Kemarin Plat Hitam, Sekarang Plat Kuning
Mei 30, 2014
Bila Musim Buah Tiba
Juni 16, 2014

Catatan dari RIC 2013

Tulisan berikut ini merupakan karya Achmadi Fani Saputra, peserta Kelas Menulis dan Meneliti yang diadakan MakassarNolKilometerDotCom pada Maret 2014 lalu.

Rock in Celebes 2013 (RIC) tahunan terbesar di Makassar dan diperhitungkan di Indonesia, yang diselenggarakan oleh Chambers Entertainment digelar lagi pada Kamis, 12 Desember 2013 di Celebes Convention Center (CCC). Tahun 2013 adalah tahun keempat digelarnya festival ini.

Pada majalah Rolling Stone edisi “The Big 100” Agustus 2013, RiC dicatat dalam kategori “festival rock internasional luar ibu kota”. Juga dalam Chambers: Makassar Urban Culture Identity (Anwar Jimpe Rachman) dikatakan, “RIC disebut pesta rock terbesar di Indonesia Timur ini menjadi panggung yang menantang sekaligus menyemarakkan kancah musik Makassar dengan jumlah ribuan penonton dan publikasi yang menasional”.

Pada hari pertama RIC saya datang lebih awal sebelum acara dimulai berhubung karena saat itu saya diajak seorang teman ikut meliput untuk salah satu media lokal di Makassar. Saya menyempatkan waktu mengelilingi clothing fest, melihat foto yang dipamerkan, juga tak mau ketinggalan melihat band yang sedang checksound.

Setelah menunggu beberapa jam, karena saya datang sekitar pukul sepuluh pagi, akhirnya RIC hari pertama dimulai, dibuka penampilan Reborn in Plagues (RIP) salah satu band yang mendapat voting terbanyak. Sayang sekali saya tidak melihat kerumunan banyak orang dalam ruangan yang sudah dari tadi diserang dengan musik dari RIP. Mungkin jika dihitung jumlah orang yang ada di dalam venue saat RIP membawakan lagu dengan jumlah voting, jumlahnya jelas sangat berbeda. Hingga RIP turun panggung suasana masih sangat sepi, dan dilanjut oleh penampilan dari lineup band sesuai rundown.

Sebelum jeda magrib Pemuda Garis Depan, band yang saya tunggu-tunggu akhirnya naik panggung. Mereka kembali menghibur penikmat musik Makassar setelah vakum kurang lebih tujuh tahun. Ini sekaligus mengobati rasa penasaranku yang ingin melihat mereka main, karena saya mengenal mereka hanya dari hasil download zaman SMA di blog yang menyediakan banyak lagu band underground Indonesia.

Akhirnya saya bisa ikut bernyanyi langsung menempelkan badan di barikade, meskipun lagi-lagi saya tidak puas. Karena ini tidak seperti yang saya bayangkan satu hari sebelum acara ini berlangsung, kerumunan yang liar dari awal hingga PGD turun panggung. Tapi itu semua sama sekali tidak terjadi. Tepat di depan panggung yang berdiri hanya saya dan empat orang teman yang sengaja datang hanya untuk menonton PGD yang akan mengobati rindu mereka. Bahkan saat basis PGD, Ikma, melempar stiker, yang mengumpulkan barang itu hanya kami berlima. Seperti biasa, kami saling berebut dan merampas stiker yang sudah dipegang teman.

Setelah stiker sudah di kantong, saya melihat ke belakang ternyata sudah cukup banyak orang di dalam ruangan itu. Tapi sayang mereka hanya duduk diam seperti sedang menonton film terbaru yang baru saja selesai mereka copy gratis. Hanya saya yang berdiri tepat di barikade bersama empat orang teman bernyanyi dan sesekali saya menyempatkan foto juga merekam penampilan mereka.

Tidak terasa, single terbaru mereka “Berteman dengan Binatang” yang saat itu bagian vokalnya diisi Aswind The Hendriks menjadi lagu terakhir penampilan mereka hari itu. Menyenangkan, tapi sayang terasa hambar.

Saat jeda magrib, saya mengisi waktu dengan mengobrol dengan teman tentang kurangnya antusias anak muda Makassar untuk menghargai karya anak kota sendiri. Obrolan ini tiba-tiba saja lahir begitu saja. Atau mungkin hasrat yang tak terpenuhi yang menggiring kami membicarakan tentang mereka yang hanya duduk diam dan kurang tertarik menikmati karya anak muda kota sendiri. Padahal saat itu adalah acara musik yang dominan keras, yang lebih keras dari kata Rock! Musik yang biasanya membuat orang jarang duduk dan diam jauh dari panggung.

Kejadian di atas, menurut saya jelas berbeda dengan yang dimaksud dalam buku Chambers, “Di ajang RIC, band-band Makassar yang sama dengan band nasional dan internasional dapat mengunjukkan taring musik mereka. Dengan jumlah ribuan penonton dan publikasi yang menasional.”

Pertanyaan saya adalah: di mana tempat dan waktu untuk band Makassar yang dalam buku itu bermaksud mempunyai kesempatan untuk menunjukkan taring musik mereka? Kalau antusiasme penikmat musik kota kita sendiri hanya senang dan datang menonton yang dari luar kota dan negeri saja. Atau juga mungkin memang kelompok musik Makassar hanya punya kesempatan sangat sedikit untuk menunjukkan karya mereka, di awal acara contohnya—yang sudah pasti band dari luar Makassar tidak menonton karena terlalu pagi atau mungkin lebih senang bersantai di hotel ketimbang datang lebih awal jauh dari jadwal mereka manggung. Juga jumlah penonton yang bisa dihitung jari dan, menyedihkannya, hanya punya waktu lima belas menit kalau pun tidak ngaret. Contohnya The Game Over hanya bisa membawakan tiga lagu saja karena hari itu RIC berjalan agak terlambat dari jadwal, berbeda dengan Accidental Killing yang sempat membawakan lima lagu.

Jeda magrib, selesai Down For Life naik panggung, lalu The Cuts, dan penampilan terakhir oleh Chris Carabba dari Dashboard Confessional (DC). Beberapa pengakuan orang yang saya kenal merasa kecewa. Ternyata hanya Chriss Carabba yang bermain akustikan, bukan DC dengan personil lengkap. Padahal di semua media publikasi mengumumkan “Dashboard Confessional”, bukan “Chris Carabba from DC”.

“Ededee… akustikan ji sendirian. Saya kira tongmi lengkap!” kata seorang perempuan yang juga keluar setelah beberapa lagu yang Chris Carabba bawakan.

***

Di hari kedua penampilan dibuka oleh Guantanamo. Mereka membawakan lagu dengan baik terdengar di telinga saya. Tapi sayang saat itu penonton masih sangat kurang. Mungkin karena masih jam kantor. Jumlah penonton malam lebih banyak dari pada siang hari. Setelah Guantanamo disusul Wild Horse, Kemenyan, Pop is Dead, Frontside, Something Story, dan sebelum break magrib ditutup penampilan dari Unremains dengan formasi baru pada vokal. Sebelumnya diisi oleh Pay, hari itu juga Unremains mengumumkan adanya perubahan formasi dan memakai Aqsa.

Saat penampilan Unremains ada puluhan orang yang berdiri depan barikade. Salah seorang dari mereka ada Pay, mantan vokalis band ini. Hal seperti Ini sebenarnya bukanlah pemandangan yang, ketika personil band yang diganti masih tetap berdiri menikmati kelompok yang pernah ikut ia besarkan. Ini adalah bentuk support Pay terhadap band Makassar. Pay menyumbang banyak lirik yang tertuang di dalam album Unremains, “Into the Victory”. Hal serupa bukan hanya bisa dilihat pada Pay, tapi juga hampir di semua pelaku musik di Makassar. Itu bisa saya lihat saat mendatangi acara musik sederhana yang diadakan secara kolektif. Malam itu Unremains mengakhiri penampilan mereka dengan “Into the Victory”.

Break magrib selesai, stage kembali diwarnai dengan lighting. The Box sudah di atas panggung, lalu digantikan oleh The Experience Brothers, dan ditutup penampilan dari The Sigit.

The Sigit menjadi salah satu band yang ditunggu-tunggu di hari kedua RIC. Di depan panggung sangat padat. Sayangnya hanya sekadar nonton. Yang lainnya sibuk dengan alat perekam mereka mengabadikan penampilan band asal Bandung itu. Akhirnya The Sigit menutup malam RiC dengan “Black Amplifier”.The Sigit turun panggung tanpa berhasil membuat kerumunan menjadi liar dan pulang dengan keringat. Padahal seandainya saya tahu kalau penonton hari itu hanya berdiri tenang di tempat masing-masing saya pasti menyempatkan untuk berdiri di bagian depan sekitar satu sampai dua lagu untuk mengambil posisi yang cukup baik, untuk mengambil gambar The Sigit manggung yang nantinya beberapa hasil akan dipakai untuk keperluan media lokal dan juga untuk koleksi pribadi.

 

HARI KETIGA dibuka oleh Easy Going, salah satu band yang juga berhasil mengumpulkan voting terbanyak. Seperti biasa, venue masih sangat sepi. Setelah Easy Going dilanjut lagi oleh lineup band selanjutnya. Sebelum SORV, ada The Game Over (TGO) membawakan tiga lagu. Penampilan mereka saya nikmati sama seperti di hari pertama saat PGD berada di atas panggung. Bedanya, seingat saya saat itu, lagi-lagi tidak banyak yang berteriak ikut bernyanyi saat mereka membawakan lagu-lagu mereka.

Saya jadi ingat kejadian yang lucu di backstage. Saat itu saya dan teman saya menemani The Game Over masuk lewat belakang panggung karena mereka tidak tahu di mana bagian backstage-nya. Saat kami sudah di sana, saya dan teman saya pamit kembali ke depan panggung. Tapi di perjalanan kami ditahan oleh panitia yang bertugas menjaga barikade pembatas jalan untuk ke backstage.

“Dari mana ki?” tanya panitia yang memakai kaos event RIC berwarna biru.

“Belakang,” jawab saya singkat.

“Tidak bisa ki lewat sini kita, orang media ji yang bisa lewat,” katanya sambil menunjuk teman saya. Padahal kami berdua memakai ID card media, bukan band. Tapi bedanya, di ID card saya tertulis “Media”, bukan nama media yang mengajak saya meliput; sementara ID card teman saya tertulis nama media tempatnya bekerja. Itulah penyebabnya kenapa dia dilarang lewat pembatas ini. Saya coba negosiasi dan menjelaskan kalau tulisan yang di ID card teman saya itu adalah nama media yang dia tempati bekerja.

“Saya berdua dari media, bedanya dia di ID card-nya nama medianya, sedangkan saya tidak ada tulisan nama mediaku. Jadi ini temanku dari media ji juga”.

“Saya ini dari media, saya di sana, di radio depan ujung sana, ini nama media.” kata temanku

“Tidak bisa. Media ji yang bisa lewat sini.”

“Saya dari media, pak.”

“Iye, kita dari media, tapi ini teman ta bukan. Sorry, saya cuman ikuti ji tugas. Media ji yang bisa lewat sini.”

Saya tidak menjawab apa-apa lagi, menyerah, dan memutuskan keluar lewat backstage dan masuk kembali lewat pintu depan. Jalan yang cukup jauh, hitung-hitung olahraga siang!

Sambil jalan kaki kami cerita tentang panitia yang tadi itu dari mana. Masa iya dia tidak tahu apa itu ‘media’? Kejadian ini saya alami dua kali. Satu kali saya alami dengan seorang teman yang meliput untuk media online. Tapi di kejadian kedua ini kami berhasil menjelaskan berkat selebaran pamflet yang tertempel di dinding. Kami berhasil lewat barikade pembatas jalan dari pintu masuk ke backstage. Oh iya, dua kejadian ini panitia yang berbeda.

Setelah jeda magrib selesai, seperti biasa ada tiga band yang akan menutup malam RIC2013 di antaranya Inlander, Suri, dan penampilan terakhir dari Seringai yang akhirnya membuat kerumunan menjadi liar.

Hari terakhir RIC saya baru menikmati saat The Bluesfresh di atas panggung. Sebelumnya saya sibuk ke sana kemari bersama teman (juga dari media lain) dan berkeliling melihat barang diskon di Clothing Fest (tidak membeli karena isi kantong yang sama sekali tidak pernah terisi).

Setelah jeda magrib selesai, malam RIC yang keempat agak berbeda. Burgerkill dan Navicula butuh waktu lama untuk checksound. Tapi, salah satu band yang saya tunggu di festival ini, Kapital Band asal Tenggarong (Kaltim), naik ke panggung dan membuat kerumunan menjadi buas.

Saya sempat mengambil foto mereka pas lagu pertama. Merasa kalau foto mereka sudah cukup untuk kebutuhan media juga kebutuhan pribadi, saya putuskan menitip ke teman yang berdiri agak jauh dari kerumunan yang sudah dari tadi meliar. Langsung saja saya berjalan dengan cepat mendekati kerumunan liar, lalu berlari memasuki lingkaran yang tidak pernah ada setan di dalamnya tapi kelihatan sedang kesetanan.

Saat itu saya sudah tidak perduli lagi dengan hasil foto terbaik yang harus saya hasilkan saat Kapital manggung. Memang saya tidak memikirkan apapun, termasuk bagaimana sakitnya badan esok harinya saat bangun. Saya nikmati saja semuanya, berlari mengelilingi kerumunan, wall of death, circle pit, pogo bersama hingga lompat dan menempelkan badan di barikade setinggi mungkin.

Saya lebih banyak bergantung di barikade dan ikut menyanyikan “Hitam Kelam Arah Jejak”. Saat itu banyak tangan yang terasa memegang. Bahkan bokong saya serasa diremas. Saya tahu itu tanda kalau berarti ada beberapa yang ingin mengangkat badan saya tapi saya lebih memilih bergelantungan sambil bernyanyi. Tidak hanya sekali ada yang datang mencoba mengangkat tapi saya masih tetap memilih untuk terus bergelantungan dan bernyanyi hingga tangan saya terasa pegal dan memutuskan untuk kembali membuas bersama ratusan orang yang juga sudah berkeringat. Tidak perduli berapa siku yang melayang keras di bahu, atau ada bekas kaki di kaos yang saya kenakan. Toh memang seperti ini musik underground menjadi sangat menyenangkan untuk dinikmati. Ini hanya cara saya berekspresi dan menikmati musik yang saya suka. Mungkin akan menjadi salah saya kalau sampai marah karena kena tendangan yang tidak disengaja, siku melayang tepat di pipi, jidat, dada atau di manapun, atau tiba-tiba ada yang mendorong. Itu bukan masalah.

Tidak teringat pada lagu keberapa tenaga saya benar-benar habis, yang membuat saya saya memutuskan mundur ke teman yang tadi saya titipi kamera. Saya duduk istirahat sebentar dan mengambil kamera, lalu bergerak lagi mengambil foto Kapital di dalam stage, bergabung bersama fotografer panggung yang mengambil foto dengan aman karena terlindung barikade. Saya di situ melanjutkan menikmati lagu-lagu Kapital. Sambil memotret saya bernyanyi, mengangguk dan menggelengkan kepala tak beraturan, meski saat mata saya ada di viewfinder kamera.

Saat lagu terakhir “Bermain Peran”, saya berdiri tepat di depan Akbar Haka, sang vokalis. Kita hanya bermain peran, mainkan peran dari Tuhan, begitu potongan lirik yang saya nyanyikan saat Akbar Haka menyodorkan mic ke bawah tepat di depan kepala saya. Saat itu juga saya tidak punya sedikit alasan untuk menolak. Karena liriknya saya hafal, jadi alasan apa yang bisa membuat saya untuk menolak tawaran dari Akbar Haka? Saat itu juga saya memegang mic itu dan bernyanyi. Sedangkan Akbar Haka sibuk berlari-lari kecil di atas panggung hingga Bermain Peran selesai. Dia datang ke saya untuk mengambil mic yang dari tadi saya pegang. Dan … itu adalah lagu terakhir yang mereka bawakan.

 

KAPITAL TURUN dari panggung. Saya pun bergegas menuju ke ruang konferensi pers, beristirahat dan mendinginkan badan yang berkeringat. Beberapa menit kemudian Kapital juga masuk untuk memulai konferensi pers, saya sempat mengajukan satu pertanyaan.

“Apakah malam ini ada lagu yang tidak sempat kalian bawakan?”

“Sebenarnya tadi kami sempat mencoret-coret beberapa lagu yang ada di list karena berkurangnya waktu sehabis break magrib dipakai untuk checksound,” jawab Akbar Haka.

Konperensi pers berjalan seperti biasa, saling tanya jawab. Setelah selesai, saya memutuskan kembali memotret di dalam barikade. Tapi tak cukup lima menit, seorang satpam berbadan tinggi besar mendatangi saya, merangkul bahu saya. Belum sempat saya bertanya, dia sudah lebih dulu bilang, “Kau keluar!”

“Kenapa pak?” tanya saya.

“Ayo kau keluar!” Pak satpam sudah lebih kencang membentak.

“Iya, Pak. Saya keluar, lepas mi tangan ta, keluar ja ini…”

Saya keluar bersama satpam itu. Sampai tepat di belakang panggung, seorang penjaga bertanya pada satpam yang merangkul saya, “Oh ini mi?” tanyanya pada satpam.

“Iyo!” jawab satpam singkat.

Dalam hati saya heran. Saya bertanya lagi pada satpam “Saya kenapa, Pak?”

“Kau itu lompat dari luar masuk ke dalam (malah) tanya kenapa!” Nada bicaranya tinggi dan tanpa senyum.

“Saya tidak lompat, Pak…”

“Kalau kau tidak lompat, kenapa kau bisa sampai ke dalam? Ayo kau keluar!”

“Tunggu, Pak … saya lewat samping masuk. Saya dari media!” jawab saya cepat.

“Mana id card-mu?”

Saya angkat baju saya yang menutupi id card. Dengan cepat satpam itu memegang kasar, menyuruh saya membuka id card.

“Kau dapat dari mana ini? Kau ini ambil sembarangan. Kau keluar saja. Lepas itu!” nada bicaranya semakin tinggi.

“Saya ini memang dari media, Pak! Kalau tidak percaya, ayo mi kita ke ruangan media…”

Saya dan satpam itu lalu menuju ruang media. Akhirnya, setelah saya berbicara dengan beberapa orang juga dengan satpam itu, saya akhirnya membuka id card, dan minta maaf pada satpam itu kalau ternyata waktu Kapital membawakan lagu-lagunya saya salah di matanya. Salah di mata banyak orang yang ada di belakang panggung. Sekalian juga minta maaf karena ada beberapa cerita-cerita yang sebenarnya sama sekali tidak saya lakukan. Juga saya minta maaf untuk diri saya sendiri karena ini cukup sial dan aneh. Tiba-tiba saja saya berfikir, seandainya saja saya ada di acara musik sederhana yang dibikin ala kolektifan. Tapi itu seandainya, bukan kenyataan. Kenyataannya saya diusir dari ruang media. Id card saya diambil paksa.

Mungkin saya salah tempat, ini acara besar yang mungkin atau memang tidak seperti acara-acara sederhana ala kadarnya, seperti foto di bawah ini.

Saya sudah kembali dalam gedung pertunjukan, tidak memotret tidak juga menikmati musik yang Navicula bawakan. Tapi saya hanya berpikir mencari tahu siapa orang yang lihat saya lompat dari luar barikade panggung masuk ke dalam? Sudah pasti tidak ada. Jadi pertanyaan sebenarnya, mulut siapa yang pertama bilang seperti itu?

Navicula turun panggung. Akhirnya malam terakhir RIC ditutup penampilan dari Burgerkill yang tidak terlalu saya bisa nikmati karena kejadian tadi. Saya hanya menyempatkan mengambil beberapa foto mereka dan mundur ke dekat ujung belakang tepat dekat mixer. Beberapa menit kemudian ada sedikit kericuhan yang mencuri pandangan seluruh pasang mata. Burgerkill belum turun panggung, saya putuskan keluar dari gedung pertunjukan, dan menikmati musik dub di tempat talkshow saat siang hari yang malam berubah menjadi dance floor.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *