Rewind: Kembali ke Masa “Kaset Ini Aku Pinjam”
April 22, 2013
Makassar Bukan untuk Manusia?
April 29, 2013

Empat Ribu Kata. Empat Acara. Bulan Empat

Makassar di April 2013 menyuguhkan begitu banyak kegiatan. Seorang pewarta warga menuliskan narasi berisi empat ribu kata untuk empat acara yang ia hadiri. Laporan ini akan diturunkan menjadi tiga bagian.

DALAM satu puisi pendek, entah kenapa, saya pernah menyebut April sebagai bulan yang tepat untuk mengucapkan selamat tinggal. Pada tahun-tahun lampau, April barangkali adalah masa ketika saya sering ditinggal-tanggalkan orang-orang yang saya cintai—atau barangkali masa ketika saya terlalu senang menyendiri, tertutup, disesaki banyak masalah, dan jarang keluar dari kamar.

April tahun ini, yang segera meninggalkan saya yang mencintainya, menghadirkan banyak acara menarik di Makassar, kota menyebalkan yang terus saya cintai. Tulisan ini adalah catatan personal saya perihal sejumlah acara menarik yang saya hadiri pada April tahun ini.

Mesin Waktu Bernama Rewind!

SABTU sore, 13 April 2013, saya mengendarai mesin waktu di Kampung Buku. Sejumlah teman dari beberapa komunitas di Makassar menggelar acara sederhana dan menyenangkan bernama Rewind!. Acara itulah yang saya sebut mesin waktu. Orang-orang datang bersama kaset pita magnetik kesayangan mereka untuk diputar. Mereka bergantian menceritakan kenangan yang ada di balik kaset yang mereka bawa.

Saya datang tanpa membawa kaset meskipun saya memiliki sejumlah koleksi kaset dan, tentu saja, banyak kenangan di balik kaset-kaset itu. Saya berangkat tidak dari rumah di mana koleksi kaset itu berada. Jadilah saya sebagai orang yang semata menikmati kisah sejumlah orang yang menceritakan kaset dan kenangan mereka.

Sambil senyum-senyum sendiri, saya mendengarkan Ipul menceritakan kaset-kaset miliknya. Dia menyebut dirinya penggemar Pearl Jam. Dia menceritakan banyak hal yang saya tidak tahu mengenai band favoritnya itu—meskipun saya berharap lebih banyak mendengar kisah yang lebih personal mengenai dia dan Pearl Jam.

Saya juga menikmati cerita dari Iko, seorang yang punya pengetahuan luas perihal musik. Selain menceritakan banyak perkembangan musik pada zaman ketika saya masih tinggal jauh dari kota dan berita, dia mengisahkan beberapa kaset koleksinya. Sama seperti yang dilakukan Ipul dan beberapa orang lainnya, saya berharap Iko menceritakan kisah yang lebih pribadi mengenai koleksi-koleksi tersebut.

Terus-terang, saya hadir di acara Rewind! tidak untuk mendengarkan informasi ensiklopedik perihal para penyanyi atau kelompok musik yang sukai orang-orang. Tapi, saya berterima kasih karena dengan hadir di sana, saya mendapat banyak pengetahuan baru perihal musik.

Penutur kenangan favorit saya di acara Rewind! adalah Ridho. Dia menceritakan kisah yang sangat pribadi mengenai hubungan dia dengan dua band yang dia ceritakan cukup panjang: Slank dan Metallica. Sebagai mantan Slanker, dia menceritakan banyak hal ketika dia  masih menggilai Slank hingga dia berusaha melenyapkan satu per satu kenangannya perihal band tersebut. Saya juga suka sekali ketika dia menceritakan hubungan antara Metallica dan Andin, guru Bahasa Inggris-nya ketika dia masih SMP, yang dia cintai diam-diam. Bagi saya, kisah Ridho membuat beranda Kampung Buku, tempat yang selalu saya rindukan, menjadi ruang yang tiba-tiba hangat sore itu.

Ada beberapa orang lain yang menceritakan kenangan mereka di acara Rewind! Mawar, yang juga menjadi pemandu acara, menceritakan kenangannya dari The Moffats hingga The Smiths. Iqko dan Piyo menceritakan kenangan mereka mengenai beberapa boyband yang terkenal pada zamannya masing-masing, semisal Take That dan Westlife. Nanie menceritakan kaset koleksinya, antara lain Dewa, Padi, Reza. Muhary, orang yang pernah menjual seluruh koleksi kaset The Beatles miliknya kepada saya, menceritakan Ella Fitzgerald dan banyak penyanyi yang belum pernah saya dengar namanya. Juga ada Cakke yang memberi nuansa lain dengan menceritakan sejumlah toko kaset yang pernah berjaya di Makassar.

Sungguh, saya menikmati acara Rewind! ini dan menyesal tidak membawa beberapa kaset koleksi saya. Saya berharap ada acara semacam ini lagi sehingga saya bisa menceritakan beberapa kenangan di balik kaset-kaset kesayangan saya. Acara Rewind! menjadi lebih semarak karena ada bazaar buku dan kerajinan tangan dari sejumlah komunitas. Ada juga suguhan musik akustik dan pemutaran dua film keren, Dancer in the Dark dan Sound City.

ACARA Rewind! membawa saya jauh ke masa kecil saya ketika saya terpaksa harus lebih banyak berada di rumah karena sakit-sakitan. Di depan radio tape pemberian tante saya yang sejak gadis tinggal di Malaysia, saya berusaha menikmati dunia saya yang sempit dan kurang beruntung. Koleksi kaset pertama saya adalah warisan kakek dan ibu saya.

Kakek saya banyak mempengaruhi selera musik saya hingga sekarang. Di perpustakaan kecil miliknya, saya menemukan beberapa kaset milik Billy Joel. Dari sana saya menemukan lagu favorit saya sepanjang zaman, Piano Man. Dulu, saya sering menelpon radio untuk memutarkan lagu tersebut. Dari raknya juga saya menemukan kaset-kaset The Beatles yang membuat saya menyukai band tersebut terlalu cepat. Sejak Tsanawiyah, saya lupa sudah berapa kaus, topi, dan poster The Beatles yang pernah saya beli. Saya juga seringkali mendapat hadiah dari sahabat berupa pernak-pernik yang berhubungan dengan kelompok musik yang sangat digemari banyak orang tersebut.

Kakek saya, secara tidak langsung, juga memperkenalkan saya seorang bernama Leonard Cohen. Belakangan saya tahu dia adalah penyair dan penyanyi sekaligus. Saya menyukai karya-karyanya. Saya sendiri menganggap Leonard Cohen berjasa mengaburkan batas antara puisi dan lagu di telinga saya. Dulu, saya sering menerjemahkan serampangan lirik-lirik lagunya untuk saya serahkan kepada kekasih saya. Ada banyak band dan penyanyi lain yang saya kenal dari rak kakek saya.

Ibu saya punya satu penyanyi favorit. Namanya Ebiet G. Ade. Sejak kecil, saya akrab dengan lagu-lagu Ebiet. Saya bahkan masih ingat beberapa sampul kaset Ebiet milik ibu saya, meskipun saya tidak ingat urutan rilis album-album tersebut. Isyu!, Sketsa Rembulan Emas, Zaman,  Menjaring Matahari, 1984, Tokoh-Tokoh, dan tentu saja beberapa album Camelia. Saya beberapa kali menyanyikan lagu-lagu Ebiet di depan kelas, pada pelajaran Kesenian waktu SD, karena hanya lagu-lagu Ebiet yang saya hapal. Saya tahu, teman-teman saya menganggap itu lucu!

Kaset pertama yang saya beli dari uang saya sendiri adalah Pangeran Dangdut milik mendiang Abiem Ngesti. Pada saat libur sekolah, saya ikut ibu saya ke pasar dan menjual kantong plastik di sekitar penjual ikan. Hasilnya saya pakai untuk membeli kaset tersebut. Kaset kedua yang saya beli adalah milik Ugly Kid Joe, America’s Least Wanted, ketika saya duduk di bangku Tsanawiyah. Saya membeli kaset tersebut bersama topi dengan plat besi di depannya. Waktu itu, rasanya tidak gaul tanpa topi semacam itu.

Setelah Ugly Kid Joe, saya cukup lama berhenti membeli kaset dan lebih banyak menyisihkan uang untuk membeli buku cerita. Saya baru membeli kaset lagi setelah punya pacar pada saat SMA. Saya langsung beli beberapa kaset waktu itu. Beberapa yang saya ingat adalah Dance Into the Light (Phil Collins), Terbaik-Terbaik dan Pandawa Lima (Dewa19), Dunia dan 3/4 (Gigi), dua dari trilogi Nugie, Bumi dan Air, juga Paint My Love, Greatest Hits Michael Learn to Rock. Semua kaset itu saya beli untuk pacar saya. Uangnya saya ambil dari tabungan saya, hasil menulis cerita pendek di sejumlah majalah remaja waktu itu.

Sejak saat itu, saya rajin membeli kaset. Pacar saya menyukai musik dan kami rajin bertukar dan saling menghadiahkan kaset. Pada 1998, tahun pertama saya kuliah, koleksi kaset saya hilang dicuri dari kamar kost saya. Ada sekitar 300-an kaset yang hilang dan membuat saya kapok membeli kaset—kecuali beberapa kaset yang memang sangat saya sukai.

Saya baru rajin membeli kaset lagi, justru ketika orang mulai tidak menggunakan kaset. Ketika saya dan pacar saya membangun Kafe Baca Biblioholic, saya rajin membeli kaset. Dia membawa tape compo dari rumahnya untuk Biblioholic. Tetapi, saat itu kami lebih banyak membeli kaset jazz. Koleksi kaset saya sekarang lebih banyak berupa peninggalan dari zaman 2004 hingga 2007, juga beberapa koleksi tua yang masih sempat terselamatkan.

SAYA punya banyak kenangan yang sangat personal di balik beberapa kaset milik saya. Tapi, saya tidak ingin menceritakannya di catatan ini. Saya berharap Rewind! akan digelar lagi, agar saya bisa menceritakan beberapa kisah saya di sana. Saya ingin sekali menceritakan, misalnya, kisah dan kenangan di balik lagu Dance with My Father, Luther Vandross, lagu yang paling sering dengan sengaja saya putar sepanjang hidup saya selama ini.

Saya berharap bisa bertemu sejumlah teman dan kehangatan lagi di acara semacam ini, seperti ketika menghadiri acara Rewind! Saya harus berterima kasih kepada sejumlah komunitas yang telah bersusah-payah mewujudkan acara menarik ini. Inilah salah satu acara terbaik yang saya datangi pada April tahun ini.

Gara-gara Rewind, saya membiarkan sejumlah kawan saya menunggu dan menunggu di salah satu kafe untuk pertemuan penting membahas persiapan Makassar International Writers Festival 2013. Saya merasa tidak bersalah melakukan itu. Semoga mereka paham.

Tulisan 2

Malam Ketika Saya Menjadi Contoh Buruk

SUDAH LAMA saya menunggu ada PechaKucha Night di Makassar, acara di mana orang-orang mempresentasikan ide mereka melalui 20 gambar masing-masing selama 20 detik. Sekali waktu, saya menghadiri acara serupa di Bali. Saya jatuh cinta kepada konsep acara yang pertama kali diperkenalkan oleh dua orang arsitek, Astrid Klein dan  Mark Dytham, di Tokyo pada Februari 2003.

Saya senang ketika penyelenggara PechaKucha Makassar Volume 1 meminta saya menjadi salah seorang yang mempresentasikan idenya di acara tersebut. Saya tahu, seseorang tidak perlu punya ide besar untuk berbagi. Ide kecil sudah cukup menjadi jembatan percakapan dan perjumpaan dengan orang lain.

Saya tidak mempersiapkan dengan matang presentasi saya untuk PechaKucha yang digelar di Kedai Buku Jenny. Saya baru menyusun gambar-gambar presentasi saya beberapa jam sebelum malam 21 April 2003, waktu ketika acara sederhana itu digelar.

Selain saya, ada sejumlah presenter lain pada PechaKucha Night tersebut. Presentasi dibuka oleh Ridho yang menceritakan Kedai Buku Jenny, salah satu tempat favorit saya di Makassar. Saya menyukai presentasi Ridho yang dimulai dengan menceritakan siapa sebenarnya Jenny yang menjadi nama kedai buku tersebut.

Kedai Buku Jenny bukan semata kedai buku, meskipun namanya terlanjur seperti itu. Ada perpustakaan dan toko kaset di sana. Ada penerbit dan galeri kecil di sana. Mereka juga rajin menggelar acara-acara sederhana yang kreatif. Saya selalu memimpikan ada banyak ruang alternatif semacam Kedai Buku Jenny di Makassar.

Melalui angka-angka merah berlatar kuning, Jimpe menceritakan Makassar Nol Kilometer. Saya menyukai presentasi Jimpe. Makassar Nol Kilometer adalah ruang bersama berupa situs media warga yang diciptakan oleh sejumlah orang di dunia maya. Saya pembaca setia situs tersebut. Saya senang melihatnya tumbuh dan menjadi bagian dari habitat media di Indonesia, khususnya di Makassar.

Komunitas Penyala Makassar juga hadir di PechaKucha Night malam itu. Mereka menceritakan satu program mereka yang disebut Kelas Inspirasi. Ide voluntersime tampaknya menjadi ruh program ini. Mereka mengajak para profesional dari berbagai profesi untuk cuti dari tempat kerja dan meluangkan waktunya satu hari untuk datang ke sekolah-sekolah. Mereka diminta membagi inspirasi mengenai profesi mereka kepada para siswa sekolah dasar. Saya ikut menjadi salah seorang relawan pada acara yang digelar akhir Maret lalu itu. Presenter dari Komunitas Penyala Makassar, Ikes, adalah satu-satunya perempuan yang jadi presenter pada malam yang bertepatan dengan peringatan Hari Kartini tersebut.

Barak mewakili Komunitas Quiqui’ Makassar, komunitas perajut yang anggotanya lebih banyak perempuan, merupakan presenter yang lain. Sejak Maret tahun ini, pria berambut gondrong dan berkacamata itu menjadi ketua Komunitas Quiqui’. Dia lihai merajut dan telah banyak mengajari perempuan merajut. Saya mengaguminya, sebagaimana saya mengagumi komunitas tempatnya berhimpun. Di tengah-tengah laju waktu yang tampak tak terkejar Quiqui’ seperti tempat yang tepat untuk rehat dan menertawai kecepatan. Barak bertemu dua kekasihnya yang terakhir di komunitas tersebut.

Ada juga presentasi lain mengenai Malino Land dari Vonis Media yang dibawakan oleh Juang, seorang musisi yang karya-karyanya saya sukai. Dia berbagi ide dan ceritanya mengenai Malino Land, acara menarik yang berlangsung beberapa bulan lalu di Malino, di bawah pohon-pohon pinus. Menikmati musik dari band-band Makassar, menonton film karya para sineas Makassar, dan membaca buku bersama sahabat yang hangat di cuaca sejuk pegunungan tentu sangat menyenangkan. Itulah yang ditawarkan Malino Land. Saya menyesal tidak bisa hadir pada acara itu—dan berharap bisa hadir di acara Malino Land berikutnya.

PechaKucha juga menghadirkan Dedy, seorang penggemar karya-karya Pramoedya Ananta Toer. Dia membagi ceritanya perihal satu proyek yang beberapa bulan terakhir ini dia jalankan bersama kekasihnya di Bali. Proyek itu bernama Mengaji Tetralogi. Sengaja kami menggunakan kata ‘mengaji’, katanya, sebab kami menganggap karya-karya Pram kitab suci. Dedy dan pacarnya, Happy, membaca Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca atau Tetralogi Buru. Setelah membaca, melalui telepon mereka berbagi hasil pembacaan selama berjam-jam sambil menunggu matahari terbit di tempat mereka masing-masing. Ini salah satu kisah cinta jarak jauh paling romantis yang pernah saya dengar. Mereka juga menuliskan hasil mengaji mereka.

DI PECHAKUCHA NIGHT, malam itu, saya bercerita perihal proyek narsis saya di dunia maya, @hurufkecil. Proyek itu berawal menjelang akhir tahun 2010 ketika saya sedang jenuh di Twitter, ketika saya mulai sering dihinggapi perasaan terlalu banyak buang-buang waktu di internet.

Proyek sederhana itu ada di Twitter, Facebook, Soundcloud, dan www.hurufkecil.net, blog pribadi saya. Sebagai penulis, saya sangat menyadari internet adalah sahabat sekaligus musuh saya. Internet seperti perpustakaan raksasa yang berisi banyak sekali buku, tempat di mana orang-orang datang agar bisa menyadari ketololan dan keangkuhannya. Sebagai perpustakaan, internet juga menyenangkan untuk ditempati bertemu dan berbincang dengan teman-teman atau siapapun mengenai hal-hal tidak penting dan mengganggu orang lain.

Di Twitter, @hurufkecil adalah ruang yang saya ciptakan sebagai sekolah sekaligus kantor saya. Saya punya kelas mengedit di sana. Saya menyukai aturan 140 karakter Twitter karena mengajari saya menulis lebih efektif—meskipun melalui tulisan ini saya terbukti masih perlu belajar banyak.

Di Twitter juga saya membuat kelas Bahasa Inggris saya. Satu hal yang saya sukai dari internet adalah karena tempat itu bukan negara. Batas-batas wilayah menjadi kabur di sana. Masuk di internet bukan pulang ke tempat kelahiran saya, tidak membuat saya merasa bersalah menggunakan bahasa asing. Saya sarjana Sastra Inggris yang selalu malu karena tidak bisa mempertanggungjawabkan kemampuan saya berbahasa Inggris yang miskin. Saya sering menjadikan linikala saya sebagai tempat berlatih menulis menggunakan bahasa Inggris—kebetulan di sana ada banyak orang yang gemar menunjukkan kesalahan orang lain. Saya menggunakan kegemaran orang-orang semacam itu dengan berani mempermalukan diri melakukan kesalahan.

Di Twitter, saya juga menemukan orang-orang yang mau mengajak saya berkolaborasi dalam berkarya. Di luar sana, ada banyak sekali orang kreatif dan cerdas. Saya bertemu mereka yang mau mengubah puisi saya menjadi film dan lagu. Saya bertemu mereka yang mau mengubah cerita pendek saya menjadi lukisan dan sandiwara radio. Di Twitter pula saya menemukan penerbit yang mau menerbitkan karya-karya saya. Tentu saja, saya juga bertemu para pembaca buku-buku saya di Twitter.

Twitter juga membuat saya lebih mudah menemukan acara-acara kreatif yang harus saya kunjungi—seperti yang saya ceritakan di sepanjang tulisan ini. Twitter juga adalah jalan menemukan sejumlah bahan bacaan dan tontonan untuk saya nikmati agar saya bisa menggunakan apa yang saya tahu untuk mengetahui semakin banyak apa yang saya tidak tahu.

Twitter juga tempat saya belajar sesuatu yang disebut personal branding dan tempat saya mencari uang untuk hidup dengan sesekali menjadi buzzer. Ini alasan kenapa banyak orang bertanya kepada saya hubungan antara huruf kecil dan tomat.

Saya menemukan sejumlah pekerjaan karena @hurufkecil. Menjadi penyiar di salah satu radio, misalnya. Di radio yang sama, puisi-puisi saya rutin direkam dan diputar pada hari-hari tertentu. Puisi-puisi itu juga bisa dinikmati di Souncloud saya.

Media sosial semacam Twitter dan Facebook juga cukup efektif untuk menyebarkan karya-karya saya. Di www.hurufkecil.net saya menyimpan sebagian besar karya saya. Saya paham bahwa tidak semua orang harus membeli koran, majalah, atau buku untuk bisa membaca pikiran-pikiran saya. Melalui blog dan media sosial saya membiarkan orang lain menikmati karya-karya saya dengan cuma-cuma. Tidak semua hal butuh dibayar dengan uang, saya kira.

Tetapi, saya percaya bahwa hal-hal terbaik tidak terjadi di internet. Tidak ada yang mampu menggantikan percakapan langsung, antara mata dengan mata. Tidak ada yang mampu menggantikan kehangatan pelukan yang nyata. Sebagai peminum kopi, seperti yang saya katakana pada malam itu, saya percaya bahwa kopi adalah surat cinta dalam bentuk cair dan hangat antara saya dan sahabat-sahabat saya—hal yang tidak mampu ditukar dengan surat elektronik yang paling manis sekalipun.

Internet adalah perpustakaan besar dan indah tapi ‘outernet’ adalah perpustakaan yang jauh lebih besar dan lebih indah.

Itulah beberapa hal yang saya ceritakan mengenai @hurufkecil di PechaKucha Night. Tampak narsis dan norak.

SAYA SENANG berada di sana bertemu langsung dengan banyak orang. Saya berharap PechaKucha Night betul-betul bisa menjadi ruang alternatif di Kota Makassar—tempat bertemu ide, cerita, dan teman-teman baru yang menarik.

Saya belajar banyak hal di acara PechaKucha Night. Salah satunya adalah berbicara dengan efektif. Hal itu sangat penting bagi orang yang kadang terlalu cerewet dan susah fokus seperti saya. Buktinya bisa terlihat di tulisan ini.

Di acara PechaKucha Night Volume 1 saya menjadi contoh buruk akibat terlalu banyak menghabiskan waktu di dunia maya. Saya gugup di depan pelantang suara meskipun hanya berbicara selama kira-kira 7 menit. Sungguh!

Tulisan 3

Merayakan Hari Buku dengan Menikmati Film dan Musik

SELASA, 23 April 2013, saya melewati hari dengan kegembiraan yang patut untuk dicatat dan dikenang. Hari itu, linikala Twitter ramai dengan kata-kata perayaan Hari Buku Sedunia. Pagi hari, selepas mengirim tugas menulis, saya meninggalkan rumah dengan rencana menghadiri dua acara yang menjanjikan: Panggung Literasi dan Moviecoustic.

Saya tiba di kampus Universitas Hasanuddin pukul 9:30 pagi untuk menghadiri Panggung Literasi, acara yang digelar Koran Tempo Makassar bekerja sama dengan Penerbitan Kampus Identitas. Rencananya, acara itu akan berlangsung pukul 10:00. Saya punya waktu kira-kira 30 menit untuk melihat-lihat buku yang dijual beberapa komunitas yang ikut terlibat di acara itu. Saya membeli dua buku yang sama-sama mengenakan judul cukup panjang: The Man Who Loved Books Too Much: The True Story of a Thief, a Detective, and a World of Literary Obsession karya Allison Hoover Bartlett dan Lokasi Tidak Ditemukan: Mencari Rock and Roll Sampai 15.000 Kilometer karya Taufiq Rahman.

Membeli dua buku pada Hari Buku membuat saya bahagia. Saya menemukan diri saya gampang berbahagia akhir-akhir ini. Buku yang pertama pernah saya beli sebelumnya dan saya hadiahkan kepada seorang kawan. Buku kedua, sudah lama saya incar tapi baru sempat saya temukan. Saya tertarik membelinya karena saya menyukai ulasan-ulasan Taufiq Rahman tentang musik. Di tengah ulasan-ulasan musik di media-media Indonesia yang rada garing, kita punya Taufiq Rahman dengan tulisan-tulisan yang menyegarkan.

Kemarin, banyak orang yang telat bangun pagi atau terperangkap macet barangkali. Panggung Literasi baru dimulai pukul 11:00. Saya menjadi salah seorang pembicara di acara yang berlangsung di bawah perpustakaan universitas tempat saya pernah selama 7,5 tahun kuliah. Di sudut perpustakaan itu, di samping rak buku-buku sastra, saya dan mantan pacar saya pernah berciuman dua kali.

Pembicara Panggung Literasi lainnya adalah dosen saya, Alwy Rachman, penyair tempat saya banyak belajar, Aslan Abidin, dan sahabat saya, Shinta Febriany. Satu pembicara lainnya, Ahyar Anwar, tidak hadir karena harus berada di luar kota. Kami berlima mengisi kolom yang sama di Koran Tempo Makassar—pada hari-hari berbeda.

Saya senang berada di Panggung Literasi, bertemu banyak sahabat, berdiskusi perihal dunia baca-tulis, dan belajar dari banyak orang.

Sebelum pulang, saya berbincang santai dengan sejumlah komunitas menulis dari beberapa kampus. Saya yang belum tidur selama lebih 30 jam menjadi bersemangat karena mendengar semangat mereka menulis.

Satu-satunya hal tidak menyenangkan di acara tersebut adalah mata malang saya yang datang tanpa kacamata dan membuat saya terbata-bata membaca satu esai saya ketika menutup acara tersebut.

SAYA MENINGGALKAN Panggung Literasi bersama Shinta Febriany. Kami menuju Gedung Kesenian Societeit de Harmonie untuk acara Moviecoustic yang digelar para sahabat saya di jurusan Film dan Televisi Institut Kesenian Makassar. Dari mereka, saya banyak belajar membuat film. Tiga tahun lalu, kami mendirikan Forfilm, Forum Film Makassar.

Saya menunggu acara berlangsung sambil membaca buku Lokasi Tidak Ditemukan: Mencari Rock and Roll Sampai 15.000 Kilometer.

Saya menghadiri acara Moviecoustic membawa semangat dan keriaan yang banyak. Saya sudah lama menunggu karya-karya terbaru mereka. Ada tujuh judul film yang akan diputar di acara Moviecoustic—masing-masing tiga kali pemutaran per hari. Acara tersebut akan berlangsung 23 – 28 April 2013.

Tujuh film yang diputar di acara Moviecoustic adalah Sepatu Baru (Aditya Ahmad), Sepasang Kelabu (Arman Dewarti), Ingatan Sunyi (Rusmin Nuryadin), Cita (Andi Burhamzah), Fiksi dari Meja Makan (M. Yusuf AG), Picture (Andi Rio Supriadi), dan Adoption (Andrew Parinussa).

Selain pemutaran tujuh film pendek, Moviecoustic juga menyuguhkan musik akustik. Dua band Makassar tampil di acara tersebut, First Moon dan Delight Monday. Saya menyukai karya kedua band tersebut. Saya pernah menonton mereka main beberapa kali. Delight Monday pernah menjadi bintang tamu di acara peluncuran buku puisi saya tahun lalu.

Saya sengaja datang tanpa pernah menonton film-film tersebut sebelumnya. Selama ini, saya selalu punya kesempatan menonton film-film mereka sebelum diluncurkan. Saya penasaran ingin menonton film-film terbaru mereka.

Catatan ini adalah bentuk rasa hormat saya kepada mereka, yang sebagian besar masih amat muda, karena tidak lelah berkarya dan memberi warna lain yang segar buat Makassar, kota yang saya cintai di tengah keadaannya yang selalu menyebalkan.

FILM PERTAMA yang saya tonton adalah Picture karya Andi Rio Supriadi. Sebagai seorang sahabat, saya menyukai Rio yang kemarin datang dengan saudara kembarnya, Roi. Dia cowok ramah yang selalu tampil dengan kostum yang unik dan menarik perhatian. Filmnya yang diputar di Moviecoustic menghibur saya. Picture adalah film yang sederhana, tidak punya pretensi untuk tampil cerdas dan sok aneh. Film yang menghibur dan sedikit mengelabui saya.

  1. Yusuf AG, yang selama ini lebih sering mengurusi audio film teman-temannya, menampilkan psycho-thriller lewat Fiksi dari Meja Makan. Saya suka ide film ini dan gambar-gambar dengan sudut dan cara pengambilan yang berbeda dari film-film lain di Moviecoustic. Film tentang cinta dan persahabatan yang menarik.

Cita, film yang berkisah perihal cinta sepasang diffable, arahan Andi Burhamzah salah satu film yang menarik perhatian banyak penonton di acara Moviecoustic. Mengharukan! Saya menyukai akting pemeran utama pria film ini. Musik yang digarap Melismatis membuat film ini menjadi sangat menyentuh.

Arman Dewarti dan Rusmin Nuryadin bisa disebut dua sutradara yang sudah memiliki pengalaman paling banyak di antara sutradara lainnya di Moviecoustic. Arman Dewarti lewat Sepasang Kelabu membuat jalan-jalan di Makassar tampak indah, lengang, sekaligus menyeramkan. Lapisan-lapisan kejutan dan unsur komikal memberi kekuatan pada film ini. Sepasang Kelabu menyisipkan unsur teater yang kental. Film perihal cinta yang rumit dan puitis!

Lewat sepenggal kisah calon pengantin, perjuangan Gerwani, organisasi perempuan pada zaman revolusi Indonesia, hadir lewat Ingatan Sunyi karya Rusmin Nuryadin. Ini film yang tampil berbeda dan berani. Dengan warna-warna yang suram, Ingatan Kelabu menyodorkan kepada kita harapan yang padam dan rindu dari tempat dan masa yang gelap. Saya suka film ini.

Andrew Parinussa lewat Adoption menghadirkan ketegangan dan teka-teki yang menarik. Kisah cinta, perselingkhan, dan pembunuhan antara sepasang suami istri dan anak gadis yang mereka adopsi sejak kecil. Film ini menyodorkan tiga alternatif ending dan memberikan keputusannya kepada pikiran penonton. Ide yang menarik.

Aditya Ahmad menghadirkan tontonan yang sangat menghibur dan segar lewat film Sepatu Baru. Saya sangat menyukai film ini. Celana dalam, hujan, kopi, pawang hujan, dan sepatu baru tampil saling terkait dan mendukung. Sungguh, sebuah hiburan yang sangat segar! Dari sudut kota Makassar yang tampak kumuh, Sepatu Baru datang dengan ide yang kreatif dan berbeda. Juara!

SAYA SENANG telah merayakan Hari Buku Sedunia dengan dua acara: Panggung Literasi dan Moviecoustic. Khusus acara Moviecoustic, saya masih ingin datang menonton besok atau lusa dan mengajak para sutradara film-film tersebut untuk berbincang. Saya juga berharap teman-teman saya di Makassar datang menikmati dan mengapresiasi karya para sutradara Makassar ini.

Saya cemburu sekaligus bahagia melihat karya-karya mereka. April tahun ini, tampaknya Makassar beruntung dipenuhi banyak acara kreatif dan penting!

Saya pulang dari acara Moviecoustic pukul 03:00 pagi setelah berbincang di depan gedung kesenian selama berjam-jam seusai nonton bersama sejumlah sahabat. Di boncengan Adin, sahabat yang berbaik hati mengantar saya pulang, saya terus membicarakan film-film karya ketujuh sutradara yang baru saja menyelesaikan studi mereka di Institut Kesenian Makassar tersebut.

Saya tiba di rumah dan menemukan diri saya harus menyelesaikan satu tulisan dan mengeditnya. Melelahkan dan menyenangkan. Saya batal menghadiri acara yang harusnya saya datangi pada pagi hari ini karena telat bangun.

April 2013: Bukan Bulan yang Menyedihkan

Barangkali betul, ketika saya menulis puisi dan mengatakan April sebagai bulan yang tepat untuk mengecupkan selamat tinggal saya sedang bermasalah dengan diri sendiri dan jarang keluar rumah. April bukan bulan yang menyedihkan—setidaknya tahun ini.

Saya menemukan begitu banyak acara menarik di Makassar pada April tahun ini. Saya hanya butuh melawan godaan internet dan menghapus sebagian waktu saya di sana, keluar rumah dengan mengabaikan kejamnya jalan raya dan cuaca, dan datang ke tempat-tempat tertentu untuk menikmati acara-acara yang digelar komunitas-komunitas yang diisi orang-orang baik hati di kota ini.

Kepada semua komunitas yang telah menyiapkan waktu, ide, tenaga, dan materi untuk membuat acara-acara kreatif semacam yang saya ceritakan di atas, saya berterima kasih. Kota Makassar saya percaya akan menjadi  rumah yang lebih ramah, aman dan nyaman untuk ditinggali karena komunitas-komunitas seperti itu.

Saya menulis catatan ini beberapa hari sebelum April 2013 istirahat. Saya masih ingin menghadiri minimal satu acara kreatif sebelum Mei datang. Barangkali Recharge, pameran karya para perupa Makassar, di Rumah Seni Budaya Makassar atau Makassar International Jazz Day 2103 untuk memperingati Hari Jazz Internasional. [Selesai]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *