Hikayat Benteng Kerajaan Gowa [Bag.2]

Benteng Fort Rotterdam sekitar tahun 1930an (dokumen KITLV)

Setelah minggu lalu kita membahas tentang sejarah singkat benteng-benteng peninggalan kerajaan Gowa-Tallo, minggu ini kita akan membahas lebih dalam tentang kondisi benteng-benteng tersebut.

Seperti yang diceritakan di bagian pertama minggu lalu, kerajaan Gowa-Tallo membangun 14 buah benteng sebagai pusat pemerintahan, pertahanan dan penyimpanan logistik. Ketika kerajaan Gowa-Tallo jaruh ke tangan VOC, 12 benteng harus dihancurkan dan hanya 2 yang dibiarkan bertahan. Berikut ini adalah cerita mendalam tentang benteng-benteng tersebut. Kami bagi menjadi dua cerita.

1. Benteng Somba Opu

Benteng ini dibangun oleh Raja Gowa ke IX Karaeng Tumapakrisika Kallongna dan disempurnakan oleh Raja Gowa ke X Manrigau Daeng Bonto Lakiung (1546-1565). Benteng ini terletak di kampung Sapiria kecamatan Bontoala Kabupaten Gowa.  Letak astronomisnya adalah 5⁰11’22” Lintang Selatan , 119⁰24’4” Bujur Timur dengan ketinggian 0-10 meter di atas permukaan laut.

Sebagai pusat pemerintahan Gowa di masa lampau benteng Somba Opu berfungsi sebagai istana raja dan pembesar lainnya. Rumah panggung berarsitektur Makassar dengan menggunakan tiang dan dilidungi dinding dan bastion terdapat dalam lingkungan benteng ini. Belakangan benteng Somba Opu diubah fungsinya sebagai sarana rekreasi warga dengan nama Taman Mini Sulawesi Selatan namun tidak berkembang hingga kemudian dijamah investor dan dibuat water park dan kandang burung di sekitarnya.

Benteng Somba Opu berdenah segi empat panjang dengan luas 363,00 m2. Tinggi dindingnya 7 meter, tebal dinding bervariasi antara 3.66-4.10 meter dan 10.3-10.5 meter. Pintu benteng terdiri atas dua yaitu terletak di sisi utara bagian barat dan pintu lainnya terletak di bagian selatan.

Benteng ini awalnya dibangun menggunakan tanah liat dan kemudian ditingkatkan menggunakan batu bata, batu padas pada kaki benteng dan bastion serta tanah isian di tengahnya.

2. Benteng Tallo

Benteng Tallo terletak di sebelah utara Benteng Somba Opu, tepatnya di kelurahan Tallo kecamatan Tallo Kota Makassar dengan letak astronomis 05⁰6’25” Lintang Selatan dan 119⁰26’25” Bujur Timur. Benteng ini berada di ketinggian antara 0-10 M di atas permukaan laut. Lokasi benteng ini sekarang tinggal puing-puing di antara perumahan pendudut yang padat dan kumuh. Sebagian lokasinya dijadikan tambak oleh penduduk sekitar.

Kerajaan Gowa dan Tallo dulunya adalah satu kerajaan utuh, namun sejak  pemerintahan Raja Gowa VI terjadi sebuah pembagian kekuasaan antara kedua putra raja Tunatangkalopi, yakni kerajaan Gowa dan Tallo. Kerajaan Gowa berada di bawah pemerintahan Batara Gowa sebagai raja Gowa ke VII sedang kerajaan Tallo di bawah pemerintahan Loe Ri Soe.

Pembagian kekuasaan ini ternyata berbuah pertikaian sehingga kemudian terjadi perang saudara selama bertahun-tahun. Barulah pada masa pemerintahan Raja Gowa IX Tumapakrisik Kallongna kedua kerajaan ini digabung dalam kerajaan koalisi.

Benteng Tallo dibangun atas perintah Tumapakrisika Kallongna. Sebagian besar benteng dibangun menggunakan bahan yang sama dengan Benteng Somba Opu. Beberapa bekas bangunan digunakan oleh masyarakat sekitar sebagai bahan untuk membangun rumah. Benteng ini juga termasuk benteng yang harus dihancurkan berdasarkan perjanjian Bungaya.

Tampak luar benteng Fort Rotterdam sekitar tahun 1930an ( Dokumen KITLV)

3. Benteng Ujung Pandang

Benteng Ujung Pandang terletak di sebelah utara Benteng Somba Opu, masuk dalam wilayah kelurahan Kampung Baru, kecamatan Ujung Pandang, kota Makassar. Letak astronomis benteng ini 5⁰08’3” Lintang Selatan dan 119⁰24’17” Bujur Timur dengan ketinggian 0-5 meter di atas permukaan laut.

Pembangunan benteng ini dirintis oleh Raja Gowa X I Mariogau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tunipallangga Ulaweng dengan konstruksi tanah liat. Pada masa pemerintahan Raja Gowa XII konstruksinya diganti dengan lapisan batu-batu.

Sesuai kesepakatan dalam perjanjian Bungaya, benteng Ujung Pandang dan seluruh tanah dan lingkungannya diberikan kepada VOC dan pada tanggal 1 November 1667 Speelman mulai tinggal di dalam benteng Ujung Pandang. Berikutnya benteng Ujung Pandang kemudian mengalami perubahan besar-besaran di bawah perintah Speelman. Benteng ini juga disebut sebagai benteng Pannyua (penyu) merujuk kepada bentuknya yang mirip penyu bila dilihat dari udara.

4. Benteng Panakkukang

Benteng Panakkukang terletak di sebelah Selatan benteng Somba Opu, tepatnya di kampung Panakkukang, kelurahan Barombong kecamatan Tamalate kota Makassar. Letak astronomisnya 5⁰11’52” Lintang Selatan dan 119⁰23’13.6” Bujur Timur dengan ketinggian 0-10 meter di atas permukaan laut.

Menurut catatan, benteng ini dibangun di masa pemerintahan Raja Gowa XIV I Mangnganrangi Daeng Manrabia Sultan Alauddin Tumenanga ri Gaukanna. Benteng ini dibangun sebagai tempat peristirahatan, setelah jadi benteng ini dinamakan Panakkukang yang berarti merindukan atau tempat merindukan.

Benteng ini pernah jatuh ke tangan VOC pada masa pemerintahan Sultan Hasanuddin. Semua berawal dari pemberian suaka politik kepada Buton pada Januari 1660 oleh kerajaan Gowa. Meski jatuh ke tangan VOC namun benteng ini kemudian dapat direbut kembali oleh kerajaan Gowa melalui pertempuran sengit yang berujung pada perjanjian perdamaian.

5. Benteng Barombong

Benteng Barombong terletak di sebelah selatan benteng Somba Opu, tepatnya di desa Pattukangang kelurahan Barombong, kecamatan Tamalate, kota Makassar. Letak astronomisnya 5⁰12’50” Lintang Selatan dan 119⁰23’36” Bujur Timur dengan ketinggian 0-10 meter dari permukaan laut. Bekas benteng ini sudah tidak ditemukan lagi, kemungkinan tertimbun pembangunan jalan poros kota Makassar dan Barombong.

Benteng Barombong ini termasuk benteng terkuat yang dipersenjatai dengan meriam yang pernah dimiliki raja Gowa. Benteng Barombong dibangun di masa pemerintahan Raja Gowa X, I Marigau Daeng Bonto dan disempurnakan pada masa pemerintahan Raja Gowa XIV Daeng Madrabia Sultan Alauddin. Para tokoh masyarakat di sekitar sisa peninggalan benteng bahkan menyebut benteng ini sebagai benteng bassia (benteng besi yang diartikan kuat).

Itulah detail mengenai 5 benteng yang pernah dimiliki oleh kerajaan Gowa-Tallo. Minggu depan kami akan membahas secara detail tentang 5 benteng yang lain.

(tim @MksNolKm ; disarikan dari tulisan Muhammad Iqbal AM – Determinasi Lingkungan Dalam Penempatan Benteng-Benteng Kerajaan Gowa Tallo Abad XVI-XV ; Kepingan Mozaik Sejarah Budaya Sulawesi Selatan – Iwan Sumantri – Penerbit Ininnawa)

 

Bagikan Tulisan Ini:

Makassar Nol Kilometer (188 Posts)

Sebuah ruang termpat berkumpulnya warga kota Makassar mencatat dan bercerita tentang dinamika kota dari kaca mata warga. Kami membuka ruang seluas-luasnya bagi warga untuk berkontribusi di laman ini.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


− 5 = four

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>