Pebisnis Tuna Loin dari Biak
Desember 13, 2016
Cerita Perjuangan Difabel dari Puncak Latimojong (1)
Desember 27, 2016

Bom Benang 2016, Seni Merajut Komunitas

MEI 2016, sebuah e-flyer tampil di beranda akun media sosial saya berisi kegiatan merajut bernama “Bom Benang 2016”. Ini adalah salah satu program yang diinisiasi Quiqui, komunitas yang bergerak di seni rajutan. Awalnya saya beranggapan, itu hanya program biasa saja yang dilaksanakan untuk memperkenalkan kerajinan rajut kepada komunitas-komunitas di Makassar. “Paling kegiatannya merajut, yang hadir perempuan yang hobi main-main benang, bikin penutup kepala, tas, taplak meja, dan syal, tutur saya dalam hati.

Beberapa kali e-flyer itu muncul, keseringan di hari Kamis dan Jumat. Rasa ingin tahu membuat saya mengunjungi langsung sekretariat Quiqui di Kampung Buku, Jalan Abdullah Daeng Sirua 192 E, Makassar. Diskusi singkat dengan beberapa tim kerja Bom Benang, saya pun meminta izin ikut ke lokasi di akhir pekan, dan diizinkan dengan senang hati.

Setelah beberapa kali kesempatan melibatkan diri pada program ini, saya harus mengakui bahwa anggapan awal saya terlalu dangkal terhadap Bom Benang. Pertama, yang merajut itu bukan hanya perempuan, tetapi banyak juga laki-laki. Yang kedua, ini bukan sekadar merajut. Ada yang lebih dari membuat simpul dan pola rajutan. Pertanyaan di bawah akan membawa kita pada pembahasan singkat apa gerangan yang menjadi tujuan dari acara rajut-merajut ini.

Bagaimana jadinya jika sebuah seni kerajinan menjadi sebuah pendekatan untuk memecahkan masalah sosial dan menjadi sebuah metode belajar?

 

BERBEKAL jejaring komunitas dan organisasi-organisasi sosial, Quiqui dibantu dengan Tanahindie melakukan penelitian di lima lokasi (komunitas) berbeda dan mendapatkan masalah yang sama di keempat lokasi tersebut, yaitu tingginya aksi kejahatan dan kekerasan di kalangan anak, remaja, perempuan, dan antar komunitas. Quiqui menamakan kelima komunitas ini sebagai ‘mitra kerja’, berlokasi di Jalan Sukaria 13B, Jalan Barukang III, Jalan Barukang IV, Batua Raya, dan Jalan Rajawali, kawasan Mariso Baru.

Temuan di lapangan menemukan fakta tingginya aksi kejahatan dan angka kekerasan diakibatkan karena pola satu arah yang terjadi dalam komunitas tersebut dan lebih kecil lagi dalam keluarga, wajah besarnya yaitu kemiskinan kota. Pola komunikasi yang dimaksud yaitu pola yang hanya menekankan pada individu atau kelompok tanpa mempertimbangkan/umpan-balik dari individu atau kelompok lainnya – tidak adanya ruang diskusi – yang melahirkan superioritas atau hasrat menguasai terhadap yang lain.

Seperti pola yang diterapkan oleh pemerintah sampai saat ini Driven Government atau kebijakan Top-Down, yang kebanyakan tidak tepat sasaran dan tidak berbasis kebutuhan masyarakat. Contoh lainnya, pola belajar-mengajar di sekolah yang masih menganggap guru itu adalah dewa yang menjadi sumber pengetahuan yang paling benar, ketika dikritik berarti murid tidak patuh atau hormat kepada gurunya. Dalam keluarga seperti itu juga, orang tua, khususnya bapak, menjadi pemegang keputusan mutlak bagi anggota keluarganya. Istri dan anak mau tidak mau harus mengikutinya, yang seharusnya keluarga menjadi tempat berdiskusi dan berekspresi sebelum ke wilayah lebih besar (komunitas). Pola seperti ini tanpa kita sadari masih kokoh sebagai warisan di masyarakat sampai sekarang padahal diwariskan oleh rezim yang telah tumbang (Orde Baru) delapan belas tahun lalu.

Pola komunikasi satu arah dalam keluarga memungkinkan besar terjadinya kekerasan dalam keluarga. Tim peneliti Bom Benang di Jalan Barukang III menemukan, kekerasan ke ranah yang lebih intim (keluarga) sangat sering terjadi di komunitas ini – yang hampir mata pencahariannya dari melaut. Ketika cuaca tidak bersahabat untuk melaut yang memaksa para nelayan untuk tinggal di rumah, ini berarti tidak ada penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga ditambah lagi hutang yang harus dibayar dari keperluan melaut sebelumnya. Tekanan-tekanan tersebut memungkinkan pelampiasan akan ditujukan kepada anggota keluarga. Ini akan menjadi efek domino sampai ke tingkat komunitas.

Akar masalah ini menjadi fokus utama sehingga Quiqui mencoba mengambil peran pada masalah sosial yang terjadi di lima lokasi itu. Dengan pendekatan seni merajut diharapkan mereka dapat mendapatkan kepercayaan diri dan inisiatif dengan pola pikir dan komunikasi yang lebih baik.

“Membangun pola komunikasi dengan komunitas itu, bisa kita samakan belajar dari merajut, menghubungkan benang-benang lalu membentuk pola yang indah dan menghasilkan sebuah karya yang utuh,” ujar Fitriani A. Dalay, pengarah kegiatan, sekaligus salah seorang fasiliator. Dengan merajut bersama dapat membangun pola komunikasi yang efektif (dua arah), bisa juga memantapkan hubungan pertetanggaan yang nantinya mengikat hubungan emosional lebih besar yaitu komunitas, tambah Kak Piyo, seperti itu saya menyapanya.

Bom Benang 2016 di lima lokasi di Makassar. (Dokumentasi: Quiqui)

EMPAT kali melaksanakan Bom Benang sejak 2012, Quiqui memposisikan diri sebagai pelaku seni (artis) sebagai perajut dalam komunitasnya sendiri dan menampilkan hasil karya mereka. Di tahun kelima Quiqui mengubah posisi menjadi fasilitator, menjembatani mitra kerja di lima lokasi untuk menghasilkan karya.

Di tahun kelima ini juga dengan mengangkat tema “Benang Kandung”, Quiqui melibatkan beberapa komunitas atau organisasi sosial/kampus menjadi ‘Tim Kerja’. Tim Kerja terbagi menjadi fasilitator merajut, videografer, fotografer, dan peneliti/penulis. Semua tim kerja Bom Benang ini memulai dari ‘nol’, penekanannya adalah proses belajar dalam proyek ini. Mereka mengambil peran sesuai dengan kemampuan yang ingin dipelajari. Bukan hanya komunitas yang didampingi menampilkan karyanya, tapi juga seluruh tim kerja dalam bentuk video, foto, dan tulisan.

“Yang kita inginkan biji menjadi pohon, bukan pohon yang dipindahkan. Kalau pohon besar dipindahkan ke lokasi lain, mungkin tidak dapat tumbuh,” ungkap Anwar Jimpe Rachman selaku kurator Bom Benang.

Dua kali kesempatan saya melibatkan diri untuk merasakan suasana lokakarya merajut di Jalan Barukang III dan Jalan Sukaria 13B, para fasilitator merajut mengajarkan pola rajutan sederhana sampai pola yang rumit. Sepertinya keberlanjutan program ini sudah diperhitungkan oleh tim kerja Bom Benang, mereka mempersiapkan penggerak (kader) di setiap komunitas. Pola kaderisasi itu terlihat dari bagaimana anggota komunitas yang telah cakap akan berbagi pengetahuan (mendampingi) anggota komunitas yang belum. Di samping menjadi pembelajar, anggota komunitas juga menjadi pengajar. Bukankah sebuah program dapat dikatakan berhasil dan berkelanjutan ketika komunitas berdaya sepenuhnya tanpa bergantung lagi pada pihak-pihak lain?

Bom Benang yang dimulai dari Mei 2016 ditutup pada bulan September dengan memajang hasil karya komunitas di masing-masing lokasi dan juga karya tim kerja Bom Benang. Ini sebagai bentuk apresiasi dari hasil belajar seluruh unsur yang terlibat dari awal sampai akhir. Setiap pencapaian layaknya dirayakan, bukan begitu?

Proses belajar pada Bom Benang ini juga mempertegas bahwa semua orang unik, siapapun bisa menjadi murid atau guru, inisiatif yang dihilangkan oleh Orde Baru dapat kita hidupkan kembali dengan belajar, berbagi, saling membantu sebagai individu maupun komunitas.

Alangkah indahnya jika penentu kebijakan (pemerintah) membuka mata lebar-lebar lebih dekat kepada kondisi masyarakat yang sebenarnya di Makassar lalu menenggelamkan dirinya ke dalam. Membuka ruang diskusi dengan komunitas, organisasi masyarakat, pekerja sosial guna mencari akar masalah dan pemecahan masalahnya. Jika ruang diskusi ini masih tertutup rapat, kutipan di akhir pengantar Kurator Bom Benang menjadi jawabannya, “Tak ada cara lain: warga harus menolong diri mereka sendiri.”

:: Andi Feri Pebriari Pangngerang, blogger dan Presidium FKBS.

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *