Eceng Gondok di Sungai Sinre’jala
Oktober 20, 2017
Datuk Di Tiro dalam Komik Warna
November 12, 2017

Laut, Dari Zaman Rempah hingga Lautan Sampah

Foto Makassar Biennale

“Saya fokus ke plastik, karena itu susah untuk didaur ulang. Misalnya, kalau botol-botol kemasan ‘kan botolnya bisa didaur ulang, nah labelnya itu dibuang, itu yang saya pakai,” jelas Made Bayak, seniman asal Bali yang berpameran pada pagelaran dua tahunan Makassar Biennale.

Makassar Biennale adalah ajang pameran seni yang telah dua kali digelar di Makassar. Tahun ini, Makassar Biennale mengangkat tema Maritim yang sekaligus menjadi tema abadinya. Pameran dilaksanakan mulai 8 November hingga tanggal 28 November mendatang. Selain pameran karya, ajang ini juga memamerkan UKM, melakukan workshop, dan juga seminar. Memanfaatkan lokasi pelataran UNM, pameran ini melibatkan beberapa sukarelawan dari kalangan mahasiswa.

Ada 20 seniman yang terlibat dan memerkan karyanya. Made Bayak adalah salah satunya. Ia mengerjakan karya instalasi di Makassar Biennale (MB), berkolaborasi dengan anak-anak di SD Batulaccu yang terletak di Kelurahan Panakkukang, Makassar. Sebagian karya yang ditempel di ruang pameran MB adalah karya mereka. Kolaborasi mereka menggunakan metode plasticology art project, yang memanfaatkan sampah plastik menjadi karya seni, kemudian dijadikan satu dalam karya instalasi.

Bayak memulai proyek Plasticology pada tahun 2010 di Bali, dengan eksperimen sederhana. Hasilnya 4 karya kemudian dilaunching pada sebuah pameran, kemudian direspon bagus oleh masyarakat Bali. Karyanya di satu sisi, mempunyai tensi edukasi yang tinggi tentang pengolahan sampah plastik, dan bagaimana kreativitas bisa mengubah sesuatu yang sebelumnya tidak berguna menjadi sesuatu yang lebih berguna.

Di Makassar Biennale, selain membuat karya sendiri, ia melakukan workshop dan presentasi dengan komunitas dan sekolah. Selain project khusus yang ia kerjakan, ia juga masih mengerjakan project dengan media kanvas atau kertas, dan yang manual seperti kayu. Eksekusi karya menurutnya adalah urusan lain. Jika memang eksekusi perlu happening art, ia kadang menggunakannya. Selain itu, ia juga kadang mengerjakan video.

Foto Makassar Biennale

Foto Makassar Biennale

“Medium tidak membatasi kreativitas,” katanya.

Sistem dari project plasticology pada dasarnya adalah funding project, beberapa keuntungan dari workshop yang didapat, atau 30 % dari karya yang terjual jika ia pameran, biasanya didedikasikan untuk program sosial. Apalagi jika berurusan dengan institusi, biasanya obrolan awal telah diminta biaya material yang juga lari ke program-program sosial, selain upaya bisa menjadikan project ini self fundingproject, biar tetap mandiri dan menghidupi diri sendiri.

Walaupun kebanyakan tentang sampah, Made Bayak juga banyak terlibat dalam kegiatan seni dengan tema-tema hak asasi manusia, salah satunya Festival Anti Korupsi yang rencananya setelah melakukan kegiatan di beberapa titik oleh sepuluh komunitas yang terlibat, digabungkan dan akan dibuatkan satu event pada bulan Desember mendatang. Made Bayak mengatakan bahwa media ekspresi dalam kesenian itu banyak. Misalnya, selain plasticology, ia juga berkecimpung dalam dunia musik dalam format band yang telah menghasilkan dua album. Ini dilakukan untuk memenuhi gagasan dan ide yang lain.

Membawa plasticology ke Makassar Biennale awalnya ditawarkan oleh Direktur Makassar Biennale 2017, Anwar Jimpe Rachman, yang dari diskusinya adalah Makassar Biennale secara umum tidak membawa karya yang sudah jadi. Kebetulan project plasticology di manapun bisa berproses dengan anak-anak, orang dewasa, atau komunitas manapun. Menurut pertimbangan Made Bayak, Makassar Biennale tidak hanya membawa hasil karya dari hasil kolaborasi, dan ia berpikir untuk membuat sketsa sederhana, sehingga tim Makassar Biennale punya gambaran umum tentang apa yang mau ia buat.

Ia sempat mengunjungi beberapa tempat seperti di Kupang, Kalimantan, dan di Makassar walaupun singkat. Ia melihat ada persoalan yang sama di setiap kota yang ia kunjungi, bahkan mungkin di kota lain juga: lingkungan. Ia tertarik mengikuti pameran ini karena persoalan sampah, persoalan tidak pedulinya pemerintah masyarakat terhadap isu ini, dan kemudian ditarik lagi dengan tema maritim yang diusung oleh Makassar Biennale.

Isu sampah di Maritim menjadi masalah utama hari ini. Ketidakpedulian masyarakat, pemerintah, dan tidak ada kepedulian politik untuk mengelola dengan baik dan benar tentang ini. Jadi, ia merangkum ide ini dengan membawa project plasticology ke Makassar Biennale. Kemudian ia juga mengoneksikan sejarah Makassar yang terkenal dengan suku penjelajah laut, yang juga mulai ditinggalkan karena banyak hal, salah satunya adalah generasi muda yang ingin melaut namun pendidikan yang tidak kontekstual yang akhirnya membuat banyak dari kita tidak ingin jadi pelaut atau nelayan jika di Makassar, dan di Bali yang banyak lahan pertanian, pendidikan tidak mengajarkan mereka untuk menjadi petani. Akibatnya cita-cita mereka jauh dari latar belakang kultural mereka. Menurutnya ini terjadi di mana-mana.

Menurut saya, Made Bayak tidak sekadar menggambarkan dan menampilkan bagaimana kondisi Indonesia dengan sampahnya. Membawa sampah beserta baunya ke ruangan pameran adalah konsep pendidikan kontekstual yang ia maksud. Kemudian membuat sampah plastik menjadi karya adalah gambaran kecil bahwa sampah plastik sangat sulit untuk daur ulang sehingga divisualkan dan diletakkan dalam frame foto, seperti terkurung. Ia sempat mengatakan, edukasi terhadap anak-anak dan generasi muda adalah hal yang bersifat temporal dan membutuhkan waktu yang sangat lama. Apalagi orang-orang tua kita yang menduduki jabatan struktural yang penting tidak mendukung itu. Sehingga ia berharap generasi yang telah memahami bahaya sampah plastik, dan menduduki jabatan penting, punya keputusan dan kepedulian politik yang membuat sampah tidak lagi diperlakukan dan dibuang sembarangan, apalagi dilaut.

Dalam karyanya, Made Bayak membuat peta yang di sepanjang lautnya ditulisi tulisan sampah. Ia membuat karya itu dengan bayangan bahwa ini bisa saja terjadi, karena sampah di laut sudah banyak sekali, cuma kita belum melihatnya. Beberapa titik-titik yang dipenuhi oleh sampah yang mengapung pernah dilihat olehnya; sampah itu mungkin bisa saja dari kapal yang lewat dan lainnya. Ia menjelaskan karyanya dengan gambaran visual yang sederhana. Peta Indonesia kemudian pulau-pulaunya digambari, dan laut-lautnya ditulisi dengan kata ‘sampah’. Kalau perahu, melambang kebudayaan yang ada di Makassar yang suku-sukunya tangguh di lautan. Dan ia menjelaskan bahwa perahu pada zaman dulu digunakan untuk mengangkut sampah, kemudian ada berlabuh di dekat Fort Rotterdam yang menjadi tempat penyimpanan rempah di wilayah Indonesia Timur di zaman Belanda.

Foto Makassar Biennale

Foto Makassar Biennale

“Jika dulu membawa rempah, hari ini tidak lagi akibat ketidakpedulian kita terhadap sampah, bahkan laut saja hari ini kita punggungi karena menganggapnya tidak penting,” katanya. Di layar perahu ia menggantung layar warna-warni yang dikaitkan dengan kultur di Bali. Ia mendengar ada lontara’ di Makassar yang sama dengan di Bali yang hurufnya dimuat juga di daun lontar. Ia melihat kemiripan yang di rasa mirip secara kultur dan kebudayaan antara Makassar dan Bali. Ia juga membuat kain warna-warni ini sebagai simbol arah mata angin. Kalau kosmologi di Bali, arah mata angin disimbolkan dengan warna merah, timur itu putih, barat itu kuning, dan lainnya.

Dua kebudayaan ini walaupun berbeda, punya beberapa titik-titik yang sama. Dan persamaan itulah yang ia visualkan dan elaborasikan dalam bentuk karya. Tentunya tidak terlepas dari konsep secara besarnya, simbol-simbol menjadi hal yang penting dalam karyanya. Ia menulis beberapa pesan dengan bahasa lontrara’ pada kain-kain yang menjadi layar pada perahunya.

“Suku-suku dengan kultur dan budaya laut seharusnya tidak memunggungi laut.” Hal-hal seperti inilah yang ia ingin sampaikan dalam karyanya. Dengan penekanan pada bahwa kita sebagai negara maritim seharusnya tidak nyampah ke laut.

Menurutnya, tema maritim kalau dijadikan konteks wilayah, yah, di Makassar tempatnya. Sama seperti kosmologi yang ia percaya di Bali, bahwa maritim membicarakan darat dan laut atau hulu dan hilir, sama seperti di Makassar. Ia juga mengatakan bahwa Makassar adalah salah satu suku yang terkenal dengan suku yang tangguh menjelajah laut, jadi tema maritim sangat cocok dijadikan tema Makassar Biennale.

Menurutnya, Makassar Biennale walaupun baru dua kali, sangat luar biasa. Dikerjakan dan digarap secara profesional adalah itikad yang sangat baik. Dan ia berharap Makassar Biennale masih ada ke depannya dengan tema maritim dan sub-sub tema yang dieksplorasi dari kemaritiman secara detail.[]

 

:: Fauzan Al Ayyuby, belajar dan bekerja di Tanahindie.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *