Menggandakan Kenyataan “Merawat Hujan”
November 30, 2016
Bertemu Passompe Wajo di Jambi
Desember 6, 2016

Apa Lagi Setelah Terumbu Karang Rusak?

Terumbu karang merupakan tempat berlindung ikan, penyedia makanan, serta sebagai tolak ukur sehat atau tidaknya lautan. Dan Indonesia merupakan negara yang mempunyai potensi terumbu karang terbesar di dunia. Luasnya diperkirakan mencapai sekitar 60.000 km2. Sayangnya, kerusakan terumbu karang Indonesia meningkat pesat. Yang masih berkondisi baik hanya sekitar 6,2%. Kerusakan ini, menurut Wikipedia, menyebabkan meluasnya tekanan pada ekosistem terumbu karang alami.

Saya mendengar banyak berita tentang kondisi terumbu karang dari siswa di Pulau Sabutung. Saya sempat berkenalan dengan salah seorang siswa yang ada di sana. Namanya Muhammad Adil, sejak kecil ia sering ikut bersama orang tuanya menangkap ikan di laut. Ia mengaku sering mendapati orang menangkap ikan menggunakan bom dan bius. “Sering kulihat orang tangkap ikan pakai bom, biasanya orang dari luar itu yang datang ke sini tangkap ikan,” ungkapnya.

Saat itu ia sedang mengikuti kegiatan lestari terumbu karang go to school dan pemutaran film bertema konservasi di di SMAN 1 Liukang Tuppabiring Utara. Sembari memperhatikan pemutaran film, kembali ia bercerita kepada saya. Ia mengatakan bahwa wilayah sekitaran Pulau Sabutung memang yang terparah kerusakan terumbu karangnya. Ini disebabkan ulah para nelayan yang menggunakan bahan peledak dan juga kurangnya penjagaan dari petugas. “Petugas biasa datang untuk periksa, tapi itu jarang saya lihat. Biasa cuma seminggu sekali, padahal orang menangkap ikan setiap hari. Bagaimana tidak rusak,” jelas pemuda kelahiran 1998 itu.

Pulau Sabutung merupakan salah satu pulau yang ditetapkan sebagai kawasan konservasi laut yang berada di Desa Mattiro Kanja, Tuppabiring Utara, Pangkajene Kepulauan, Sulawesi Selatan. Pulau ini dapat diakses via Dermaga Maccini’ Baji’, sekisar sejam dari Kota Makassar. Konservasi ini merupakan upaya dari pemerintah Indonesia untuk menjaga kelestarian sumberdaya terumbu karang dan kesejahteraan masyarakat pesisir melalui program Coremap-CTI (Coral Reef Rehabilitation and Managemant Program – Coral Triangle Initiative).

Abdul Rahman, seorang warga setempat, menyebut jumlah penduduk yang ada di Pulau Sabutung sekisar 1300 jiwa yang terdiri dari 340 kepala keluarga, sebagian besar warga di pulau ini berprofesi sebagai nelayan. Ia sendiri adalah ketua Kelompok Masyarakat Pengawas (POKMASWAS) di wilayah ini.

Menurut Abdul Rahman, kegiatan yang dilakukan di sekolah ini baik untuk membangun kesadaran warga akan pentingnya menjaga terumbu karang sejak dini. “Untuk tumbuh 1 senti saja, karang membutuhkan waktu tahunan. Makanya karang itu sangat sangat perlu dijaga,” imbaunya saat mengikuti kegiatan lestari terumbu karang go to school, Pangkep 21-24 November 2016.

Pada kesempatan selanjutnya saya mengunjungi Pulau Badi, untuk snorkling dan diving untuk melakukan monitoring kondisi terumbu karang di sana. Sekira 800 meter dari bibir pantai Pulau Badi terdapat pusat rehabilitasi karang yang dinilai terbesar di dunia, luasnya sekitar 2 hektar persegi.

“Di pulau ini adalah konservasi terbesar, kami bekerja sama dengan perguruan tinggi untuk melihat publikasi-publikasi artikel yang pernah melukakan restorasi karang selama 100 tahun belakangan, dan setelah semua projek restorasi digabung, hasilnya hanya kurang dari 1 hektar, itu data dari beberapa negara, sedangkan kita ada 2 hektar,” ungkap Saipul Rapi, project manager konservasi PT MARS di Pulau Badi.

Pulau Sabutung dan Pulau Badi berada tepat di jantung segitiga karang. Karena itu, kata Pak Saipul, rehabilitasi terumbu karang yang dilakukan di Pulau Badi diharapkan akan meningkatkan jumlah ikan secara signifikan, sumber protein dan menjadi peluang pendapatan bagi masyarakat pulau dan generasi mendatang.

Segitiga Terumbu Karang adalah istilah geografis untuk perairan di Indonesia, Malaysia, Papua Nugini, Filipina, Kepulauan Solomon dan Timor Leste yang kaya akan terumbu karang. Segitiga Terumbu Karang, berdasarkan catatan Wikipedia, dijadikan oleh World Wildlife Fund sebagai salah satu dari prioritas utama konservasi kehidupan maritim yang diluncurkan pada tahun 2007. Wilayah ini meliputi lebih 6.500.000 km², dengan lebih dari 600 spesies terumbu karang dan meliputi 75% semua spesies terumbu karang yang ada di dunia. Lebih dari 3.000 spesies ikan tinggal di Segitiga Terumbu Karang, termasuk ikan terbesar hiu paus, dan fosil hidup coelacanth.

Pusat rehabilitasi di pulau ini, kata Pak Saipul, bertujuan untuk memberi model peremajaan karang terbaik, yang dapat membantu mengubah praktik perikanan yang tidak ramah lingkungan ke cara-cara yang berkelanjutan. Dengan terumbu karang yang tumbuh sehat, bisa menggambarkan akan adanya jaminan ketersediaan ikan dimasa depan, selain itu karang juga menjadi pelindung alami dari abrasi.

Menurut penjelasan Pak Saipul, aktivitas merusak laut sudah sejak lama dilakukan oleh masyarakat sekitar, alasannya untuk menambah hasil pendapatan. Jika mereka tidak mendapatkan lagi pendapatan, mereka akan merusak terus untuk tetap hidup.

“Kami membina masyarakat Pulau Badi sejak tahun 2008, eksis di bidang konservasi kuda laut dan terumbu karang yang didampingi dan dibiayai oleh PT. MARS. Untuk kuda laut sendiri sejak tahun 2011 sudah mulai penjualan. Dampaknya, konservasi bukan semata-mata pelarangan tetapi ada juga aspek ekonominya,” tambah Pak Saipul.

Potensi budidaya kuda laut sangat menjanjikan, kata Pak Saipul, karena kompetitornya tidak ada. Menurut pertemuan beberapa waktu lalu di Manado, di Thailand terdapat budidaya kuda laut terbaik, tapi setelah dikunjungi nyatanya tidak ada. Singapura pun mengambil kuda laut dari kita. Di Indonesia, sudah diakui legal dalam hal budidaya kuda laut, jelasnya.

Biaya budidaya kuda laut pun cukup murah, kata Pak Saipul, 1 bak dan 1 meja harganya Rp 2.000.000, kita punya sekarang ada 8 dalam satu bisnis, jadi sekitar Rp 16.000.000 sudah termasuk pompa. Dengan estimasi penjualan bersih mendapatkan untung Rp 2.000.000/bulan, kuda laut sudah bisa dibudidayakan terus menerus. Penangkaran ini bisa menangani kuota penjualan 200 ekor/bulan, dengan harga Rp 30.000/ekor. Sejak tahun 2011 sampai sekarang tercatat sekitar 4.821 ekor terjual dan total pemasukan Rp 125.000.000,” ungkapnya.

Upaya-upaya ini yang kiranya bisa diterapkan oleh masyarakat. Semoga dengan alternatif di atas dapat memberi pengetahuan pada orang banyak, bahwa kita bisa mencari pendapatan dengan tidak merusak, yang tanpa kita sadari nantinya akan berdampak untuk masa depan dan generasi selanjutnya.[]

:: Alif Kurniawan, belajar dan bekerja di Tanahindie

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *