Orang-orang dan Secuil Sejarah Kawasan Barukang
Oktober 19, 2016
Pameran Fotografi “Faces”
Oktober 20, 2016

Barukang: Habis Pengangguran, Terbit Putus Sekolah

KETIKA permukiman warga kehadiran tamu yang bernama pembangunan dan keindahan kota, batas-batas dihadirkan ke permukaan. Aspal membatasi tanah dan kendaraan yang melaju di atasnya, jalan tol membatasi hubungan keluarga dan bertetangga, himpitan ekonomi membatasi kekerasan rumah tangga dan keinginan untuk terus hidup serta hak-hak anak untuk tetap tinggal di sekolah.

Barukang terletak tepat di pinggiran Jalan Tol Reformasi, yang membentang dari arah Bandara Sultan Hassanuddin, Makassar hingga buntutnya menyentuh daerah Pelabuhan Soekarno Hatta, Makassar. Jalan tol ini menghubungkan Kota Makassar, Panakkukang, Pelabuhan Soekarno Hatta, Jalan A.P. Pettarani, Kawasan Industri Makassar, dan Bandar Udara Hasanuddin. Panjangnya 11,57 kilometer, dengan lebar 2 x 2 x 3,5 meter. Jalan dengan dua jalur ini masing-masing berlajur dua, yang setiap lajurnya selebar 3,5 meter. Jalan tol ini diresmikan pada 26 September 2008 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Sebelumnya, beberapa rumah warga pernah berada di badan jalan yang kini telah disulap menjadi Jalan Tol. Di kawasan Barukang sendiri, tiap rumah warga digusur dengan biaya ganti rugi sebesar Rp 1.000.000,- dari Pemerintah.

“Rumah warga banyak diambil, itu jalanan ‘kan sanging rumah dulu itu. Sekitar tahun 1997-1998 dikasih ki timbunan itu bekas rumah warga,” ujar Pak Zainuddin, menjelaskan kronologi pemindahan rumah warga Barukang yang terkena gusur untuk pembangunan Jalan Tol Reformasi.

“Pindah ke mana warga yang digusur, Pak?” lanjut saya.

“Banyak tinggal di Sinassara’, dekat Jalan Teuku Umar. Ada juga di bawah, bagian Bulurokeng,” balas Pak Zainuddin.

Pak Zainuddin adalah warga Jalan Barukang 2 yang berhasil saya dekati ketika berkunjung ke daerah Barukang pada Kamis (28/7/2016). Lelaki berumur 39 tahun itu bertubuh gempal dengan tato abstrak di bagian perutnya. Rambutnya belah tengah dengan bagian samping rambut yang telah dikikis, dan tidak memakai baju saat saya temui hari itu. Ia bekerja sebagai pa’lelang di Pelelangan ikan yang terletak di sebelah Pelabuhan Paottere’.

Menurut Pak Zainuddin, jalanan di kawasan tempat tinggalnya pada 1980-an adalah batu-batu gunung, kemudian berikutnya ditambahi dengan batu kerikil. Barulah pada tahun 2000, jalanan di daerah ini ditutup menggunakan paving block.

“Kalau di sini rata-rata orang Bugis dan Makassar. Pangkep, Maros, itu ji. Banyak penduduk asli di sini, sampai punya anak-cucu. Karena termasuk aman, toh,” tegasnya.

“Oh, dulu tidak aman di sini, Pak?” tanya saya.

“Dulu tidak aman sampai tahun 90-an. Sering berkelahi ji. Biasa kalau mabuk, mengamuk, ah berkelahi lagi. Tapi aman mi,” jawab Pak Zainuddin.

Situasi mulai aman karena dekat dari beberapa pusat aktivitas perekonomian, seperti pelabuhan, pelelangan, dan pasar. “Bagaimana mau tindak kriminal, pekerjaan tanpa ijazah di sini banyak. Ada pelabuhan, ada pelelangan, ada juga pasar. Biasa orang kriminal karena kebutuhan ekonomi, belanja susah. Kalau mau ji orang kerja, ‘kan dekat semua di sini toh,” tanggap Pak Zainuddin.

 

KAWASAN Barukang adalah daerah dengan penduduk yang rata-rata menggantungkan nasibnya pada laut. Tidak heran jika kita menyusuri daerah ini, banyak ikan-ikan yang dikeringkan di halaman-halaman rumah warga. Berdekatan dengan Pelabuhan PELNI dan Pelabuhan Paotere’, dimanfaatkan warga sekitar untuk mengadu nasib sebagai nelayan dan pa’lelang.

Pelabuhan Paotere’ konon diambil dari bahasa Makassar, dari kata otere’ yang berarti tali. “Dulu waktu mau dikasih nama itu Pelabuhan Paotere’, banyak sekali tali di tembok, tikungan markas angkatan laut dari jalan Sibutung Paotere’, tidak tahu dari mana semua itu. Makanya dikasih nama mi otere’. Dilengkapi (jadi) paotere’ yang artinya ‘melingkar’, atau ‘mengikat’,” jelas Pak Aziz, lelaki berumur 74 tahun.

Jalan Sabutung, jalan di depan Pelabuhan Paotere’, dulunya kawasan yang penuh dengan gerombolan. Jembatan yang membentangi kanal yang terletak di kiri pelabuhan Paotere’ dari arah selatan, konon pada tahun 1950-an, adalah daerah yang ditakuti oleh warga sekitar. Menurut Pak Aziz, tempat ini yang biasa dipakai gerombolan untuk melakukan aksinya, mulai merampok, menjarah, dan lain-lain.

Bahkan daerah Sabutung dulunya satu kesatuan. Namun dipecah oleh kehadiran Markas Kesatuan Angkatan laut yang membelah Jalan Sabutung menjadi Jalan Sabutung Pertamina dan Jalan Sabutung Paotere’, belakangan bertambah lagi dengan Jalan Sabutung Baru. “Coba ki tanya supir taksi, bilang mau ki ke Jalan Sabutung, Pasti na tanya ki itu: Jalan Sabutung mana? Jalan Sabutung Pertamina, Sabutung Paotere’, atau Sabutung Baru?” jelas Pak Aziz.

 

NAMUN titik-titik perekonomian tersebut tetap saja bagi Pak Zainuddin menyisakan soal di lingkungan sekitar, yakni usia wajib sekolah. “Anak-anak kecil di sini cepat putus sekolah karena biasa kalau kerja mi di Pelelangan, dapat mi 5000, 10000, malas mi pigi sekolah,” tambahnya lagi.

Memang tidak semua anak-anak yang ada di sana tidak bersekolah. Ada di antara mereka yang dijaga serta dilarang oleh kakaknya bekerja di Pelelangan. Ipul, 12 tahun, pernah bekerja di sana ketika masih kelas 2 SD. Memang Ipul tidak disuruh untuk berhenti, melainkan mengganti jenis pekerjaan. Ia boleh bekerja setiap hari hanya sampai jam 12, karena harus bersekolah (masuk siang). Khusus di hari Minggu, ia menjajakan manisan buah mangga dan buah nanas hingga pukul 18.00, meskipun belum habis. Dari dagangannya ia bisa mengantongi Rp 15-20 ribu.

“Biasanya di Karebosi, di Benteng Fort Rotterdam, terus di sini (Pelabuhan Paotere’) mi. Kalau masih ada 20 manisan, biasanya saya dimarahi sama Tante Nur,” kata Ipul.

Ipul dulunya bekerja di Pelelangan sebagai pengangkut air. Air sangat dibutuhkan para pa’lelang untuk menyiram ikannya agar tidak cepat busuk. Ipul mendapat upah Rp 25 ribu untuk itu. Sesekali ia diupah ikan. Upah berupa ikan biasanya ia jual sepanjang jalan pulang menuju rumahnya di Bulurokeng. Jika tidak laku di jalan, ia jajakan di depan rumahnya sendiri.

 

BERMODALKAN pengetahuan tentang adanya anak-anak yang putus sekolah, saya menelusuri beberapa sekolah dasar yang ada di sekitar Pelabuhan Paotere’. Awalnya saya mendatangi sekolah dasar yang ada di lingkungan Perumahan Angkatan Laut, saya bertemu dengan seorang guru. Dengan tegas, ia berkata bahwa di sekolah tempatnya mengajar tidak ada anak-anak yang putus sekolah.

“Mungkin sekolah yang di belakang (Daerah Pelabuhan Paotere’) banyak anak-anak putus sekolah. Kalau di sini, palingan kalau ada orang tuanya pindah tugas baru anaknya juga mengikutmi,” kata Ibu Ida, guru Sekolah Dasar Inpress Bertingkat Tabaringan II dan V.

Ada sebuah SD terletak satu jalur dengan Pelabuhan Paotere’ dan Pelelangan, yakni SDN 1 dan 2 Ujung Tanah, Jalan Sabutung No. 66, Makassar. Dua sekolah ini, berada pada satu lingkungan dengan satu pintu pagar yang dilewati bersama-sama. Saya bertemu dengan salah seorang guru yang kebetulan saat itu sedang duduk-duduk di perpustakaan milik sekolah. Dia sempat mengajak saya ke dalam ruangan sekolah bertingkat dua ini.

“Kalau hari Sabtu, di sini aktivitas belajarnya tidak lama, karena hanya kerja bakti ji,” katanya, sambil memandang ke arah salah satu ruangan yang sedang dipenuhi dengan siswa-siswi.

Namanya Pak Sulkarnaing. Sembari tersenyum, ia sebut bahwa dia orang asli Makassar lahir tahun 1973. Ia mengajar di Sekolah Dasar Negeri 1 dan 2 Ujung Tanah, dari tahun 1999.

“Saya sebelum di sini, saya ditempatkan di Pulau Kodingareng. SK-ku keluaran Kecamatan Ujung Tanah. Pulau Kodingareng ‘kan masih masuk dalam wilayahnya,” terangnya.

Pak Sulkarnaing lebih lanjut menjelaskan tentang kehidupan ekonomi wali murid yang dianggapnya tidak bermasalah. Senyum dan kemesraan antara anak dan orang tua ketika mengantar, mununggu, bahkan menemani murid, dianggapnya sebagai salah satu penyebab mengapa Pak Sulkarnaing berani menyatakan baik-baik saja.

“Kalau masalah ekonomi, baik-baik ji di sini saya lihat. Biasanya kalau ekonominya rendah atau kurang, orang tua tidak ada waktu untuk yang beginian, jarang senyum, tidak akur, tidak mengantar ke sekolah,” jelas Pak Sulkarnaing.

“Kalau anak-anak yang putus sekolah di sini, Pak? Ada?” tanyaku.

“Kalau di sini, ada,” jawabnya singkat.

“Kalau dari pengalaman bapak? Ada berapa orang?” tanyaku lagi.

“Saya tidak tahu jumlahnya, tapi kalau dipersentasekan, yah, ada 15%,” jawabnya, mengerutkan dahi.

“Kalau di sini susah karena dekat semua dengan sumber uang. Ada pelelangan dan pelabuhan, malah ada biasa kulihat lewat-lewat di depan sini,” sambungnya lagi.

“Bapak tidak panggil kalau lewat?”

“Yah, mau bagaimana, orang tuanya biasa kalau yang anaknya putus sekolah, biasanya berpikir hanya sampai yang penting bisa baca-tulis,” jawab Pak Sulkarnaing.

Sebenarnya, kata Pak Sulkarnaing, faktor orang tua di sini sangat penting. Guru tidak bisa menjangkau seluruh tempat tinggal para murid. Orang tua harus mampu menjadi pendidik jika anaknya tidak sedang berada di sekolah. Karena tidak semua guru bertempat tinggal di daerah itu. Menurut Pak Sulkarnaing, banyak guru yang ditempatkan di situ, tapi rumahnya jauh dari situ.

“Biasa juga kakak kelasnya yang putus sekolah yang panggil ki kerja di pelelangan. Ditaumi anak-anak, toh, kalau diimingi uang, pasti cepat sekali ikut,” lanjutnya.

“Tahun lalu itu, ada tiga muridku pas mau penamatan, ndak datang ki. Kucari sampenya dapat. Kasihan, sudah ikut ujian apalah, tapi nda lanjut. Tapi kemarin kudengar kabarnya, mau na lanjut sekolahnya karena datang ki ke sini tempel sidik jari,” kata Pak Sulkarnaing.

Waktu saya tanyakan perihal solusi yang kemudian dihadirkan oleh pihak sekolah, Pak Sulkarnaing menjelaskan bahwa para guru akan terlebih dahulu melihat potensi siswa/siswi yang bersangkutan, kemudian akan ditindak lanjuti kemudian. Kalau ditanya tentang usaha-usaha yang lain, para guru telah berusaha semampunya, bahkan jika ada yang tidak melanjutkan sekolahnya, nama siswa/siswi tidak akan dicoret hingga satu tahun kemudian, untuk melihat kembali bagaimana siswa/siswi dan bahkan orang tuanya mampu mengubah keputusannya atau tidak. Bahkan ada beberapa guru yang secara khusus mendatangi para siswa/siswi yang tidak pernah lagi datang ke sekolah.[]

:: Fauzan Al Ayyuby, mahasiswa STMIK AKBA Makassar

*Lihat jugaOrang-orang dan Secuil Sejarah Kawasan Barukang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *