Foto oleh Rafsanjani, Tim Peneliti Bom Benang 2017
Kehidupan Sekitar Sungai Sinre’jala
Oktober 18, 2017
Eceng Gondok di Sungai Sinre’jala
Oktober 20, 2017

Larangan dan Pantangan Sekitaran Sinre’jala

Ada beberapa larangan dan pantangan dari warga sekitar Sungai Sinre’jala, Panakkukang, Makassar.

Di Jalan Racing II, beberapa foto keluarga dirobek dan dibuang di pinggir sungai dengan sebuah tembok memanjang, berwarna abu-abu dan bertuliskan ‘dilarang buang sampah di sini’. Di sepanjang bantaran sungai, ada beberapa titik sampah dibuang-letakkan begitu saja, walaupun ada dua tembok dengan tulisan yang sama: ‘dilarang buang sampah di sini’. Sepanjang jalan itu pula, hanya ditemukan satu tempat sampah saja. Menurut informasi yang dikumpulkannya dari beberapa orang-orang tua, sungai selebar 10-15 meter itu bernama Sinrejala. Dalam bahasa Makassar, sebutan itu bermakna “jala robek”.[1] Jalan raya yang membatasi rumah dan sungai, membuat bau yang muncul dari sampah-sampah di sungai itu tidak terlalu tercium. Jarak antara sungai dengan pagar atau halaman rumah warga di Jalan Racing II berjarak 5 sampai 7 meter.

Foto Fauzan Al Ayyuby

Pisang, eceng gondok, mangga, ketapang, kelapa, mengkudu, singkong, tebu, nanas, dan pepaya adalah beberapa tanaman yang ditemui di sepanjang bantaran Sungai Sinre’jala jika menyusuri Jalan Racing II. Selain tanaman, ada botol, bambu, kayu, kandang ayam, plastik, bahkan uang pun ada di bantaran sungai itu. Irigasi-irigasi besar ‘menelurkan’ plastik berwarna putih atau hitam yang dipenuhi dengan sampah rumahan langsung ke arah Sungai Sinre’jala. Gradasi warna yang jelas terlihat ketika bertemuanya aliran air dari kanal dan aliran air Sungai Sinre’jala, adalah batas.

“Saya anggap ji ini sebagai sungai, ka ada buayanya,” kata Pak Muktar, 43 tahun warga kawasan yang dikenal sebagai ‘Arsenal’, singkatan dari “Anak Racing Kanal”, yang sempat kami temui di depan rumahnya yang berwarna orange dan berhadapan dengan sungai Sinre’jala. Ia adalah seorang teknisi AC yang sebelumnya berprofesi sebagai supir pete’-pete’. Awalnya ia mendatangi kami dan mengira bahwa kami datang untuk melakukan pengamatan kemudian mengeruk Sungai Sinre’jala ini. Ia mengeluhkan dangkalnya sungai ini, sebab selama ini tinggal di sini dari tahun 1989, sungai ini bari satu tahun dikeruk, itu pun sekitar 20 tahunan yang lalu.

Pak Muktar masih ingat betul, bagaimana anak-anak di sekitaran sungai ini masih sering berenang di sungai itu, bahkan digunakan untuk mandi oleh orang-orang dewasa. Pada saat itu, daerah Sukaria yang di sekitar bantaran sungai belum ada, masih dipenuhi oleh pohon nipah. Jembatan pun belum ada. Jembatan ada ketika pohon nipah diangkat dan Sungai Sinre’jala dibuat menjadi kanal. Pak Muktar pun membalik rumahnya ke arah sungai pada saat itu juga, dan 3 rumah lainnya. Awalnya, rumah di sekitaran Arsenal hanya ada 4 rumah, termasuk rumah Pak Muktar.

“Dulu masih banyak ikan di sini, karena bersih. Sekarang kalaupun ada, orang jijik untuk makan, karena sungainya kotor,” jelas Pak Muktar, sambil menunjuk ke arah Sungai Sinre’jala. Ia adalah salah satu warga Arsenal yang memanfaatkan bantaran sungai sebagai tempat untuk menanam. Dengan bermodalkan bambu sebagai pagar, ia menanam pisang, singkong, bunga, mangga, jambu, pandan, kedondong, dan lombok, yang hasilnya ia manfaatkan untuk konsumsi pribadi. Ia kadang merasa was-was, sebab jika banjir, tanamannya akan terancam karena air biasanya naik sampai hampir melewati paving blok yang dipasang pada tahun 2013, yang menjadi jalan raya. Walaupun tidak sampai naik ke rumahnya. Pak Muktar juga mengingat bagaimana beberapa nelayan yang menjual udang dan ikan di dekat jembatan Sukaria, hilir mudik setiap subuh sampai pagi hari. ia juga dengan mudah menemukan orang-orang dulu menenggak ballo’ di belakang rumahnya yang dipenuhi nipah. Kemudian diangkat dan hanya tinggal cerita.

Sungai menjadi tempat yang menakutkan bagi anak-anak. Di Racing II misalnya, anak-anak dengan cepat mengingat buaya ketika kami mencoba mendekati sungai. “Awas, kak. Ada buaya putih,” kata beberapa anak kecil yang baru saja pulang sekolah. Namun tidak untuk beberapa orang. Misalnya, ketika saya berjalan sekitar jam 9 pagi, seorang remaja duduk di atas bale-bale yang berdiri di atas aliran sungai, menggunakan headset, merokok, dan mengayunkan kakinya sesekali. Ada juga beberapa orang yang mencuci motornya di dekat sungai. Ada beberapa hal yang kemudian membuat saya berpikir: mengapa beberapa rumah membelakangi sungai? Dan mengapa juga sebaliknya? Walaupun yang terlihat adalah rumah yang membelakangi sungai cenderung mempunyai WC dan kamar mandi tepat di belakang rumahnya, dan yang menghadap ke sungai, cenderung membuang sampah langsung ke sungai. Dari penjelasan Pak Muktar, warga yang membuang sampah ke sungai adalah mereka yang tidak membayar uang sampah.

Saya sempat menelusuri salah satu irigasi yang terlatak di samping Jalan Hj. Saripa Raya untuk melihat-lihat tempat sampah yang ada di sana. Namun seperti biasa, walaupun ada tempat sampah, masih ada saja sampah yang tercecer di dalam kanal itu. Ada beberapa para-para yang dibentuk sedemikian rupa di beberapa pohon di bantaran Sungai Sinre’jala. Ada juga penjual makanan yang mendirikan rumah kecil berukuran 4×3 meter yang terbuat dari kayu dan seng, di pinggiran sungai itu.

“Pohon baru ini namanya, kalau orang dulu-dulu dipakaikan untuk bungkus gula merah. Sekarang ka sembarang ji, daun pisang ka apa ka, yang penting tabungkus,” kata Pak Jasa’, pria berumur 50 tahun yang sudah 20 tahun tinggal di bantaran Sungai Sinre’jala. Menurutnya, pohon baru sangat cepat tumbuh, dan akarnya sangat kuat untuk menopang manusia sekalipun yang biasanya mengatur beberapa kayu untuk dijadikan tempat duduk di atas pohon itu. Selain itu, ada pohon tammate, pohon yang menurutnya bagus untuk dijadikan obat ketika kita mengalami luka baru.

Pak Jasa’, pernah melihat seorang lelaki yang kakinya digigit oleh buaya. Ketika itu, lelaki yang terkena gigitan, ingin menangkap ikan pada malam hari, namun ia malah digigit oleh buaya. Keberadaan buaya di Sungai Sinre’jala sudah biasa terdengar.

“Biasa dimarahi itu anak-anak ka na ganggui, ka biasa na kejarki baru na lempari,” lanjut Pak Jasa, menjelaskan tentang bagaimana anak-anak pernah dimarahi oleh Pak Lurah yang kebetulan melihat mereka.

“Kalau padalle’ (biawak) biasanya anak ayam ji na makan, ka yang besar pintar mi,” tutur Pak Jasa’. Padalle’ adalah salah satu hewan yang kerapkali bisa disaksikan wujudnya di Sungai Sinre’jala. Ia bisa hilir mudik dari timur ke barat, pun sebaliknya. Padalle biasanya mengincar dan menerkam buruannya, jika ia tidak melihat orang-orang di tempat buruannya sedang mencari makan di pinggir sungai.

“Di sini juga ada buaya jadi-jadian,” lanjut Pak Jasa’. Ia pernah menyaksikan dua orang yang sedang melompat ke sungai untuk berenang ketika air sedang naik. Awalnya, hanya satu orang yang melompat, karena ia tahu berenang, tetapi temannya yang lain ikut melompat dan ditarik oleh buaya jadi-jadian yang dimaksud oleh Pak Jasa’. Tidak ada orang yang menolong. Semuanya takut karena jika ia turun, mereka pun akan ditarik juga oleh buaya jadi-jadian itu. Menurutnya, Sungai Sinre’jala mempunyai penjaga, karena setiap malam jum’at banyak orang yang biasa membuang pisang di sungai, tetapi mereka orang-orang di sekitaran Sungai Sinre’jala yang lama tinggal di sana dan mengetahui bahwa sungai itu mempunyai penjaga. Selain pisang, mereka juga biasa membuang ayam—hidup ataupun sudah diolah—dan telur.

Di sekitaran tempat Pak Jasa’ tinggal, banyak orang yang kembar dengan buaya. Dia mengatakan bahwa, buaya itu tidak buas seperti buaya yang secara alamiah bukan kembaran manusia, melainkan buaya dalam artian sebenarnya. Warga pernah menangkap salah satu buaya dan menaruhnya di salah satu rumah, hingga kembarannya yang manusia datang dan melepaskannya setelah menjelaskan kepada warga.

Cerita mitos semacam itu banyak muncul di masyarakat dengan lingkup hidup berdampingan dengan sungai. Anwar Jimpe Rachman menulis dalam blognya: “Jamak juga kita dengar tentang cerita kembar buaya di daerah lain di Sulawesi Selatan, sebab wilayah ini punya banyak sungai. Kita kenal baik nama-nama sungai itu, di antaranya yang besar-besar adalah Sungai Sa’dan, Sungai Walennae, atau Sungai Cerekang. Namun berdasarkan tulisan saya (2011), mitos manusia kembar buaya menyimbolkan bahwa alam dan manusia tidak dapat dipisahkan layaknya saudara kembar. Keduanya merupakan unsur alam yang harus saling mendukung.”[2]

Ilustrasi Iqbal Burhan

“Saya sudah lama tinggal di sini, di situ,” jelas Pak Jasa’, sambil menunjuk sebuah rumah bertingkat dua yang didominasi oleh seng. Ia tinggal di bantaran sungai Sinre’jala, sebelah kiri Jembatan Abdesir, sejak tempat itu masih didominasi oleh hutan.

“Nah, kalau di bantaran sungai ini, biasanya lewat itu yang namanya pepe, itu karrasa’ (angker),” jelas Pak Jasa’. Ia mengatakan bahwa pepe biasa merasuki dan menyakiti anak-anak. Selain itu, beberapa warga pun pernah melihatnya di sebuah sumur umum yang dipakai bersama oleh warga di sebelah kiri rumah Ibu Yanti. Menurutnya, sosok pepe adalah sosok yang sangat cantik. Tapi Pak Jasa’ punya penangkalnya. Sebuah kayu ‘santigi hitam’ dan sudah ia jadikan batu cincin, menurutnya adalah benda yang ampuh untuk menjauhkan pepe. Kayu santigi adalah kayu yang berasal dari Bawakaraeng dan Selayar. Pohonnya, menurut Pak Jasa’, bisa menjatuhkan burung-burung yang melintas di atasnya.

“Kalau banjir di sini, bilang mi seng, cari ki rumah lain deh,” katanya, menjelaskan bagaimana orang-orang di sekitaran sungai mengeluhkan banjir yang bisa datang 3 kali dalam setahun, dan setiap kali datang bisa sampai 1 minggu lamanya. Menurut pengakuannya, banjir yang datang sampai masuk ke dalam rumah, dan menyisakan aroma tikus yang terbawa air karena keluar dari lubangnya dan mati. Ia dan beberapa orang pernah ingin menjual tanahnya, tetapi tidak laku karena akses jalan yang menurutnya kecil, tidak muat untuk mobil. Ada rencana dari pemerintah yang ingin membangun tanggul di bantaran sungai yang mereka tempati. Walaupun tidak semua dijadikan tanggul, sisa dari tanah mereka yang berkurang menjadi alasan beberapa orang tidak ingin membeli tanah mereka, selain alasan akses jalan. Namun tanggul itu tak pernah dibuat sampai sekarang, walaupun sudah diukur.

Pak Jasa’ bekerja apa saja yang bisa ia kerjakan. Yang penting bisa hidup, katanya. Uang hasil kerjanya dipakai untuk membiayai dua orang anaknya, Uli dan Kadir yang keduanya sudah menginjak kelas 2 SMP. Ia merasa tidak mampu membiayai kedua anaknya sampai kuliah. Menurutnya, akan sama saja. Empat orang keponakannya di Gowa, menjadi contoh untuk dia bahwa sarjana tidak menjamin pekerjaan, karena keempat keponakannya sampai sekarang masih pengangguran dan sulit menemukan pekerjaan.

Pak Jasa’ mengaku tidak pernah memakan ikan dari Sungai Sinre’jala karena airnya kotor. Airnya yang hitam, bahkan naik ketika banjir datang, menjadi salah satu alasannya. Kemudian irigasi dari rumah-rumah warga yang langsung menuju ke sungai adalah alasan lainnya.

Di sekitar tempatnya tinggal, beberapa orang sering datang dan meminum ballo’ di situ. Jika ada yang ricuh dan mengundang keributan, warga akan mengusirnya. Namun beda halnya dengan ricuh yang dihasilkan dalam satu keluarga. Suami yang memukul istri, misalnya, itu adalah masalah pribadi, dan warga memilih tidak mencampurinya karena berurusan dengan orang yang tidak sadar—mabuk karena minuman.[]

[1] Anwar Jimpe Rachman, https://saintjimpe.blogspot.co.id/2016/12/buaya-muncul-di-panakkukang.html, diakses pada 18 Oktober, pukul 16.31 Wita.

[2] Anwar Jimpe Rachman, Ibid.

:: Fauzan Al Ayyuby, belajar dan bekerja di Tanahindie.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *