Para Passompe di Timur Indonesia
Desember 7, 2016
Buaya Muncul di Panakkukang?
Desember 9, 2016

Mari Mengenal Pasar Sabtu Lebih Dekat!

Pasar Sabtu adalah ruang di mana setiap orang ataupun komunitas bisa bergabung untuk membangun pasar secara mandiri dengan semangat gotong royong. Pasar sabtu ini adalah bentuk kreativitas yang diinisiasi oleh para pemuda-pemudi yang ada di Kota Makassar.

Sejak November 2014 lalu, beberapa pemuda yang berlatar belakang berbeda ini menginisiasi terbentuknya Pasar Sabtu. Tujuannya adalah untuk menjadi wadah bagi pemuda yang memiliki kreativitas dalam segala hal.

Bukan hanya jualan yang mereka lapak. Berbagai macam bacaan dalam bentuk zine, jurnal dan buku-buku kami lapak dan bisa dibaca secara gratis, berbagai macam karya dalam bentuk lukisan, dan kreativitas lainnya juga kami pajang. Tidak hanya sampai di situ. Setiap sekali dalam sebulan, kawan-kawan di Pasar Sabtu juga mengagendakan untuk mengadakan pelatihan kerajinan tangan.

(Dokumentasi: Pasar Sabtu)

Sejak terbentuk, Pasar Sabtu menjadi tempat alternatif untuk mengisi akhir pekan. Banyak para orangtua yang membawa anak-anaknya untuk bermain di sekitar lokasi lapakan. Para pengunjung bukan hanya dari kalangan pemuda, melainkan dari balita, remaja, hingga orangtua. Latar belakang pengunjung juga berbeda-beda, mulai dari pelajar-mahasiswa, pekerja kantoran, sastrawan, wartawan, pejabat pemerintah, hingga turis-turis dari luar negeri. Entah dari mana mereka mengetahui info tentang Pasar Sabtu, yang jelas, para pelapak sering membuka obrolan dengan pertanyaan “dari mana ki tahu info soal Pasar Sabtu?”

Dengan pertanyaan yang sederhana, banyak obrolan yang berlangsung lama. Biasanya obrolan ditemani dengan sajian kopi atau jenis minuman lainnya yang disajikan oleh beberapa pelapak.

Di Pasar Sabtu, kawan-kawan sangatlah memerhatikan keberlanjutan Pasar Sabtu. Sebab itulah mengapa Pasar Sabtu masih tetap ada hingga kini. Kritik, masukan, dan pujian yang datang membuat kami terus semakin kuat. Membuat kami semakin bersemangat untuk membangun tempat yang nyaman untuk dikunjungi.

Kritik di tataran kawan-kawan pelapak tentang sampah yang berserakan di lokasi lapakan membuat kami bersepakat untuk menyediakan kantong sampah. Masukan tentang kekosongan kegiatan di Pasar sabtu membuat kami bersepakat untuk membuat agenda pelatihan-pelatihan. Pujian yang datang tidak membuat kami ber-besar kepala melainkan terus melatih diri untuk terus melakukan hal yang baru demi membangun Pasar Sabtu.

Sabtu, 19 November 2016, sekitar pukul 20.00, pihak pemerintah yang dikawal oleh Polisi dan Satpol PP mengusir kami. Memaksa kami untuk bongkar. Menggertak kami dengan congkak dengan dalih “merusak keindahan kota”, “mengganggu arus lalu-lintas”, “memungut pajak pada setiap pelapak demi kepentingan pribadi”.

Entah dari sudut pandang mana mereka melihat. Entah info dari mana mereka bisa mengeluarkan pendapat seperti itu. Kami tak tahu!

Kami, jelas berfikir panjang saat itu. Kami tak serta merta langsung membongkar lapak kami. Kami mencoba membuka ruang dialog namun tak mengubah niat mereka. Namun, kami sadar, jika kami tetap bertahan di lokasi dan tetap melapak, maka bukan hanya kami yang akan mendapatkan dampaknya. Namun, yang mendapatkan dampaknya juga adalah anak-anak kecil, para orang tua dan pengunjung lainnya, tentunya. Maka kami putuskan untuk berhenti melapak namun tidak meninggalkan lokasi dan kembali membuka obrolan dengan kawan-kawan lainnya.

(Dokumentasi: Pasar Sabtu)

Akhirnya, kami bersepakat bahwa, kami tak merusak keindahan kota melainkan membangun kota dengan membangun tempat kreatif dan menjadi tempat menghabiskan akhir pekan yang menyenangkan!

Kami bersepakat kami tak mengganggu arus lalu-lintas sebab tempat itu (sekitar Taman Indosat) adalah jalanan yang tak dilalui oleh kendaraan bahkan di siang hari saat waktu kerja, tempat itu menjadi tempat parkir untuk mobil-mobil para pekerja dan pejabat di kantor Balaikota Makassar. Dan lagian, pada hari Sabtu kan orang-orang libur. Dari sudut pandang mana kami mengganggu arus lalu-lintas?

Dan terakhir, poin tuduhan pejabat pemerintah pada kami bahwa kami memungut pajak untuk para pelapak itu: BOHONG!

Kami tak sedikit pun memungut pajak!

Pada akhirnya, kami mengajak untuk semua kawan-kawan untuk bersama-sama mempertahankan ruang yang nyaman bagi kita semua. Ruang di mana setiap orang bisa berkunjung dan melihat perkembangan kreativitas pemuda di Makassar.

Karena kami sadar bahwa ruang kreatif di Makassar mesti dibangun dari sekarang. Bukan besok.

Jika kawan-kawan sekalian ingin melihat Pasar Sabtu masih tetap ada, kami mengajak kawan-kawan untuk membantu mengampanyekan ide-ide kami dengan menyebar info tentang Pasar Sabtu ini dan memasang foto ini di berbagai akun media sosial kawan-kawan sekalian.

Sampai jumpa di Pasar Sabtu minggu depan![]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *