Sungai Hitam di Tengah Kota
Oktober 17, 2017
Larangan dan Pantangan Sekitaran Sinre’jala
Oktober 19, 2017

Kehidupan Sekitar Sungai Sinre’jala

Foto oleh Rafsanjani, Tim Peneliti Bom Benang 2017

Sungai Sinre’jala merupakan sungai selebar sepuluhan meter di timur Jalan Adhyaksa, mengalir melewati jembatan, menuju utara Jalan Sukaria 18 (Jalan M. Saleh Yusuf), Jalan Sukamaju 10, menuju muara di Tallo. Dalam bahasa Makassar sebutan itu bermakna “jala robek”. Konon dulunya kalau orang menangkap ikan di sana, jala mereka sering dirobek buaya.[1]

Bantaran Sungai Sinre’jala berbatasan dengan jalan utama perkotaan. Area komersial dan perumahan-perumahan menengah ke atas, memadati hampir sepanjang jalan ini seakan menutupi permukiman bantaran sungai yang berada di belakangnya.

Kawasan bantaran sungai sering diidentikkan dengan lingkungan yang kumuh dan banyak pencemaran. Lingkungan bantaran Sungai Sinre’jala berisi permukiman padat penduduk dengan akses jalan sempit, tepian sungai yang menghilangkan sempadan sungai, kumuh, dan kotor.

Sistem drainase kota yang dibuat tahun 1985 ini selama hampir 30 tahun tidak diperbaharui, meski tahun 2004 sempat dibuat masterplannya. Bukan tidak mungkin, drainase kota sudah kadaluarsa. Namun meminjam penjelasan Ikhsan Mukrim, peneliti IRIB (Institut Rekayasa Infrastruktur Berkelanjutan), tidak bisa dikatakan kadaluarsa karena “barang” hasil pengejawantahan masterplan 2004 saja belum ada atau belum dilaksanakan.[2]

Drainase kota yang bertumpu pada kanal besar (Jongaya, Pannampu, dan Sinrejala) sepanjang hampir 16 km ini sudah mengalami penurunan layanan penyaluran air yang diakibatkan proses sedimentasi dan sampah. Sedimentasi sudah mencapai berada pada taraf yang cukup tinggi, dari 20% hingga 50% kedalaman kanal. Bahkan ada bagian dari kanal bisa mencapai pendangkalan 70% dari kedalamannya (Rauf et al, 2011).[3]

Ini berarti kapasitas kanal sudah jauh dari rencana semula. Kanal di Makassar bermuara ke laut, kecuali Sinrejala yang menuju Sungai Pampang. Fungsi pengaliran kanal-kanal ini sangat dipengaruhi pula kondisi pasang surut laut. Jika dalam kondisi pasang dan bertepatan dengan cuaca ekstrem (badai hujan), proses pengaliran limpasan air ke laut akan mengalami waktu delay cukup lama, yang akan mengakibatkan genangan air di beberapa lokasi di Makassar.[4]

Sinre’jala, sekitar Kantor Lurah Pandang

Foto Rafsanjani

Selasa, 19 September 2017, saya memulai pengamatan langsung di sekitaran Sungai Sinrejala, belakang Kantor Kelurahan Pandang, Kompleks Panakukang Indah. Menyusuri arah selatan Kantor Lurah. Di sampingnya kita dapat saksikan tiga rumah pengepul saling berimpit, berada sekitaran lima meter dari sungai. Halaman depannya berserakan botol dan gelas-gelas plastik yang sudah dipisahkan untuk dijual.

Sebuah lahan yang tidak jauh dari rumah pengepul merupakan kebun pandan beserta pohon pisang tumbuh di sana. Kebun seluas 15 x 10 meter dipagari tembok kurang dua meter, di dalamnya terdapat drainase yang mengalir menuju Sungai Sinre’jala. Di selatan kebun pandan ada sepetak lahan sekira 80 are ditumbuhi tanaman liar juga pohon pisang.

Pondasi di pinggiran Sungai Sinre’jala yang merupakan area Kompleks Panakukang Indah tampak dibuat lebih tinggi dengan saluran pipa air yang menjorok ke sungai. Berbeda dengan di seberangnya yang merupakan tempat tinggal warga luar kompleks. Pandan, pisang, nipah, singkong, dan eceng gondok yang tumbuh hingga ke tengah sungai.

Bantaran Sungai Sinre’jala bagian utara Kantor Kelurahan Pandang dan Kampung Buku, merupakan permukiman warga luar kompleks. Sekitaran enam rumah berjejer menghadap ke sungai, berjarak tujuh meter dari sungai. Mayoritas warga setempat hanya mengontrak, menurut seorang warga yang akrab disapa Bunda. Di permukiman ini, terdapat satu sumur di samping rumah salah satu warga yang digunakan bersama. Warga mandi dan mencuci di situ. Dengan saluran pembuangannya menuju sungai.

Di halaman depan rumah warga jadi tempat jemur pakaian, tiangnya kayu dengan tali yang memanjang horizontal. Selain itu, tumbuh tanaman seperti mengkudu, kelapa, kayu Jawa atau “tammate” (berdaun rimbun dan berbatang besar dapat dijadikan obat luka) dan pohon waru/baru (pohon peneduh tepi jalan, tepi sungai, dan pematang serta pantai).

Menurut Bunda, ia sudah bermukim 25 tahun di situ. Bunda mengaku, dulunya di saat-saat tertentu, warga sekitar sering menurunkan sesajen (panaung) ke Sinrejala. Biasanya dilakukan saat malam Senin atau Kamis. Misal, ada salah satu keluarga yang sakit dan anak yang baru lahir tak berhenti menangis. Selain itu sebagai wujud syukuran terhadap si empunya air.

“Dulunya, sekitaran bantaran sungai rumput-rumput masih tinggi, sungai bersih dibanding sekarang dan sering ditempati mandi.” Selain itu, perahu-perahu kecil pencari ikan dan tude (sejenis kerang air tawar yang biasanya hidup di danau dan rawa-rawa) masih sering lewat menawari ikan dan tude-nya yang dijual,” tutur Bunda.

Di tepi sungai yang merupakan halaman depan rumah warga, anak-anak sekitar menjadikannya sebagai ruang bermain. Mereka memanjat pohon, berkejaran, bermain bulu tangkis, hingga bermain bola. Kadang-kadang bolanya sampai ke tengah sungai. Jika merasa bosan bermain di sekitaran sungai, mereka berpindah ke jalanan sekitaran kompleks, Kantor Lurah, hingga ke tong sampah kompleks. 

Sinre’jala di Sukaria dan Sekitarnya

Foto Rafsanjani

Di daerah Sukaria, Jalan M. Saleh Yusuf merupakan ruas jalan di bantaran barat Sungai Sinrejala. Saat memasuki jalan ini dari arah utara Jembatan Jalan Racing, kita akan menyaksikan deretan rumah warga berada di sebelah kiri jalan, sedang di kanan merupakan Sungai Sinrejala. Di sepanjang pinggiran sungai, sebagian warga memanfaatkannya dengan mendirikan tempat untuk berjualan, pos kamling, tempat ngobrol bersama keluarga dan tetangga, juga untuk ditanami pepaya, kelapa, pohon tammate, pohon pidada/padada (sejenis pohon penghuni rawa-rawa tepi sungai dan hutan bakau yang buahnya dapat dikonsumsi), dan aneka jenis bunga. Sebagian warga memagari tanamannya dengan bambu.

Jalan M. Saleh Yusuf cenderung lebih kotor (airnya gelap) dibanding daerah belakang kompleks Panakukang Indah yang juga aliran Sungai Sinrejala. Meski warga sekitar pinggiran sungai sudah tidak membuang sampah sembarangan lagi di sungai ini, karena dilarang oleh RT, tapi kita masih bisa menemukan kumpulan sampah di beberapa tempat pinggiran sungai ini, seperti di bawah ‘gadde-gadde’ (kios) milik warga yang dibangun di atas sungai dan tempat pengepul mengumpulkan sampah. Berbagai jenis sampah yang dapat kita temukan, seperti sisa sayuran, daun-daunan, kayu, kain, kaleng, botol, dan kantongan plastik.

Lain halnya lagi di seberang Sungai Sinre’jala, bagian belakang suatu perusahaan. Terdapat sepuluh rumah berhadapan langsung dengan sungai. Ibu Maya, wanita dua anak ini, penghuni rumah yang berada di belakang suatu perusahaan, kesehariannya bekerja sebagai pembuat jalangkote dan pengupas bawang untuk keperluan bumbu di salah satu Restoran di Jalan Prof. Abdurrahman Basalamah “Ulu Juku”. Ia beranggapan bahwa Sungai Sinre’jala merupakan kanal. Hal ini dipicu karena air sungainya dianggap kotor, seringnya disaksikan sampah lewat terbawa oleh arus, ditambah lagi suatu perusahaan yang limbahnya mengalir ke sungai lewat samping rumahnya.

“Kalau hujan deras biasanya itu, bekas limbahnya berupa oli naik sampai ke tanah kosong,” sambil menunjuk ke arah yang dialiri bekas limbah oli saat hujan deras tiba.

Ibu Maya menyebut, sampah ’warga Sinrejala kanal’ atau kawasan yang berada di belakang perusahaan, biasanya dibakar di halaman. “Karena tukang pengangkut sampah tidak sampai ke kawasan ini.” Di beberapa halaman rumah warga, terlihat tempat bekas pembuangan sampah, dengan sisa-sisa pembakarannya.

Pukul 07.00 pagi, tampak perahu sedang mangkal di pinggiran sungai, di pinggiran kawasan Sinrejala kanal. Menurut Ibu Maya, perahu ini berasal dari Pampang, merupakan pencari tude. Setiap pagi, pria pencari tude ini menggunakan perahu bersama istrinya untuk menjual kerangnya ke pasar yang terletak di Jalan Pettarani. “Biasanya mereka pulang menjelang siang sekitar pukul 11.00 sambil menunggu istrinya pulang dari pasar untuk menjual tude nya.”[]

[1] Anwar Jimpe Rachman, http://makassarnolkm.com/buaya-muncul-di-panakkukang, diakses pada 3 Oktober, 01.30 Wita.

[2] Ardy Arsyad, https://daenggassing.wordpress.com/2013/04/12/banjir-dan-revisi-drainase-kota, diakses pada 12 Oktober, 01.10 Wita

[3] Ibid.

[4] Ibid.

:: Rafsanjani, tim fasilitator Bom Benang 2017, mahasiswa Antropologi Universitas Negeri Makassar (UNM).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *