Membincangkan Kota sebagai Hilir dan Panggung
April 2, 2018
Soundsphere, Pertemukan Publik – Pemusik di Luar Panggung
April 24, 2018

Membaca Halaman Rumah

Sebagai pembaca yang ‘cerewet’ dan ‘banyak mau’, sudah menjadi tabiat saya untuk melakukan penilaian dan pemilahan. Penilaian dalam resensi ini bertujuan melakukan penyebaran gagasan, sedang memilah bermaksud mencuri gagasan—yang nantinya saya gunakan sebagai bahan untuk memperbaiki halaman rumah sendiri.

Sebelum lebih jauh meringkas halaman demi halaman buku ini, perkenankan saya memandu pembaca untuk membuat orientasi ruang pada buku Halaman Rumah/ Yard (Tanahindie Press, 2017). Bagi yang kurang berkenan, silakan berhenti sampai di sini dan segeralah membaca buku ini karena penerbit telah menyiapkan orientasi singkat di bagian pendahuluan buku bagi pembaca.

 

Orientasi Ruang

Buku Halaman Rumah / Yard memiliki 183 halaman yang diisi 13 penulis menawarkan cara berbeda mengurai gagasan masing-masing. Walau buku tidak mencantumkan keterangan dimensi kertas, untuk ukuran dan jenis huruf yang digunakan cukup bersahabat buat mata pada umumnya. Terbukti, ketika menikmati tiap lembaran halamannya, saya bisa menggunakan posisi apapun—duduk, jongkok, tengkurap, hingga baring menggunakan tumpukan bantal di kepala. Sampul putih bercorak abu-abu halus menyiratkan kesederhanaan kemasan. Sebuah pohon mungil terletak di sisi atas judul buku. Dengan tampilan seperti itu, saya tidak perlu khawatir akan menjadi pusat perhatian ketika menentengnya di atas angkot maupun kereta.

Kabar baiknya, pembaca tidak perlu khawatir kehabisan waktu ketika membaca Halaman Rumah/ Yard. Pasalnya, pembaca bisa meletakkan buku ini setelah menghabiskan satu bagian tulisan. Tidak ada kaitan khusus antara tulisan satu dengan yang lain. Pembaca bisa saja mulai dari tulisan paling akhir, di tengah-tengah, mulai dari judul paling menarik, atau seperti yang saya lakukan, memulainya dari nama penulis yang saya kenal. Ada catatan penting di bagian ini. Ketika memutuskan untuk berhenti sejenak, terutama bagi pembaca yang memiliki kesulitan mengingat judul, pastikan Anda memiliki pembatas buku sendiri karena tidak ada pembatas yang disediakan.

Bagi pembaca dengan mobilitas tinggi, khususnya orang-orang yang tinggal di perkotaan, Halaman Rumah/ Yard cocok untuk Anda. Cocok jika Anda membacanya di sela kesibukan kerja, sambil santap kopi di sebuah café, atau sembari mengawasi anak-anak bermain di halaman rumah—terlebih bagi mereka yang merindukan masa kecil dan kampung halaman. Tapi bukan berarti buku ini tidak direkomendasikan bagi Anda sebagai warga desa, yang rumahnya berada di tengah kebun berisi tanaman kakao, kopi dan ekstraksi di mana konsep halaman menjadi sangat kabur.

Selanjutnya, mari kita masuk ke bagian lebih serius dari buku Halaman Rumah/ Yard.

 

Menengok Halaman Rumah Tetangga

Buku berjudul Halaman Rumah/ Yard meletakkan 9 tanda kutip di muka halamannya. Tanda baca itu bagi saya berusaha menunjukkan keluasan sekaligus keabstrakan sebuah konsep HALAMAN RUMAH atau PEKARANGAN RUMAH dalam konteks sosio-kultural masyarakat. Layaknya sebuah karet gelang, pembaca bisa menarik sejauh mungkin gagasan halaman rumah. Namun seperti itu, saya berusaha melenyapkan tanda kutip ketika membaca dan menggantinya dengan huruf kapital untuk maksud tertentu, salah satunya untuk menata ulang halaman rumah milik saya.

Dua bagian tulisan di Halaman Rumah/ Yard menceritakan dinamika pengorganisasian dan advokasi komunitas warga terhadap hak-hak atas ruang penghidupan (Liza Marzaman dalam “Warga Kampung Pisang dan Buloa Merancang Ruang Hidup” dan Ibrahim dalam “Mata Air Hukum atau Air Mata Hukum?”). Kedua tulisan tidak hanya mengurai dinamika komunitas yang terjadi, tapi juga memberi perbandingan dalam dua konteks berbeda yakni masyarakat pedesaan dan perkotaan. Liza berhasil menarasikan dengan baik upaya warga Kampung Pisang dan Buloa untuk mendapatkan secuil ruang di tengah besarnya ambisi Kota Makassar menjadi Kota Dunia. Ruang bukan hanya soal kepemilikan sah atas sepetak tanah, tapi juga halaman rumah sebagai ruang sosial mereka—salah satu domain yang diperjuangkan. Proses panjang advokasi yang akhirnya memaksa pengembang berbagi halaman di wilayah pesisir kota. Ada pula kisah Buloa yang belum menghasilkan kesepakatan apa-apa.

Ibrahim kemudian mengelaborasi halaman buku dengan pengalaman komunitas adat Seko di wilayah pegunungan Luwu Utara. Di tengah warga yang jatuh bangun menegakkan kawasan adat yang menjadi sumber utama penghidupan mereka, desa semakin terintegrasi dengan pasar global melalui proyek-proyek berwatak developmentalisme. Perusahaan-perusahaan energi dan pertambangan kini berbaris dalam antrian di meja-meja layanan perizinan Pemerintah Daerah sembari menunggu aparatur kekerasan negara menyelesaikan pekerjaannya—menarik paksa sejumlah warga yang vokal dan kritis menolak pembangunan menuju peradilan. Mereka yang dihukum atas tuduhan sepihak sebagai barisan anti pembangunan, tradisional dan terbelakang.

Kekerasan Kota Makassar ternyata tidak hanya dirasakan oleh komunitas Kampung Pisang dan Buloa, tapi juga oleh komunitas kesenian di Paropo sebagaimana diceritakan Siswandi. Dalam tulisan yang berjudul “Kesenian, Panggung dan Halaman yang Tersisa di Paropo”, penulis menceritakan hasil observasinya di sebuah tanah lapang yang digunakan warga untuk bermacam aktifitas, salah satunya mementaskan kesenian khas suku Makassar. Panggung kesenian (tanah lapang) yang kerap Sanggar Seni I Lolo Gading gunakan rupanya sudah menjelang ajal. Walaupun tidak ada mengetahui kapan tanah lapang akan digunakan pemiliknya, salah satu panggung kesenian warga Paropo ini berada di ambang kepunahan. Askariputri pun masuk berbagi pengalamannya sebagai seorang ibu yang khawatir dengan kondisi kota di mana anaknya tumbuh tanpa ruang bermain yang aman dan menyenangkan. Baginya, perkembangan kota, ke arah mana pun nantinya, tidak boleh sekalipun mengindahkan hak-hak anak untuk mendapat kehidupan yang layak. Halim HD, penulis lain yang berbagi pengalaman semasa kecilnya, memiliki gagasan lebih mengerucut untuk memaknai halaman rumahnya. Bagi dia, dari halaman rumah-lah anak-anak mulai mengenal kehidupan di luar yang lebih luas.

Di tengah buku, saya terpaksa berterima kasih kepada Saleh Abdullah yang turut menyumbangkan tulisan berjudul “Kembali ke Pekarangan: Melawan Budaya Kota”—yang menjelaskan konteks global kekerasan wacana pembangunan yang berjalan. Globalisasi dan neoliberlisme dalam tulisannya tidak ubahnya dalang pembunuhan terhadap penghidupan dan kedaulatan warga kota—tempat pusat-pusat industri terus tumbuh untuk menopang perkembangan kapitalisme. Terintegrasinya kawasan pedesaan dengan pasar global telah mengubah banyak hal di kehidupan masyarakat desa. Kota pun kemudian mengundang para migran dari pedesaan dengan sederat janji muslihat alternatif penghidupan. Dalam praktiknya, para migran turut membawa kehidupan kota kembali ke desa asal masing-masing, sebagaimana dalam tulisan Muhaimin “Halaman dan Identitas Para Return Migrant” di bagian akhir Halaman Rumah/ Yard. Dalam tulisan itu dikisahkan para migran asal Desa Sukowilangun, Kabupaten Malang, sepulang dari kota-kota besar di luar negeri, mengubah bentuk fisik rumah dan merancang ulang halaman berdasarkan kenangan semasa mereka bekerja sebagai tenaga kerja Indonesia (TKI).

 

Merancang Halaman Rumah Sendiri

Halaman rumah menjadi bagian paling rumit dalam negosiasi di rumah tangga saya, sekaligus bagian yang tidak perlu diperdebatkan. Apa yang perlu ada dan apa yang tak perlu kerap menjadi sangat panjang dan berakhir pada keputusan yang absurd. Debat itu, menurut hemat saya, semakin menunjukkan bahwa halaman rumah masih menjadi ranah domestik yang abstrak—terlepas untuk apa dan siapa yang menggunakan halaman rumah untuk selanjutnya. Sampai ketika saya bertemu buku Halaman Rumah/ Yard dan menghentikan sejenak perdebatan itu.

Paling tidak ada empat tulisan yang menawarkan kepada pembaca bagaimana memaknai dan merancang ulang gagasan Halaman Rumah atau Ruang Bersama itu bisa dilakukan. Berikut adalah gagasan yang saya maksud:

Sawedi Muhammad dan Melkhior K. Baran menawarkan nilai-nilai budaya sebagai pendekatan menata kembali konsep halaman rumah dan ruang-ruang publik. Sawedi sebagaimana dalam tulisannya yang berjudul “Halaman Rumah, Ruang Publik dan Kota yang Bahagia” mengajukan dua gagasan yakni landasan moral spiritual yang disebut Panggade’rre’ng di masyarakat Bugis-Makassar dan Place Making (satu pendekatan di dalam memaknai ruang-ruang publik). Kedua gagasan inilah yang menurutnya perlu ada untuk mengeliminasi kekerasan-kekerasan di satu kota. Sedangkan Melkhior dalam “Nam’a dan El’a bagi Orang Lewotala di Kepulauan Solor” menceritakan dua domain ruang yang masih terjaga sampai sekarang yakni rumah adat yang disebut sebagai Korke dan rumah warga yang disebut El’a. Korke bagi warga berfungsi sebagai ruang bersama di mana ritual adat dan relasi sosio-kultural terjalin—di momen tertentu aktivitas politik elektoral memanfaatkannya sebagai ruang sosialisasi dengan konstituen—dan El’a menjadi ruang domestik di mana aktivitas produksi dan interaksi antar personal warga terjalin di dalamnya. Kedua ruang inilah yang menjaga kesatuan nilai budaya masyarakat Kepulauan Solor secara umum.

Lebih teknis, Fitriani A Dalay dan Taufik Dhany mengkalkulasi gagasan mereka tentang halaman rumah di dalam tulisan masing-masing. Berbekal hasil mengikuti Pelatihan Penelitian Desa di Soga, Kabupaten Soppeng Fitriani melihat bagaimana warga desa memanfaatan halaman rumah sebagai sumber pangan untuk menekan angka belanja konsumsi rumah tangga. Taufik lebih jauh lagi mengajukan beberapa hasil penelitian terkait pemanfaatan halaman rumah dalam satu kesatuan ekosistem penghidupan berkelanjutan. Sampai akhirnya penulis menawarkan solusi menata kembali halaman rumah menggunakan pendekatan Sustainable Livelihood Approach.

Bukannya buku Halaman Rumah/ Yard tanpa cela. Walaupun telah menawarkan beragam gagasan tentang fungsi dan reposisi makna halaman dari ragam corak masyarakat di Indonesia, buku ini menurut saya masih kurang mampu membingkai gagasannya secara utuh.

Tidak ada cara lain untuk membuktikan hasil kecerewetan saya terhadap buku Halaman Rumah/ Yard selain pembaca membuka halaman demi halamannya sendiri. Akhirnya saya ingin mengucapkan, selamat menata halaman rumah Anda.[]

 

:: Agung Prabowo, peneliti di Komunitas Ininnawa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *