Antara “Kura-Kura”, BRT, dan Pete-Pete Smart
Januari 9, 2017
Merantau: Pertanda Baikkah bagi Kita?
Januari 25, 2017

Ayo ke Sevilla

Anda sedang mencari tempat studi banding tahun ini? Berminat jalan-jalan ke Sevilla, ibukota Andalusia, Spanyol? Ini ada itinerary gratis dari saya.

Sevilla, Tuan dan Puan, baru saja dilantik sebagai ibukota pesepeda di belahan selatan Eropa. Artinya, mereka sedang menyusul negara-negara seperti Belanda untuk mewujudkan surga bagi para pesepeda di muka bumi. Bayarannya sudah mereka dapatkan: tingkat kunjungan wisatawannya sedang meroket. Kota-kota lain di negeri ini segera menyusul, mereka juga sedang membangun jalur sepeda. Situsweb kaum pelancong seperti tripadvisor memberi saran untuk naik sepeda ketika berkunjung ke sana. Kota ini sedang naik daun dengan jalur sepedanya.

Tuan dan Puan, bila Anda pejabat, kunjungan Anda bisa disiarkan sebagai bagian dari upaya menghadirkan ‘mobnas’ atau mobile nasion, bangsa Indonesia yang mobile. Bangsa yang kota-kotanya tak macet, seperti Jakarta dan Surabaya, dua dari sepuluh kota yang tahun 2015 lalu dilantik sebagai kota paling macet di planet bumi (kota-kota besar lain di Indonesia mungkin segera menyusul masuk daftar?).

Ini tiga daftar tujuan kunjugan yang saya maksud.

  1. Berkeliling di jalur sepeda Sevilla

Bila Tuan dan Puan berkunjung ke Sevilla, sudilah kiranya tahu dulu rasanya berkeliling dengan sepeda di kota yang punya jalur khusus sepeda. Jalur itu terpisah, terpagar, dari jalur kendaraan bermotor. Semua kendaraan bermotor haram lewat di atasnya. Jadi, Tuan dan Puan bisa mengayuh sepeda dengan tenang.

Beberapa tahun lalu, begitu jalur sepeda resmi dibuka, para peseda Sevilla bermunculan entah dari mana, seperti meroketnya jumlah pembuat meme produktif begitu program aplikasinya bisa diunduh gratis. Para pesepeda Sevilla mengayuh dari berbagai sudut kota begitu jalur sepeda sudah dibuka. Jumlahnya bertambah sebelas kali lipat hanya dalam beberapa tahun. Kita bisa bayangkan, banyak warga Sevilla yang menyelimuti mobil mereka di garasi sembari melantunkan nina bobok.

Hasilnya, Sevilla dilantik menjadi ibukota pesepeda di selatan Eropa hampir bersamaan dengan dilantiknya Jakarta sebagai kota paling macet di planet bumi—dan Surabaya di peringkat empat. Saat ibukota kita menyabet predikat itu, saya lihat di televisi Bapak Presiden muncul di Malaysia, dalam rangka “mendukung upaya alih teknologi pembuatan mobil” (terjemahan: supaya kita lebih mahir menambah tumpukan mobil di atas jalanan).

Semoga dari kunjungan ke Sevilla, muncul inspirasi untuk menekan kekhawatiran kami: bahwa beberapa tahun ke depan mobil dan motor makin numpuk. Bahwa kata ‘gridlock’ alias macet total mungkin akan muncul paling atas di mesin pencari google ketika orang mengetik kata ‘Indonesia’.

  1. Ngopi bareng Ricardo Marques Sillero

Tuan dan Puan mungkin bisa mengajak Tuan Sillero ngopi di salah satu kafetaria kampus tempat ia mengajar. Tuan Sillero seorang dosen di Sevilla yang berjuang 20 tahun lebih, sampai rambutnya jadi perak semua, agar jalur khusus sepeda sepanjang 80 kilogram bisa dibangun.

(Dua puluh tahun lagi, apakah orang-orang di Jakarta masih meributkan soal mobil harus dibuat di dalam dan luar negeri, oleh perusahaan luar maupun dalam negeri?)

Bila masih ada waktu, mungkin Tuan Sillero bisa mengajak Tuan dan Puan pejabat berjumpa rekan-rekannya di Aliansi Kiri Sevilla, pihak yang digandeng para pesepeda untuk memperjuangkan pembangunan jalur khusus sepeda. Aspirasi, kemudian rencana, mengenai jalur sepeda Sevilla baru menjadi kenyataan ketika Aliansi ini menguasai kursi di Dewan Kota.

Bila di kota Puan dan Tuan belum ada Aliansi Kiri atau semacamnya (karena belum ada partai kiri), Puan dan Tuan cukup mencari para pegowes garis keras seperti Tuan Sillero—sebagai langkah awal.

  1. Kunjungan ke Kantor Tuan Jose Garcia Cebrian

Kunjungan terakhir adalah kantor kepala perencanaan kota Sevilla, Jose Garcia Cebrian. Pasti Tuan dan Puan suka mendengar ceritanya. Ia juga pejabat yang gemar blusukan. Sudah bertahun-tahun ia keliling kota mengayuh sepeda melakukan pengamatan dari kacamata seorang pegowes.

Begitu rencana pembangunan jalur khusus sepeda lolos di parlemen, Cebrian tahu persis apa yang harus dilakukan, termasuk mengontrak Manuel Calvo—orang ini juga penting Tuan dan Puan temui. Ia seorang pesepeda sekaligus konsultan yang terampil membuat kota lebih cepat bergerak sekaligus ramah lingkungan, sustainable mobile consultant. Bung Calvo inilah yang diserahi tugas merancang jalur sepeda Sevilla.

Bahkan sebelum jalur itu betul-betul rampung, kata Cebrian, orang-orang sudah menyelipkan sepeda di antara pagar pembatas jalur sepeda yang sementara dibangun. Mereka begitu penasaran, beberapa orang begitu bersemangat sampai menabrak pagar yang dipasang melintang di ujung jalur yang masih terpotong karena belum rampung. Setelah jalur sepeda itu selesai, barulah mereka bicara tentang segala macam cara menghambat orang menggunakan mobil pribadi.

Tuan dan Puan, itulah tiga tujuan kunjungan yang sudah saya siapkan. Bila ada pejabat lain seperti ingin ikut bergabung, silahkan saja. Sekali lagi, ini gratis.

Semoga setelah itu para penjabat di ibukota tidak lagi mengeluh kehabisan kuota BBM subsidi, lalu menyalahkan rakyat karena boros bensin—yang tampaknya akan diselesaikan dengan alih teknologi pembuatan mobil dan pembangunan lebih banyak jalan tol. Dengan begitu, Tuan dan Puan tidak perlu lagi terlalu ribut apakah Freeport mau diteruskan menggali gunung Papua atau tidak, sehingga mengganggu tontonan kami rakyat kecil yang mungkin tidak (akan) pernah menikmati hasil galiannya.

Oh iya, bila saya menyebut kata ‘kunjungan’ di atas, itu berarti membuka link situsweb ini [http://www.theguardian.com/cities/2015/jan/28/seville-cycling-capital-southern-europe-bike-lanes] dan beberapa link lain yang ditautkan di sana.

Selamat berkunjung.

:: Nurhady Sirimorok, aktif di Komunitas Ininnawa dan Perkumpulan Payo-Payo.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *