Bincang soal Waktu dalam “Kisah Para Penyintas”
Oktober 31, 2016
Perginya Tiara, Sang Tulang Punggung Kecil
November 3, 2016

Kereta yang Berapi-api

AWAL tahun 1990-an, di suatu siang yang terik, beberapa siswa berpeluh di wajah, dengan celana pendek biru berbaju putih berlambang Osis berkejaran mengayuh sepedanya hingga akhirnya berhenti dan memilih berpisah di depan toko “SS Motor”. Toko ini menjual oli dan beberapa spare part kendaraan di sudut simpang empat bundaran Jalan Veteran Selatan, Makassar.

Toko “SS Motor” berkesan kokoh. Semburat coklat pudar mendominasi. Bangunannya tak menyolok. Toko ini berdiri membentuk setengah lingkaran menghadap ke utara dengan arsitektur bercorak karakteristik romansa pecinan Makassar tempo doeloe. Umurnya mungkin sudah puluhan tahun. Letaknya di antara ujung Jalan Veteran Selatan, Jalan Ratulangi, Pasar Pabaeng-Baeng, dan Jalan Kumala. Tempat ini menjadi lokasi pangkalan bagi para tukang becak dan supir pete-pete yag menunggu penumpang trayek Veteran – Kampus di Jalan Perintis Kemerdekaan.

Sekali waktu, pemiliknya menuturkan, nama SS yg melekat di tokonya itu berarti ‘suka sama suka’. Pesannya singkat dan mudah diingat. Seolah menitip harapan kepada setiap orang yang datang berbelanja agar selalu suka dan senang dengan pelayanan toko. Nama ibarat doa, cerminan ideologi harapan yang terwakili dari sang empunya. Meski ada juga yang menyebutkan ‘apalah arti sebuah nama’. Sekuntum mawar tetap menyerbakkan harumnya meski namanya berganti.

Entah secara kebetulan atau tidak, satu cerita warung kopi menyebutkan bahwa inisial SS itu bermuasal dari beberapa cerita dari penduduk lama di sekitar tempat itu tentang sejarah sebuah SS (Staats Spoorwegen), sebutan orang Belanda untuk jawatan kereta Api milik Hindia Belanda yang pernah beroperasi di Makassar. Konon bekas lokasi stasiun kereta tersebut berdiri tak jauh dari toko SS di Jalan Veteran tersebut.

 

SYAHDAN, sejarah meriwayatkan, ketika luas kota Ujung Pandang masih sepelemparan batu, ketika Jalan Gunung Bawakaraeng membentang tanpa hambatan, hingga Daya masih bernama Jalan Maros/Maros Weg, penduduk kota ini masih hidup berkelompok dan berumpun-rumpun. Kota ini terdiri dari pelbagai kampung etnis, antara lain Kampung Buton di pesisir pantai (sekarang Pasar Butung), Kampung Balanda di dekat Kampung Buton, yang sekarang disebut Jalan Riburane dan Sawerigading, Bongaya di sekitar Jalan Kumala, Pecinan di area Jalan Bali dan sekitarnya, Kampung Melayu di seputaran Jalan Diponegoro, Kampung Paotere, serta beberapa lagi yang lain.

Karena daerah Pasar Butung merupakan jalur strategis di pinggir pantai, J. E Dambrink, walikota Makassar pertama, berinisiatif membangun beberapa sarana penunjang, seperti gedung sekolah, gedung kesenian, rumah ibadah, dan juga stasiun kereta api pertama di Makassar.

Stasiun pertama kereta api pun dibuat. Di beberapa laman media, termasuk Wikipedia menyebutkan, pada sekitar Juli 1923, rute rel kereta api di Sulawesi beroperasi dengan menempuh rute 47 kilometer menghubungkan Makassar-Sungguminasa-Limbung sampai ke Takalar. Tujuan awalnya untuk mengangkut hasil bumi tebu di Takalar yang dikirim ke pabrik gula di Pulau Jawa dengan menggunakan kapal laut. Rel-rel kereta api ini tertanam di sepanjang jalan melintasi daerah Bontoala, Maricaya, Jongaya, Parangtambung, yaitu Jalan Tentara Pelajar, Jalan Ujung, Jalan Veteran, Jalan Muhammad Tahir dan Jalan Daeng Tata. Adapun bengkel kereta api saat itu berada di SS (Staats Spoorwegen), jawatan kereta api Hindia Belanda yang dahulu lokasi tak jauh dari Jalan Veteran dan sekarangnya menjadi Sekolah Teknik Negeri Menengah. Tarif kereta sekali naik waktu itu bervariasi dari 10-40 sen. Karena target pengiriman tebu tidak terpenuhi dan kian banyak mobil yang masuk ke Makassar, pengoperasian kereta api dianggap sudah tidak menguntungkan, akhirnya perusahaan itu ditutup pada tahun 1930.

Proses pembangunan jalur kereta api di Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan. (Foto: Iqbal Lubis)

Proses pembangunan jalur kereta api di Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan. (Foto: Iqbal Lubis)

SEPULANG dari menemani si sulung bermain kereta mainan ‘Thomas’ di sebuah mal dekat Center Point of Indonesia, saya kembali iseng membuka buka referensi lewat handphone mengenai kelanjutan rencana pembangunan proyek perkeretaapian di Sulawesi.

Awal tahun 2016 ini, sejarah perkeretaapian di Sulawesi mendapat satu kado proyek prestisius: kereta api pertama di luar Pulau Jawa dan Sumatera. Bantalan rel pertama telah terpancang di titik nol kilometer daerah Tanete Rilau, Kabupaten Barru (sekisar 100 kilometer di utara Makassar). Secara berkesinambungan, hingga akhir tahun 2016, rel sepanjang 16 kilometer diupayakan rampung, kemudian berlanjut ke Parepare kurang lebih 145 km dan berikutnya lagi akan dimulai dari Manado dengan target pelesaian jalur rel selesai hingga tahun 2018.

Kehadiran kereta api ini diharapkan akan menjadi primadona baru sebagai moda trasportasi penghubung antar kota di Pulau Sulawesi dan menyusul Pulau Papua, untuk menjawab kebutuhan prioritas serta solusi atas permasalahan transportasi dan kepadatan lalu lintas.

KA ini digadang-gadang sebagai kereta api bertaraf internasional, berkecepatan mencapai sekitar 200 km/jam dan akan melewati 23 stasiun. Rel kereta lebih lebar serta bantalan rel yang lebih berat dari KA yang ada di Indonesia. Dengan menggunakan sistem double track untuk mengangkut barang dan manusia, diharapkan ke depannya akan menjadi satu pilihan transportasi umum yang tepat, cepat, aman, dan murah.

Seorang kawan yang bermukim di Jepang pernah bercerita, saat masih bersekolah dan berangkat kerja, ia menggunakan kereta cepat Shinkansen. Bagi mereka, berkereta adalah aktivitas masyarakat yang lazim, terutama pulang pergi dari tempat kerja. Shinkansen yang berkecepatan 300km/jam, jarak tak lagi menjadi masalah bagi mereka yang telah terbiasa memegang prinsip kedisiplinan waktu.

Kabar terakhir menyebutkan, teknologi Shinkansen ini bahkan belum seberapa dibandingkan dengan rencana akan diwujudkannya sebuah kereta berteknologi Maglev (Magnet Levitation) pada 2045 mendatang. Teknologi ini digadang-gadang akan melampaui kemampuan kereta api yang sudah ada. Maglev akan menjadi teknologi pertama di dunia yang dibuat untuk lebih mengefisiensikan jarak tempuh. Konon, saat kereta melaju dengan kekuatan penuh di kecepatan 600 km/jam, badan kereta terasa melayang tidak berpijak lagi di rel, penumpang tetap dapat melanjutkan tidur-tidur pagi, menyalakan gadget, dan bercengkerama santai tanpa merasakan goncangan gesekan rel.

Teknologi Shinkansen ini membuat sebagian besar pekerja Jepang akhirnya memilih untuk pulang pergi tanpa kuatir melanggar waktu kerja. Rata-rata pekerja ada yang datang dari pulau sebelah atau tinggal beratus ratus mil dari tempat kerja tanpa kuatir telat. Budaya lingkungan dan teknologi yang mumpuni telah membentuk mereka untuk mencari zona nyaman sendiri dalam menyelesaikan rutinitas perjalanan transportasi. Selain bisa berhemat dengan menghindari biaya hidup di tempat tinggal sewaan. Transportasi cepat ini membuat mereka masih bisa tetap berkumpul bersama keluarga di malam hari tanpa harus lagi mengeluarkan biaya hidup tambahan untuk tinggal di apartemen/flat sewaan di dekat kantor mereka.

 

PEMERINTAH berupaya mengurai kemacetan jalan dengan mempercepat infrastruktur penunjang transportasi yang cepat, aman, dan tetap terjangkau. Konsep baru terus ditawarkan, namun tak langsung merebut hati masyarakat. Transportasi BRT misalnya, moda yang tren setahun terakhir. Tampaknya pemerintah masih harus bekerja keras menyosialisasikannya agar merangkul hati penumpang, hingga dapat menyejajarkan diri dengan primadona lama, pete-pete.

Hukum ekonomi ibarat dua sisi mata uang. Ia merupakan hubungan sebab akibat peristiwa ekonomi yang saling berhubungan satu dengan yang lain dalam setiap aspek kehidupan masyarakat sehari-hari. Bila memasukkannya dalam konteks kecil, yaitu transportasi darat, ini berkaitan erat juga dengan sebab akibat dari sebuah bisnis pelayanan.

Bagaimana dengan rencana kereta api? Kita belum tahu. Mewujudkan ide yang sudah setengah jalan ini tidak semudah membalikkan tangan. Butuh kucuran dana yang tak sedikit untuk menuntaskannya. Sampai penghujung 2016, pemerintah masih juga disibukkan dengan urusan dana yang terkatung-katung.[]

:: Daeng Syamsoe, seorang bankir.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *