Bom Benang 2016, Seni Merajut Komunitas
Desember 26, 2016
Cerita Perjuangan Difabel dari Puncak Latimojong (2)
Desember 28, 2016

Cerita Perjuangan Difabel dari Puncak Latimojong (1)

PADA 3 DESEMBER 2016, tiga pendaki difabel, Eko Peruge, Abdul Rahman, dan Risma Irmawati bersama 25 pendaki lain dari berbagai kelompok pencinta alam berhasil mencapai puncak Rante Mario, Gunung Latimojong, dengan ketinggian 3478 mdpl.

Menurut kebanyakan warga Dusun Karangan, ketiganya adalah pendaki difabel pertama yang mendaki di gunung tertinggi kelima di Indonesia itu. Gunung Latimojong juga dikenal sebagai “atap Sulawesi” karena tertinggi di Pulau Sulawesi.

Eko mendaki dengan kruk dikarenakan kaki kanannya diamputasi saat remaja. Rahman mendaki dengan pendamping dikarenakan kedua matanya mengalami penurunan fungsi penglihatan sejak umur 12 tahun dan kini mengalami low vision kategori berat. Sementara, Risma sejak lahir memiliki perbedaan jumlah jemari di kedua tangannya, sehingga memiliki perbedaan dalam menggenggam benda. Eko dan Rahman menggagas “Ekspedisi Difabel Menembus Batas” dan memulai ekspedisi pertama di Gunung Latimojong dari tujuh puncak yang direncanakan.

Sebagai anggota tim ekspedisi, saya berupaya menuliskan pengalaman itu dan merefleksikan capaian ekspedisi ini.

Eko melewati tanjakan dengan bantuan webbing. (Dokumentasi Tim)

SUDAH SEKITAR SATU jam para pendaki berjalan menyisir perbukitan menuju dusun Karangan, Desa Latimojong. Di sisi kiri mereka, hamparan pepohonan kopi terjajar rapi. Biji-biji kopi di pucuk-pucuk ranting di pohon-pohon itu masih muda, menghijau dan mengilap. Sesekali para pendaki juga melintasi mata air yang mengalir dengan liukan alami. Di bulan November ini, biji-biji kopi baru tumbuh. Empat bulan sebelumnya petani-petani memanen kopi mereka dan menjualnya di Pasar Baraka.

“Ke kiri sedikit, jalan becek,” ujar Yayat yang berjalan paling depan, menginformasikan kepada Rahman yang berjalan dengan trekking pole (tongkat mendaki) di belakangnya.

“Agak ke kanan, ada jurang, … menunduk sedikit,” Pendamping lain, Zainal dari Makassar Rescue memberitahu Rahman dari belakang.

“Berhenti dulu, haus ka!” ujar Rahman tampak kelelahan.

Kerongkongannya mengering dan peluh bercucuran di wajah dan punggungnya. Sejak tadi, suara serangga alam yang mendesis dan mengerik menghiburnya dalam perjalanan ini. Tapi gemercik air tiba-tiba menggetarkan gendang telinganya. Ia membayangkan jernihnya air itu dan ingin merasakan segarnya teguk demi teguk di mulut dan tenggorokannya.

Teman-temannya pun berhenti dan seseorang mengeluarkan botol plastik yang sudah tandas. Yayat memandu tangan Rahman menyentuh air yang memancar dari batang bambu yang terbelah.

Jalur pendaki yang saat ini mereka jalani adalah jalur pekebun kopi. Biasanya, dari Pasar Baraka, para pendaki akan langsung menuju Dusun Karangan sebagai pos nol sebelum mendaki. Ada truk berukuran sedang atau hardtop yang bisa mengangkut para pendaki, khususnya di hari pasar, Senin dan Kamis. Tetapi saat ini, beberapa ruas jalan kendaraan sedang dibeton. Mobil truk hanya bisa merapat di Dusun Angin-Angin dan selanjutnya mereka harus berjalan sekitar 2 jam atau mengojek.

Rahman adalah ketua Persatuan Tuna Netra Seluruh Indonesia Kota Makassar. Selain itu, bersama kawan-kawan pendaki saat ini, ia adalah direktur Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan atau PERDIK. Ia, Eko Peruge, dan sejumlah aktivis PERDIK sedang memperjuangkan pengurangan stigma negatif terhadap difabel.

Stigma merupakan cap atau label yang disematkan oleh orang-orang berpengetahuan dan berkuasa. Mereka bisa berasal dari anggota keluarga difabel sampai para akademisi kampus atau penentu kebijakan publik. Mereka mampu memproduksi aneka label dengan bermacam alasan. Label itu kemudian disebarluaskan ke seluruh ruang di mana memungkinkan orang-orang meraup pengetahuan dan keuntungan tertentu. Jika label itu diakui benar, maka segeralah label itu dipakai terus menerus di dalam berbagai sektor kehidupan, termasuk di dalam proyek-proyek pembangunan. Tak peduli apakah orang yang dilabeli menerima label atau tidak, bukan hal penting. Sayangnya, penolakan label-label, yang menurut difabel merugikan mereka, ternyata tidak serta merta mudah dihilangkan. Label itu melekat, diakui, dan disebarluaskan sebagai sebuah identitas baru.

Cacat, penyandang cacat, penyandang disabilitas, anak berkebutuhan khusus, penyandang masalah kesejahteraan sosial, penderita cacat, tidak sehat jasmani, keterbelakangan mental adalah contoh label yang diproduksi negara melalui institusi kesehatan dan kampus. Sementara to kandala, to picco’, to kasiasi, to pepe, dan lain-lain adalah label lain yang diproduksi oleh anggota-anggota masyarakat tertentu di Sulawesi Selatan. Label itu kemudian bersentuhan dengan berbagai dinamika sosial di mana difabel hidup dan menjelma menjadi stigma yang meminggirkan, mengabaikan, bahkan memiskinkan para difabel.

Apakah kata atau istilah ‘difabel’ juga adalah sebuah label? Ya, tetapi label ini dan pelabelan istilah tersebut kepada orang-orang tertentu adalah label yang diciptakan sendiri oleh aktivis difabel. Label ini kemudian dipakai dan diejawantahkan dalam kehidupan sehari-hari mereka dan membentuk suatu identitas spesifik yang tidak mendiskreditkan difabel tetapi justru menempatkan diri mereka lebih sebagai aset ketimbang beban bagi masyarakat maupun negara.

Bandingkan misalnya, difabel adalah akronim dari differently-able yang telah diindonesiakan yang berarti ‘beda kemampuan’. Sementara disabilitas adalah pengindonesiaan dari disability, yang terdiri dari dua suku kata dis-able/ability atau ‘tidak mampu’.

 

Gagasan di Balik Ekspedisi

Awalnya, gagasan pendakian Gunung Latimojong ini disuarakan oleh Eko sekitar 6 bulan yang lalu. Ia seorang yang memiliki beragam talenta. Umurnya muda dan semangatnya masih membara. Ia mengimpikan sebuah kelompok backpacker disabilitas kelak dan sejumlah mimpi lain untuk membantu difabel.

Ia menceritakan bahwa ia pernah bertemu dengan seorang pendaki difabel asal Solo, bernama Sabar Gorky. Sama dengan dirinya, Sabar juga pernah diamputasi satu kakinya. Tetapi Sabar seorang pendaki dan pekerja keras. Saat ini Sabar sudah mendaki 4 Gunung tertinggi dunia seperti Gunung Kilimanjaro 5.892 mdpl (Tanzania, Afrika), Gunung Aconcagua 6.600 mdpl (Argentina), Gunung Elbrus 5.642 mdpl (Rusia), dan puncak Cartenz 4.884 mdpl (Papua, Indonesia). Ia masih menginginkan menapaki puncak-puncak yang lain (sumber, akun Facebook Sabar Gorky).

Eko di Puncak Rante Mario. (Dokumentasi Tim)

Bagi Eko, pertemuan dengan Sabar adalah pertemuan yang memengaruhi dirinya untuk setidaknya bisa mengikuti jejak pendakian Sabar. Ia pun turut berlatih memanjat bersama Sabar saat ia berada di Solo beberapa bulan lamanya untuk melatih diri dengan sejumlah keterampilan hidup.

Pendakian gunung Latimojong yang saat ini dilakoninya dengan Rahman dan Risma (Pengurus Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia Kab. Maros) serta 25 pendaki lain dari berbagai kelompok pencinta alam dan tim media adalah gunung pertama yang didaki dalam ekspedisi ini. Mereka menyebutnya sebagai Ekspedisi Difabel Menembus Batas.

Namanya pada awalnya adalah ‘Difabel menembus batas dalam keterbatasan’. Tetapi kemudian setelah mendiskusikan bersama, kata dalam keterbatasan dihilangkan. Mengapa? Karena sesungguhnya ‘keterbatasan’ ada pada setiap orang, siapapun itu, dan keterbatasan juga bisa bertambah karena ketidaksiapan alat bantu dan desain sosial (khususnya infrastruktur publik) di luar diri seseorang.

“Jika kata ‘dalam keterbatasan’ disematkan karena ini dilakukan difabel, maka ini memperpanjang stigma atas difabel,” ujar saya saat mendiskusikan nama ekspedisi ini.

“Setiap orang punya keterbatasan, tetapi tidak ada yang tahu di mana garis batas itu berada. Padahal, kita melakukan ekspedisi untuk mengeskplorasi tingkat aksesibilitas mountenering (olahraga mendaki gunung) bagi difabel dan kemudian sekaligus mengampanyekan penghapusan stigma ‘tidak berdaya’ atas difabel,” tambahku menggebu-gebu saat itu.

:: Ishak Salim, anggota Tim “Ekspedisi Difabel Menembus Batas”.

Cerita Perjuangan Difabel dari Puncak Latimojong (3)

Cerita Perjuangan Difabel dari Puncak Latimojong (2)

1 Comment

  1. Irmansyah berkata:

    Salam kelingking kiri.. Di tunggu lanjutan tulisannya..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *