Penghargaan Individual atau Kerja Kolektif?
Oktober 27, 2016
Bincang soal Waktu dalam “Kisah Para Penyintas”
Oktober 31, 2016

Dari Rumah Kayu yang Tersisa di Batua

IBU Nuraeni tahu betul bagaimana wilayah Jalan Toa Daeng 3 terbentuk pelan-pelan. Tahun 1986, begitu menamatkan sekolah di Tsanawiyah Muhammadiyah Malino, Gowa, ia menikah dengan Pak Karim, lelaki sekampungnya. Tahun itu juga keduanya pindah ke kawasan tersebut.

Waktu itu Pak Karim bekerja di Hotel Karuwisi dan Hotel Rindu Alam (sekarang hotel itu sudah tidak ada). Selama bekerja, mereka tinggal di rumah milik iparnya di daerah Batua. Berhenti kerja di situ, Pak Karim lantas menjadi buruh bangunan guna menghidupi tiga anaknya.

Sejak Februari 2016, Pak Karim bekerja di Kelurahan Batua untuk mengecat lorong dan membersihkan sampah di sekitaran wilayah Batua. Sementara Ibu Nuraeni bekerja sebagai bujang sekolah di SMK Kartika. Ia bekerja di kantin dan koperasi sekolah sejak 10 tahun lalu.

Suatu hari tahun 1987, Nuraeni dan Abdul Karim memutuskan membeli tanah kosong di Jalan Toa Daeng 3. Dahulu, namanya hanya Jalan Toa Daeng 3. Ketika itu belum ada penggunaan nama lorong seperti sekarang, yang dipakai sejak tahun 2000-an, begitu jumlah penduduk daerah ini bertambah dan jadi permukiman yang padat. Penghuninya mayoritas dari Toraja, Pangkep, Malino, Enrekang, Palopo, Polmas, dan Flores.

Sekitar tahun 1996-an, di atas tanah itu sudah berdiri sebuah rumah panggung tanpa cat. Dindingnya berbahan dasar papan kayu dan beratap seng. Sebelum membangun, mereka harus menimbun tanah itu sedalam dua meter untuk menghindari banjir. Tapi langkah itu ternyata tidak dapat menghindarkan mereka dari banjir besar yang melanda Makassar tahun 1999. Saat itu rumah mereka terendam air setinggi dua meter, yang mengharuskannya mengungsi ke masjid terdekat.

“Dulu itu ada mi Tim SAR kalau masuk mi musim penghujan. Kalau mau mengungsi tinggal lambaikan tangan, baru dijemput meki pakai perahu,” tutur ibu tiga anak ini.

Jika banjirnya tidak sampai ke atas rumah, mereka lebih memilih menetap di dalam rumah saja. Sebelum musim penghujan tiba, mereka sudah mengetahui perihal datangnya cuaca buruk. Seminggu sebelum itu, Ibu Nuraeni sudah pergi berbelanja sembako untuk keperluan dapur di pasar. Sebab jika tidak begitu, ia harus menggunakan perahu untuk ke pasar apabila musim hujan tiba.

Menurutnya, pernah ada sebuah tradisi yang menarik di Jalan Toa Daeng 3. Kebiasaan tersebut dilakukan setahun sekali setiap malam malam Jumat. Saat musim penghujan tiba, warga berbondong-bondong ke sebuah rumah kayu tanpa kursi di daerah Toa Daeng 3. Menurutnya itu adalah Toa Daengnya wilayah itu. Warga ke sana membawa pisang dan lilin, dengan harapan rumah mereka mendapat perlindungan. Konon, dulunya jika musim penghujan datang, angin begitu kencang, yang merusak beberapa rumah karena terpaan angin. Tapi tradisi itu perlahan mulai ditinggalkan oleh warga sekitar, karena kondisi dulu dan sekarang sudah berbeda.

Hanya ada tiga rumah waktu itu di kawasan Jalan Toa Daeng 3. Ketiganya pun rumah yang berbahan dasar kayu. Rumah tersebut milik Pak H. Edi, mendiang Pak Kato dan istrinya H. Mase, dan rumah Pak Karim. Ketiganya sangat berjarak. Tahun 2000-an, rumah Ibu Nuraeni mulai dikepung oleh Perumahan Swadaya Mas 2. Akses dan fasilitas jalan mulai terbangun seiring terbangunnya perumahan tersebut.

Sekarang rumah panggung milik keluarga Pak Karim masih berdiri kokoh. Di bagian belakangnya sudah bangunan batu. Menurut Ibu Nuraeni, ia pernah mendapatkan bantuan sebesar 10 juta dari Kementerian Perumahan Rakyat. Rumahnya termasuk satu dari 50 rumah yang mendapat usulan bantuan dari Kelurahan Batua.

“Dulu kita dikasih pinjaman sekitar 10 juta, 5 juta itu hibah dan 5 jutanya harus dikembalikan ke kelurahan. Ceritanya kayaknya dikasimodal untuk bangun rumah tapi harus dikembalikan setengahnya.” Dengan uang itulah, mereka memperluas rumah mereka di bagian belakang, sementara rumah kayu bagian depan ditempati oleh keluarga yang sedang berkuliah di Makassar. Pak Karim mengakui bantuan 10 juta tidak cukup untuk membangun rumah. Ia sempat memasukkan sertifikat tanahnya di bank sebagai jaminan karena ia kekurangan uang saat membangun rumahnya.

“Awalnya saya tidak mau ambil itu bantuan, karena saya pikir tidak akan cukup. Tapi ada semacam petunjuk dari Allah yang kasi kuat saya punya hati untuk ambil itu bantuan. Dan akhirnya terbangun mi ini rumah dengan menghabiskan dana berkisar 35 juta,” tukasnya, sambil memperlihatkan kartu pembayaran Kemenpera yang harus dibayarnya tiap bulan.

Tahun 2016, mereka kembali mendapat bantuan papan dari kelurahan. Karena berdasarkan survei yang dilakukan oleh Pak RW setempat, papan yang merupakan lantai rumah panggung mereka baiknya diganti dengan papan yang baru. Pak Karim sekeluarga tidak mau melewatkan kesempatan ini dan langsung menyetujui usulan Pak RW.

Sore itu, di rumah batunya tampak setumpuk kain gorden abu-abu. Ibu Nuraeni bekerja sebagai tukang jahit sepulang dari sekolah. Ia menerima jahitan gorden dan permak baju. Di depan mesin jahit tuanya, dengan lincah Ibu Nuraeni menunjukkan tiga baju pramuka hasil jahitannya. Tidak hanya itu, sejak April 2016, Pak Karim dan Ibu Nuraeni memulai usaha bunga hiasnya. Bahan dasarnya dari botol plastik bekas yang biasa dipungut oleh Pak Karim. Dengan berbekal pengajaran kreativitas dari kelurahan waktu itu, mereka secara mandiri bisa mengolah bisnis ini. Satu pot bunga seharga Rp 25 ribu biasanya laku di kalangan keluarga mereka. Tak jarang banyak yang minta untuk diajari. Menurut Pak Karim, kalau ada yang mau diajar, mereka pasti ajar. Di samping rumah kayu miliknya, terdapat deretan bunga beserta potnya yang sudah siap jual.

 

DI SEPETAK lahan kosong, yang disebut-sebut lahan sengketa, tepat di belakang lorong rumah Ibu Nuraeni, berdiri sebuah tempat berkumpulnya para remaja sekitar. Mereka menyebutnya Sanggar Seni Muara. Anak Sulung Ibu Nuraeni juga termasuk salah satu anggota dari sanggar seni ini. Berdiri sejak tiga tahun yang lalu, sanggar ini sudah memiliki 26 orang anggota. Mereka tidak berasal dari Jalan Toa Daeng 3 saja. Ada beberapa anggota yang tinggal di luar, seperti Aini yang tinggal di Jalan Satando, dekat pelabuhan. Namun yang mendominasi adalah remaja Jalan Toa Daeng 3.

Rusdi yang berprofesi sebagai karyawan swasta merupakan pendiri dari sanggar seni ini. Ia mengaku awalnya ini bukan sanggar, melainkan kelompok musik. Seiring dengan berjalannya waktu, ia mulai memasuki ranah seni tradisional seperti tari. Menurutnya, ia membentuk Sanggar Seni Muara sebagai bentuk rasa risih sama zaman sekarang, selalu mengukur kreativitas dari uang. Selalu membatasi ruang kreativitas remaja dengan materi. Ia berusaha untuk menepis itu lewat sanggar ini. Mengawali dari diri sendiri. Yang kita tahu remaja rentan sekali terpengaruh, ia merasa terpanggil untuk bertindak meskipun tindakannya sekecil ini.

Sanggar Seni Muara sudah memiliki beberapa inventaris seperti drum elektrik, bass, gitar, miceffectsound. Barang tersebut dibeli dari hasil patungan uang pribadi dan juga hasil pendarian dana kreatif yang dilakukan oleh anggota.

“Yang namanya barang pasti rusak. Kontribusi sangat penting untuk menjalankan sebuah kegiatan. Iuran Rp 5.000 per minggu. Ini termasuk biaya listrik dan kerusakan barang,” terang Rusdi.

Tiga tahun menakhodai Sanggar Seni Muara, Rusdi lebih fokus ke musikalitas remaja yang tergabung dalam sanggar ini. Musikalitas yang dimaksud merupakan modal untuk memainkan alat musik. Muara Band sudah memiliki jam terbang tinggi. Meskipun mereka cenderung menutupi eksistensi mereka.

“Saya mencoba untuk mengubah pola pikir mereka lewat seni. Tidak ada pengajar di sanggar ini. kami berusaha untuk sama-sama belajar, saya juga belajar lewat kegiatan ini.”[]

:: Nurasiyah, mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Negeri Makassar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *