Rumah Kotor dan Rusak Menyambut Yusniar
November 25, 2016
Merawat Hujan: Sepohon Mati Akarnya Rindang
November 30, 2016

Berburu Pisang Ijo dan Nasu Palekko di Belanda

Bagaimana bila Anda sedang di luar negeri sementara sedang rindu lezatnya kuliner Sulawesi Selatan? Apa yang akan Anda lakukan?

Saya sebenarnya tak terlalu pemilih soal makanan. Sangat lempang malah. Apa yang ada saya makan. Menu Eropa dengan roti dan kentang pun saya tak keberatan. Yang kerap membuat saya tiba-tiba ingin makanan yang tanah air dan terpaksa arus membuat sendiri adalah media sosial. Jika foto makanan tanah air terpajang di medsos dan mendadak rindu memanggil untuk merasakan makanan tanah air yang telah akrab di lidah, tak ada jalan lain: harus buat sendiri.

Jadi suatu waktu di beranda medsos saya terpajang gampar pisang ijo. Waktu itu musim panas. Gambar pisang ijo dengan es serut dan saus vanila dengan saus demikian menggoda. Jadinya saya bertekad hendak menghadirkan pisang ijo di apartemen saya. Pikir saya, tak akan sulit. Saya menyukai memasak, dan biasanya tak menemui kesulitan berarti. Dan pisang berbalut adonan hijau dan fla putih kental beraroma vanila bagi saya sepertinya bukan tantangan kelas berat.

Tapi ternyata saya keliru.

Saya memulai dengan melayari berbagai versi resep pisang ijo di internet. Setelah membaca, memperhatikan, menimbang, saya akhirnya memutuskan memilih resep yang kelihatan gampang. Namun perasaan ‘kelihatan gampang’ ini ternyata ‘sebenarnya susah’.

Kesulitan pertama saya adalah menemukan pisang yang sesuai. Saat ke pasar tradisional Leiden yang saya temukan adalah jenis pisang Suriname yang ekstra besar, yang konon khusus untuk dibuat pisang goreng. Sedikit keras tapi pikir saya tak apa, setelah dikukus pasti akan melunak sendiri. Jadi terbelilah pisang Suriname yang ukurannya bila disanding dengan pisang raja, bagai Ade Rai dengan Aming.

Kesulitan kedua adalah menemukan pewarna hijau. AH meski XL sekalipun tak bisa diharap. Di pasar tradisional pun tak saya temukan. Saya lantas ke Puur (toko bahan-bahan biologis yang terbilang baru) di Leiden. Ibu-ibu Belanda yang jaga toko bilang mereka tak jual pewarna. Namun mereka berupaya membantu dengan menyodorkan tiga alternatif: pertama ke toko bahan kimia (saya tak tahu apa-apa tentang toko bahan kimia, pula ini pisang ijo dan bukan eksperimen-kimia, kata kimia membuat saya bergidik.) Kedua memakai daun bayam (bayangan saya, bayam+pisang+gula+sirup+vanila=bikin neg, kemungkinan besar beracun). Ketiga memakai suplemen makanan yang berwarna hijau pekat yang saya curigai mengandung klorofil (tapi saya tak mau pisang ijo rasa obat, dan siapa tahu suplemen itu punya efek samping, melemahkan iman semisal).

Saya mencoba melupakan pewarna hijau. Hijau tak bisa, coklat pun jadi. Saya ingat saya masih punya sekotak coklat bubuk sisa tiramisu tempo hari. Jadi kali ini bukan pisang hijau melainkan pisang coklat, pikir saya sok kreatif.

Tapi saya benar-benar melupakan satu hal: tepung beras. Saya pikir pasti ada di AH. saya pengikut setia AH. Sebab selain dekat dan saya malas berbelanja jauh-jauh, di AH-XL selalu ada counter icip-icip, entah itu keju, daging, kue, dan seperti biasa setiap ada yang gratis saya tak mau ketinggalan.

Tapi tepung beras tak ada di AH bahkan di departemen yang khusus menyediakan produk-produk Asia. Oh tidak, tak boleh terjadi. Saya menjelajahi seluruh supermarket, bertanya ke beberapa karyawan AH, dan akhirnya tadaaa! Tepung beras saya temukan dalam wujud…. makanan bayi.

So what? Pokoknya tepung beras, kendati saat membuka kemasan saya mulai cemas sebab tekstur tepung beras a.k.a. makanan bayi itu ternyata kasar luar biasa dan terasa aneh di tangan.

Saya memulai membuat pisang ijo (coklat) idaman saya. Dimulai dengan fla. Tak ada masalah. Fla putih lembut menggelegak dan menebarkan aroma vanila. Beres fla, kini adonan kulit pisang. Tepung beras, garam, coklat bubuk, air, diaduk-aduk… Hmm, kenapa tak mau jadi adonan? Saya menambah tepung beras, tetap saja lunak dan lengket minta ampun. Ok, tambah lagi tepung beras… terus… terus. Tepung beras alias makanan bayi habis dan adonan belum bisa dibentuk. Saya mulai cemas dan kini memakai terigu sebagai ganti tepung beras. Adonan tak juga kalis. Mulai berimprovisasi. Mungkin dengan telur? Telur meluncur, satu dua tiga biji telur mendarat. Adonan masih juga lengket dan tak juga bisa dibentuk.

Saya menyerah. Adonan coklat menyeringai mengejek bagai monster lumpur buruk rupa di dasar panci.

Besoknya saya akhirnya memutuskan ke toko Nieuwe Wereld di bilangan Oude Rijn (untuk pertama kalinya). Pasta hijau beraroma pandan terpajang manis di sana. Tepung beras asli tergeletak pasrah di rak. Sial, coba seandainya saya ke sini sejak kemarin….

Malamnya saya kembali berkutat di dapur. Pisang ijo harus selesai sebelum hari terang tanah, begitu tekad saya (sedikit meniru tekad Bandung Bondowoso saat mencoba mewujudkan syarat lamaran putri Roro Jonggrang, yang akhirnya terperdaya oleh si putri lantaran si putri menitahkan penduduk untuk membakar jerami dan membunyikan lesung di ufuk ti… tunggu dulu, kenapa pula saya bercerita tentang Roro Jonggrang?)

Ok, kembali ke pisang ijo. Kulit terbentuk, dan kali ini sukses (menurut saya). Adonan terbentuk, tak lengket. Dan saya mulai membungkusi pisang Suriname dengan adonan hijau. Hasilnya, sama sekali tak indah. Si pisang terlalu besar (kini dengan baju hijau tebal telah menyamai ukuran telur burung maleo).

Bencana berikutnya (oh tidak!): saya tak punya pengukus yang cukup besar untuk empat telur burung maleo . Tak kehilangan akal saya menggunakan saringan logam di atas didihan air dalam panci. Tapi empat telur maleo tetap terlalu besar bahkan untuk saringan ekstra besar. Masih tetap tak kehilangan akal, saya gilir satu persatu telur maleo hijau. Tapi demi dewa penguasa dapur, hasilnya mengerikan. Kulit pisang hijau licin berkilat namun keras luar biasa.
Kali ini saya mati akal.

Saya biarkan telur-telur maleo hijau berlama-lama di atas saringan. Saya kehilangan semangat. Setelah mendingin, telur maleo saya potong-potong, berharap pisang yang mengintip bisa mempercantik penampilan. Yah, bolehlah. Sudah menyerupai pisang ijo. Tepatnya monster pisang ijo.

Fla yang sukses dan luberan sirup frambozen merah tak bisa menutupi rasa pisang ijo yang aneh. Keras dan tak matang di luar, dengan pisang yang juga ternyata masih keras meski telah dikukus. Apa boleh buat, saya tetap harus menghargai hasil jerih payah saya selama dua hari. Monster pisang ijo saya kuliti, kulitnya saya singkirkan jauh-jauh, dan saya hanya menikmati pisang kukus dan fla. Ya, Anda benar. Pisang ijo akhirnya bermetamorfosis menjadi pallubutung.

Tapi sudahlah, makanan harus dihargai. Saya menyantap metamorfosa pisang ijo pelan-pelan di depan teve sambil memelihara rasa penasaran bercampur dendam. Janji saya dalam hati, lain kali harus bisa, dan mesti berwujud pisang ijo yang sejati.

Akan halnya nasib si lumpur coklat, saya berupaya menyelamatkannya dengan memanggangnya dalam oven selama 40 menit, berharap si lumpur akan berubah menjadi semacam cake. Memang berubah menjadi cake… namanya cake rubber brownies atau kue coklat karet. Seiris cake ini bisa dikunyah sehari semalam (itupun jika rahang Anda cukup kuat), sangat cocok dibawa sebagai bekal bertahan hidup di hutan belantara atau di gurun pasir.

Itu pisang ijo. Lain waktu saya mendapati gambar nasu palekko di medsos saya. Kembali saya tergoda.

Saya pikir gampang membuat nasu palekko. Bumbu dasar gampang, cara masaknya pun sederhana. Harusnya santai saja.

Ternyata tidak. Itik yang menjadi masalah besar. Ah ya, nasu palekko ini aslinya berbahan dasar itik. Berasal dari daerah Bugis Pinrang dan Sidrap, nasu palekko yang pedas ini mantap disantap dengan nasi hangat atau ketan hitam dengan parutan kelapa. Semakin mantap lagi jika disantap dengan keringat bercucuran atau ingus yang meleleh.

Tapi tak ada itik bugis di Belanda. Yang ada bebek, itu pun harus didapatkan di poulier. Di supermarket ada, tapi mahalnya kelewat-lewat, bisa merusak APB (anggaran pendapatan belanja) rumah tangga harian. Saat berbelanja bumbu di toko asia, cicih penjaga toko memberitahu, mereka punya bebek beku dalam kulkas.

Di kanal dekat rumah banyak bebek liar. Tapi saya bakal didenda habis-habisan bila berburu bebek. Merusak sarang meerkoet (sejenis ayam air, Inggrisnya Coot, Indonesianya tak tahu) saja bisa kena denda 250 euro. Sarangnya saja. Pernah ada kontraktor pembersih kanal yang tak sengaja membunuh dua ekor bebek liar. Ia dituntut membayar denda 75 ribu per nyawa bebek, 150 ribu totalnya. Euro. Jatuhnya sekitar 1 miyar rupiah per bebek.

Jadi di sini, jangan coba-coba berani pada bebek liar. Beking mereka kuat.

Nah soal nasu palekko tadi. Saya tergoda dengan tawaran cicih. Tak ada itik bebek pun jadi.Harganya agak mahal, 10 euro seekor. Saat mengangkat kantong berisi bebek beku, saya pikir ini bisa jadi santapan seminggu. Beratnya 4 kilo lebih!

Di rumah saat memeriksa kemasan bebek beku saya dapati kenyataan bahwa bebek itu impor dari cina dan dipersiapkan untuk dibuat peking duck, masakan tradisional cina yang tersohor itu. Pula bebek itu gendut dan keras benar, pejal seperti bola. Kepala, leher dan sayapnya tertekuk ke dalam, benar-benar mirip bola. Bebek yang buruk rupa.

Di dapur, saya mulai berdoa. Semoga bebek cina komunis ini nantinya berakhir menjadi nasu palekko bugis yang gurih dan pancasilais.

Tapi cobaan mulai menghadang saat hendak mempreteli si bebek. Amboy, keras sekali dagingnya. Saya pikir karena beku maka dagingnya alot. Tapi bahkan setelah dimasukkan ke microwave daging bebek tetap pejal. Pula saya tak punya golok atau parang, apalagi pedang panjang (saya bukan seorang kapiten). Bebek saya serang hanya berbekal pisau dapur dan batu cobekan.

Sampai saya berkeringat bebek itu akhirnya terpotong-potong, lalu terjun ke dalam panci. Bumbu cabe yang banyak siap bergabung.

Tapi kenapa tiba-tiba saya mual dan pusing? Ampun, bebek ternyata bau sekali. Samar-samar saya teringat tips kuliner kalau daging itik dan bebek bau. Saya panik, sebentar lagi pacar saya pulang, dan ia punya hidung yang tajam (dalam arti konotatif dan denotatif).

Jendela apartemen saya buka, berharap udara segar bisa mengusir bau bebek. Tapi daging bebek alot dan konon butuh waktu berjam-jam dimasak sampai daging melunak. Tak cukup jendela, semua pintu pun saya buka, kecuali pintu hati. Tapi bau tak juga berkurang.

Saya mulai memperkuat bumbu, siapa tahu bumbu yang lebih banyak bisa menetralisir bau. Tak berhasil. Bau anyir tetap menyengat.

Sudah hampir dua jam. Daging bebek melunak, tapi bau tak mau pergi. Seantero apartemen berbau aneh, sampai ke kamar tidur. Saya menyerah, kompor saya matikan, dan seperti biasa jika stres saya memilih tidur.

Pacar saya pulang dan membangunkan saya. Katanya, makasih sudah masak. Bau masakannya enak sekali.

Saya mencelang. Bau amis masih melengket di hidung saya. Kok dia malah bilang enak?

Pacar saya lalu mengajak makan bareng. Saya memilih melanjutkan tidur.

Tak tahu berapa lama saya tidur. Saat bangun, saya lihat ia sudah duduk di depan teve.

Melihat saya ia bilang: makasih sekali lagi sudah masak enak. Itu kalkun ya? Rasanya agak lain.

Bebek, kata saya. Tidakkah kamu mencium bau aneh? Itu bau bebek yang kamu makan itu. Pacar saya menggeleng dengan rupa heran.

Saya memutuskan mandi. Barangkali saja itu bau yang masih melengket di baju dan badan saya.

Tapi setelah mandi dan berganti baju pun bau itu tak hilang. Mungkin heran melihat saya kebingungan dan mondar-mandir mengendus-endus badan sendiri, pacar saya bertanya, kamu kenapa.

Saya bau bebek, keluh saya. Ia tertegun sejenak, tersenyum lebar, lalu bilang: hello, Donal!

Miki mana?

Lantas ia ketawa. Sampai tergelak-gelak.

:: Rahmat Hidayat, pernah tinggal di Makassar. Kini bermukim di Belanda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *