Membaca WS Rendra
November 11, 2016
Yusniar Melawan dengan Kata-kata
November 16, 2016

Cerita dari Lae-lae: Perempuan yang Melahirkan di Kapal dan di Balai Kecil

BU RAHMATIA tampak kesulitan dengan anak yang dia gendong. Balita 3 tahun bernama Nigsih ini menangis. Ketika saya sentuh kepalanya, rasa hangat segera mengalir ke telapak tangan saya.

“Demamki. Satu minggumi ini. Tapi turun-turunmi ini iyya. Masih natunggui bapaknya belikanki obat di sebelah, ada ji resepnya dari Rumah Sakit Hikmah,” kata Bu Rahmatia, ketika saya menanyakan perihal Ningsih. Sebelah yang ia maksudkan adalah di seberang laut, Kota Makassar.

Lain dengan Bu Rosmawati. Wanita yang tengah hamil anak kembar 6 bulan ini tergopoh-gopoh dengan perut besarnya ketika hari itu saya bertemu dengannya di jalan. Di tasnya yang tidak tertutup rapat tampak buku pemeriksaan kehamilan berwarna pink. Ia hendak menyeberang ke rumah sakit di Makassar. Sejak pernah menderita demam berdarah, ia harus rutin memeriksakan diri di rumah sakit di Makassar, bukan di puskesmas setempat seperti kebanyakan ibu hamil lainnya. Saya tak bicara banyak dengannya hari itu. Ia harus cepat sebelum ombak dan angin semakin besar dan kencang. Hari itu hujan baru saja reda dan ombak sedang membesar.

Bu Rahmatia dan Bu Rosmawati adalah warga Pulau Lae-Lae. Mereka adalah dua contoh warga yang berusaha mendapatkan pengobatan dan pelayanan kesehatan di seberang, di Makassar. Pulau Lae-Lae sebenarnya sangat dekat. Pulau seluas 6,5 ha termasuk dalam wilayah Kecamatan Ujung Pandang ini hanya berjarak kurang lebih 1,5 km dengan waktu tempuh kurang dari 10 menit dengan mengunakan perahu atau speedboat. Hanya saja, menyeberang lautan tetaplah menjadi tantangan bagi warga. Biaya menyeberang dan cuaca yang sulit diprediksi terkadang menjadi faktor penyulit.

Menjadi warga di sebuah pulau kadang berisiko seperti ini. Tak ada apotek untuk membeli obat yang lebih lengkap. Tak ada rumah sakit yang terbuka 24 jam. Ada banyak cerita ibu-ibu yang melahirkan di kapal di tengah laut, saat tengah perjalanan menuju rumah sakit di kota.

Beruntung, di Lae-Lae ada seorang dukun terlatih yang bisa membantu persalinan. Dialah Coppong Daeng Kebo, wanita berusia di atas 60 tahun ini menjalani profesi sebagai dukun beranak sejak puluhan tahun yang lalu. Kemampuannya konon menurun dari nenek dan Ibunya. Selain itu, ia mendapat bantuan dari pemerintah atas rekomendasi dari bidan setempat. Ia pernah mendapat pelatihan dari RS Andi Makkasau dan peralatan untuk membantu persalinan.

“Banyak mi di sini yang saya kasih melahirkan. Banyak mi anak dukunku yang sudah kawin. Banyak mi lagi iyya anaknya lagi yang saya bantu lahir,” ujarnya dengan logat Makassar.

Bukan hanya membantu persalinan, Coppong Daeng Kebo juga membantu ibu di masa nifas, semisal mengurut ibu atau bayinya. Bila ada yang akan melahirkan, ia akan dipanggil. Sudah banyak pengalaman membantu persalinan yang dialaminya. Menyusul ke tengah laut di malam hari saat ada yang melahirkan di kapal, pernah juga ada yang melahirkan di rumah-rumah. Rumah-rumah yang dimaksud adalah semacam balai-balai serupa pos ronda yang memang banyak terdapat di Pulau Lae-Lae.

Untuk biaya, beliau tidak pernah menetapkan tarif. “Seadanya saja dan seikhlasnya. Tidak ada juga tidak apa-apa,” katanya.

(Foto: Ruris Haristiani)

(Foto: Ruris Haristiani)

TAK SEMUA warga Lae-Lae yang mengalami masalah kesehatan memilih untuk berobat dengan menyeberang ke kota. Di Pulau Lae-Lae terdapat sebuah Puskesmas pembantu dan tiga buah posyandu di setiap RW. Di pulau ITU ada tiga RW, yaitu RW 1, RW 2 dan RW 3.

Tiwi misalnya, ibu muda yang lahir dan besar di pulau ini manjadi penerima layanan Keluarga Berencana dari puskesmas secara rutin. Begitu pun dengan Nugraha, putra pertamanya yang berusia empat bulan ini secara teratur ditimbang dan diimunisasi di posyandu. Menurut Tiwi, kegiatan posyandu selalu terjadwal di setiap bulannya yaitu di tanggal 20, sehingga ia merasa nyaman membawa anaknya ditimbang dan diimunisasi. Meski begitu, pernah sekali waktu imunisasi HB-0 untuk Nugraha tidak diberikan sebab tidak tersedianya vaksin HB-0. Vaksin HB-0 merupakan bagian dari imunisasi Hepatitis B, diberikan di usia 0-7 hari. Nugraha juga pernah terserang demam, dan ia dibawa berobat ke tempat praktik dokter di kota.

Cerita lain datang dari Pak Patta, yang sewaktu saya temui berencana untuk memeriksakan dirinya ke Puskesmas.

“Sering ka’ poso na ta’roko-roko ka, sakit-sakit juga lutuku jadi mauka ini mapparissa,” katanya sambil mengisap rokok. Poso dan ta’roko-roko adalah bahasa Makassar untuk sesak dan batuk.

Lucunya, meski mengaku kadang sesak dan batuk-batuk ia tetap asyik menikmati rokoknya. Saya jadi iseng untuk bertanya apakah di sini pernah ada penyuluhan kesehatan. “Pernah ji, tapi lama sekali mi. Upa’ kalo satu kali na satu tahun (pernah, tapi sudah lama. Masih untung kalau dalam setahun ada sekali [penyuluhan]),” ungkap kakek ini dengan tersenyum.

Hj. Sunarti, seorang warga Pulau Lae-Lae adalah penanggung jawab kebersihan puskesmas. Setiap hari ia membersihkan dan membuka puskesmas bila bidan dari Makassar yang bertanggung jawab tiba di pulau.

“Senin sampai Jumat na buka ini puskesmas. Biasa jam sembilan atau sepuluh na datang petugasna, tutup ki itu jam setengah sebelas atau jam sebelas. Tapi kalau tinggi ombak atau hujanki tidak datang ki petugasna.”

Jadi Puskesmas itu buka dari Senin hingga Jumat, jam sembilan atau jam sepuluh, petugas dari Makassar akan tiba dan pelayanan akan selesai pukul setengah sebelas atau pukul sebelas. Kalau hujan atau ombak sedang tinggi, layanan pun tutup.

Menurut Hj. Sunarti, jumlah pasien yang datang berobat berkisar sepuluh orang. Kebanyakan ibu hamil dan orang tua. Biaya hanya dikeluarkan oleh warga yang tidak memiliki kartu Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) ataupun KTP, biasanya berkisar Rp 10.000 – 15.000. Namun rata-rata warga telah memiliki kartu Jamkesmas, hampir semua bisa berobat gratis.

Puskesmas Lae-Lae yang merupakan puskesmas pembantu di bawah naungan Dinas Kesehatan Kota Makassar ini memang tak begitu besar. Namun tampak sangat rapi dan tertata. Dindingnya terbuat dari kayu yang dicat putih. Di ruang tunggu terdapat sebuah sofa sederhana dengan poster-poster kesehatan terpajang di dinding. Terdapat sebuah ruang pemeriksaan dengan sebuah meja besar dan sebuah meja kecil dengan timbangan bayi di atasnya serta dua buah kursi untuk petugas dan pasien. Selain itu terdapat ruang pemeriksaan dengan sebuah tempat tidur di dalamnya. Biasanya ruangan ini digunakan untuk pemeriksaan kehamilan seperti yang diungkap Hj. Sunarti. Rencananya, kata Hj. Sunarti, puskesmas ini akan direnovasi dan dibangun dua lantai.

(Foto: Ruris Haristiani)

Pak Fatta, salah seorang warga di Pulau Lae-Lae. (Foto: Ruris Haristiani)

TIDAK BISA disangkal bahwa modal utama kita sebagai manusia adalah kesehatan. Tanpa tubuh yang sehat, mustahil kita bisa melakukan aktivitas. Kita kerap kali mendengar pepatah bijak kesehatan adalah harta terbaik, good health is the best wealth.

Salah satu hal yang menjadi pendukung status kesehatan yang baik di masyarakat adalah adanya fasilitas kesehatan yang memadai dan mudah dijangkau. Puskesmas yang merupakan layanan kesehatan primer memegang peranan penting dalam meningkatkan status kesehatan masyarakat.

Warga Pulau Lae-Lae dengan jumlah kepala keluarga berkisar 400 dan jumlah penduduknya yang berkisar 2000 jiwa berhak untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang mudah dan memadai. Obat-obatan yang lebih lengkap, Puskesmas dan tenaga kesehatan yang bertugas lebih terjadwal atau mungkin bidan desa yang tinggal di Pulau lae-Lae, sehingga Ningsih tak perlu lama menunggu bapaknya membelikan obat di kota, Bu Rosmawati tak perlu repot menyeberang ke kota dengan perut besarnya, atau tidak ada lagi cerita ibu-ibu yang melahirkan di kapal atau di rumah-rumah dengan segala risiko kesulitan persalinan yang bisa terjadi.

Pulau Lae-lae saja yang jaraknya sangat dekat dengan kota, belum bisa dikatakan dapat mengakses pelayanan kesehatan dengan mudah. Lalu, bagaimana nasib warga yang tinggal di pulau-pulau kecil dan terluar lainnya?

:: Ruris Haristiani, seorang tenaga kesehatan yang juga rajin mengisi blog pribadinya pelangikata.com.

 

Baca juga: http://makassarnolkm.com/menengok-pendidikan-di-pulau-lae-lae/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *