Foto oleh Tim Dokumentasi Makassar Biennale
Pendidikan Seni yang Kehilangan Konteks dan Hal Lainnya
November 22, 2017
Foto Tim Dokumentasi Makassar Biennale 2017
Nirwan Arsuka: MB 2017 Upaya Galakkan Seni Maritim
Desember 1, 2017

Corak Reklamasi di Makassar Biennale

Foto oleh Tim Dokumentasi Makassar Biennale 2017

Pada tahun 2011, Faisal Syarif sedang membuat karya, ketika menjelang fajar tiba, ia telah selesai membuatnya. Tetapi ia merasa bahwa ada yang kurang dari karyanya. Tiba-tiba matahari terbit, cahayanya menerpa karyanya dan persis seperti apa yang ada di dalam pikirannya. Cahaya dari matahari pagi yang terbit menjadi penyempurna: alam memberikan sentuhan pada karyanya. Sebuah kompleksitas hubungan antara manusia dan alam pada sebuah karya.

Faisal Syarif adalah salah satu seniman yang terlibat dalam perhelatan pameran seni rupa Makassar Biennale 2017. Karya yang ia bawa adalah karya mural yang mengangkat tema reklaim. Karyanya merespon realita kehidupan masyarakat Lae-Lae.Meminjam pengalaman batin Hera (26 Tahun), Faisal mencoba membuat mural dari rasa gelisah dan pasrah karena Hera merasa tidak mampu berbuat apa-apa lagi. Proyek itu membuat Hera melalui intuisinya memperkirakan bahwa cepat atau lambat mereka akan berhenti beraktivitas di sana karena reklamasi seluas areal 95 hektare[1] itu mengancam keberadaan mereka di Pulau Lae-Lae.

Foto oleh Tim Dokumentasi Makassar Biennale 2017

Foto oleh Tim Dokumentasi Makassar Biennale 2017

Faisal melihat perkembangan reklamasi yang begitu cepat di Makassar dibanding dua daerah lain, Bali dan Jakarta. Ia menggagas konsep ini karena ada hal penting yang mengusik kegelisahannya, melihat perkembangan reklamasi, yang menurut pemangku kebijakan, reklamasi adalah pembangunan peradaban. Menurut Faisal, peradaban tidak harus mengakuisisi ruang orang lain. Apalagi dengan alasan kebutuhan masyarakat kota akan ruang publik, tetapi ini terlalu subjektif. Kita, sebagai masyarakat kota pun tidak boleh mengklaim ruang-ruang yang sudah dihuni manusia dan mahluk lain.

Menurut Gubernur Sulawesi Selatan, Syahrul Yasin Limpo, CPI diperuntukkan bagi masyarakat karena ada tempat rekreasi, jogging track, dan lain-lain. Sehingga diharapkan keberadaan CPI sekaligus menambah panjang Pantai Losari dari 800 meter menjadi 5 kilometer. “Kami mau rakyat bisa menikmati Pantai Losari, ini cita-cita kami. Semoga bisa tercapai,” ucapnya.[2]

Hampir seluruh warga di Pulau Lae-lae hidup sebagai nelayan; nelayan pencari ikan dan pencari ambaring. Nelayan ambaring adalah nelayan yang menangkap ikan kecil yang digunakan sebagai bahan baku terasi selain sebagai lauk. Lokasi tangkap ambaring adalah disepanjang pesisir/ tepi pantai kelurahan Mariso, tepat di depan anjungan Losari dan kelurahan Ujung Pandang. Sepuluh tahun, nelayan pencari ambaring mampu mendapatkan hingga 10 kerjang ambaring dalam sekali tangkap. Sejak terjadi penimbunan CPI, nelayan hanya mampu mendapatkan 2-3 kerjang ambaring. Ambaring tidak dapat lagi ditemukan di pesisir pantai. Penimbunan mengakibatkan hilangnya ambaring dari habitatnya.[3]

Reklamasi bagi saya adalah sebuah monumen—di pikiran ataupun material—kekalahan kemanusian, budaya, dan sejarah, dari hasrat semu yang kapitalistik. Di mana hasrat itu dimanipulasi menjadi kesejahteraan, yang anehnya, kesejahteraan itu hanya menurut dan diklaim oleh orang-orang tertentu saja dan mengatasnamakan seluruh masyarakat.

Reklaim, tema yang dipilih oleh Faisal, menurut saya adalah sebuah gejolak dari diri yang ingin dibebaskan dan tidak dibatasi oleh pakem-pakem atau tuntutan eksternal di luar dirinya. Seperti kenyamanan yang ia temukan dalam membuat garis-garis bebas tanpa harus membatasi diri dengan bentuk-bentuk yang sudah ada. Garis-garis yang ia buat adalah upaya membebaskan diri dari pakem-pakem itu, karena menurutnya, itulah esensi kesenian. Pakem-pakem yang ia maksud membuatnya merasa terindimidasi karena harus berusaha untuk kompromi. Kemudian garis-garis yang ia buat selalu mengingatkan dia untuk tidak terkekang lagi, sekaligus media untuk menerima kenyataan bahwa inilah kehidupan.

Dari perjalanan keseniannya, yang ia rindukan adalah kebebasan. Ia melihat bahwa kesenian adalah ruang-ruang dengan prinsip kebebasan, di mana, ruang yang lainnya mengharuskan ia untuk bernegoisasi dengan orang lain. Ia mengaku, ketika ia berkarya ia tidak mau lagi dibatasi oleh apapun itu: konsep klien, media, atau aturan-aturan estetika.

Secara gagasan, ia hanya menangkap peristiwa-peristiwa yang terjadi, secara pribadi, sosial, atau tema-tema yang menarik lainnya. Namun setahun terakhir, ia membebaskan diri dengan gagasan-gagasan, kemudian berkarya dengan imajinasinya saja. Dalam pengembaraan visual-imajinya, ia menikmati setiap kejutan-kejutan yang ada. Sebelumnya, ia banyak membuat karya-karya yang memuat isu-isu sosial, atau peristiwa, dengan daya ungkap parodi dan teknik-teknik yang realis. Selain merespon isu reklamasi, karyanya juga menjadi sebuah reklaim di mana proses perjalanan berkaryanya membuatnya menemukan jiwanya kembali: merdeka dalam berkesenian.

“Pada saat ia berkarya, yang terjadi adalah kebebasan dulu, mengalir saja, konsep di kebelakangkan. Ada objek-objek yang sengaja saya samarkan, biar pengunjung mengalami dialog dengan dinding yang saya respon. Dalam pemilihan warna, saya mengandalkan intuisi dan perasaan saja. Sehingga ada beberapa objek yang terbentuk dari feelingnya saja,” kata Faisal.

Foto oleh Tim Dokumentasi Makassar Biennale 2017

Foto oleh Tim Dokumentasi Makassar Biennale 2017

Karya-karya sebelumnya lebih banyak mengungkapkan tentang perasaan, kegelisahan, atau peristiwa yang dekat dengan manusia. Dalam waktu senggang, atau di sela aktivitasnya, ia senang melakukan kegiatan orat-oret. Dan ternyata ketika flashback, sewaktu melakukan kegiatan menggambar di taman kanak-kanak, ada garis-garis yang dibaca oleh tim penilai bahwa ia membuat karyanya dengan ekspresif: garis-garis bebas. Sehingga bisa dikatakan, ia tumbuh dengan kegiatan corat-coret sebagai aktivitas kesenian yang awalnya tidak disadari hingga menekuninya.

Aktivitas menggambar dia lakukan sejak tahun 2010, karena pada awalnya ia hanya kebiasaan saja, bukan tujuan, ia tidak punya orientasi apapun selain mencoret saja.

“Waktu itu ada seniman dari Jakarta yang menghadiahi saya semacam sketchbook, dan itu memotivasi saya untuk terus menggambar. Dia bilang, ‘silakan kamu nyeket apapun itu’, dia mendukung saya dengan material itu,” kenang Faisal Syarif.

Pada tahun 2015, istrinya memberikan sebuah hadiah tablet yang menunjang aktivitas mencorat-coretnya tanpa menggunakan media kertas lagi. Lalu pada saat ada proyek-proyek, ia mencoba mengaplikasikan antara commision dengan pengalaman. Walaupun dengan commision work yang pada saat itu sangat sulit untuk menaklukkan klien, untuk memasukkan dirinya sendiri ke dalam karya, ia berhasil mengerjakan itu sesuai kehendaknya. Pertama kali ia masuk ke ruang publik yang menurutnya sifatnya seperti itu adalah di Mall Ratu Indah, pada tahun 2015. Ia menantang pihak manajemen dengan meminta untuk membebaskan dirinya berekspresi dalam karyanya, dan tidak dibatasi. Akhirnya itu terus berlanjut hingga kini.

Dalam pameran Makassar Biennale, ketika ia datang ke pameran, ia selalu menemukan orang-orang yang selfie di depan karyanya. Menaggapi fenomena selfie di depan karya, ia mengatakan bahwa itu sebenarnya adalah bagian dari konsep yang tidak direncanakan. Ketika ia membuat mural dan lampu sorot dinyalakan, ia merasa bahwa ini akan menarik karena ia secara pribadi ingin mengetahui kalau karyanya menarik perhatian atau tidak; menyelami lebih dalam isu yang diangkat, atau dia hanya menarik secara visual saja: dijadikan backround selfie. Namun di sosial media Instagram, ia melihat karyanya mulai dimasuki secara dalam oleh beberapa orang, reportase mereka mulai muncul, dan itu yang diharapkan pameran.

Isu maritim menurutnya adalah tema yang membuat Makassar Biennali menjadi menarik, karena kembali ke akar sejarah dan budaya yang sebelumnya, kemudian mencari benang merah dalam melihat maritim antara yang dulu dan sekarang. Kakeknya sering menceritakan tentang pengalaman keluarganya yang menjadi pelaut dan pedagang. Bahkan ayahnya adalah seorang juru pandu pemancing karena mengetahui karakter ikan, membaca alam, dan waktu-waktu untuk memancing, sebelum muncul teknologi satelit. Faisal sendiri mengaku bahwa kehidupan laut tidak asing baginya, karena ayahnya sering mengajaknya ke laut, berinteraksi dengan nelayan, dan penjual ikan.

Tema maritim dan reklamasi yang sedang mengancam Makassar, membuat karya dari Faisal Syarif ini menjadi sangat menarik, apalagi dengan judul karya yang ia tawarkan: REKLAIM. Menarik karena kita bisa menyelami karyanya, kemudian mendalami isu reklamasi sekali lagi, bahkan jika kau tidak tahu berenang.

Saya pernah menyaksikan karyanya ketika hujan turun dengan deras pada sore hari. Cipratan airhujan, saya bayangkan masuk ke dalam objek yang berbentuk kendi—walau samar—yang berjejer sebanyak tiga belas susun. Dengan kilatan petir sesekali, saya berandai-andai, bagaimana jika kendi itu pecah, di mana air akan tersimpan? []

:: Fauzan Al Ayyuby, belajar dan bekerja di Tanahindie.

[1] Amri Nur Rahmat dalam Kalimantan.Bisnis.com, http://kalimantan.bisnis.com/read/20170519/436/655165/reklamasi-pantai-losari-makassar-95-hektare-siap-konstruksi, diakses pada 25 November, pukul 16.15 Wita.

[2] Didit Hariadi dalam Tempo.co, https://nasional.tempo.co/read/880749/kasus-izin-reklamasi-makassar-diusut-proyek-cpi-jalan-terus, diakses pada 25 November, pukul 16.29 Wita.

[3] LBH Makassar, http://lbhmakassar.org/liputan-kegiatan/reklamasi-cpi-penelusuran-fakta-di-pulau-lae-lae-hilangnya-sumber-penghidupan-nelayan/, diakses pada 25 November, pukul 16.37 Wita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *