Pameran Fotografi “Faces”
Oktober 20, 2016
Ibu Isa, Pappisi’lada di Jalan Sukaria
Oktober 23, 2016

Made in Mariso: Arang Bakau Daeng Lolo

PUKUL 16.25 WITA, 5 Agustus 2016 adalah hari pertama saya bertemu dengan Daeng Lolo. Lelaki ini lahir tahun 1947 di Pulau Tanakeke, Kabupaten Takalar. Katanya, ia orang pertama yang membuka usaha pembuat arang kayu bangkoa (bakau) di Makassar. Dengan menggunakan baju kaos putih biru, celana hitam, Daeng Lolo dibantu anaknya membersihkan setumpuk arang di halaman rumahnya.

Daeng Lolo pindah ke Makassar tahun 1950-an. Bersama bibinya, ia tinggal di Jalan Gunung Latimojong tak jauh dari Restoran Bambuden sekarang ini. Saat itu Daeng Lolo masih berusia 6-10 tahun. Semasa kecilnya, ia berjualan kue yang dititip di warung kopi dekat rumahnya. Beranjak dewasa, Daeng Lolo mulai memilih mencari sendiri kebutuhannya, mencari lokasi rumah pertamanya. Tahun 1970-an, Daeng Lolo memilih Mariso, Kelurahan Panambungan, sebagai tempat tinggalnya.

Dulunya daerah ini masih kawasan perairan, pesisir pantai ada pada bagian Jalan Rajawali. ini ditandai dengan adanya mercusuar di sekitaran daerah tersebut. Saat ini mercusuar tersebut berada di Sekolah Dasar Rajawali No. 43, Jalan Rajawali.

Orang-orang dulu menandai Mariso dengan hanya sekali mengatakan, “Mau ka ke lampu kidakidayya (lampu kerlap-kerlip).” Itu berarti mercusuar di Mariso. Bentuk bangunan rumah pada saat itu berupa rumah panggung yang yang terbuat dari bambu yang berada di atas laut.

Untuk kebutuhan air minum, warga ketika itu harus mengambil di Asrama Lompobattang, Jalan Cendrawasih II, lalu mengangkut ke rumahnya. Sementara untuk kebutuhan mencuci, warga Mariso pakai air laut. Hingga setelah warga menemukan sumur di sekitar 100 meter dari rumah Daeng Lolo (saat ini berada di Masjid RW 5, Jalan Rajawali), warga pun berhenti mengambil air di Asrama Lompobattang. Air sumur ini air tawar. Jadi warga, kata Daeng Lolo, sangat bersyukur. Dengan menggunakan timba yang terbuat dari bekas seng atap, warga berbondong-bondong mengambil air sehingga menimbulkan bunyi yang begitu nyaring.”Masak pakai kayu, buang air besar di pesisir!” ungkapnya, sambil tertawa.

Untuk penerangan warga Mariso dulunya menggunakan lentera (menggunakan minyak tanah dan sumbu) dan beberapa alat penerang sederhana lainnya. Hingga tahun 1970-an, PDAM dan PLN masuk ke sana. Daeng Lolo mengaku yang membawa PDAM dan PLN masuk di daerah tersebut.

Rumah susun di kawasan Mariso, bersebelahan dengan pembakaran arang Daeng Lolo. (Foto: Yogistiranda)

Rumah susun di kawasan Mariso, bersebelahan dengan pembakaran arang Daeng Lolo. (Foto: Yogistiranda)

Warga pertama yang ada di daerah ini adalah orang-orang Galesong, disusul orang dari Jeneponto. Hingga kini, latar orang Mariso sudah bermacam-macam. Tahun 1989, penimbunan terjadi di daerah barat Rajawali (saat ini Rajawali III). Ini terjadi karena banyaknya pendatang itu, ditambah dari beberapa pulau sekitar, yang tidak mendapatkan tempat, serta merasa daerah ini sudah sangat padat. Hingga di satu hari, warga memohon pada Kelurahan untuk dibuatkan lahan. Permohonan tersebut diterima langsung.

Sejak saat itu warga yang tinggal di daerah tersebut berbondong-bondong mencari sesuatu sebagai ‘tanda hak milik’. Ada yang mendapat lahan gratis, ada juga yang harus membeli. Perebutan lahan hampir terjadi. Warga yang mendapatkan lahan tanpa bayar adalah warga berasal dari pulau-pulau yang telah menikah tapi tak bertempat tinggal. “Dari pada kodong tidak ada rumahnya mending dikasihkan mi saja tanah,” ungkap Daeng Lolo.

Daeng Lolo sendiri membeli tanah pada saat itu dengan harga Rp 200 ribu. Ia sudah memiliki tanah dengan luas 20 x 9 meter. Ia membelinya dari Daeng Antang, salah seorang penggarap tanah.

 

DAENG LOLO diangkat sebagai Ketua RT di sana tahun 1970-an sampai 10 tahun kemudian. Setelah berakhir, ia langsung diangkat sebagai Ketua Keamanan. Ia juga mendapatkan sertifikat dari Banteng Komando Kodim 1408/BS sebagai pembantu TNI pada tahun 1987.

Tahun 1976, Daeng Lolo merintis usaha pembuatan arang, dengan modal keahliannya ia warisi dari kedua orangtuanya. Ia memulainya dari nol. Dibantu dengan keluarganya dari Pulau Tanakeke, ia memulai usaha. Hingga sekarang, Daeng Lolo hanya memiliki 3 karyawan yang berada di rumahnya saat ini. Selebihnya berada di pulau. “Sekitar belasan mungkin,” ungkapnya.

Kayu yang ia gunakan membuat arang adalah kayu bangko’ atau kayu bakau. Kayu tanaman ini tumbuh di daerah perairan dan pulau-pulau. Pohon/kayu bangko’ adalah tanaman liar di pulau-pulau, namun Daeng Lolo memilih menanamnya sendiri.

“Kalau tanaman liar seperti kayu bangko’ itu akarnya lebih banyak dan juga jenis kayunya kurang bagus, dibanding kalau saya tanam sendiri. Ada teknik khusus. Ditanam seperti padi, yang membedakan hanya jarak. Jika jarak antara satu padi dengan yang lainnya sangat dekat, kalau pohon kayu bangko’, pohon satu dan lainnya sekitar setengah meter,” ungkapnya.

Kayu bangko’ ia ambil dari pulau tanah kelahirannya, Pulau Tanakeke. Pohon bangko’ yang sudah berumur di atas 10 tahun akan ditebang dan dikumpulkan. Kulitnya lalu dikupas. Kayu bangko’ berkulit yang sangat tebal, mencapai 5 sentimeter. Sisa kayu tersebut digunakan untuk membakar ikan atau bisa dibuang begitu saja.

Kayu-kayu tersebut lalu dikumpulkan membentuk tumpukan hingga sampai ketinggian 1 meter dengan posisi horizontal dan vertikal. Tumpukan ini lantas ditutup tikar lontar atau memakai alang-alang atau rumput, dan ditutup dengan pasir. Jika kayu bangko’ mengeluarkan api, maka ulangi proses awal sebelumnya tadi. Karena jika kayu mengeluarkan api, maka kayu tersebut akan menjadi abu. Proses pembakaran ini bisa menghabiskan belasan hari, tergantung banyaknya kebutuhan. Semakin banyak kayu yang digunakan, makin lama juga proses pembuatan—bahkan bisa sampai satu bulan.

Daeng Lolo tidak melakukan pembakaran di sekitar tempat tinggalnya. saat inil antara permukiman tersebut sudah sangat padat. Ia takut kalau terjadi yang tak diinginkan. Juga aroma pembakaran kayu bangko’ berbau agak aneh. Karenanya pembakaran ia lakukan di Tanakeke.

Hasil pembakaran lalu diangkut ke Makassar, menggunakan kapal ukuran sedang, yang bisa mengangkut 350 sak arang kayu bangko’. Biaya sewa kapal tergantung berapa banyak arang diangkut. Rata-rata Rp 12 ribu/sak. Perjalanan kayu bangko’ tersebut dari Tanakeke-Makassar sekisar tiga jam. Sampai di Kota Daeng, arang disimpan di gudang penyimpanan Daeng Lolo, di belakang rumahnya.

Arang tersebut dipilih ulang dan dipisahkan sesuai keinginan pelanggan tetap Daeng Lolo. Saat ini, Daeng Lolo hanya mendistribusikan arangnya di tiga lokasi saja, yakni Mie TITI, Rumah Makan Ujung Pandang, Rumah Makan Seafood. ”Biar mi begini pelangganku, yang penting tidak ada yang baku cerita-cerita. Tidak ada persaingan!”

Kadang arang dicuci terlebih dahulu untuk bersihkan pasir yang menempel. Pasir-pasir tersebutlah yang membuat arang tersebut lebih berat saat ditimbang. “Kayu bangko’ kalau sudah dibakar, ndak tau kenapa, ndak tembus air. Bagian luar ji yang kena,” ujar Daeng Lolo.

Setelah dicuci, arang dijemur di tempat yang agak teduh. Jika dijemur di bawah matahari langsung, arang langsung retak atau pecah-pecah, sehingga tidak menghasilkan kayu kualitas yang bagus—bisa bikin pelanggan kecewa. Arang-arang tersebut dipisah sesuai ukuran. Ada super, sedang, dan kecil.

Daeng Lolo mengemas arangnya pakai karung beras. Karung ini bisa pakai berkali-kali. Kalau kotor, Daeng Lolo tinggal membersihkannya. Setelah semua proses selesai, arang disimpan di halaman rumahnya. Arang-arang tersebut bisa bertahan hingga beberapa tahun ke depan.

Pengiriman terjauh yang ia pernah lakukan sudah sampai keluar Sulawesi, menggunakan kontainer. Tapi Daeng lalo tidak lagi kirim keluar Sulawesi karena kurang modal.

Harga per karung arang Rp 120 ribu atau Rp 7000/kg. Dari penjualan itu, Daeng Lolo menggaji karyawannya berdasarkan beberapa bagian. Yang mengangkut dari kapal ke rumah Daeng Lolo digaji Rp 5.000/sak; membersihkan dan memisah arang Rp 5.000/sak; dan mengangkut dari rumah Daeng Lolo ke rumah makan Rp 10.000/sak.

Anak-anak penghuni rusunawa Mariso. (Foto: Nurasiah)

Anak-anak penghuni rusunawa Mariso. (Foto: Nurasiyah)

DI KAWASAN Mariso Baru, sekitaran tempat tinggal Daeng Lolo, terdapat rumah susun sewa (rusunawa) yang berada dalam penanganan Dinas Perumahan dan Gedung Kota Makassar. Rusun ini dibangun tahun 2007 dan diperuntukkan bagi masyarakat penghuni permukiman Mariso.

Badan Pusat Statistik mencatat hingga tahun 2010, kawasan Mariso adalah kawasan terpadat pertama di Makassar dengan presentase 49,79 persen dengan jumlah penduduk laki-laki sebanyak 27.934 jiwa dan perempuan sebanyak 28.379 jiwa. Totalnya 56.313 jiwa.

Rusun ini terdiri dari 198 unit kamar yang dibagi menjadi 4 Blok. Ada Blok A, Blok B, Blok C, dan Blok D. Dalam satu blok terdiri dari 4 lantai. Ada lantai dasar (basement) dan lantai 1-4. Pihak pengelola memasang harga sewa berbeda tiap lantai. Untuk unit, basement dan Lantai 1, sewanya Rp 150 ribu/bulan, Lantai 2 Rp 125 ribu/bulan, Lantai 3 Rp100 ribu/bulan, dan Lantai 4 Rp 75 ribu/bulan.

Kebutuhan air dan listrik di Rusun Mariso Baru menggunakan PDAM dan PLN. Pembayarannya dilakukan memasuki tanggal 1-15 per bulan. Lewat dari tanggal itu, akan kena denda 10 persen. Hal yang sama berlaku untuk pembayaran sewa rusun; lewat dari tanggal yang ditetapkan, akan didenda 20 persen.

Pengelola yang ada di Rusunawa Mariso Baru terdiri dari beberapa bagian. Ada divisi kepala bidang, bendahara, divisi seksi, staf 7 orang, intel dari Kodam, 1 orang dari Koramil, 1 dari Polsek, 2 keamanan lokal, 2 teknisi, dan 2 cleaning service bagian ruangan pengelola. Kantor pengelola sendiri berada di basement Blok C.

Beberapa tahun lalu, Rusun Mariso sempat ‘menganggur’ tiga tahun. Penyebabnya belum ada penyerahan berkas dari pihak pemerintah di Jakarta kepada Dinas Perumahan dan Gedung Makassar. ”Lambat penyerahannya karena bukan (membangun pakai) APBN di sini,” ujar Pak Onni selaku teknisi pengelola rusun.

Selama ‘menganggur’, banyak bagian bangunan hancur dan rusak, mulai dari kaca jendela pecah, sampai pengukur kilometer listrik dan air semua hilang dibabat maling. Dan sejak penyerahan berkas bangunan rusun, perbaikan dilakukan.

Berbagai jenis Pekerjaan ada di rusun ini, namun kebanyakan yang bekerja sebagai nelayan, buruh, dan pemulung. Ada yang memanfaatkan ruang seperti Ibu Nur dengan membuka salon. Ada juga yang membuka kios-kios kecil. Cara warga itu, menurut pengelola, sah saja, selama belum ada yang menyewakan ruang koperasi di lantai bawah, selama itu pula kios tersebut diizinkan buka.

Pengelola juga membuat kriteria atau syarat kepada warga yang ingin menyewa rusun tersebut, antara lain janda, suami-istri yang baru menikah dan masih tinggal dengan orangtuanya, dan warga yang berpenghasilan di bawah Rp 500 ribu/bulan.[]

:: Nur Fadhilah Harka, mahasiswa STMIK Dipanegara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *