Foto Tim Dokumentasi Makassar Biennale 2017
Kampung Garam di Makassar Biennale 2017
November 17, 2017
Foto oleh Tim Dokumentasi Makassar Biennale
Pendidikan Seni yang Kehilangan Konteks dan Hal Lainnya
November 22, 2017

Benang di Atas Kanvas

FADRIAH Syuaib, seniman asal Ternate, Maluku Utara, merupakan satu dari dua seniman yang menjalani program residensi di Quiqui, komunitas perajut di Makassar. Dua pekan menuju pembukaan pameran Makassar Biennale 2017, Iyah sudah berada di Makassar menjalani program residensinya, hanya beberapa hari menjelang puncak pameran Bom Benang 2017 “Benang dan Sungai”.

Dalam residensinya kurang lebih seminggu di Kampung Buku, sekretariat Quiqui, Iyah belajar merajut dan menganyam bersama Quiqui dan tim kerja Bom Benang 2017. Dengan mempelajari rajut dan anyam, Iyah turut siapkan karyanya untuk “Benang dan Sungai.”

Bom Benang merupakan suatu program yang awalnya hadir untuk memperkenalkan kerajinan rajut kepada komunitas dan warga di Makassar, diinisiasi oleh Quiqui, berkolaborasi dengan The Ribbing Studio (divisi khusus Tanahindie yang melaksanakan residensi dan percobaan seni berbasis kota dan warga).

Sejak 2014, Bom Benang tidak lagi menjadikan benang sebagai alat kerja, melainkan memperluasnya dengan serat, bahan yang bisa diperoleh juga lewat alam, seperti eceng gondok yang dikeringkan. Bahan baku ini kemudian dijadikan kerajinan. Ini kemudian dalam program “Benang dan Sungai” dikerjakan gotong royong, melibatkan warga di bantaran Sungai Sinre’jala, Kelurahan Pandang, dan sejumlah anak muda dari berbagai latar pendidikan dalam pengorganisiran dan penelitian.

Karya Fadriah Syuaib di Bom Benang 2017, “Menggambar dalam Anyam”.

Karya yang ditampilkan Iyah, panggilan akrab Fadriah, pada Bom Benang 2017 adalah sebuah buku sketsa dengan sampul buku yang dilukisnya, mengombinasikan anyaman eceng gondok. Karyanya diberi judul “Menggambar dalam Anyam”.

Sungai dan Benang seperti menjaring kehidupan dan menempatkannya di atas kepala. Seperti itu saya dapat melihat merajut dan menganyam pada sisi perempuan biasa. Biasa dan tidak biasa dilakukan–pekerjaan yang sering dilakukan laki-laki seperti memikul barang, menarik sampan, tapi dilakukan perempuan,” kata Iyah.

Pada pameran puncak “Benang dan Sungai” di halaman rumah warga, karya Iyah ikut dipamerkan. Begitu juga ketika fragmen-fragmen hasil penelitian dan hasil karya dari proyek seni itu diikutkan dalam ekshibisi Makassar Biennale 2017, karya tersebut diikutsertakan dan menjadi bagian dalam sesi karya Quiqui.

Dalam kegiatannya di Kampung Buku bersama Quiqui dan tim kerja Bom Benang 2017, Iyah mengaku banyak mendapat pengetahuan baru. “Baik dari segi merajut itu sendiri maupun soal metode kawan-kawan di Kampung Buku yang komunikatif, bekerja dengan solid dan penuh rasa tangggung jawab.”

Yang menarik, kata Fadriah, dalam program Bom Benang 2017, adalah bahan yang digunakannya berkarya dengan memanfaatkan sesuatu yang ada di lingkungan sekitar, yakni eceng gondok yang sering disaksikan hilir mudik di sungai.

“Konsep maupun metode kerja yang diterapkan kawan-kawan di Kampung Buku nanti akan saya adopsi bersama teman-teman komunitas di Ternate, begitu juga dengan merajut yang saya baru pelajari setelah di Kampung Buku bersama teman-teman Quiqui, terutama Piyo dan Icha, yang selama ini mengajari saya tahap-tahap dasar dalam merajut. Dan akhirnya saya tertarik juga nantinya setelah pulang ke Ternate untuk mencari dan mengajak orang-orang yang lebih paham atau mahir dalam hal merajut, sekalipun itu orang tua, untuk berkolaborasi dalam membuat kerajinan dengan skala yang lebih ‘besar’ seperti baju, tas, dan lain sebagainya.”

Menurut Iyah, literasi bukan hanya soal membaca dan menulis. Ada metode lain yang sebenarnya bisa jadi bahan literasi dengan melakukan hal-hal yang dapat memacu kreativitas.

Kesempatan residensi Iyah yang merupakan kerjasama Yayasan Makassar Biennale dan KSI (Koalisi Seni Indonesia) ini juga berpengaruh pada karya yang dibuatnya untuk pameran MB 2017. Selama residensi, Iyah sadar kalau ia bisa menggunakan benang sebagai salah satu bahan yang menjadi campuran dalam karyanya berukuran 100 x150 cm. Karya yang menjadikan dirinya sebagai objek ini merupakan seni media campuran di atas kanvas dengan menggabungkan cat, tinta, dan kolase benang yang diberi judul “Risk” dengan merespon persoalan sampah plastik atau sampah non organik.

Sebelumnya, Iyah sudah mempersiapkan konsep karyanya yang merespon soal maritim, tema yang ditetapkan oleh MB 2017. “Maritim tidak hanya soal laut, banyak hal yang sebenarnya perlu dibicarakan terkait maritim. Termasuk merespon sampah, banyak yang tidak sadar soal sampah organik dan non organik. Hal ini bisa jadi gambaran soal kehidupan yang akan datang,” jelas perempuan berkacamata ini, “biennale sendiri merupakan suatu konsep untuk menyuarakan kedamaian dengan medium kesenian pasca konflik horizontal (politik, sosial, agama, dan budaya),” sambungnya.

Menurut Iyah, suatu kesempatan yang baik dapat ikut bergabung di MB 2017 ini, bertemu dengan seniman-seniman dari kawasan timur Indonesia. “Ini merupakan suatu peluang besar atau langkah awal, melihat eksistensi kesenian itu terbuka. Terlebih untuk kawan-kawan seniman di Ternate untuk bisa datang.”

Harapan, untuk ke depannya agar terus menyaring seniman-seniman yang selama ini belum terdeteksi untuk ikut dalam MB yang akan datang.

Bincang-bincang seniman residensi bersama tim manajemen Makassar Biennale 2017. (Kiri: Anwar Jimpe Rachman, Fadriah Syuaib (Ternate), Cut Putri Ayasofia (Aceh), dan Andy Seno Aji (Bekasi). Dokumentasi: Tanahindie.

 

FADRIAH mulai suka menggambar dan melukis sejak duduk di bangku sekolah dasar. Perjalanan keseniannya mulai dari hobi sejak tahun 2004 tertarik dengan seni rupa. “Melukis dengan gaya surealis menggunakan diri sendiri sebagai objek,” tutur Iyah.

Pertengahan awal 2004, Iyah bersama kawan-kawan menggagas sebuah komunitas seni bernama ‘Rumah Seni Sabua.’ Dengan terus aktif berkesenian, kemudian membentuk komunitas pelukis dan teater. Bersama kawan-kawan dari Ternate, Iyah berkeinginan untuk berpameran dan melakukan pertunjukan teater. Kegiatan pertama yang diadakan adalah membuat pameran seni rupa pada 2006, yang merupakan pameran seni rupa pertama yang pernah diadakan di Ternate.

“Saat bertemu dengan kawan Grace Siregar dari Jakarta yang juga merupakan seniman, bekerja di wilayah Ternate. Setelah berdiskusi soal pameran dan mendapat dukungan dari kawan Grace, menjadi awal mula saya berani untuk menunjukkan eksistensi dalam berkesenian. Dan akhirnya untuk pertama kali pameran seni rupa itu terselenggara dengan melibatkan seniman pematung, pelukis, perupa instalasi, video art, juga teater.”

“Sebuah deskripsi terkait rekonsiliasi atas konflik horizontal berbasis politik yang kemudian merambat pada konflik SARA, kami wujudkan dalam bayangan pameran ini,” sambung Iyah.

Bersama kawan-kawan dari Ternate, Iyah mengikuti residensi di studio Hanafi pada tahun 2012. Residensi ini diprioritaskan untuk seniman dari timur Indonesia. Lewat komunitas ‘Rumah Seni Sabua’ bekerja sama, berjejaring, dan mengerjakan proyek-proyek seni. Kemudian mendapat tawaran untuk magang di Selasar Sunaryo Art Space Bandung dan Yayasan Kelola tahun 2007. Selain itu, Iyah juga pernah mendapat tawaran untuk drama radio, mural, grafitti, dan bekerja sama dengan LSM dan organisasi lainnya terkait kegiatan seni dengan isu kekerasan terhadap perempuan.

Salah satu program Iyah saat ini, berjalan sejak September lalu untuk membuat workshop dan mural terkait isu tradisi perempuan daerah dengan mendapat hibah dari Konsulat Jendral Amerika Serikat (AS).

Sekarang ini, Iyah mengembangkan komunitas “Kampong Warna” dengan merangkul anak-anak sekitaran rumahnya untuk menggambar setiap akhir pekan, dengan membiasakan anak-anak untuk bercerita mengenai apa yang digambar. Selain itu, mengajarkan puisi dan teater dengan mengajak teman-teman pegiat teater untuk membantu mengajar teater untuk anak-anak.

Komunitas Kampong Warna digagas sejak tahun 2010. Berangkat dari keresahan Iyah yang selalu diminta jadi juri menggambar, melukis, dan acara kesenian lainnya. Iyah kemudian terinspirasi membangun komunitas itu, dulunya berorientasi dengan menggambar sambil bermain dengan mengajak anak-anak tetangga. Kampong Warna sebenarnya sempat vakum kurang lebih 2-3 tahun, lalu mulai aktif kembali 2 tahun terakhir.

Kini Kampong Warna juga membuka kelas sketsa dan kelas menulis, diadakan setiap minggu, secara gratis. Sketsa diperuntukkan untuk semua umur, sedang untuk kelas menulis membuka ruang bagi peserta mulai dari SMA hingga kalangan mahasiswa. Pada Agustus 2017 lalu, Iyah mengikutsertakan anak-anak dari Kampong Warna untuk ikut lomba melukis di Galeri Nasional Indonesia di Jakarta.

“Selagi masih muda, berkaryalah!” pesan Iyah.[]

:: Rafsanjani,  mahasiswa Antropologi Universitas Negeri Makassar (UNM).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *