Yusniar Melawan dengan Kata-kata
November 16, 2016
Aksi Pertama Bebaskan Yusniar
November 18, 2016

Dari Sawah Turun ke Jalan Raya

Siang itu dua kali saya bolak balik dari pusat Kota Makassar ke Daya, ada sesuatu yang menarik perhatian saya setiap melintasi jalan Urip Sumoharjo. Di pinggiran jalan ini terdapat beberapa pedagang, mulai pedagang minuman dingin, pedagang aksesoris, batu permata sampai pedagang senjata tajam. Tapi yang paling membuat saya tertarik siang itu adalah pedagang es dawet.

Di trotoar sebelah kiri jalan, mulai dari depan Sekolah Polisi Negara (SPN) Batua Makassar sampai depan Taman Makam Pahlawan setidaknya ada sekisar 5 pedagang yang menjajakan es dawet di sana. Saya pun memutuskan untuk singgah di salah satu lapak pedagang es dawet yang bertuliskan “ES DAWET HITAM”.

“Bungkus atau minum di sini?” tanya pria bertopi merah itu.

“Minum di sini saja pak,” jawab saya cepat.

“Oh iya, silakan duduk,” ucapnya ramah, sembari menyajikan es dawetnya.

“Panggil saja Sapri,” ujar lelaki paruh baya itu. Ia berjualan es dawet di depan SPN Batua mulai pukul 9 pagi hingga 5 sore, bergantung pada cuaca dan ramainya pelanggan. “Kalau cuaca sedang tidak baik (hujan deras) biasaya saya ditelepon sama bos, disuruh pulang saja,” ungkapnya.

Dalam sehari ia bisa mengantongi 300 sampai 500 ribu rupiah, “Kalau ada pesanan lebih banyak, bisa 800 sampai 1 juta,” ungkapnya. Dari hasil dagangan itu ia mendapat upah sebanyak 25%, “Kalau makan, minum dan rokok pakai saja uang dagangan, yang penting tidak lewat 50 ribu,” ujar Pak Sapri menirukan bosnya.

Pak Sarpi mengaku dulunya ia pernah bekerja di Surabaya dan juga sempat menggarap sawah di Bone, baru beberapa tahun belakangan ini ia ke Kota Makassar untuk mencari pekerjaan. Menurutnya bekerja di sawah itu butuh kesabaran ekstra, karena beberapa bulan sekali baru bisa panen dan mendapat uang sedang ia mempunyai anak dan istri yang membutuhkan biaya hidup untuk sehari-hari.

Seperti namanya, cendol dari es dawet ini berwarna hitam. Pak Sapri menjelaskan bahwa es dawet dagangannya ini berbeda dengan es dawet kebanyakan, es dawet hitam berbahan dasar sagu sedang es dawet yang biasa (hijau) berbahan dasar tepung beras.

“Santannya juga beda, kalau ini saya pakai santan dari kelapa gading, lebih tahan lama ketimbang santan kelapa biasa. Kalau santan kelapa biasa paling sampai sore sudah tidak enak, beda dengan santan kelapa gading meski sampai malam rasanya tetap enak,” ujarnya.

Pak Sapri juga membeberkan tentang kecurangan-kecurangan yang sering dilakukan oleh pedagang lain dalam berdagang es dawet. Seperti penggunaan bahan pengawet dan juga penambahan bahan kimia untuk mendapatkan rasa yang enak dan tekstur kenyal pada cendolnya. Ia menyarankan kepada saya agar berhati-hati saat membeli es dawet, sebagian para pedagang hanya memikirkan keuntungan tanpa terlalu memikirkan bahaya dan akibat yang dapat menyerang kesehatan konsumennya. Akan tetapi ia sangat menjamin bahwa es dawet dagangannya ini aman, kemudian ia menunjuk tulisan pada gerobaknya (Bahan Alami Tanpa Bahan Pengawet), “Seperti gula yang saya pakai, itu terbuat dari gula aren murni tanpa disaring dan rasanya pun lebih segar,” jelasnya.

Dari Pak Sapri pula saya mengetahui peluang dari berdagang es dawet ini. “Sehari saya bisa dapat uang 150 sampai 300 ribu, paling 50 ribu saya berikan pada istri saya untuk kebutuhan belanja besok trus sisanya saya tabung, dikali sebulan sudah berapa? Pegawai saja kalah ‘kan! hahaha…” ungkapnya, sembari tertawa lepas.

Lapak Pak Sapri sederhana saja, hanya sebuah gerobak dan beberapa kursi plastik. Tapi pelanggannya sangat beragam mulai dari pejalan kaki, pengendara roda dua sampai pengendara roda empat. Pak Sapri mengatakan untuk lapak yang ia tempati sehari-hari ini, ia harus membayar sejumlah uang kepada petugas.

“Ada petugas di sini, datang 2x kali sehari, pagi sama sore. Pagi bayar 5000 di kasih kertas warna putih, kalau sore bayar lagi 5000 di kasih kertas warna merah, jadi total bayar 10000 sehari. Tapi kalau ada Satpol PP datang saya tetap diusir,” bebernya sembari menunjukkan kertas berwarna putih pada saya.

Tidak terasa sekisar sejam saya bertanya jawab dengan Pak Sapri, kemudian ia menawarkan untuk tambah segelas lagi es dawetnya. Saya sempat menolaknya namun ia memaksa untuk mencobanya, “Tidak apa, yang ini tidak perlu bayar alias gratis,” sahutnya cepat.

“Kalau yang ini resep saya sendiri, saya sering meminumnya setiap pagi,” katanya sembari memberikan segelas es dawet tanpa cendol. Setelah meneggak habis semua es dawet itu, kemudian saya pun membayar dan berterima kasih pada Pak Sapri.

“Iya sama-sama, lain kali mampir lagi ya,” jawabnya sembari tersenyum dan memberikan uang kembalian.

 

:: Alif Kurniawan, belajar dan bekerja di Tanahindie.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *