untuk kita sebagai makhluk sosial, makhluk yang menjadi bagian dari orang lain. Kita mestinya jujur untuk membuka atau bahkan menyiasati ruang-ruang tertutup menjadi ruang-ruang yang solider, ruang yang di dalamnya kita dapat saling berinteraksi,” ujarnya.

Penegasan serupa ditekankan oleh Zulhair Burhan aka Bobhy, khususnya dua fungsi halaman rumah, baik sebagai ruang fisik maupun ruang gagasan. Mengapa penting memperhatikan halaman rumah? Bobhy mengatakan, dari fungsi itulah diproduksi gagasan-gagasan penting, gagasan nilai atau apa saja.

“Bagi saya, ini penting menjadi semacam bahan untuk membangun kohesivitas atau keeratan sosial kemudian di halaman rumah orang bisa berbicara apa saja. Halaman rumahlah yang memungkinkan bagaimana gagasan bisa dipertautkan kemudian menjadi sumbu untuk menjadi modal kohevisitas sosial,” kata lelaki yang sehari-hari mengasuh Kedai Buku Jenny.

Apresiasi dan harapan Muhammad Ridha juga mengemuka dalam dialog tersebut. Ia sebutkan kalau isu halaman rumah sebagai isu menarik. “Karena di sini kita lihat bagaimana sosiologi mesti hadir dalam penjelasan-penjelasan mikro tentang bagaimana masyarakat mengalami hidupnya di kota atau di desa dengan perspektif yang kecil, misalnya bagaimana melihat kotanya dari halaman rumah. Bagaimana desa di kota di bayangkan lewat ruang di rumah dan di halaman rumah kita,” kata lelaki yang sehari-hari sebagai dosen Sosiologi di UIN.

Ibrahim, seorang pengacara publik yang juga menulis esai “Mata Air Hukum atau Air Mata Hukum?” dalam Halaman Rumah/Yard juga memaparkan bagaimana relasi sosial, manusia dan alamnya kemudian menjadi norma hukum yang rupanya berkonflik dengan norma hukum yang dibuat oleh negara.

“Kita berharap kemudian hukum lahir dari halaman yang sesungguhnya menjadi ruh dari hukum. Hukum yang baik adalah hukum yang lahir dari jiwa dan bangsa. Kita bisa lihat bagaimana di buku itu, Paropo menjadi contoh bagaimana hilangnya tradisi dan praktik sehari-hari berawal dari halaman rumah, saya kira, juga ikut mempengaruhi banyak hal, misalnya lanskap geografis dan lanskap kesenian,” jelasnya.

***

Pada sesi akhir diskusi seri II yang berlangsung kurang lebih empat jam di Kampung Buku, Anwar Jimpe Rachman sebagai moderator menceritakan ulang beberapa poin-poin penting dari para pembicara, dengan mengajukan pemikiran-pemikiran baru atau hal-hal yang perlu dieksplorasi atau diisi untuk dijadikan sebagai pekerjaan rumah kita masing-masing.

“Secara praktik sebenarnya ada banyak hal yang masih kita harus isi, terutama story atau cerita-cerita kita harus kumpulkan dengan maksud membuat perbandingan (budaya tanding) antara sejarah dan cerita. Narasi atau cerita yang sekarang sangat diperlukan dibandingkan dengan sejarah, karena sejarah sekarang sudah banyak disebar. Kita masih punya potensi untuk menciptakan narasi, kita harus membuat cerita-cerita atau persandingan-persandingan, meski kita tersingkir secara geografis, akan tetapi pertetanggaanlah yang membuat kita berkumpul, pertetanggaan ideologis atau dekatnya pikiran kita masing-masing.”

Selain itu, “Halaman rumah bisa menjadi sebuah ruang yang menyodorkan cara berpikir dan bekerja yang setara (equal), ketimbang cara berpikir dan cara kerja yang selama ini banyak dipakai di Makassar: patron-klien. Halaman rumah bisa menunjang hal itu, sebab memungkinkan pertukaran ide dan gagasan yang lebih cair. Ini dibuktikan dengan awal pembuatan buku ini yang berawal dari obrolan-obrolan di halaman rumah Kampung Buku,” kata Jimpe.

Sejak tahun 2013, isu mengenai halaman rumah sudah mulai diwacanakan oleh Tanahindie dengan lingkaran yang masih terbatas. Berangkat dari obrolan bersama teman-teman terdekat di halaman rumah Kampung Buku—dengan melihat perkembangan kota yang semakin terjepit pembangunan, kemudian muncul kebingungan soal bagaimana cara merespon persoalan kota. Akhirnya menyadari bahwa persoalan kota merupakan cerminan dari persoalan di rumah, kota sebagai representasi kumpulan persoalan yang ada di rumah. Hingga kemudian buku itu lahir.

Buku Halaman Rumah/Yard melibatkan dua puluhan peneliti, seniman, pengacara, dosen, pekerja sosial dan seni, dan mahasiswa ini terbit atas kerjasama Tanahindie dengan Arts Collaboratory, Stichting Doen, dan Penerbit Ininnawa. Sebagaimana buku ini memulung beberapa perspektif yang nostalgis hingga praktis dari Flores, Makassar, Solo, Yogyakarta, dan tempat lainnya. Dalam proses penulisan dan penerbitan buku ini, dikerjakan selama sebelas bulan, mulai Januari hingga November 2017.

Sebelum diskusi ditutup, Wawan memberikan sebuah tawaran atau saran—dengan mengajukan isu halaman rumah agar bisa diwacanakan oleh pihak pemerintah, terutama kepada para calon gubernur yang akan memimpin Sulawesi Selatan ke depannya. Wawan, mengatakan bahwa “Lembaga Bantuan Hukum Makassar berani memberikan sumbangsih untuk keperluan konsumsi acara diskusi, agar wacana Halaman Rumah bisa terus dikembangkan,” tutup Wawan pada sesi akhir diskusi.

Panjang Umur Semangat Halaman Rumah! []

:: Tim Publikasi Tanahindie

[1] Anwar Jimpe Rachman, et al. Halaman Rumah/Yard, Tanahindie Press. 2017, hal. 5.

1 Comment

  1. […] oleh dinding labirin di berbagai tempat, mulai rumah, kantor, mal, hingga tiba di rumah lagi.[1] Halaman rumah sebagai ruang bebas nilai yang memungkinkan berlangsungya kebebasan berekspresi, […]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *