Dunia Literasi Kini hingga Kenangan Bergelut Fredy S
Maret 1, 2017
Pemutaran Film Dokumenter “Yusniar”
Maret 17, 2017

Melismatis dan Mimpi-mimpi yang Belum Usai

Membicarakan perkembangan musik independen Makassar saat ini, tak akan pernah utuh jika hanya memperhatikan apa yang tersuguh dari setiap panggung yang dipenuhi barikade dan deretan sponsor-sponsor ternama yang mewujud dalam berbagai bentuknya, tanpa sesekali dengan teliti memperhatikan berbagai inisiatif mikro yang tumbuh subur belakangan ini.

Inisiatif-inisiatif mikro ini muncul dengan berbagai variasi aktivitas. Mulai dari gigs yang meski berskala mikro namun secara serius mempersiapkan ruang presentasi dan diskusi karya, upaya dokumentasi skena secara visual yang digarap serius meski bermodal apa adanya, lahirnya band-band “serius” yang tidak hanya hirau dengan kualitas sound tapi juga berpikir keras untuk menautkan gagasan tak biasa dalam karya, record store yang terus tumbuh dengan inisiatif untuk mendistribusikan karya musisi-musisi kota sendiri, dan munculnya komunitas epistemik yang hendak melihat tautan antara musik dan ruang besar bernama kota.

Dan yang menarik karena ide-ide yang melatari berbagai inisiatif yang tumbuh ini lahir karena ruang untuk membicarakannya kini menjadi semakin banyak dan bervariasi. Anda bisa berjumpa dan terlibat pembicaraan soal skena di riuhnya panggung pensi dengan setlist menggiurkan, di sebuah ruangan perpustakaan komunitas, di lapakan-lapakan swakelola kota ini atau via group media sosial yang jumlahnya semakin banyak. Yang membicarakannya pun lebih beragam, mulai dari musisi, pemilik studio rekaman, record store, media, videographer, hingga akademisi kampus.

Gerak maju skena yang ditopang dengan tumbuhnya inisiatif-inisiatif mikro menjadi penting untuk diperhatikan saat ini karena inisiatif-inisiatif tersebut membuka peluang terbangunnya kerja-kerja kolaboratif dari berbagai elemen seni yang lebih luas. Intensifnya kerja-kerja kolaborasi tersebut selanjutnya memungkinkan lahirnya berbagai karya-karya kolaboratif, tidak hanya dalam produksi musik tapi bisa jadi melalui karya tulis maupun visual. Dan yang tak kalah pentingnya, inisiatif-inisiatif ini hampir semua berjalan dengan kehendak untuk mendokumentasikan berbagai peristiwa musikal di Makassar yang pada ujungnya tentu sangat bermanfaat bagi dokumentasi perkembangan kota secara umum.

Gerak yang sedang berlangsung secara dialektikal ini tentu tak terjadi secara instan. Sebaliknya ia adalah proses historis yang didalamnya ada banyak nama yang bekerja keras–dengan karya dan gagasan–sepenuh hati di sudut-sudut kota dengan cita-cita yang terus digantung setinggi langit bahwa kelak melihat skena musik Makassar adalah melihat sebuah eksosistem yang saling mendukung dan menguatkan.

 

Melismatis dan Ekosistem Musik Makassar

Membahas perkembangan skena musik independen Makassar paling tidak lima sampai tujuh tahun terakhir, hampir mustahil tidak menyebut Melismatis di dalamnya. Sebuah band yang didirikan oleh Ardhyanta Tajuddin Sampetoding (lead vocal/organ/toys instrument), Arif Fitrawan (keys/synth/back vox), Juang Manyala (guitar/back vox), Asrullah Ahmad Manyala (guitar/back vox), Andi Hendra Saputra (bass/back vox) dan Muhammad Ikhsan (drum/percussion) pada tahun 2006 dengan mengusung genre ensemble post-rock.

Melismatis bagi saya adalah contoh hidup sebuah band yang tak lelah untuk bereksperimentasi melahirkan metode agar musik tak berakhir hanya sebagai hiburan (entertainment) dan pelengkap. Eksperimentasi tanpa batas tersebut bisa kita lihat melalui eksplorasi bunyi dan ide dalam album Finding Moon yang pada tahun 2012 dan dirilis kembali dengan versi repackaged pada tahun 2013. Album ini bagi saya adalah paduan bunyi post-rock khas dengan ide tentang tentang ruang tempat kembali yang bernama rumah. Tak percaya? Silakan simak track 8 (Sedikit ke Timur) dan track 9 (Finding Moon) di album Finding Moon.

Selain berkarya dengan serius, Melismatis juga membidani lahirnya beberapa ruang presentasi dan apresiasi dan diskusi karya musik yang tak biasa di kota ini. Untuk aktivitas di luar proses berkarya, personil Melismatis menggunakan Vonis Media –sebuah lini dokumentasi skena Musik yang didirikan oleh personil Melismatis. Maret 2013 misalnya, Vonis Media menginisiasi sebuah pertunjukan musik bernuansa piknik yang diberi nama Malino Land dan dihelat di dataran tinggi Malino, Kabupaten Gowa.

Meski hanya sekali dilaksanakan, secara pribadi, event ini begitu mengesankan bagi saya. Selain karena ini menjadi kali pertama saya mendengarkan band-band serta musisi Makassar berkualitas seperti Melismatis, Tabasco, First Moon, Urban Eggs atau Myxomata, di event ini juga untuk pertama kalinya saya berdiskusi dengan para pelaku skena musik Makassar lintas genre dan generasi mengenai cita-cita membangun skena musik Makassar. Saat itu, meski mayoritas menyampaikan pesimisme karena berbagai persoalan yang telah lama muncul dalam skena, tapi saya sendiri menganggap diskusi dini hari yang ditemani dingin menusuk khas Malino saat itu menjadi modal penting untuk membangun kepercayaan diri melakukan banyak hal di kemudian hari.

Melismatis dalam Bunyi-Bunyi Perhalaman edisi April 2016. (Foto: Farid Wajdi)

Bunyi-Bunyi Perhalaman (BBPH) adalah ruang berikutnya yang juga Vonis Media. BBPH merupakan ruang yang disiapkan bagi beberapa musisi Makassar yang terpilih dari beragam genre untuk mempresentasikan karya dan serta gagasan dibalik karya yang dipresentasikan dan kemudian didiskusikan bersama para pendengar atau audiens yang hadir di setiap volume. BBPH menjadi penting karena kota ini masih kekurangan ruang dimana kita dapat mendiskusikan karya atau bahkan mengajukan kritik karya.

Dalam hal diseminasi karya, Melismatis adalah tipe band yang sangat eksploratif. Ini terbukti dengan beberapa program tur yang mereka lakukan. Untuk album Finding Moon misalnya, Melismatis menghelat dua sesi program tur. Untuk Chapter 1 yang dilaksanakan pada 2012, Melismatis menggelar konser di Jatiwangi, Bandung, Jakarta dan terakhir di Makassar. Dan untuk Chapter 2 yang dilaksanakan pada 2013, Melismatis menggelar konser di tiga kota lain, yaitu: Jogjakarta, Bali, dan Kendari. Selain itu, masih tahun 2013, bersama Algore Corporation –band death metal asal Makassar, Paniki Hate Light –band post hardcore asal Makassar, Melismatis menggelar tur Sulawesi dengan tajuk Riuh Berderau.

Produksi ruang-ruang diseminasi karya yang dilakukan Melismatis ini tentu bukan hanya sekadar untuk menunjukkan bahwa Makassar Bisa Tonji. Namun lebih jauh upaya ini dilakukan untuk mengapresiasi setiap karya yang telah dihasilkan dengan cara memperluas ruang dengarnya. Dengan memperluas ruang dengar maka harapannya akan ada apresiasi atau kritik dari pendengar yang dapat dijadikan sebagai amunisi untuk karya-karya berikutnya. Melalui Tur Riuh Berderau, Melismatis dan band-band lainnya juga memperkenalkan model crowd funding (via website ini, Red.) yang masih jarang dimanfaatkan oleh musisi atau band Makassar untuk menghelat tur atau kegiatan lainnya.

Dalam hal pendokumentasian skena, melalui Vonis Media, Melismatis juga menginisiasi lahirnya beberapa media pendokumentasian skena musik Makassar. Meski tak berkesinambungan, Vonis pernah merilis majalah yang mendokumentasikan berbagai aktvitas dan geliat skena musik Makassar. Selain itu, melalui program Bunyi-Bunyi Perhalaman, Vonis media berhasil menerbitkan buku sederhana yang berisi cerita mengenai kesepuluh musisi yang menampilkan karyanya di gelaran tersebut. Inisiatif dokumentasi, apalagi penerbitan buku yang membicarakan geliat aktivitas musik di Makassar -seberapa sederhana pun karya tersebut- tentu menjadi penting mengingat inisiatif serupa masih begitu terbatas.

Yang perlu dicatat dari berbagai inisiatif yang telah dikerjakan oleh Melismatis selama ini, baik dalam berkarya maupun dalam berbagai aktivitas yang lain, adalah bahwa mereka selalu berusaha menjalankannya dengan prinsip kolaborasi seluas-luasnya. Mungkin tidak semua dari kita akan beranggapan serupa, tapi saya tak mungkin lupa bagaimana Melismatis mengajukan tawaran bersama untuk menghelat KBJamming Vol. 1 yang membuat kami di Kedai Buku Jenny percaya diri untuk melanjutkan microgig itu hingga volume ke-17.

 

Tak Ada yang Akan Benar-benar Usai

Malam itu (30 April 2016), di sesi akhir setelah kolaborasinya dengan Tabasco pada puncak acara Physical Record Fest 2016 yang dihelat oleh Music Bus, Melismatis dengan resmi menyatakan bubar. Banyak yang tak percaya, tak terkecuali saya, mengingat beberapa hari sebelumnya saya masih berbincang dengan salah satu personilnya dan ia memberi kabar jika album kedua akan dirilis tak begitu lama lagi.

Hingga beberapa bulan setelah pengumuman bubarnya Melismatis, saya masih tak percaya dan berharap ada sebab yang membuat mereka bisa berkarya lagi di bawah payung Melismatis. Tapi itu tak lama karena tak begitu lama berselang, berbagai inisiatif pengembangan skena musik independen Makassar kembali menunjukkan geliat berarti dan kabar baiknya karena inisiatif-inisiatif tersebut lahir dari teman-teman eks personil Melismatis dengan prinsip kolaborasi di bawah payung yang berbeda.

Dari beberapa kali percakapan dengan teman-teman eks personil Melismatis, saya mendapatkan banyak kabar menggembirakan terkait beberapa project yang ke depan akan memberi warna baru bagi upaya yang beberapa tahun ini telah dimulai. Mimpi-mimpi yang sebelumnya sudah digantungkan begitu tinggi tentu tak akan pernah benar-benar berakhir. Sebaliknya, ia akan mendapat ruang perwujudannya mungkin di tempat lain dengan energi yang baru. Iya, tak ada yang akan benar-benar usai.

Terima kasih Melismatis.

:: Zulkhair Burhan, bapak dari Maha dan Suar. Setiap hari di Kedai Buku Jenny. Hingga 2018, diberi amanah sebagai Ketua Prodi Ilmu Hubungan Internasional di Universitas Bosowa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *