Hikayat Dedaunan yang Diangkut ke Tenggara
Januari 3, 2013
Kristen Dulu, Islam Kemudian; Jejak Kristen di Tanah Bugis Abad 16
Januari 11, 2013

Buku Basah dan Berdebu di Sipakainga

“Einstein saja punya waktu untuk membaca. Kenapa Anda tidak?”

Begitulah dua kalimat poster yang terpajang di beranda kiri kedai baca ini. Kalimat kedua berwarna merah. Seolah mengingatkan kita agar meluangkan waktu untuk membaca. Di atas kalimat tersebut terdapat gambar Einstein sedang duduk membaca sambil memegang sebuah cangklong (rokok pipa).

Poster itu terdapat di Kedai Baca dan Warung Kopi Sipakainga 43, di Jalan Veteran Utara Lorong 43, Makassar. Perkenalanku dengan kedai baca ini terjadi pada November 2012. Rabu, 2 Januari 2013 menjadi kunjunganku yang keempat.

Pemiliknya bernama Anwar Amin, yang disapa akrab Daeng Anwar. Lelaki 64 tahun ini selalu menjawab salam dan sapaan setiap pengunjung. Kedai baca inilah bukti kecintaannya pada buku. Sejak kecil kedua orangtua Daeng Anwar sering membelikan buku untuknya dan saudara-saudaranya.

“Ayah saya mengajarkan kami mencintai buku. Jadilah saya kutu buku dan gemar membeli buku setiap ada buku baru terbit di Makassar,” kata Daeng Anwar, suatu ketika di kedai bacanya. “Sekarang itu buku-buku banyak dibawa oleh anak-anak saya yang merantau, yang juga cinta buku. Sebagian besar saya simpan di kedai ini agar lebih bermanfaat dan bisa dibaca banyak orang,” lanjutnya.

Seperti pohon beringin yang berdiri di beranda depan bagian kanan kedai baca ini, kecintaannya pada buku terus tumbuh. Hingga ia menyandang status mahasiswa pada Fakultas Ekonomi Universitas Hasanuddin. Ia selalu menyisihkan uang untuk membeli buku. Buku koleksinya pun menjadi banyak. Tak ketinggalan majalah-majalah juga menghiasi kamarnya.

Saat masih kuliah, ia sudah beristri. Bersama istrinya, Sophia Yusuf, ia dianugerahi tujuh orang anak. Sulitnya mengatur waktu ditambah tuntutan hidup yang semakin banyak, memaksa Daeng Anwar putus kuliah. Untuk menghidupi keluarganya itu ia memutuskan untuk menjadi pengusaha ikan.

“Tapi pernah saya kecelakaan dan hampir mati. Setelah siuman dan sembuh, saya putuskan berhenti dan membuka kedai buku dan warung kopi ini. Sejak Tahun 1996, banyak pedagang kaki lima di sekitar sini yang menjadi pembaca,” kata mantan aktivis angkatan 66 ini. Jadilah pembaca setia di kedai baca ini waktu itu dari kalangan PKL dan tukang becak.

Tahun 2000, Daeng Anwar dan istri, mulai menata kedai baca sekaligus warkop ini. Awalnya, buku-buku belum tersusun rapi. Hanya diletakkan di atas meja dan ditawarkan kepada pengunjung yang datang. Buku-bukunya begitu variatif, dari agama, ilmu pengetahuan, sosial, hingga sastra.

Daeng Anwar terus menambah koleksi bukunya. Sedikit demi sedikit, ia menyisipkan sebagian keuntungan warung kopi untuk membeli rak. Sampai pada akhirnya, koleksi bukunya mencapai ribuan. Untuk novel saja, jumlahnya mencapai lima ratusan lebih. Mulai dari terbitan tahun 60-an sampai 90-an.

Daeng Anwar pernah bercerita bagaimana ia mendapatkan novel-novel lama itu. Ia membeli novel-novel tersebut dari kedai baca Gagal Asmara yang terletak di Jalan Sungai Cerekang. Ia merogoh kocek kurang lebih dua juta rupiah. Saat itu pemiliknya butuh uang untuk memperbaiki rumah, Daeng Anwar pun mengangkut novel-novel tersebut dengan sebuah mobil pick up.

Rak-rak telah penuh. Tapi bagi Anda yang mencari buku-buku kiri atau Marxis, jangan lagi berharap akan menemukannya di sini. Semasa menjadi aktivis ia tidak begitu respek dengan segala yang berbau komunis. Ia memang pernah memiliki banyak buku mengenai Marxisme maupun komunisme. Tapi buku-buku itu ia berikan kepada orang lain. “Ada pernah orang kasih saya buku Das Kapital di sini, yang versi bahasa Inggris. Tapi buku itu saya berikan ke orang lain.”

Dalam upayanya menambah koleksi buku di masa sekarang, Daeng Anwar mengalami kesulitan. Harga buku-buku mahal, ditambah kebutuhan hidup sehari-sehari kian tinggi. Demi mempertahankan cintanya kepada buku-buku, ia pun harus ’mencuri‘ sedikit-sedikit hasil jajanan kopi istrinya. Untuk ia sisipkan sebagai pembeli buku.

“Hari ini pun saya masih membeli buku jika uang curianku sudah cukup untuk sejudul buku,” kata Daeng Anwar pada perbincangan kami di kedai baca waktu itu. “Terkadang saya menyelipkan uang hasil jajanan kopi istri untuk membeli buku. Karena saya pikir buku itu adalah dunia yang saya jaga supaya generasi muda mau membaca.”

Ia membeli buku dari orang-orang yang datang menawarkan kepadanya. Ia sudah jarang pergi ke toko-toko buku. Karena tidak bisa lagi meluangkan waktu, ditambah istrinya sudah mulai sakit-sakitan. Ia sedikit tertolong oleh kedermawanan kawan-kawannya dan orang lain yang rela menyumbang beberapa buku.

Langganan surat kabar dan majalah juga lengkap. Daeng Anwar berlangganan lima jenis surat kabar harian: Harian Fajar, Tribun timur, Harian Rakyat Sulsel, Koran Tempo, dan Harian Kompas; dan dua majalah: Tempo dan Hidayatullah. Tidak ketinggalan edisi buletin Intisari terbilang lengkap. Mulai dari tahun 80-an sampai sekarang.

Saat ini, yang paling sering berkunjung adalah warga sekitar. Mereka datang ke tempatnya untuk membaca buku ataupun koran sambil menikmati segelas kopi. Mungkin sebagai salah satu strategi Daeng Anwar untuk menarik pengunjung, ia melengkapi kedai bacanya dengan Wifi dan sound system. Ia memahami hobi anak muda zaman sekarang, berinternet dan mendengarkan musik. Pengunjungnya pun dimanjakan dengan alunan musik blues kegemaran Daeng Anwar.

Betapa senang hatinya, waktu itu ada seorang pemuda yang betah berlama-lama di kedai bacanya. Pemuda itu sedang mengerjakan tugas. Daeng Anwar yang biasanya menutup kedai baca pada jam sepuluh malam, tidak tega. Ia menunggui pemuda itu sampai selesai hingga jam dua malam. Ia pun menyuruh istrinya pulang duluan. “Mau ka menangis lihat itu malam,” kata Daeng Anwar ketika menceritakan kisah itu.

Ribuan koleksi buku-buku Daeng Anwar masih setia menunggu pembacanya. Berselimut debu tebal. Beberapa buku sudah robek dimakan rayap dan tikus. Usia Daeng Anwar memang tak lagi muda. Ia kesulitan merawat semua bukunya. Anak-anaknya sudah berkeluarga dan membangun rumah sendiri di daerah rantau. Tinggallah ia dan istrinya mengelola kedai baca itu.

Bukan hanya rayap dan tikus yang mengancam keutuhan halaman setiap buku. Tapi juga hujan. Bangunan kedai baca yang hanya beratap seng bekas, dengan langit-langit dan dinding dari tripleks sudah tak mampu menahan derasnya hujan. Apalagi musim hujan seperti sekarang.

Pernah suatu waktu ia harus merelakan empat karung bukunya kuyup oleh air hujan. Ia takut kalau hujan turun. Banyak kebocoran di kedainya. Ia kerepotan mengamankan buku-buku. Jika tidak, buku-bukunya pasti basah. Dan kalau basah jangankan untuk dibaca, bahkan penjual loakan pun tak mau menerimanya. Lemari-lemari dan rak-rak sudah sesak oleh buku-buku. Lemari-lemari itu semakin kehilangan dayanya tatkala hujan terus membasahi. Buku-bukunya harus diselamatkan!

Setelah beberapa kunjungan dan obrolan mengenai perjalanan Kedai Baca Sipakainga, muncullah ide untuk melakukan perbaikan bangunan dan pembenahan buku-buku. Mula-mula kami memanfaatkan fasilitas Facebook untuk mengajak orang lain berpartisipasi. Menyebarkan foto-foto kondisi kedai baca yang terekam di kamera. Aktivis Arkom (Arsitek Komunitas) Makassar, Muhammad Cora, dimintai membantu menrancang bangunan. Ya, tentunya agar kedai baca ini lebih menarik!

Pada Minggu, 16 Desember 2012, kami melakukan kerja bakti pertama di Kedai Baca Sipakainga. Sebelas orang berpartisipasi. Karena jumlah buku mencapai ribuan, hari itu para relawan hanya membersihkan novel dan memindahkannya ke beberapa kardus. Kerja bakti itu berlangsung 11.00 – 17.00 menghasilkan lima dos rokok besar penuh novel koleksi Daeng Anwar.

Relawan memutuskan melakukan kegiatan ini seminggu sekali. Jenis buku berikut yang kami bersihkan selanjutnya adalah sosial-politik. Sama dengan tumpukan novel sebelumnya, buku sosial-politik kami bersihkan lalu dipindahkan ke dalam kardus. Sementara itu kami pun juga mulai melakukan pendataan novel-novel yang sudah dikumpulkan dan dipindahtempatkan, ke dalam komputer. Hal ini untuk merapikan database buku-buku Kedai Baca Sipakainga.

Kami terus mengajak teman-teman yang lain untuk bergabung. Kehadiran jejaring sosial Facebook sangat membantu. Kami sangat membutuhkan bantuan tenaga, terutama anak muda dan mahasiswa. Kedai baca ini menyimpan begitu banyak pengetahuan.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *