Jameson’s dan Ingatan tentang Ujung Pandang
Januari 6, 2017
Ayo ke Sevilla
Januari 11, 2017

Antara “Kura-Kura”, BRT, dan Pete-Pete Smart

Negara maju bukanlah negara tempat orang miskin mengendarai mobil, ia adalah tempat orang kaya menggunakan transportasi publik – (BisMania Community)

April 2016, Pemerintah Bali mengagas sebuah model moda transportasi berjenis shuttle bus berwarna hijau dengan desain unik bernama Kura Kura Shuttle Bus Transportation (in.kura2bus.com).

Apa itu Bus Kura-Kura? Ini adalah bus wisata yang dapat disewa secara umum dan perorangan laiknya mobil angkutan umum yang beroperasi ke beberapa rute daerah wisata utama di Pulau Bali. Jika dibanding dengan transportasi umum di Makassar, ukurannya lebih kecil dari BRT dan sedikit lebih besar dari pete-pete. Kira-kira ukurannya hampir samalah dengan mobil kebersihan Makassar Tangkasa’.

Bus ini akan semakin dikembangkan untuk bisa menjangkau seluruh pelosok wisata di Pulau Bali. Entahlah mengapa mengambil ikon kura-kura sebagai role model transportasi. Mungkin karena satwa ini dianggap sebagai hewan kecil yang dilindungi. Ataukah bisa jadi juga ada hubungannya dengan habitat konservasi kura-kura di Pulau Penyu Tanjung Benua di Pulau Bali. Dan segala kemungkinan muasal filosofi nama serta teori ‘cocoklogi’ lainnya. Interpretasi nama unik dan ingin melepas stigma kura-kura sebagai hewan yang berjalan lamban.

‘Smart mobile user does not guarantee to be a smart people’. Secanggih apapun alatnya jika tak dikelola dengan baik, tetap akan memberikan hasil yang biasa-biasa saja. Seolah ingin menepis anggapan itu, Kura-Kura hadir sebagai kendaraan umum yang selain digunakan sebagai bus wisata umum kecil yang ramah lingkungan, menyajikan layanan moda perjalanan wisata, berkoneksitas, dan hal lain yang merupakan ciri masyarakat modern.

Kendaraan ini didesain dengan kedatangan dan keberangkatan yang tepat waktu, tampilan modern dan menarik, freshly, dan desain yang nyaman. Berdasar catatan, kura-kura ini mampu memuat kursi hingga 12 orang termasuk supir.

Fasilitas yang ditawarkan cukup komplit. Ada pendingin udara dan wifi, bagasi yang luas, layar display LCD, Audio Voice Announcement system, dan pelantang tour guide, brosur wisata serta kursi yang lapang. Mobilnya berukuran tiga perempat dan proporsional, cocok dengan jalan raya Bali yang tidak terlalu lebar.

Kemudahan membeli tiket sesuai rute jalan dari tiga pilihan yaitu kura-kura coin day pass untuk beberapa kali jalan di booth ticket yang terdapat di setiap halte, hotel, dan beberapa titik strategis di tengah kota. Harga tiket termurahnya adalah Rp 20 ribu serta ada pilihan harga paket tiket rute lainnya. Rute dan booking tiket bus juga dapat diakses di mobile aplikasi hp dengan pilihan bahasa Indonesia, Inggris, dan Jepang. Pada tahun 2017 ini, armada akan ditambah dengan memperlebar rute jurusan ke berbagai kota.

Kura-kura ini hadir bertujuan sebagai solusi berkendaraan umum yang nyaman dan murah serta mengurangi tingkat penggunaan kendaraan pribadi untuk meminalisir kemacetan kota, meski kota ini termasuk salah satu surga kota pejalan kaki, hampir sepanjang hari deretan bus wisata tampak padat berseliweran hingga membuat bisnis rental kendaraan baik mobil motor dan sepeda menjadi laris.

Di penghujung tahun 2016 lalu, saya beserta anak-anak saya berkesempatan untuk mencoba transportasi baru ini. Berhubung trip kami ini tidak menggunakan jasa agen perjalanan dan juga tak menyewa kendaraan pribadi, untuk berjalan kaki dengan mendorong kereta bayi ke tempat wisata lain juga sepertinya cukup menguras peluh, sehingga kami putuskan untuk berpetualang naik Bus Kura-Kura saja dengan memesan tiket di halte yang ada di depan hotel.

Menyusuri ruas jalan wisata Pulau Bali dengan “berkura-kura” sungguh menyenangkan. Pemilihan ide transportasi ini dinilai tepat karena berkorelasi dengan sarana penunjang kota. Selain mendapatkan teman baru sesama domestik, berkendara bersama wisatawan packer dari berbagai negara juga menjadi cerita tersendiri, Pulau Bali ini sungguh diuntungkan dengan struktur jalan aspal yang mulus. Nyaris tak ada jalan yang berlubang apalagi bergelombang sehingga dapat mengakomodir setiap jenis kendaraan. Permasalahan macet yang kompleks diurai dengan terobosan memaksimalkan teknologi yang mengikuti lingkungan tanpa mengubah tantanan kota yang sudah ada.

 

Lain Lubuk Lain Ikannya

Lain kota lain pula ceritanya. Salah satu cita rasa khas kota dipengaruhi oleh dari karakter masyarakat, alam dan budaya setempat, mari kembali mengurusi, melongok kota sendiri, melihat moda transportasi umum di Kota Makassar.

Pete-pete adalah Makassar. Pete-pete berperan dalam menunjang arus transportasi di Makassar hingga ke kabupaten tetangga dan telah menjadi salah satu ikon kota yang melegenda. Mobil mikrolet yang saban hari menyisir jalan ke-17 rute di dalam kota ini tampil dengan warna merah dan biru, dilengkapi line trayek dan abjad untuk membedakan setiap trayek. Simpelnya, tak perlu menunggu di halte khusus. Cukup berdiri di pinggir jalan yang menjadi jalurnya dan mereka akan langsung menghampiri, atau sekadar ber-telolet memberi kode untuk menawarkan jasa tumpangan.

Sebagai pengguna jasanya dari zaman kuliahan hingga kerja, pete-pete telah menjadi modal utama anak kampus untuk mengejar perkuliahan pagi. Menjadi pemandangan lazim melihat beberapa penumpang berseragam PNS ikut mengejar pagi sambil menggendong balita. Ada anak sekolah yang mengisi waktu sepanjang jalan dengan membaca novel roman dewasa. Bertemu seorang tua yang linglung tidak tahu harus turun di mana. Atau supir yang seenaknya berhenti lama karena kelakuan satu penumpang yang turun dan membayar dengan uang besar, hingga penumpang lainnya menggerutu (merasa waktu terbuang) dan terpaksa patungan merogoh kocek di awal sekadar membantu pak supir mengumpulkan uang kembalian.

Seiring dengan semakin bersoleknya Makasar, berbenah menuju kota dunia, moda transportasi umum kota pun tak sebatas mengandalkan pete-pete semata. Serbuan beberapa perusahaan taksi serta adanya moda BRT (Bus Rapid Transport) membuat wajah Makassar semakin berwarna. Taksi mungkin saja diterima, dan tentu diganjar dengan nilai argo untuk siap-siap merogoh kocek lebih dalam. Dalam kesimpulan sementara, moda ini tak dapat digunakan setiap hari dan mempunyai penggemar yang terbatas dan dalam kondisi terdesak.

Bagaimana dengan BRT? Sejak beroperasi dalam dua tahun terakhir, bus ini terlihat belum berhasil menjadi primadona, menggantikan fungsi atau minimal menyejajarkan diri dengan kendaraan non smart sang pete pete. Dengan body yang lebih besar dan waktu yang lambat, bus ini sering terlihat melompong di beberapa halte. Adanya marka bus belum sepenuhnya membantu jalur percepatan laju bus, sehingga sering telat sampai ke stasiun berikutnya sehingga membuat Dinas Perhubungan Makassar sedikit mengubah trik pasar dengan membuat program diskon dan beberapa promosi sekadar untuk menjaring penumpang. Diskon 50 persen dan naik 5 kali gratis 1 kali untuk beberapa periode tertentu.

Masyarakat sebenarnya tidak muluk-muluk. Mereka butuh kendaraan umum yang cepat, tepat waktu dan murah. Selera pun bergulir. Para penumpang pun sebahagian menyelamatkan diri, mencari cara masing-masing untuk mengantarkan ke tempat tujuan dengan cepat dan murah menggunakan kendaraan umum. Teknologi transportasi online pun bermain. Meski sempat berpolemik di sana sini, bisnis kendaraan online seperti Gojek dan Uber semakin melenggang. Selain membuka lapangan kerja baru, kendaraan online ini terbukti sangat membantu masyarakat untuk tetap bermobilitas. Cukup menjalankan aplikasi di Andoid, memilih transaksi, maka ‘supir pribadi’ anda siap meluncur membawa kita ke tempat tujuan.

Persoalan macet tidak hanya di Makassar, tapi merambah hampir di semua kota besar di Indonesia. Penyebabnya kompleks. Selain volume kendaraan yang tidak lagi berbanding dengan ruas jalan, tidak patuhnya pengendara dalam menaati peraturan, banyaknya sarana prasarana yang harus diperbaharui, serta semakin mudahnya masyarakat mendapatkan kendaraan baru.

Pemkot Makassar yang diarsiteki Bapak Walikota Ir. H. Ramdhan Pomanto, baru-baru ini meluncurkan program “Pete-Pete Smart”. Disaksikan beberapa unsur Muspida setempat dalam acara seremoni kecil di Anjungan Pantai Losari saat hujan sore mengguyur Makassar, kendaraan ini diluncurkan tepat pada penanggalan cantik 12-12-2016 sebagai momentum kado akhir tahun bagi masyarakat Makassar.

Banyak dukungan dan harapan. Tapi ada juga satu dua yang bernada pesimis, satir, dan masih meragukan apakah produk besutan ini betul-betul “smart” (pintar) dalam membantu dan memenuhi kebutuhan masyarakat. Walikota Danny sebagai pemrakarsa tidak tanggung-tanggung turun langsung dengan mendesain modelnya. Dilengkapi dengan koneksitas wifi, AC dan TV, dengan kapasitas penumpang sama dengan pete-pete, biayanya Rp 10 ribu/hari untuk menggunakannya seharian untuk semua jalur. Masih penasaran? Beberapa keunggulan lainnya silahkan Anda cari sendiri dengan mengetikkan kata ‘pete pete smart’ dalam laman mesin pencari di internet.

Pete-Pete Smart ini untuk sementara masih dalam tataran konsep yang diuji secara terus menerus. Bila berjalan lancar, penambahan 10 unit menjadi bagian dari peremajaan yang sudah ada. Itu pun setelah beres segala bentuk perizinannya.

Di atas kertas, jumlah tersebut tentu belum bisa mengakomodir seluruh masyarakat. Entahlah apakah memang jalan bergandengan atau secara bertahap akan meregenerasi produk lama. Atau bisa juga Pete-Pete Smart lebih cocok untuk mengganti peran si BRT sebagai bus wisata. Semuanya kembali ke pemegang kendali.

Yang jelas sebagai warga kota yang berdomisili di Makassar, program dari pemerintah setempat harus didukung secara positif. Adalah suatu kebanggaan bila Pete-Pete Smart benar-benar ‘pintar’ dalam jalan raya, menjawab kebutuhan masyarakat, mengurai kemacetan, memadukan semua elemen yang dibutuhkan dengan tidak meninggalkan karakter khas kota. Sebuah upaya tentu disertai harapan panjang untuk menuai keberhasilan. Masih terlalu dini berbicara hasil karena ada waktu yang kelak menjawabnya.[]

:: Daeng Syamsoe, seorang bankir.

1 Comment

  1. BRT muncul sebagai salah satu alternatif transportasi di Makassar, hanya saja keterlambatan maupun kurangnya jumlah armada memberikan nilai minus padanya. Kedepannya saya berharap akan ada aplikasi khusus untuk memantau lokasi BRT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *