Bahasa Gaul Dulu dan Sekarang
Februari 20, 2014
Akau, Dari Dili Ke Kota Daeng
Maret 11, 2014

Membingkai Panggung, Membingkai Keberanian

Tanggal 20-21 Februari bertempat di Kampung Buku Jl. Abdullah Dg. Sirua digelar sebuah pameran pertunjukan foto panggung yang diberi judul: Panggung dalam Bingkai. Berikut adalah kesan seorang warga yang menghadiri acara tersebut.

Suasana Kampung Buku agak berbeda hari itu. Di teras dan halaman depan tergantung belasan foto berukuran besar. Foto-foto itu ditempelkan di selembar tripleks dan diberi pigura sederhana, sangat sederhana kalau dibandingkan pigura foto yang biasa kita lihat di studio foto besar. Malam itu dua fotografer panggung bernama Reza Fahlevi dan Indra Gunawan (biasa disapa Igun) memamerkan karya mereka dalam acara yang diberi nama: Panggung Dalam Bingkai.

Tunggu dulu! Anda jangan terburu-buru membayangkan sebuah pameran foto yang digelar di sebuah galeri seni atau mall besar dengan pendingin ruangan dan lantai mengkilap karena pameran Panggung Dalam Bingkai ini sama sekali berbeda. Arena pameran adalah teras dan halaman depan Kampung Buku. Foto-foto dengan bingkai sederhana itu digantung secara acak di sekujur teras dan halaman, bahkan hingga ke batang pohon mangga. Penerangan yang adapun sederhana, sebuah lampu sorot yang tidak cukup kuat untuk menerangi semua area.

Sebagian orang mungkin akan mulai mencibirkan bibirnya pada kedua fotografer yang berpameran malam itu. Mereka tidak cukup terkenal untuk membuat pameran foto, merekapun tidak punya cukup dana untuk menggelar pameran di gedung mewah berpendingin ruangan dan berlantai mengkilap. Jadi, sebenarnya siapa mereka ini? Mungkin mereka dua fotografer yang terlalu sombong untuk memamerkan karya mereka, mungkin juga mereka sudah cukup gila untuk memamerkan foto-foto mereka. Atau, jangan-jangan mereka gabungan antara keduanya? Sombong dan gila!

20140220_201212

Sebelum acara ini digelar saya tidak terlalu mengenal siapa mereka berdua ini. Reza atau disapa Echa adalah kawan dari kawan saya, cuma sebatas itu pengetahuan saya. Sementara Igun, nama yang sama sekali baru buat saya. Informasi minim tentang keduanya membuat saya bebas menumbuhkan asumsi yang berangkat dari ragam pengetahuan (yang juga minim) tentang fotografi dan pameran foto.

Pertama, saya berasumsi mereka berdua ini fotografer hebat dan sudah berkelas dunia. Mungkin saya saja yang kurang gaul sampai tak mendengar nama mereka selama ini.

Kedua, saya berasumsi pameran foto ini akan terlihat mewah dan artistik mengingat tempatnya yang tidak biasa. Halaman rumah, bukan galeri seni atau gedung mewah berpendingin ruangan dan berlantai mengkilap.

Cukup dengan dua asumsi itu saja saya sudah cukup bersemangat menuju Kampung Buku malam itu. Hanya butuh waktu sebentar sebelum saya sepertinya harus membongkar asumsi-asumsi di kepala, tak perlu membongkar semuanya tapi setidaknya saya harus memperbaiki bangunan asumsi itu.

Echa dan Igun ternyata tidak sepopuler yang saya duga, setidaknya belum. Mereka memang sudah cukup lama menggeluti dunia fotografi panggung, tapi saya tidak menemukan rekam jejak penghargaan yang mereka terima seperti beberapa fotografer lainnya yang saya kenal. Igun mungkin sedikit pengecualian karena lelaki muda bertubuh ceking ini ternyata jadi salah satu fotografer resmi band Navicula, band aliran grunge yang lahir dan menjadi besar dari Bali. Saya mengenal Navicula dan saya tahu kualitas mereka, memilih seorang Igun sebagai fotografer resmi mereka tentu cukup untuk menggambarkan kualitas seorang Igun.

Asumsi tentang pameran foto yang wah dan mewah juga seketika luntur. Kemewahan apa yang bisa diharapkan dari arena pameran di teras dan halaman depan sebuah rumah tinggal di samping kantor lurah? Tidak ada pendingin ruangan dan tidak ada lantai mengkilap.

Keberanian yang Mewah

Saya memang harus membongkar ulang asumsi di kepala, tepat ketika pameran ini ditutup di malam kedua. Tidak ada seremoni khusus, hanya penampilan band lokal bernama Tabasco yang menutup acara, sesederhana itu. Tapi, justru kesederhanaan itu yang membuat saya berpikir harus merekonstruksi ulang asumsi saya pada Panggung Dalam Bingkai.

20140220_213906

Pertama, Echa dan Igun memang bukan (atau belum) fotografer terkenal dengan karya yang diakui sampai ke ujung benua seberang. Mereka berdua masih jadi anak muda yang mengawinkan musik dengan fotografi, mungkin mereka malah belum bisa hidup sepenuhnya dari hasil perkawinan silang itu. Tapi ada yang membedakan mereka berdua dengan fotografer yang sama di level yang sama. Mereka sudah cukup punya keberanian untuk memamerkan hasil karya mereka, baik dan buruknya.

Echa dan Igun punya sesuatu yang tidak banyak dipunyai para pemotret. Mereka sadar karya mereka masih dalam proses menjadi karya masterpiece yang dipuja banyak orang, tapi mereka tidak takut untuk memamerkan proses itu sambil tentunya berharap mendapatkan banyak masukan untuk memperkaya proses mereka.

Kedua, Echa dan Igun memberikan kemewahan yang berbeda pada kata PAMERAN FOTO. Halaman depan Kampung Buku memang tidak cukup artistik malam itu, terlalu sederhana malah. Tapi justru kesederhanaan itulah yang membuat pameran foto Panggung Dalam Bingkai menjadi berbeda dan membumi. Saya harus melepaskan asumsi kalau pameran foto hanya boleh digelar di gedung mewah berpendingin ruangan dan berlantai mengkilap karena ternyata pameran fotopun bisa digelar di halaman sebuah rumah.

Echa dan Igun memang masih terus belajar dan belum menjadi besar, tapi dua malam itu mereka sudah cukup besar karena berani memberi arti kata berbeda pada kata mewah. Saya tak bernafsu mengomentari hasil foto mereka karena buat saya itu sudah tidak penting lagi. Pilihan untuk menjadi berani dan memamerkan karya mereka di halaman rumah sudah cukup menjadi highlight untuk pameran Panggung Dalam Bingkai. Keberanian memamerkan karya adalah juga keberanian untuk belajar menjadi besar meski kadang juga berarti keberanian membunuh diri sendiri. Echa dan Igun sudah mengambil langkahnya sendiri, sekarang mereka yang akan memutuskan kemana arah langkah itu.

Keberanian memang kadang jadi terlalu mewah untuk banyak orang dan malam itu Echa dan Igun sudah berani membingkai keberanian mereka.[]

:: Ipul Gassing, bergiat di Anging Mammiri, komunitas blogger Makassar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *