Merantau: Pertanda Baikkah bagi Kita?
Januari 25, 2017
Pasar Sabtu dan Potret Kota Inklusif
Februari 14, 2017

Guru-guru yang Menyicil Laptop

Berawal dari keluhan kecil tak sengaja Mama, yang duduk di sebelah saya ketika file bahan pengajarannya saya edit. Ia berkomentar tentang file mengajar yang harus dilengkapi untuk pemeriksaan rutin di sekolahnya, yang menurutnya cukup banyak (ada kurikulum, silabus, garis besar rencana pembelajaran, dan masih banyak lagi yang tak bisa saya ingat dengan jelas karena harus fokus file yang sedang saya edit). Tak hanya itu, Mama juga berkomentar tentang salah satu program yang baru dan sedang dijalankan oleh pemerintah pada Oktober tahun 2016, yang katanya untuk peningkatan kualitas dan sertifikasi guru sebagai pengajar. Program ini bernama Guru Pembelajar atau kusingkat GP.

Awalnya, program ini saya abaikan saja. Namun ketika Mama memutuskan membeli seperangkat laptop untuk persiapan bila sewaktu-waktu dipanggil ikut program ini, tanya saya semakin mencuat. Bagaimanakah program ini berjalan? Apakah biaya yang dikeluarkan akan sebanding dengan hasil yang didapatkan dari pelaksanaan program ini? Mestikah seorang guru mengeluarkan biaya untuk melaksanakan program ini?

Berulang kali kesempatan terlewatkan. Akhirnya pada 12 Desember 2016, setelah diberi tahu Mama bahwa ada kelompok peserta Program GP yang berkumpul di tempatnya bekerja, saya kemudian melakukan penelitian kecil-kecilan.

Dengan mengendarai motor di siang bolong, saya bergegas ke sebuah TK. Di sana, saya menjumpai lima ibu guru yang menyantap Bubur Manado masakan sendiri. Mereka sedang mengisi waku kosong sebelum “belajar kelompok”.

Selain makan, di ruangan 5×5 meter berdinding penuh kolase bunga dan lukisan pemandangan khas siswa TK, para guru yang tiba duluan menawar pakaian yang dijual salah seorangnya. Hari itu para guru-guru peserta Program GP berkumpul untuk belajar kelompok bersama.

Mengambil waktu untuk mulai beradaptasi dengan situasi TK yang sangat sering saya datangi sejak dulu (tempat mamaku bekerja 8 tahun). Saya duduk di meja hijau persegi enam yang khusus untuk duduk lesehan, sambil melahap Bubur Manado, saya mewawancarai Ibu A, peserta program GP.

Perempuan berusia 50-an tahun itu mengajar di sebuah TK di Sudiang. Darinya saya tahu bahwa GP merupakan program yang bertujuan meningkatkan kualitas guru-guru di Indonesia dari berbagai jenjang pendidikan. Peningkatannya dijewantahkan dalam program belajar mandiri.

Ibu A menjelaskan bahwa ini mirip cara belajar mahasiswa. Seorang guru wajib memenuhi standar poin program, membaca modul yang diberikan, mengerjakan tugas, serta mempraktikkan perintah yang diberikan.

Ia juga menjelaskan bahwa terdapat tiga model dalam mengikuti program ini. Pertama, model daring, seluruh pembelajaran dan aktivitas program berbasis jaringan internet, tanpa tatap muka. Kedua, model tatap muka. Ketiga, model gabungan keduanya. Penggunaannya tergantung pada siapa mentor (pengampu) tiap kelompok.

Jadi awalnya, guru-guru baik pegawai negeri maupun honorer mendaftar namanya pada Dinas Pendidikan Sulawesi Selatan. Data tersebut kemudian diolah langsung oleh Dinas Pendidikan Pusat, yang kemudian mengeluarkan pengumuman pemanggilan guru-guru yang berhak untuk ikut program.

Untuk jenjang TK, program pelaksanaannya langsung dibawahi Dinas Pendidikan Pusat. Ini dikarenakan jenjang TK kebanyakan merupakan milik swasta (yayasan), bukan pemerintah. Pengumuman nama-nama guru yang lulus program GP sebelumnya telah dibagi ke dalam kelompok kecil, sesuai nama pengawas mereka.

Untuk model program, disesuaikan dengan keberadaan di pengawas dan guru-guru pelaksana program. Ibu A dan kelompoknya menjalankan program daring, dikarenakan keberadaan mentor atau pengampunya yang tinggal di Banjarmasin, jauh dari Makassar. Namun mereka berinisiatif mengadakan pertemuan dengan maksud belajar bersama. Pertemuan ini telah berlangsung sejak awal berjalannya program.

Sambil menyantap gorengan di depan kami, Ibu A menjelaskan bahwa program ini hanya bisa diikuti oleh guru yang melulusi sertifikasi sebelumnya. Ia juga tambahkan, program ini untuk menambah daya ingat dan pengetahuan baru bagi guru-guru. Materi-materi dalam program GP ini juga berbeda di tiap jenjang pendidikan di mana guru bersangkutan mengajar, sesuai dengan kurikulum belajar yang berlaku untuk jenjangnya.

Tak lama setelah itu, ia mengeluarkan sebuah buku yang cukup tebal, yang dari sampulnya saya tahu bahwa buku itu hasil kopian. Buku itu bersampul ungu bertulisan “Modul Guru Pembelajar Taman Kanak-Kanak Kelompok Kompetensi A”. Sambil membuka buku tersebut, Ibu A menjelaskan bahwa buku itu merupakan gabungan-gabungan chapter modul yang mereka unduh kemudian dicetak selama mereka mengikuti GP.

Kelompok Ibu A merupakan kelompok model daring. Mereka harus terlebih dahulu masuk pada laman https://gurupembelajar.id. Mereka kemudian login dengan user name yang adalah nomor NUPTK mereka dan password.

Awal mengikuti program, usai login, mereka diberi satu chapter bacaan. Membaca tiap bagian boleh dicicil, namun mereka diberi waktu maksimal seminggu. Selesai membaca, mereka akan diberi pertanyaan-pertanyaan kuis dalam waktu tertentu. Ibu A harus menyelesaikan 10 soal kuis dalam waktu 20 menit. Setiap guru boleh mendapatkan kesempatan untuk mengikuti atau memperbaiki nilai kuisnya sebanyak 2 kali (jika mau). Nilai tertinggi yang guru dapatkan dalam tiga kali percobaan tersebut akan menjadi nilai mereka. Untuk kuis, Ibu A mengatakan bahwa soalnya seperti soal-soal zaman sekolah, ada pilihan ganda dan esai. Dari setiap chapter yang selesai, peserta Program GP mendapat poin yang kemudian harus dikumpulkan. Selain membaca, mereka mengumpulkan poin dan kuis yang mereka ikuti di akhir.

Selain membaca modul, para guru-guru peserta GP ini juga diberikan tugas untuk menunjukkan situasi kelas tempat mereka mengajar dalam bentuk foto, yang mereka kirimkan ke mentor melalui aplikasi WhatsApp (WA). Mentor lalu mengisi dan memberi penilaian pada lembar penilaian khusus mentor (masih berbasis laman website), yang nantinya akan terinput menjadi poin tambahan guru-guru peserta.

Bagaimana isi atau muatan dari laman website tersebut? Ibu A menjelaskan, di dalam laman tersebut diberi urutan cara mengajar yang terpola dan sistematis, yang kemudian dapat diterapkan dalam cara mengajar si guru.

“Misalnya, hari ini kita belajar tentang tubuh manusia, kita urutkan dulu dari nama-nama anggota tubuh, kemudian lanjut ke fungsinya masing-masing, dan seterusnya,” jelas Ibu A.

Teman-teman kelompoknya semakin banyak berdatangan. Dari informasi Ibu B, saya ketahui bahwa guru-guru tersebut sedang mempersiapkan belajar bersama menghadapi post-test dari Program GP, berlangsung pada 14 Desember 2016 di sebuah SMK. Tes itu, kata Ibu B, menggunakan komputer—mirip UN anak sekolah lewat komputer—dengan waktu menjawab soal dalam 45 menit tiap guru. Tes ini bertujuan mengukur sejauh mana capaian para guru setelah mengikuti GP.

Saya juga datang ke sekolah tempat post-test dilaksanakan. Bergiliran guru-guru itu mengikuti post-test tersebut. Jumlah komputer di dalam ruangan terbatas. Post-test ini juga menandai berakhirnya serangkaian Program GP yang mereka jalani. Kini tinggal menunggu nilai hasil akhir.

Dari serangkaian kegiatan program GP ini, para peserta mengumpulkan poin-poin. Yang mereka dapatkan berasal dari poin saat membaca banyak chapter yang berasal dari 2 buku modul, poin dari kuis (tugas keseharian), serta poin dari aktivitas kelas tempat mereka mengajar (dokumentasi aktivitas kelas yang dikirimkan ke pengampu). Keseluruhan poin tersebut kemudian digabung menjadi satu. Poin-poin tersebut dihitung dan menghasilkan nilai akhir mereka. Poin tersebut akan digunakan sebagai salah satu indikator kualitas guru yang pernah lulus sertifikasi sebelumnya.

Rumus menghitungnya sebagai berikut:

Di balik itu semua, program ini memunculkan keluhan. Ibu A mengungkapkan, awalnya mereka merasa kesulitan mengikuti program ini. Ketidaktahuan menggunakan laptop maupun berselancar di dunia maya adalah sebabnya. Selama tiga bulan program, diakui Ibu Asendiri baru mulai terbiasa menggunakan laptop dan jaringannya pada bulan pertama. Diakui, ia dan kelompoknya hanya menghapal tahap: mulai dari cara masuk dan menjalankan porgram tersebut, karena lebih mudah dengan menghafal saja ketimbang mengerti cara menjalankan program.

Ibu A juga mengaku kesulitan lainnya adalah biaya cukup besar awal menjalankan program. Tiap masuk ke laman website, ia habiskan pulsa sekisar Rp 50.000. Bila dihitung-hitung, Ibu A bisa menghabiskan pulsa Rp 250.000 – Rp 300.000/minggu.

Seiring waktu, para ibu guru kemudian ada yang membeli modem, beberapa membeli kartu paket data dan smartphone baru sebagai modem, sampai ada yang memasang jaringan wi-fi di rumah mereka. Saat berkumpul, mereka kemudian menggunakan wifi TK tempat mereka selalu belajar bersama.

Untuk masalah perangkat, Ibu A mengatakan bahwa hampir semua guru-guru yang menjadi peserta GP ini membeli laptop baru. Hanya tiga orang yang tidak karena sudah berlaptop sejak mereka kuliah. Alasan mereka membeli laptop lantaran harus rutin menjalankan program ini. Bila hanya meminjam atau menyewa atau ke warnet, waktu mereka lebih terbatas.

Beberapa guru peserta program yang ikut merasa masih sulit karena harus menyicil laptop selama 6 bulan. Seorang guru mengaku, harga laptop hitam kecilnya sebanding dengan tiga bulan gajinya.

Selain biaya, mereka juga bermasalah sulitnya mengatur waktu. Ibu A menuturkan, ia sudah bangun menyiapkan sarapan untuk keluarganya pada subuh dan pukul 8 pagi jam 2 siang ia masih berada di tempatnya mengajar. Untuk makan siang, Ibu A biasanya membeli makanan prasmanan untuk keluarganya. Pada jam 14.00-16.00, ibu ini melakukan pekerjaan tambahan sebagai guru les membaca untuk anak kecil. Pukul 16.00-19.00, ia menyiapkan makan malam untuk keluarga. Pukul 19.00-21.00, ia mengerjakan tugas yang harus disediakan untuk mengajar (di luar program GP), seperti kurikulum, silabus, dan sejenisnya. Begitu selesai, Ibu A baru berkesempatan menjalankan Program GP. Itu juga kalau dia tidak kecapaian.

Bahasa Inggris pada soal kuis juga jadi tantangan guru. Mereka mengaku terbatas soal bahasa ini sebab beberapa soal memakai bahasa Inggris. Kalau sudah begitu, mereka biasa memanggil anak mereka membantu mengartikan. Jika tidak, mereka jawab sekenanya saja.

“Benar atau salah, belakangan pi. Tidak ada ji juga poin minus kalau salah ki menjawab. Jadi jawab-jawab saja, siapa tau beruntung,” ucap salah seorang guru.

Setelah merasa cukup dengan berbagai pertanyaan, saya kemudian duduk sambil masih menyantap lagi Bubur Manado masih terhidang dan belum habis di atas meja lain. Guru-guru yang sekelompok dengan ibu Min kemudian memulai kegiatannya. Guru-guru tersebut belajar beberapa soal-soal yang mereka ambil dari kuis-kuis yang selama ini mereka jalani. Menjawab bersama sembari tertawa. Kegiatan belajar bersama tersebut berlangsung tidak sampai 1 jam, mereka kemudian pulang kerumah mereka masing-masing dan mempersiapkan diri mereka untuk tes yang sebentar lagi mereka jalani.[]

:: Ni Putu Tirza Mahardani, mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional Universitas Hasanuddin Makassar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *