Anak-anak yang Diambil Paksa dalam Nahebiti 2016
Oktober 23, 2016
Pasar Sukaria, Pasar yang Dipicu ‘Pagandeng’
Oktober 25, 2016

Beberapa Kisah dari Jalan Sukaria

Namanya Daeng Lesso. Usianya 73 tahun, bekerja sebagai pemulung. Ia masih kuat bekerja demi menghidupi seorang istri dan tiga orang anaknya. Mereka hidup di sebuah rumah kontrakan. Hanya saja Daeng Lesso jarang berada di rumah itu. Ia lebih banyak menghabiskan waktu di gubuk kecil miliknya, mulai membereskan barang hasil pulungan, tidur, dan makan.

“Kalau mau makan nanti istriku bawakan dari rumah, baru makang ma’ di sini,” tuturnya sore itu, sambil melepaskan plastik dari botol gelas yang dikumpulkannya.

Daeng Lesso dengan gesit memilah botol-botol bekas yang dipulungnya dari 18.00 – 21.00 di sekitar Jalan Andi Pangerang Pettarani. Barang-barang itu akan dijual sebulan kemudian ke pembeli barang bekas. Waktu siangnya ia membereskan semua barang bekas yang didapatkan. Dari situ, ia peroleh sekisar Rp 300-400 ribu tiap bulan.

“Cukup ji itu, Daeng?”

Iyo, cukup ji. Mama na juga kerja mi di rumahnya orang, dia bantu jaga rumah kos. Tapi malam pi na pulang, sudah mogrib.”

Tahun 2016, ia menerima berbagai jenis bantuan uang tunai dan sembako dari pemerintah maupun dari mahasiswa yang ada di Makassar. Ia berdiri dari tempat duduknya dan mengambil sebuah amplop putih yang berisi Kartu Perlindungan Sosial dan Kartu Keluarga Sejahtera.

“Pernah dapat ka uang 500 ribu dari sini. Tapi sekarang belum pi ada lagi,” jelasnya.

Begitulah Daeng Lesso menjalani hidupnya di Jalan Sukaria 13. Kata dia, daerah ini dulunya rawa-rawa. Jalan yang ada masih pakai bambu karena air masih menggenang sampai leher orang dewasa. Letak Jalan Sukaria di dekat Sungai Sinre’jala yang membelah Panakkukang. Karena berawa, warga kesulitan memperoleh air bersih. PDAM baru masuk secara menyeluruh di daerah ini sekitar tahun 2008.

“Dulu itu hanya satu warga yang punya PDAM, tidak ada jalan lain selain membeli air di situ. Harga airnya dihitung per jam, kalau airnya mengalir satu jam harganya Rp 3.000. Bukan hanya warga Sukaria 13 yang beli, ada juga dari Jalan Sukamaju sama Jalan Sukaria 12. Selang warna-warni yang membentang menghubungkan penampungan air milik Mama Imbang dengan keran rumah warga menjadi pemandangan tersendiri masa itu,” ungkap Zaenal Siko, warga yang tinggal di sana sejak 1995.

 

JALAN SUKARIA 13 terletak di Kelurahan Tamamaung, Kecamatan Panakkukang, Makassar. Daeng Lesso melihat perubahan yang terjadi di jalan ini. Permukiman dengan warga yang semakin ramai dan rumah panggung yang mulai berkurang jumlahnya. Sukaria adalah wilayah mobilitas penduduk. Daeng Lesso, asal Sinjai, kemudian berbaur dengan penghuni lain yang berasal dari Kabupaten Enrekang, Jeneponto, Gowa, dan Soppeng di sana.

Perkembangan yang terjadi berikutnya adalah berdiri Universitas Muslim Indonesia, Rumah Sakit Ibnu Sina, Universitas 45, juga beberapa gedung-gedung perbelanjaan kota, membuat permukiman di Jalan Sukaria menjadi sasaran tempat tinggal untuk para pekerja karena posisinya yang strategis. Tak heran kalau di permukiman ini banyak ditemui rumah kontrakan maupun kos-kosan. Pun dengan mata pencaharian masyarakat Sukaria yang sangatlah beragam. Beberapa warga ada yang bekerja sebagai kuli bangunan, pegawai minimarket, konveksi, tukang parkir, pappalimbang (jasa penyeberangan), juragan kos, tukang cuci rumah tangga, tukang bentor, tukang becak, pemulung, penjual kue, pemilik warung-warung kecil, supir, penjual makanan jadi, produksi kue gula merah, pedagang di Pasar Sukaria, sampai pappisi’ ladang (memisahkan cabai dari tangkainya).

Daeng Isa, salah seorang pappisi’ ladang mengatakan, cabai itu diambil dari adiknya. “Dia ambil di Malino. Kebetulan adik kasih pekerjaan, daripada tinggal saja di rumah.” Sesekali ia mengelap keringat dengan lengan bajunya.

Pekerjaan ini mulai Daeng Isa kerjakan sekitar setahun lalu awalnya membuat tangannya terasa pedas. Lama-kelamaan, ia sudah tahan. Sehari ia bisa menyelesaikan 30 kilogram, dengan upah Rp 1000/kilogram. Cabai yang sudah dipisahkan dari batangnya tersebut merupakan permintaan dari beberapa usaha warung makan di Makassar, seperti sari laut dan beberapa warung ikan bakar. Sebagian cabai yang sudah dipisahkan dari tangkainya itu juga dijual di Pasar Karuwisi.

“Bukan cuma di sini yang kerja begini. Ada juga di Jalan Kandea, satu lorong hampir semua rumah kerja begini, tapi bukan cuma lombok na kerja. Banyak. Dia juga na kupas bawang merah sama bawang putih. Upahnya sama ji, 1000 satu kilo. Tapi bukan ji di adekku ambil barang. Kalau di Sukaria saya ji yang kerja begini. Tetanggaku itu cuma bantu-bantu saya kalau sore. Upahnya tetap untuk saya. Sekarang banyak sekali mi sari laut. Adekku saja sekitar 50 langganannya. Bukan main kita harus kerja lombok banyak begitu, ” tegas Daeng Isa.

Belum cukup semenit ia bercerita, tiba-tiba telepon selulernya berdering.

Iyo tunggu mi. Baru ka ini mau ke sebelah ambil lombok.”

Bulir keringatnya mulai menetes.

Kemudian ia terburu-buru menuju ke rumah adiknya. Tak lama ia sudah kembali dengan cabai yang menggunung.

“Habis mi lombok di pasar. Masih ada yang minta. Jadi kita kerjakan saja. Nanti adek yang bawa ke pasar.”

Menjelang magrib, Daeng Isa masih sibuk bergelut dengan cabainya. Sesekali tersenyum menjelaskan betapa senangnya ia dengan pekerjaannya sekarang, setidaknya menurut Daeng Hisa, pekerjaan ini bisa membantu penuhi kebutuhan sekolah anaknya yang baru duduk di bangku SMA.

Ia adalah seorang janda sejak setahun yang lalu. Selama ini, dia dan anak sulungnya saling bahu-membahu demi kebutuhan hidup keluarga. Dia tinggal di rumah panggung yang dikelilingi oleh dinding batu. Katanya kalau ada uang, nanti dilanjutkan bangunannya.

Mayoritas bentuk rumah di perkampungan tersebut adalah rumah panggung. Sebagian ada yang menggabungkan antara rumah panggung dan rumah batu contohnya seperti rumah Daeng Isa. Ada juga yang mengubah total bentuk rumahnya menjadi rumah batu karena alasan strata kesuksesan seseorang selama berada di perkotaan terlihat dari besar rumahnya.

 

TAHUN 2015, di beberapa media online lokal di Makassar seperti Tribun Timur dan Lintas Terkini mengabarkan tentang tingginya tingkat kriminalitas yang ada di Jalan Sukaria. Ditangkapnya empat pelaku pembegalan pada tanggal 15 April 2015 yang bermarkas di Jalan Sukaria, dan juga pada tanggal 18 Maret 2016 telah ditangkap seorang begal asal Sukaria yang berusia 19 tahun yang melakukan aksinya di Jalan Rusa. Pelakunya adalah anak muda dari daerah ini.

Enal, panggilan akrab Zainal Siko, menyebut, kurangnya perhatian masyarakat sekitar terhadap anak muda dan perhatian orangtua pada anaknya diduga menjadi penyebab utama maraknya kriminalitas yang dilakukan kalangan ini. Itu ditambah juga tidak tercipta ruang bagi anak muda, seperti vakumnya permainan olahraga bersama di lapangan, membatasi fungsi remaja masjid, serta interaksi sosial di antara mereka. Meski begitu, kebiasaan lain yang mentradisi, seperti saling bantu untuk pernikahan, tadarrus tiap malam dan pengajian di masjid masih terpelihara.

Selain masjid, pasar menjadi tempat bertemunya warga. Sejak tahun 2014, di kawasan ini dibangun Pasar Sukaria, yang beroperasi pukul 08.00-12.00 Wita. Menurut Daeng Bahar, penjaga pasar, pasar di atas tanah 30 x 40 meter ini memiliki kios sekitar 40 unit. Tiap pedagang wajib memberi iuran Rp 3000/hari, sedang penjual ikan dan tulang ayam Rp 5000/hari, yang dikarenakan perbedaan besaran omset. Pasar bercat jingga ini ditempati para pedagang pakaian jadi, barang campuran, penjual sayur, pejual ikan, warung-warung kopi, dan tempat penjual pulsa.

Daeng Ramli, pagandeng atau pedagang yang menggunakan kendaraan roda dua, dari kawasan Cendrawasih, mengaku berjualan di sana sejak pasar itu resmi beroperasi. Sayur yang dijualnya diperoleh dari Pasar Terong. Karena pasar hanya sampai jam 12 siang, bila jualan Daeng Ramli belum habis, ia bawa pulang atau lanjut berjualan berkeliling.

Lokasi pasar ini awalnya lahan kosong. Warga dan pemilik lahan, H Hanafi dan Ibu Nursia, bersepakat kemudian untuk membangun pasar. Pasar ini kemudian diisi dominan pedagang dari Sukaria sendiri.

Di depan pasar terdapat kotak amal yang diperuntukkan biaya pemeliharaan masjid dan pasar. Setahun setelah pasar beroperasi, sebuah masjid dibangun bersampingan pasar. Kini majelis taklim masjid sudah aktif. Tiap pekan berlangsung pengajian.

“Kami undang guru dari Masjid Jalan Gotong Royong untuk belajar tajwid,” tutur Ibu Ismi sambil mengerjakan jahitan bajunya. Ia adalah salah satu anggota majelis taklim di masjid.

Ia juga mengatakan kalau bulan puasa tahun 2016 ini, ia dan ibu-ibu majelis taklim akan membuat lomba-lomba yang berbau islami.

“Jadi ini masjid bukan cuma dipakai beribadah saja. Kalau ada perlombaan-perlombaan, biasa dipakai ini masjid latihan. Bapak-bapak juga biasanya kerja bakti. Ada anak muda sampai kakek-kakek. Tapi yah, tidak banyak ji juga,” terang Ismi.

 

FENOMENA MENARIK di Sukaria adalah arisan. Setiap warga hampir memiliki arisan.

“Saya pernah kasih menikah anakku dengan uang arisan.”

Seketika tawa Daeng Hisa pecah.

Ia mengaku pernah ikut arisan satu juta per bulan. Ia kemudian menunjuk foto pernikahan anaknya yang tergantung di dinding.

“Gajinya almarhum suamiku hampir sama dengan uang arisanku. Tiap bulan harus ki’ berpikir supaya bisa bayar arisan. Makan yang enak-enak juga harus ditahan,” tambah Daeng Isa.

Lain halnya dengan Ibu Ismi. Ia tidak berani untuk mengambil arisan yang terlalu tinggi. Alasannya, rezeki tidak menentu tiap bulannya. Arisan yang paling tinggi yang diikuti Rp 50.000 per bulan.

Karena urusan arisan juga, kata Ismi, seorang penghuni Sukaria pindah rumah ke tempat lain. Gara-gara uang arisan, ia terpaksa jual rumah. “Dia harus tutupi uang arisan yang belum dibayar. Uang arisan sekali naik itu 40 juta. Satu juta per bulannya dan diikuti 40 peserta arisan.

“Pernah suatu hari, jalan 15 nama mi yang sudah naik namanya, dibaca mi cara curangnya. Itu kertas nama tidak keluar lewat lubang gelas, tapi na selip memang mi di tangannya. Tapi ada orang jeli matanya, na liat mi. Dari situ mi banyak orang mengundurkan diri. Curang begitu ki bede karena biasa ada orang menghadap ke dia minta di kasi naik namanya, dengan imbalan dikasi 500 ribu ini yang pegang arisan. Karena tidak sanggup mi na tutupi ini, na jual mi rumahnya baru pindah,” tutur Ismi.

Maraknya arisan juga mewabah ke kalangan seprofesi, seperti penjahit di Jalan Sukaria 13. Uang arisan mereka dipotong pada saat gajian, jadi tidak ada yang telat untuk bayar arisan.

 

KENYATAAN LAIN di Jalan Sukaria adalah masih banyaknya warga buta aksara Al-Quran dan Latin. Sekisar 30 kalangan ibu, 20 bapak-bapak, dan 30 remaja yang belum bisa baca aksara Al-Quran. Sedang 10 kalangan ibu yang buta huruf Latin.

Daeng Situju, seorang pria paruh baya, mengaku baru bisa mengaji setelah berusia 45 tahun. Sekarang ia sudah bisa menjadi imam pengganti di masjid, jika sewaktu-waktu imam masjid sedang berhalangan hadir. Dengan kopiah di kepala dan sajadah di pundaknya, ia baru saja selesai salat Isya berjamaah di masjid, ketika kami bertemu.

“Saya dulu termasuk orang tua yang cepat mengaji. Mengkhatamkan Iqra saja saya hanya butuh waktu 20 hari,” jelasnya sambil membolak-balikkan kopiahnya.

Ia bekerja sebagai pengantar roti ke daerah-daerah. Lelaki yang menetap di Sukaria selama 30 tahun ini tak pernah merasa malu belajar Al-Quran di usia yang sudah tua. Bahkan buku Iqra selalu dibawanya ke mana-mana jika sedang bekerja. Tak jarang ia menjadi pusat perhatian karena membaca Iqra.

“Kalau buat kebaikan, kenapa harus malu. Saya mau belajar karena saya pernah nazar. Waktu saya umur 45 tahun, saya pernah mengalami kejadian yang cukup menegangkan di atas kapal. Perjalanan ke Selayar biasanya ditempuh selama dua jam menggunakan kapal feri. Namun waktu itu, kami harus terombang-ambing di lautan karena ombak yang begitu tinggi selama 8 jam lamanya. Sejak itu saya berjanji untuk belajar Al-Quran sesampainya di Makassar nanti.”

Berangkat dari rasa kepedulian, sekitar tahun 2011 Enal mengajak para orang tua untuk belajar mengaji di rumahnya. Umur Enal dan Daeng Situju jelas jauh berbeda. Tapi bagi Daeng Situju, meskipun Enal masih muda, ia menganggap Enal tetap guru baginya.

Mengajak orang tua untuk belajar mengaji bukanlah perkara yang mudah bagi Enal. Ia kerap menggunakan metode humor untuk mempertahankan semangat orang tua untuk terus mau belajar.

“Dulu rumahku yang jadi tempat mengaji, baru rumahnya Daeng Situju, lalu kembali lagi ke rumahku, dan sekarang sudah di masjid. Dulu orang di sini jarang ke masjid karena faktor tidak bisa mengaji. Yang terpenting itu bagaimana caranya supaya kita bisa memunculkan keinginan warga untuk berubah dulu, salah satunya dalam hal mengaji. Santri tertua yang pernah saya ajar itu umurnya 61 tahun dan sekarang bisa mengaji. Tapi tidak jarang juga banyak yang malu-malu untuk belajar. Tapi Alhamdulillah sekarang, sudah bisa berkurang jumlah orang yang tidak bisa mengaji. Daeng Situju sudah bisa menjadi guru di masjid untuk remaja dan orang tua yang mau belajar. Hanya saja jumlah orang tua yang mau belajar kian hari semakin berkurang karena kemalasan dari orang-orang tersebut,” ungkap Enal.[]

:: Nurasiyah, mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Negeri Makassar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *