Cerita Perjuangan Difabel dari Puncak Latimojong (2)
Desember 28, 2016
Kisah Seorang Supir Trayek Makassar – Toraja
Desember 30, 2016

Cerita Perjuangan Difabel dari Puncak Latimojong (3)

TAK DAPAT dimungkiri, orang-orang pertama yang melakukan trekking di Gunung Latimojong sehingga saat ini ada jalur pendakian dari pos nol sampai puncak bagi para pendaki atau pejalan dibuat oleh orang-orang “normal” tadi. Dakian demi dakian dalam jalur tersebut hanya dibuat bagi yang berkaki dan bermata awas, tanpa memedulikan bahwa hak mendaki atau berjalan menikmati panorama pengunungan adalah juga menjadi hak bagi orang yang berjalan dengan kruk, kursi roda, orang buta, orang kecil dan seterusnya. Jalur semacam itu adalah contoh desain orang normal dan ada banyak contoh desain yang dibuat dengan menafikan keberagaman manusia. Mulai dari desain rumah, permukiman dan perumahan, jalur transporasi dan perhubungan, gedung sekolah, perpustakaan, café, kantor perusahaan, pabrik-pabrik, hotel, Tempat Pemungutan Suara, Posyandu, balai desa, dan seterusnya.

Berbeda dengan Eko dan Risma, Rahman yang kemampuan melihatnya sangat terbatas menemui lebih banyak kesulitan melewati jalur di sepanjang pendakian. Aktivitas pendakian di gunung jelas medan jalannya tak beraturan. Di sepanjang hidupnya sebagai difabel netra, belum pernah sekalipun ia mempelajari teknik Orientasi dan Mobilitas (OM) berkarakter gunung. Biasanya ia hanya mempelajari lingkungan rumah atau bangunan pada umumnya. Ini pertama kalinya ia berjalan di gunung. Itulah pula yang membuat para pendamping Rahman menggunakan beragam alat bantu untuk membantunya berjalan/mendaki dengan mudah. Mulai dari trekking pole, tongkat yang digenggam bersama dirinya dan pendamping, memakaikan harness dan menariknya dengan tali prusik, helm dan beragam jenis instruksi untuk menjelaskan bentuk medan yang dilaluinya.

“Teman-teman pendamping kalau memberi instruksi misalnya turunan, kiri jurang, tidak langsung serta merta saya akan merasa nyaman untuk menurun,” ujar Rahman menceritakan pengalamannya.

“Saya mesti mengaitkan sejumlah informasi misalnya kemiringan turunannya bagaimana, Tekstur permukaan tanahnya bagaimana, Sedekat apa jurang di sisi kiri saya.” Lanjutnya Rahman.

“Itulah yang membuat langkah saya menjadi begitu lambat dan setiap langkah saya harus berusaha menvisualkan instruksi pendamping,” katanya tersenyum menyadari kelambanannya.

Eko, Risma, dan Rahman di Puncak Rante Mario, Latimojong. (Dokumentasi Tim)

Dari beberapa cerita pendamping Rahman, upaya menemukan pola komunikasi antara pendamping dan atlet adalah penting.

“Kalau sudah saling sepakat soal pola komunikasinya, maka informasi untuk Rahman bisa lebih efektif disampaikan oleh pedamping,” ujar Caling yang memutuskan turut mendampingi Rahman saat itu. Jika pola komunikasi keliru atau terlambat sedikit saja info diberikan maka bisa berakibat fatal, misalnya Rahman dapat terjatuh akibat salah memijakkan kaki atau menabrak pohon tepat dihadapannya.Tentu saja ia beberapakali tergelincir dan terjatuh. Misalnya saat wajahnya menabrak tubuh pohon, instruksi baru muncul, “Awas pohon!”

Apa pi, kutabrak mi!” kata Rahman terbahak-bahak.

 

Mencapai Puncak Bukan Tujuan Utama

PENDAKIAN OLEH DIFABEL di Gunung Latimojong ini bukan ingin menunjukkan bahwa difabel bisa melalui jalur-jalur pendakian “normal”. Bukan itu yang ingin kami tunjukkan. Eko dan Risma sebagai pendaki difabel memang bisa menunjukkan bahwa keduanya tidak mengalami banyak hambatan jalur pendakian bagi orang-orang bertubuh lengkap. Jika keduanya bisa melewatinya apakah lantas mereka jadi lebih hebat dari pendaki pada umumnya?

Bisa jadi, ya! Tetapi bukan pencapaian seperti itu yang hendak tim ekspedisi ingin raih. Jelas pencapaian Eko, Rahman dan Risma menunjukkan bahwa mereka pun bisa melewati desain ‘kenormalan’. Melewati dakian demi dakian dengan menggunakan webbing, harness, dan ascender sebagaimana yang lain. Tetapi peralatan pendakian itu sendiri juga perlu dibuat akses bagi difabel. Pertanyaannya, apakah alat-alat pendakian itu akses bagi difabel kinetik bertangan satu? Difabel penglihatan yang buta total? difabel kinetik berkursi roda? dan seterusnya. Di sinilah letak perjuangan ekspedisi sesungguhnya. Ekspedisi memiliki makna ‘perjalanan mengeksplorasi dengan sebuah tujuan’. Tujuannya adalah membuat aktivitas petualangan memungkinkan dilakukan difabel dan aktivitas outdoor di arena apa pun lebih aksesibel daripada saat ini.

Aksesibilitas juga seharusnya dilihat dalam skala lebih luas, bukan sekadar akses dari aspek fisik, misalnya untuk aktivitas outdoor bagi difabel, di mana kita seharusnya dapat mendesain jalur-jalur plus peralatan dan perlengkapannya yang akses difabel. Bahkan lebih dari itu, aktivitas ini juga harus akses non-fisik yang meliputi akses secara intelektual maupun akses secara sosial.

 

Akses intelektual meliputi ketersediaan informasi aktivitas outdoor yang memungkinkan bagi beragam karakter pengguna (beragam difabel) mengetahuinya; baik media secara visual, audio, dan audio-visual. Sedangkan akses sosial adalah berkurangnya stigma negatif bagi difabel sehingga orang-orang baik dari kalangan keluarga, kerabat maupun masyarakat dan pemerintah pada umumnya memberi ruang bagi difabel untuk mengisi peran-peran tertentu di tengah masyarakat. Di sisi lain, difabel yang selama ini masih ragu dengan identitas kedifabelannya harus bisa keluar dari keterkungkungannya selama ini sebagai ‘orang tidak mampu’ dan ‘tersingkir’.

Untuk hal ini perlu strategi di mana orang-orang seperti Eko, Rahman, dan Risma dan aktivis difabel lainnya yang telah menerima identitasnya sebagai difabel yang mampu—dan memiliki aset serta talenta untuk berbuat yang lebih baik bagi banyak orang—menjadi ‘kawan-setara’ yang bisa menjadi teman berdiskusi dan membangun kekuatan bersama. ‘Nothing about us without us’ merupakan prinsip gerakan difabel internasional harus dipakai oleh sang aktivis difabel.

Dalam konteks gerakan difabel di Indonesia, perjuangan ini adalah upaya menuju ‘budaya inklusi’ di tengah masyarakat. Inklusi memiliki makna pelibatan setiap orang tanpa ada sekat-sekat perbedaan, baik perbedaan berdasar bentuk dan kondisi tubuh, orientasi seksual, keyakinan agama dan ideologi, etnisitas, dll. Penyingkiran difabel dalam proses pembangunan oleh negara maupun masyarakat selama ini dikarenakan adanya ‘politik pemisahan’ atau yang disebut dalam dunia pendidikan sebagai sistem pendidikan segregasi. Siswa difabel bersekolah di Sekolah Luar Biasa (SLB), warga difabel berorganisasi berdasarkan kondisi dan disfungsi tubuhnya (PPDI, Pertuni, Gerkatin, HWDI), mahasiswa difabel mengambil jurusan Pendidikan Luar Biasa (PLB), dan seterusnya.

Setelah menyadari bahwa sistem pemisahan dapat semakin meminggirkan peran difabel, maka dicobalah sistem pendidikan integrasi. Sistem ini memungkinkan difabel sekolah di sekolah umum namun tetap harus beradaptasi dengan segala model dan desain berbasis ‘kenormalan’. Akibatnya, difabel harus berjuang lebih keras dibandingkan siswa atau mahasiswa lainnya. Untuk itu, saat ini mulai dikembangkan sistem pendidikan inklusi, dengan fokus pendekatannya bukan lagi kepada siswa tetapi pada sistem pendidikan, manajemen sekolah, dan para guru serta orang tua siswa. Sistem menyesuaikan dengan segala ragam kebutuhan siswa.

Konsep ‘inklusi’ dalam ekspedisi ini yang sesungguhnya menjadi nafas dan cita-cita tim. Yakni mempelajari desain jalur pendakian, desain manajemen pendakian, etika pendakian, dan lain-lain yang bisa menciptakan kesetaraan dalam upaya menikmati panorama alam dan olah raga gunung. Bukan sekadar menguji diri untuk mencoba desain-desain sosial yang sudah terlanjur dibangun oleh mereka yang tidak berperspektif difabilitas.

Alasan utama Ekspedisi Difabel ini adalah mengampanyekan anti-diskriminasi kepada difabel, membangun kepercayaan diri difabel untuk tampil keluar, dan memikirkan cara-cara seperti apa agar aktivitas outdoor semacam ini dapat di[re]desain agar akses bagi siapapun, baik orang lanjut usia, ibu-ibu yang sedang hamil besar sampai kepada difabel yang menggunakan kursi roda, kaki palsu, tongkat orang buta, orang kecil (the little people), dan seterusnya.

Jadi, setelah menapak puncak Rante Mario, tim ekspedisi jangan “mario” dulu. Jangan bergembira dulu. Jalan perjuangan menuju kesetaraan bagi difabel dalam aktivitas outdoors masih panjang, terjal dan berliku. Tetap jaga semangat, kawan-kawan![]

:: Ishak Salim, anggota Tim “Ekspedisi Difabel Menembus Batas”.

Cerita Perjuangan Difabel dari Puncak Latimojong (2)

Cerita Perjuangan Difabel dari Puncak Latimojong (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *